
Raja yang melihat adegan tak mengenakkan itu segera berlari menghampiri Andra, dia merasa prihatin dan tak enak hati. Rencana yang dia susun kini benar-benar gagal.
"Ya sabar ya boss!" Ucap Raja pelan.
"Kau lihatkan ...? Kau lihat bagaimana dia mengabaikanku dan lebih memperdulikan teman barunya itu? Harusnya dari awal aku tidak berharap lebih padanya, harusnya aku tetap tahu diri. Dia putri majikanku dan aku hanya supir ... ha-nya su-pir!" Andra berbicara dengan wajah yang penuh emosi dan menekankan kata hanya supir. Raja yang baru kali ini melihat kemarahan Andra sampai menelan ludah karena takut.
"Ti ... tidak seperti itu, kau salah paham. Apapun yang terjadi, Vie harus tahu kalau kau ..." Ucapan bernada gugup Raja terputus saat Andra membentaknya.
"Cukup ...!!! Jangan bahas apapun lagi tentang semua ini! Aku sudah menyerah!" Andra berbalik dan berjalan meninggalkan Raja.
"Kau menyerah sebelum berperang? Itu berarti kau payah, kau pecundang! Apa kau mau dianggap begitu?" Teriakkan Raja menghentikan langkah Andra.
"Iya, aku memang payah! Aku memang pecundang! Tapi aku semakin tahu diri sekarang dan berhenti bermimpi yang menyakitkan lagi." Ucap Andra putus asa kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Raja hanya memandang punggung Andra yang semakin menjauh dengan tatapan iba.
"Bodohnya kau Andra ... harusnya kau sadar siapa dirimu? Berani sekali kau mencintai putri majikanmu, bahkan berniat menyatakannya. Apa yang kau harapkan setelah dia tahu? Menerimamu, begitu? Mimpimu terlalu tinggi! Jangankan membalas cintamu, dia bahkan tak memperdulikanmu, bodoh!" Andra terus merutuki dirinya sepanjang kakinya melangkah.
" Kenapa jadi kacau begini sih? Sudah disingkirkan, masih saja dia bisa menggagalkan semuanya. Aku harus lapor ke yang lain." Raja bergegas lari menemui teman-temannya yang lain.
Sementara itu di suatu tempat dengan ruangan yang dipenuhi lilin aromaterapi, Venus dan Ayumi sedang berbaring telungkup sambil memejamkan mata. Tubuh mereka sedang dipijat dengan lembut oleh dua orang wanita, mereka santai sekali, tak menyadari semua yang terjadi di luar.
"Kenapa tante tidak mengajak Vie?" Tanya Ayumi. Sebenarnya dia masih sedikit kesal karena harus meninggalkan Andra tadi.
" Kau kan tahu sepupumu itu seperti apa? Mana mau dia ikut perawatan seperti ini, makanya tante ajak kamu." Jawab Venus sambil menikmati pijatan pijatan lembut dipundaknya.
"Iya juga sih. Hmm ... tapi tante Hanna kenapa juga tidak diajak, Tan?"
"Hanna sedang istirahat di kamar tadi, tante tidak enak kalau sampai menggangunya." Ucap Venus bohong, padahal dia sengaja mengajak Ayumi karena ingin menjauhkan gadis ini dari Andra agar rencana Raja bisa berjalan tanpa hambatan.
"Oh ... begitu." Ayumi pun kembali menikmati pijatan pijatan lembut ditubuhnya.
***
__ADS_1
Reino, Vino, Davin dan Vie berjalan kembali ke resort mereka. Begitu juga dengan Dino, Dafa dan Rafa yang mengikuti mereka dari belakang.
"Lain kali papa tidak ingin mendengar kau berkelahi lagi seperti tadi. Ini yang terakhir!" Alvin berbicara dengan tegas, ada raut cemas dan kesal diwajahnya.
"Tadi itu mereka yang mulai lebih dulu,pa. Mereka mengganggu kami, papa boleh tanya dengan mereka." Jawab Davin sambil menunjuk kearah Dino dan si kembar.
"Apapun alasannya, papa tidak ingin kau berkelahi! Kalau kau kenapa-kenapa bagaimana? Kau senang membuat papa cemas?" Alvin mulai emosi.
"Iya, pa. Aku minta maaf." Davin tertunduk menyesal.
