
"Aku tak menyangka Diana melakukan semua ini. Dia rela mengorbankan nyawanya demi aku, aku merasa bersalah kepadanya ... aku menyesal." Reino tertunduk sedih.
"Sudahlah, sayang. Semua sudah terjadi, jangan disesali lagi." Venus mengelus pelan pundak Reino, berusaha menenangkan suaminya itu.
"Kasihan ... dia masih sangat muda. Tapi karena keserakahan dan keegoisan orang tuanya, dia harus mengalami semua ini." Ucap Vino dengan wajah sendu.
"Ini seperti karma untuk Tomi dan Liana. Mereka ingin menghabisi anak orang lain, tapi malah putri mereka sendiri yang menjadi korban." Johan menimpali ucapan Vino.
"Kasihan adikku itu, baru saja dia menemukan keluarga kandungnya, tapi semua harus berakhir seperti ini. Dia seperti menjadi tumbal perbuatan orang tuanya sendiri." Erik tertunduk dengan wajah penuh duka.
"Sudahlah, sekarang sebaiknya kita doakan semoga Diana tenang disana." Ujar Venus. Semua orang mengangguk setuju.
"Dan kau, kenapa selama ini kau membohongiku, haaa ...?" Reino beralih menatap Erik yang duduk di sampingnya.
"Aku terpaksa. Aku hanya ingin melindungimu dari niat busuk ayahku." Ucap Erik dengan wajah yang datar.
"Tapi kan kau bisa jujur dan menceritakannya kepadaku, kenapa harus menyamar menjadi orang lain?" Tanya Reino.
"Kalau aku jujur, kau pasti takkan mau menjadikan aku supir dan pengawalmu. Bagaimana aku bisa melindungimu kalau aku tidak selalu berada di dekatmu?" Erik menjawab apa adanya.
"Sejak kapan kau mengetahui niat buruk Om Tomi kepadaku?"
"Sebelum ibuku meninggal dunia, ibu menceritakan semua niat jahat ayahku kepadamu, ibu pernah tak sengaja mendengar pembicaraan ayah dengan seseorang melalui telepon bahwa dia akan melenyapkanmu setelah kau menikah. Dan sejak saat itu ibu memintaku untuk menjaga dan melindungimu, dan satu-satunya cara adalah dengan menyamar menjadi supir dan pengawalmu. Syukurnya kau menerimaku dengan baik, jadi mempermudah rencanaku. Tapi setelah 3 tahun menyamar, ayah tahu kedokku entah dari mana. Dia mulai menerorku dan mangajakku bersekongkol, tapi aku selalu menolak dan mengancam akan membeberkan rencana busuknya. Dan ayah bilang kalau aku berani mengusiknya, dia akan membongkar kedokku kepadamu." Erik mulai bercerita.
"Jadi tante Yuna sudah meninggal? Tapi om Tomi bilang tante Yuna membawamu pergi?" Reino terkejut sekaligus bingung.
"Iya, ibuku terkena serangan jantung. Hampir 20 tahun yang lalu, ayah membawa kami pergi ke Jepang. Tapi disana dia memperlakukan ibu seperti pembantu, dia membawa wanita lain ke rumah tanpa memikirkan perasaan ibuku, bahkan dia sering memukul ibu. Aku hanya bisa menangis saat melihat semua itu. Dan saat beranjak dewasa, aku membawa ibu pergi dari rumah dan bersembunyi dari ayah. Aku bekerja keras untuk membiayai hidup kami, sampai akhirnya ibu meninggal dan aku kembali kesini." Kenang Erik dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kasihan sekali tante Yuna. Om Tomi memang biada4b! Bahkan dia tega memfitnah tante Yuna berselingkuh dan membawamu pergi. Dasar manusia tidak punya hati!" Reino mengeraskan rahangnya, menahan geram mendengar cerita Erik.
"Aku heran, kenapa Tuhan menciptakan manusia seperti itu?" Vino ikut menimpali.
Sementara Venus dan Johan hanya menyimak pembicaraan mereka.
"Jadi sekarang aku harus memanggilmu apa? Erik atau Hendrik?" Tanya Reino meledek Erik.
"Terserah kau saja, Tuan Muda!" Erik balik meledek Reino.
__ADS_1
"Ciihh ... jangan memanggilku begitu lagi! Kau sudah bukan bawahanku sekarang, kau sepupuku ... saudaraku." Reino tiba-tiba memeluk Erik dan terisak. Erik yang kaget dengan perlakuan Reino hanya diam bergeming.
"Kau tahu betapa beratnya hidupku sejak kau dan ayah pergi? Aku kehilangan sosok ayah yang selalu melindungiku dan kakak yang selalu ada untukku. Aku sangat merindukanmu ... merindukan masa kecil kita dulu." Reino berbicara dengan suara yang bergetar. Mendadak suasana mengharu biru, bahkan Venus dan Johan tak kuasa menahan tetes air matanya agar tidak jatuh.
"Hey ... bukankah aku selalu menjagamu? Sudah kau jangan cengeng begini? Sebentar lagi kau jadi ayah, tidak malu apa dengan gelarmu itu?" Erik berusaha menenangkan Reino, pria itu membalas pelukan adik sepupunya itu sembari menghapus setetes cairan bening yang lolos dari matanya sendiri.
