Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 77


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Robby sedang tergelak sangat puas dengan seseorang yang meneleponnya yaitu Kenan.


"Jadi mereka sudah berbaikan, Om?" Tanya Kenan penasaran.


"Tentu saja sudah! Rencana kita berhasil, Ken." Robby berbicara dengan senyum penuh kemenangan sambil membayangkan rencana yang dia susun kemarin bersama Kenan dan juga Johan.


Flashback on ...


Kenan sudah menceritakan semua yang terjadi antara Reino, Venus dan Vino kepada Robby. Mereka sepakat akan membantu ketiga orang itu agar segera berbaikan. Robby juga memutuskan menghubungi Johan untuk melancarkan aksi mereka, dia tahu bahwa Reino adalah anak dari klien teman lamanya itu. Johan dan Robby sudah berteman sejak lama, Robby juga tahu jika Reino sangat menurut kepada Johan.


Akhirnya disinilah Kenan, Robby dan Johan berada, disebuah restoran ternama di kota B.


"Jadi bagaimana ini Om-Om yang terhormat? Apa rencana kita?" Kenan bertanya dengan raut wajah penasaran kepada kedua pria paruh baya yang sudah dia kenal itu.


"Begini saja, aku akan mengundang Johan makan malam saat Vino sudah pulang ke rumah, nanti kau harus mengajak Reino untuk ikut." Robby mulai membicarakan rencananya. Memandang wajah Johan dengan penuh harap.


"Lalu apa yang harus kita lakukan setelah itu?" Tanya Johan bingung.


"Kita hanya perlu memepertemukan mereka bertiga dan membiarkan mereka saling meluapkan isi hatinya, karena jika tidak dipertemukan, Venus dan Vino nggak akan mau bertemu dengan Reino." Lanjut Robby.


"Hmm ... iya juga sih! Baiklah kita akan mulai rencana ini, aku harap kita berhasil memperbaiki hubungan mereka. Bagaimana pun juga mereka kan sudah menjadi satu keluarga." Ucap Johan.


"Iya, aku setuju dengan rencana itu, aku tahu Reino dan Venus saling mencintai, dan kesalahpahaman ini harus segera di luruskan." Ujar Kenan.


Dan begitulah ketiga pria itu sudah mensepakati rencana mereka, mungkin ini satu-satunya cara agar ketiga orang yang sedang salah paham itu bisa saling memaafkan.


Maka dari itu saat Johan bertanya kepada Reino di apartemennya, sebenarnya Johan hanya memancing pria itu untuk berbicara, karena Johan sendiri sudah tahu cerita yang sesungguhnya. Dan kebetulan Johan mendapatkan informasi jika Reino tidak masuk kantor dari orang suruhannya, dan dia pakai itu sebagai alasan kedatangannya.


Flashback off ...


Robby sudah mengakhiri panggilannya dengan Kenan.


"Akhirnya aku bisa melihat kedua keponakanku berkumpul lagi, Kak Noah dan Kak Vivi ... sekarang tenanglah di alam sana." Robby memandangi langit malam dari balik kaca jendela kamarnya.


***

__ADS_1


Erik sedang duduk di depan ruang perawatan Erika, di dalam sudah ada Daniel dan Eliza. Sebelum ke rumah sakit, Erik terlebih dahulu mendatangi kediaman Winata untuk mengabari kondisi Erika.


Sebenarnya Erik tak ingin menghubungi Daniel dan Eliza, dia ingin berada di dekat Erika sekejab saja. Tapi Venus memintanya untuk mengabari kedua orang tua Erika, karena mereka harus tahu kondisi putri mereka.


"Maaf, Tuan suaminya pasien atas nama Erika Winata kan? Kenapa tidak masuk?" Seorang dokter perempuan yang menangani Erika di UGD tiba-tiba menghampiri Erik.


"Aaahh ... hmm ... iya, dok! Di dalam sudah ada orang tua Erika." Erik menjadi gugup karena pertanyaan dokter itu yang masih menganggap Erik suaminya Erika.


"Wah ... kebetulan sekali, mari masuk sebentar, Tuan! Ada yang mau saya bicarakan dengan Tuan dan orang tua pasien." dokter wanita itu mempersilahkan Erik masuk.


"Ta ... tapi saya ..." Erik semakin gugup, bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dalam dan mengaku sebagai suami Erika?


