
Di hadapan Vino dan Robby sudah berdiri seorang gadis cantik memakai pakaian serba putih khas terapis dengan rambut di kucir satu.
"Vin, kenalin dia ini anak temannya Om. Namanya Hanna. Dia yang akan menjadi terapismu." Robby memperkenalkan gadis itu kepada Vino.
Vino hanya memperhatikan Hanna dari kaki sampai kepala, lalu tersenyum saat tatapannya dan tatapan Hanna bertemu.
"Hanna ... ini Vino, dia keponakan Om yang paling tampan." Robby melirik Vino yang sama sekali tak merespon ucapannya itu.
"Hai ... Vin, senang bisa berkenalan denganmu." Ucap Hanna basa-basi dengan senyum yang mengembang.
Memang tampan banget, kaya raya lagi.
"Hai."
"Baiklah kalau begitu, Om tinggal dulu ya, Han. Jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri." Robby menepuk pelan pundak Hanna.
"Iya, Om."
Robby berlalu meninggalkan Vino dan Hanna, kedua orang itu masih sama-sama terlihat canggung.
"Hmm ... Vin, bisa kita mulai sekarang terapinya?" Hanna memberanikan diri memulai percakapannya.
"Oh ... iya, terserah kau saja!"
"Baiklah, agar lebih rilex ... kita mulai dengan jalan-jalan di taman dulu ya?" Tanya Hanna.
"Hmmm ... terserah!"
Hanna segera beralih ke belakang Vino dan mendorong kursi rodanya menuju taman di samping rumah, sebelum memulai terapi yang sesungguhnya, Hanna ingin membangun ketenangan dulu di hati Vino agar dia lebih siap menjalani terapi ini. Ini semacam pendekatan agar pasien lebih bisa dikontrol secara psikologis, karena untuk tahap awal terapi, pasien pasti akan takut dan mudah merasa putus asa jika tidak berhasil di awal.
"Kamu punya saudara, Vin ...?" Tanya Hanna memulai percakapan mereka.
"Ada, seorang adik perempuan." Jawab Vino dengan nada bicara datar.
"Dimana dia sekarang?" Tanya Hanna lagi sambil masih mendorong kursi roda Vino mengelilingi taman.
"Dia ikut suaminya ... tunggu!" Vino menjeda ucapannya dan segera merogoh sakunya saat dirinya teringat sesuatu. Hanna yang terkejut pun menghentikan langkah.
"Ada apa, Vin ...?" Hanna penasaran.
"Dimana ponselku? Tolong bawa aku masuk, aku ingin menghubungi adikku!" Vino mendadak panik setelah mengingat Venus pergi tadi dan belum kembali sampai sekarang. Dan yang apes nya ponsel Vino tertinggal di dalam rumah.
"Baiklah." Hanna mendorong kursi roda Vino kembali masuk ke dalam rumah tanpa bertanya apapun lagi kepada pria tampan itu.
Setibanya di dalam rumah, Vino terkesiap saat melihat Venus dan Reino sudah ada di ruang tamu bersama Robby. Hanna pun terkejut saat melihat pria yang duduk di samping Venus.
"Itukan Reino Brahmansah? Sedang apa dia disini? Apa dia suami adiknya Vino?" Hanna bertanya dalam hati.
"Hai, Kak ... "Venus menyapa Vino dengan senyum ajaibnya.
"Huufftt ... aku hampir saja mati jantungan saat menyadari kau pergi dan belum kembali.Kau kemana saja tadi?" Vino mendadak lebay, lalu memajukan kursi rodanya mendekati Venus dan meninggalkan Hanna yang masih terpaku di depan pintu samping.
__ADS_1
"Hahaha ... Kakak terlalu mengkhawatirkanku. Aku bukan anak kecil lagi, Kak. Aku hanya bertemu temanku saja." Venus tertawa melihat kecemasan Vino.
"Aku pernah kehilangan dirimu dan aku nggak ingin itu terjadi lagi. Aku takut seseorang berusaha memisahkanmu dariku." Vino melirik sinis ke arah Reino.
"Hey ... Kakak, kenapa kau melirikku begitu?" Reino sengaja meledek Vino.
"Berhenti memanggilku Kakak!" Vino memprotes Reino dengan kesal.
"Jadi aku harus memanggilmu apa, Kak ...?" Reino mulai lagi.
"Diamlah ...! Aku bukan Kakakmu!"
"Sudah ... sudah ...!! Kalian ini seperti Tom and Jerry, selalu saja berkelahi." Robby membentak kedua pria dewasa yang kekanak-kanakan itu.
Venus hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suami dan kakaknya. Sementara Hanna hanya melongo melihat adegan di hadapannya itu.
"Siapa dia, Kak?" Mata Venus menangkap sosok Hanna yang berdiri agak jauh dari mereka.
"Oh, dia terapisku. Namanya Hanna." Ucap Vino dengan raut wajah datar.
"Perkenalkan, saya Hanna." Hanna tersenyum kepada semua orang.
"Hai ... Hanna, aku Venus dan yang ini suamiku ... Reino." Venus menyapa Hanna dengan ramah, lalu memperkenalkan dirinya dan Reino.
"Kenapa kau berdiri disitu? Mari kesini ...!" Robby mengajak Hanna bergabung bersama mereka.
