
Sebulan telah berlalu dan hukuman Vie sudah berakhir dari tiga minggu yang lalu, karena hampir setiap hari duo gesrek mengadu kepada Reino tentang kelakuan putrinya yang selalu menyusahkan mereka, akhirnya Reino pun mencabut hukuman yang telah dia jatuhkan itu.
Hari ini Vino, Hanna dan kedua anak kembar mereka yaitu Dafa dan Rafa berkunjung ke kediaman Brahmansa. Venus dan Reino menyambut kedatangan mereka dengan suka cita, sementara Vie sedang tidak berada di rumah. Gadis ajaib itu lagi asyik bermain sepak bola bersama duo gesrek dan anak-anak lain di lapangan tak jauh dari rumahnya. Begitulah Vie, dia lebih senang menghabiskan waktunya bermain permainan anak laki-laki dari pada bermain boneka atau permainan anak perempuan lainnya.
"Tante, Vie mana?" Tanya Dafa.
"Tadi sih bilangnya mau ke lapangan di ujung jalan sana." Jawab Venus.
"Mau apa dia ke lapangan?" Dafa bertanya kepada dirinya sendiri.
"Ada pengajian kali, Daf." Rafa menjawab seenaknya.
"Eh ... pentol korek, nyambar saja!" Dafa melotot ke arah adik kembarnya itu.
"Lagian kau ada-ada saja! Sudah tahu kalau orang ke lapangan itu ngapain, masih saja bertanya." Ucap Rafa malas.
"Sudah ... sudah ... kenapa sih kalian berdua selalu ribut? Sudah pada gede juga!" Hanna mengomeli putra kembarnya yang tak pernah akur itu.
Keduanya hanya tertunduk diam mendengar omelan sang mama, sedangkan Vino, Reino dan Venus hanya mengulum senyum.
"Sudah sana susul Vie ke lapangan!" Pinta Vino kepada Dafa dan Rafa.
"Iya, pa!" Jawab keduanya serentak. Kemudian beranjak pergi.
Dafa dan Rafa adalah sepupu yang paling dekat dengan Vie, sementara putri Erik yang bernama Ayumi dari kecil sudah tinggal di Jepang dan hanya datang beberapa kali. Ayumi gadis yang cantik, pintar dan lembut. Dia dan Vie tidak begitu akrab karena selain tinggal berjauhan, mereka juga memiliki kebiasaan yang sangat berbeda. Ayumi gadis biasa yang bertingkah sewajarnya, sedangkan Vie ... ah ... payah bilang lah! (Tepuk jidat).
***
Dafa dan Rafa menyusul Vie ke lapangan. Terlihat gadis itu sedang berlari menggiring bola, beberapa orang menyoraki namanya seolah-olah dia pemain papan atas yang terkenal.
"Gooooool ...!" Teriakan Vie dan semua orang nyaring terdengar saat gadis itu berhasil menjebol gawang lawannya.
Dan itu juga menandakan pertandingan selesai, karena hari sudah sore.
Dafa dan Rafa takjub melihat sepupumu mereka itu, ternyata gadis super menyebalkan seperti Vie bisa punya bakat juga. Walaupun terlihat kurang wajar, karena hanya Vie satu-satunya wanita diantara belasan bocah lelaki itu.
Kedua saudara kembar itu melangkah mendekati Vie yang sedang menikmati es pesanannya di tepi lapangan bersama teman-temannya, walaupun super menyebalkan tapi Vie adalah tipe orang yang gampang berbaur dan ramah kepada semua anak laki-laki seumurannya. Ingat ya, hanya anak laki-laki, tidak dengan anak perempuan. Karena menurut Vie, anak perempuan itu menyebalkan dan merepotkan, tanpa dia sadari bahwa dia juga demikian.
"Hai, Vie." Dafa melambaikan tangannya ke arah Vie dengan senyum yang mengembang. Sementara Rafa hanya mengikuti langkah saudara kembarnya itu.
__ADS_1
"Eh ... ada Upin Ipin!" Vie berteriak girang saat melihat adik sepupunya yang kembar itu, membuat semua teman-temannya tertawa mendengar Vie menjuluki mereka.
"Wah ... kau keren sekali tadi." Dafa memuji Vie dengan takjub. Dia tak memperdulikan teman-teman Vie yang tertawa itu.
"Betul ... betul ... betul ..."Ucap Rafa.
"Iya, dong! Vie gitu loh!" Vie bangga.
"Eleh ... kebetulan saja itu gol." Ledek Raja sinis.