"Hey ... kenapa kau berlebihan sekali sih? Dia anak lelaki, wajar saja kan kalau berkelahi? Anakku yang wanita saja juga berkelahi kok." Ucap Reino sambil melirik Vie.
" Kalau Vie kan wanita jadi-jadian, om!" Sambar Dafa seenaknya membuat tawa semua orang pecah kecuali yang namanya disebut. Bahkan Alvin yang sempat emosi karena ulah anaknya itu pun ikut tersenyum.
"Enak saja kau!" Vie melotot kearah Dafa. Tapi Dafa hanya menjulurkan lidahnya mengejek Vie.
"Sudah-sudah, kalian sekarang ke kamar masing-masing dan bersiap-siaplah. Kita akan pulang!" Pinta Reino tegas.
"Aku juga akan kembali ke resortku untuk bersiap-siap."
"Kau dan putramu jadi kan singgah ke rumahku setelah dari sini? Sebelum kalian pulang ke kota B." Tanya Reino.
"Kalau kau memaksa, apa boleh buat?" Jawab Alvin sambil menyunggingkan senyum.
"Hey ... aku tidak memaksamu! Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa kok!" Reino mencak-mencak.
"Hahaha ... kau masih saja seperti dulu." Tawa Alvin pecah melihat mantan bossnya itu tersulut emosi karena ulah usilnya. Duda tampan itu melenggang pergi dengan masih tertawa.
"Dasar gila!"
"Ada apa? Siapa yang gila?" Tiba-tiba Venus dan Ayumi datang mengagetkan Reino.
__ADS_1
" Bukan apa-apa ... tadi ada orang gila. Hey ... kau dari mana saja? Kenapa pergi tidak pamit kepadaku? Aku sangat mencemaskan mu!" Reino spontan mencecar pertanyaan kepada Venus. Dia menatap tajam istrinya itu. Dia sampai lupa dengan niatnya mencari Venus karena Davin.
"Hmmm ... aku dan Ayumi tadi pergi SPA, sayang. Dan aku tidak pamit karena sewaktu aku pergi, kau sedang tidur dengan nyenyak. Aku tak tega membangunkanmu." Venus berbicara dengan sangat manja untuk meredam kemarahan sang suami. Sementara dia memberi kode kepada Ayumi dengan tangannya untuk segera masuk ke kamar, yang pasti tanpa sepengetahuan Reino.
"Lalu kenapa ponselmu juga tinggal?" Tanya Reino lagi.
"Aku lupa, sayang. Maaf ya?" Jawab Venus sambil bergelayut manja di lengan Reino.
"Ya sudah kalau seperti itu, aku hanya mencemaskanmu karena disini tidak ada pengawal, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu?"
"Iya, sayang ... maaf."
Venus sengaja pergi tanpa pamit dan meninggalkan ponselnya karena tak ingin Reino banyak tanya dan menggagalkan rencananya dan bocah-bocah itu. Venus sudah sangat penasaran dengan hasil rencana mereka itu, berhasil atau tidak.
"Hmm ... sayang, kalau begitu aku lihat anak-anak dulu ya, mau pastikan mereka sudah bersiap-siap apa belum." Venus beralasan.
"Iya, pergilah. Setelah itu cepat kembali ke kamar, kita juga harus bersiap-siap."
Venus bergegas pergi, dia sengaja ke kamar Vie dan Ayumi dulu agar Reino tidak curiga, setelah memastikan putri dan keponakannya sudah bersiap, Venus pun segera berpindah ke kamar Andra dan duo gesrek.
Setelah mengetuk pintu kamar dan Raja membukanya dengan wajah yang muram, Venus sudah bisa menebak bahwa sepertinya rencana mereka tidak berjalan dengan baik. Venus juga melihat Andra yang sedang duduk di atas ranjang dengan wajah yang murung sambil memainkan ponselnya.
"Ayo ikut Tante!" Bisik Venus sambil menarik Raja keluar dari kamar dan mengikutinya.
Setelah tiba di balkon resort yang agak jauh dari kamar mereka, Venus berdiri dihadapan Raja dan memandang bocah itu dengan penuh selidik.
"Sekarang ceritakan kepada tante, apa yang terjadi?"
Dengan sedikit takut, Raja pun akhirnya menceritakan semua yang terjadi tadi. Mendadak wajah Venus berubah menjadi sendu, ada rasa bersalah dan sedih dihatinya melihat perlakuan Vie kepada Andra.
***
__ADS_1