"Iya, Om." Hanna melangkah mendekat mereka.
"Hanna ini anaknya teman Om, dia lulusan sekolah kedokteran dengan jurusan fisioterapi. Maka dari itu Om memintanya untuk menjadi terapisnya Vino." Robby bercerita dengan penuh kebanggaan.
"Jadi kau yang akan membantu Kakakku berjalan ya?" Tanya Venus.
"Iya, tapi hanya sampai dia mampu berdiri dan melangkah saja walaupun menggunakan tongkat. Setelah itu, dia bisa latihan berjalan sendiri dan cek up seminggu sekali." Hanna menjelaskan.
"Oh ... begitu? Mudah-mudahan Kakak bisa cepat berjalan kembali."
"Aamiin ...!" Seru semua orang dengan penuh harap.
"Eheemm ... jadi informasi apa yang kau dapat saat di rumah sakit tadi?" Vino beralih menatap Reino, pria itu bertanya dengan raut wajah serius.
Reino pun menceritakan informasi apa yang dia dapat dari orang suruhannya itu, wajah semua orang terlihat serius mendengar ceritanya. Tapi dia tidak menceritakan kecelakaan yang menimpanya itu agar mereka semua tidak panik.
"Kira-kira siapa orang yang menyuruhnya? Apakah sama dengan orang yang melakukan penembakan itu?" Tanya Vino bingung.
"Entahlah ...! Kita serahkan kepada pihak polisi, biar mereka menyelidiki kasus ini." Ucap Reino.
"Tapi kalian juga harus berhati-hati, bisa saja pelakunya menyerang kalian nanti." Robby memperingatkan Reino dan Vino.
Kedua pria tampan itu hanya mengangguk patuh, kata-kata Robby ada benarnya juga.
"Ya sudah, kalau begitu aku ingin istirahat sebentar. Badanku terasa lelah sekali." Venus meremas-remas pundaknya sendiri. Entah mengapa badannya cepat sekali merasa lelah dan lemas.
__ADS_1
"Ya, istirahatlah!" Vino mengusak pucuk kepala Venus.
Venus beranjak menuju kamarnya, Reino juga mengikuti langkah istrinya itu. Tapi suara Vino membuat langkah Reino terhenti.
"Hey ... kau mau kemana?" Tanya Vino.
"Kemana lagi kalau tidak ke kamar?" Jawab Reino apa adanya.
"Kenapa kau ikut-ikutan istirahat? Bukannya seharusnya kau pergi bekerja? Dasar pemalas!" Vino mengumpat Reino.
"Kau lupa ...? Aku bosnya!" Ucap Reino sombong.
"Ciihh ... sombong sekali kau!"
"Kakak ..." Rengek Venus mencoba mengingatkan Vino untuk berhenti. Sepertinya kekesalan Vino belum hilang kepada Reino.
"Iya ... iya ... terserahlah!!!" Vino memutar bola matanya dengan malas.
Reino hanya terkekeh karena mendapat pembelaan dari Venus, dan kembali melanjutkan langkah bersama istrinya itu. Sementara Robby dan Hanna hanya mengulum senyum melihat wajah masam Vino.
Di dalam kamar, Venus segera membanting tubuh di atas ranjang.
"Haaa ... nyaman sekali!" Venus memejamkan matanya.
"Kau terlihat lesu, apa kau sedang sakit?" Tanya Reino yang ikut membaringkan tubuhnya di samping Venus.
"Entahlah, rasanya tubuhku lelah dan lemas sekali." Jawab Venus.
"Kalau begitu, mari periksa ke dokter!"
"Tidak usah! Sebentar lagi juga baikan." Venus menolak.
"Kau keras kepala sekali!" Reino menggerutu.
"Hmmm ... aku penasaran, mengapa kau bisa curiga jika Diana merencanankan sesuatu saat di hotel itu?" Tanya Venus tanpa memperdulikan gerutuan Reino. Gadis itu kini sudah berbalik menatap suaminya.
"Awalnya aku nggak sadar, aku membawanya ke kamar karena dia mengeluh sakit saat aku bertemu dengannya di lobi hotel. Aku berfikir setelah membawanya ke kamar, aku akan segera pergi membawa barang-barangku. Tapi setelah aku tahu dia menghubungi pelayan itu dari ponselnya dan bukan dari telepon hotel, aku menjadi curiga. Karena bagaimana mungkin dia bisa memgetahui nomor telepon pelayan itu jika mereka belum bertemu sebelumnya?" Reino menjelaskan.
"Oooohh ... benar juga sih! Aku nggak menyangka dia senekad itu."
"Begitulah kalau orang sudah tergila-gila dengan suamimu yang tampan dan kaya raya ini." Vino berkelakar dengan bangga.
"Heee ... aku jadi menyesal bertanya!" Venus mencebik kesal dengan bibir yang mengerucut mendengar kenarsisan Vino.
"Hahaha ... kau menggemaskan sekali." Reino tertawa geli lalu menarik Venus ke dalam pelukannya.
Mereka berdua berpelukan, saling berbagi kehangatan tubuh dan menguapkan kerinduan yang tak ada habisnya.
***
Like dan bintang 5 nya jangan lupa ya sayang akuh ... 💜
__ADS_1