Tapi dokter itu sudah masuk terlebih dahulu meninggalkan Erik yang masih terpaku di tempatnya.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya, saya dokter yang menangani pasien. Ada yang ingin saya sampaikan kepada keluarga pasien, tapi maaf ... kenapa suaminya tidak masuk?" dokter itu menoleh ke arah pintu ruangan Erika.


Daniel dan Eliza terkejut mendengar kata-kata dokter itu, bukankah mereka tidak mengabari Shane. Terlebih lagi Erika yang mendadak gemetaran saat dokter itu mengatakan "suaminya".


"Apakah Shane juga datang?" Gumam Erika dalam hati.


Erik berjalan dengan pelan memasuki ruangan Erika, semua orang terperangah melihat kemunculan pria berwajah dingin itu.


"Dia yang mengabarkan kondisimu kepada kami, katanya dia menemukanmu di pinggir jalan dan membawamu kesini." Daniel menjelaskan.


"Apa ...? Jadi pria yang menolongku tadi itu kau?" Erika memekik tak percaya.


"Iya." Jawab Erik singkat.


"Dia suami Nona kan?" dokter wanita itu mulai kebingungan melihat situasi ini.


Kali ini Erika dan semua orang semakin terkejut, jadi yang di maksud dokter itu suaminya Erika adalah Erik?


"Iya, saya suaminya." Erik menjawab dengan cepat sambil mengedipkan matanya ke arah Erika dan kedua orang tuanya sebelum mereka membantah pernyataan dokter itu.


Erika nggak habis fikir, mengapa Erik sampai mengaku sebagai suami dirinya.

__ADS_1


Mengapa dia mengaku sebagai suamiku? Apa yang sedang direncanakannya?


"Karena semua keluarga sudah berkumpul disini, saya akan meyampaikan hasil pemeriksaan Nona Erika. Menurut pemeriksaan kami, rahim Nona Erika mengalami kerusakan akibat terluka pasca melakukan tindakan kuret. Sepertinya sebelum di bawah kesini, Nona Erika mengalani hantaman atau hentakan yang kuat sehingga membuat janinnya gugur dan terjadi pendarahan." dokter wanita itu menjelaskan dengan rinci, membuat semua orang yang mendengarnya tersentak kaget.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Gumam Erik dalam hati.


"Lalu bagaimana kondisi anak saya, dok?" Eliza semakin cemas.


"Kondisi Nona Erika masih sangat lemah, dia butuh banyak istirahat. Dan untuk suaminya, saya minta jangan dulu terlalu sering berhubungan intim dan jangan hamil lagi sampai batas waktu minimal 3 bulan ke depan ya, mengingat kondisi rahim istri Tuan masih sangat lemah." dokter wanita itu sudah beralih memandang Erik.


Mendadak wajah Erik memerah bak kepiting rebus mendengar kata-kata dokter itu, dan dia hanya mampu mengangguk pelan tanpa berani menjawab.


"Kalau begitu saya permisi dulu." dokter muda itu berlalu keluar dari ruangan Erika.


Tinggalah Erik yang sedang ditunggu penjelasan oleh ketiga orang di hadapannya.


"Saya juga permisi!" Erik ingin berlalu pergi untuk menghindari tapi suara lemah Erika menahan langkahnya.


"Tunggu ... tolong jelaskan sesuatu, kenapa kau mengaku sebagai suamiku?" Erika spontan bertanya tanpa basa basi.


"Cuma ingin mempercepat proses penanganmu saja, karena mereka mencari suami atau keluargamu. Jadi aku mengaku saja sebagai suamimu, agar semuanya lebih mudah." Erik menjelaskan apa adanya.


"Oh ... terima kasih ya sudah menolongku." Ucap Erika.


"Iya, semoga cepat sembuh. Saya permisi."


"Sekali lagi terima kasih ya, Tuan Erik." Daniel pun ikut mengucapkan terima kasih dan hanya di balas dengan anggukan serta senyuman oleh Erik.


Erik pun segera berlalu keluar dari ruangan Erika dengan jantung yang berdebar tak karuan, ada asa yang terselip di hatinya atas pengakuan itu.


Sejenak Erik terdiam memegangi dadanya yang bergemuruh hebat.


"Andai aku bisa mengatakan, bahwa mengaku sebagai suamimu bukan hanya kepura-puraan, itu lebih ke sebuah keinginan.


Aku tahu ini gila! Sejak lama aku menyukai wanita yang nggak mungkin aku miliki.

__ADS_1


Tapi aku sendiripun bingung mengapa perasaan aneh ini ada untukmu?" Bathin Erik


***


__ADS_2