"Diamlah kau, Raja singa! Sirik saja sama keberhasilan teman sendiri!" Vie sewot.
"Baaaahh ... siapa yang sirik! Cuma ingatin biar kau tak sombong. Huuu ..." Raja semakin menjadi. Teman-teman yang lain hanya melongo melihat perdebatan tak berguna kedua orang itu.
"Sombong itu sudah sepaket dengan Vie, mana bisa dipisahkan." Dafa ikut menimpali.
"Yeeee ... untung saja kalian sahabat dan sepupuku, kalau tidak, sudah ku paketkan kalian ke benua Afrika. Biar di culik suku Aborigin!" Vie mengomel sesuka hatinya tanpa dia sadari ucapannya salah.
"Aborigin di Autralia kali, Vie. Bukan di Afrika." Rafa mengoreksi ucapan sepupunya itu.
"Hahaha ..." Teman-teman yang lain tertawa mendengar kesalahan gadis somplak itu.
"Mungkin saja sudah pindah!" Vi menjawab seenaknya.
Merekapun segera beranjak dan berjalan keluar lapangan, namun tiba-tiba langkah bocah-bocah itu terhenti saat mereka melihat seorang pria bertubuh tinggi kurus dan berkostum amburadul sedang berteriak membentak bu Mirna yang sedang berjualan minuman di depan lapangan.
"Eh, siapa itu yang marah-marah di depan warung bu Mirna?" Tanya Raja heboh.
"Kayaknya preman yang minta uang deh!" Ucap Dino.
"Iya, lihat saja wujudnya." Dafa membenarkan.
"Guys, kesiniin bolanya!" Vie memerintah seorang bocah agar meletakkan bola di depan kakinya.
Gadis ajaib itu mengambil ancang-ancang dan kemudian menendang bola di hadapannya dengan kuat ke arah si preman.
Buuugghh ...
Bola itu mendarat tepat di kepala si preman sehingga membuatnya sempoyongan karena merasa pusing. Preman itu pun mengalihkan pandangannya ke arah Vie beserta teman-temannya dan menatap mereka dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
"Woy ... siapa yang menendang bola itu ke arahku?" Teriak si preman penuh emosi.
Tapi bukannya takut, Vie dan teman-temannya malah memandang dengan tatapan menantang. Sementara bu Mirna sudah bergidik takut dan cemas dengan nasib bocah-bocah itu.
"Kalau kau tahu siapa yang menendangnya, kau mau apa?" Tanya Raja santai.
"Aku habisi dia!" Bentak si preman sambil berkancak pinggang.
"Waow ... sungguh menakutkan!" Kelakar Vie dengan wajah mengejek.
"Badan kecil saja belagu!" Ledek Dafa.
"Hee ... kecil-kecil cabai rawit!" Ujar si preman sombong.
"Cakep!" Ucap Raja.
"Itu bukan pantun, beg0!" Dino menepuk pelan kepala belakang Raja.
"Banyak bacot!" Preman itu berjalan ke arah Vie dan yang lain.
"Wah ... ngajak tawuran ini orang! Serbuuuu ...!" Vie memberi perintah dan bocah-bocah itu bergerak menyerang si preman. Sementara Vie hanya berdiri di tempatnya sambil terkekeh. Mereka mengeroyoknya sampai si preman itu tak berdaya dan akhirnya menyerah.
"Ampun ... ampun ...! Jangan keroyok aku lagi!" Si preman berjongkok memohon. Wajahnya sudah bonyok di hajar Raja dan kawan-kawan.
"Kali ini kami ampuni, tapi awas kalau kulihat batang hidungmu lagi disini, kuretakan ginjal kau!" Ucap Raja dengan logat Medannya.
"Sekalian basahi tulang keringnya, Ja! Biar tak punya tulang kering lagi dia!" Dino memprovokasi.
"Jangan ... jangan ...!" Si preman ketakutan.
"Sudah, pergi sana!"
Si preman apes itu pun berlari tunggang langgang.
"Terima kasih ya anak-anak sudah mengusir preman itu." Ucap Mirna.
"Iya, bu. Sudah kewajiban kami menolong makhluk yang lemah dan tak berdaya." Ujar Vie dengan senyum semanis madu.
"Heleh ... bisa saja kau, Rangers Kuning!" Raja melengos dan disambut gelak tawa teman-teman yang lain.
__ADS_1
Akhirnya Vie beserta sepupu dan teman-temannya pun pulang ke rumah mereka masing-masing karena hari sudah semakin sore.
***