"Sepertinya kau nyaman sekali memeluk kakak sepupumu itu? Ya sudah, peluk saja dia setiap hari." Venus pura-pura merajuk.
Reino yang tersadar segera mendorong tubuh Erik menjauh darinya, "Sudah sana pergi! Jangan memelukku terlalu lama, istriku cemburu itu!"
"Dasar gila, bukankah kau yang memelukku." Erik menggerutu.
Vino, Johan dan Venus hanya tersenyum melihat tingkah kedua orang itu.
"Oh iya, Rein ... Vin ... sepertinya aku tahu siapa wanita yang menculik Venus itu." Ucapan Erik mengagetkan semua orang.
"Siapa?" Mereka semua bertanya dengan serentak.
***
Setelah menempuh perjalanan 2 jam, akhirnya Erik menghentikan mobil yang dia kendarai di depan sebuah panti asuhan.
Selama diperjalanan Erik menceritakan semuanya, bahkan dia juga menceritakan semua yang terjadi di gudang tadi kepada Vino dan Venus.
Venus bahkan sampai menangis mendengar kisah kematian orang tuanya yang tragis.
Mereka berempat sudah berdiri di depan pintu panti asuhan itu, karena hari sudah gelap, pintu panti pun sudah ditutup. Setelah ketukan ke tiga, pintu itu dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Lusi si ibu panti.
"Kalian siapa?" Lusi bertanya dengan raut wajah bingung.
"Ibu masih kenal saya?" Erik bertanya untuk memastikan.
Lusi tampak berfikir sejenak dan akhirnya dia mengingat sesuatu. "Oh, kalau tidak salah kau yang waktu itu datang bersama Tuan Winata ya? Ada apa malam-malam kesini?"
"Saya datang bersama gadis kecil yang ibu culik sekitar dua puluh tahun yang lalu, ibu masih ingat?" Erik menautkan kedua alisnya dan menatap lekat wajah Lusi.
Lusi melirik Venus, mendadak wajah Lusi berubah ketakutan, dia buru-buru ingin menutup pintu panti itu, tapi Erik menahannya.
__ADS_1
"Jadi kau yang menculik adikku?" Vino mencengkeram bahu Lusi dengan penuh emosi. Lusi hanya meringis dan tertunduk takut.
"Kakak hentikan ...!! Jangan sakiti dia! Dia hanya wanita tua." Venus menarik tangan Vino agar terlepas dari bahu Lusi.
"Seharusnya kau mendekam di penjara!" Ujar Reino kesal.
"Jangan!!! Maafkan aku ...! Aku mengaku salah, tapi jangan penjarakan aku. Aku mohon!" Lusi bersujud memohon di kaki Venus dan semua orang.
"Kenapa kau tega menculik adikku? Kau tahu karena perbuatanmu, ayah dan ibuku sampai meninggal dunia." Vino berteriak dengan emosi.
"Maaf ... saat itu aku gelap mata karena di ditawari uang dengan jumlah yang banyak sehingga aku tak berfikir dengan waras, tapi setelah itu aku menyesal." Gemetar-gemetar Lusi berbicara.
"Kalau kau menyesal, kenapa kau tidak mengembalikan adikku?"
"Aku takut dipenjara. Saat itu Tuan Tomi mengabarkan bahwa tuan dan nyonya Adyatama meninggal lalu dia memintaku untuk membuang atau membunuh adikmu, tapi aku tak tega. Akhirnya aku putuskan untuk membawa Venus ke panti asuhan ini dan mengasuhnya disini. Aku berharap suatu saat Venus masih bisa bertemu dengan keluarganya, makanya aku tidak membuka gelang perak di tangannya dan tetap memanggilnya dengan nama itu." Lusi menjelaskan semuanya.
"Kau bilang Venus di antar oleh wanita bernama Lena, kenapa kau berbohong saat itu?" Erik bertanya.
"Karena aku takut." Lusi tertunduk menyeka air matanya.
"Kau sudah melakukan kejahatan. Kau harus mengakuinya di hadapan polisi!" Vino menatap tajam wajah Lusi.
"Jangan ... jangan ... aku mohon! Kalau aku dipenjara, siapa yang akan mengurusi anak-anak panti?" Lusi memelas memohon.
"Sudahlah, kak! Biarkan dia tetap bebas, setidaknya karena belas kasihannya, saat ini kita semua masih berkumpul.
Kalau saja waktu itu dia membuang atau membunuhku, pasti hari ini kita tidak ada disini." Ucap Venus.
Semua orang tertegun mendengar kata-kata Venus, seketika amarah Vino dan Reino mereda.
"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu. Ayah dan ibuku pasti juga sudah memaafkanmu. Sekarang berdirilah!" Venus membantu Lusi berdiri.
"Terima kasih Venus, hatimu benar-benar baik seperti ibumu yang penuh belas kasih. Sekali lagi aku mohon maaf!" Tangis Lusi pecah. Venus pun memeluk tubuh tua Lusi.
Vino, Reino dan Erik terdiam tak tahu harus berkata apa lagi? Sungguh mulia hati Venus yang dengan mudah memaafkan Lusi, orang yang telah memisahkannya dari keluarganya.
***
__ADS_1
Masih penasaran nggak ni?
Like dan bintang 5 jangan lupa ya sayang akuh ...💜