
Mentari pagi sudah mulai merangkak naik, malam telah berganti pagi, gelap pun telah berganti terang. Reino masih tertidur di sisi Venus sambil menggenggam tangannya, seolah dia tak ingin gadis itu meninggalkannya.
Erik yang baru datang hanya mengintip kedua insan itu dari celah pintu yang dia buka sedikit, tadinya dia berniat untuk bertemu Reino untuk memberikan ponsel majikannya itu, yang dia ambil tadi sebelum dia kerumah sakit, tapi ternyata Reino masih terlelap karena semalaman tidak tidur.
Erik tersenyum samar melihat tangan Reino yang menggenggam erat tangan Venus, sekarang dia sadar bahwa Tuan Muda tampan itu telah jatuh cinta kepada Nona Mudanya walaupun mereka baru bertemu.
Erik menutup kembali pintu itu dan dia pun mendudukkan tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya, sejenak dia berfikir.
Apa kecurigaanku benar?
Mungkinkah mereka dalangnya, tapi siapa pelakunya?
Mereka pasti nggak menggunakan orang sembarangan orang untuk melakukan semua ini.
Apa tujuan mereka sebenarnya?
Lama kelamaan Erik pun terlelap dalam posisi duduk dengan kepala menyandar didinding, rasanya tubuh pria itu sangat lelah, rasa kantuk tak bisa tertahankan lagi.
Setengah jam kemudian Reino keluar dari ruang ICU dengan mata yang memerah, sepertinya pria itu masih sangat mengantuk tapi harus terpaksa bangun dan keluar dari ruangan Venus, karena ada seorang perawat yang ingin memeriksa perkembangan kondisi Venus.
Reino melangkah malas menuju kursi tunggu dan mendudukkan badanya dengan kasar, membuat Erik tersentak bangun dari tidur singkatnya.
"Tuan sudah bangun?" Erik reflek berdiri saat melihat Reino duduk disampingnya.
"Seperti yang kau lihat!" Reino memandang malas Erik.
"Maaf, Tuan ... ini ponsel Tuan, tadi saya mampir sebentar kerumah itu dan mengambil ponsel Tuan." Erik menyerahkan benda pipih itu kepada Reino.
Reino segera meraih ponselnya dan mengotak atik benda itu, seketika wajah Reino berubah pias saat dia melihat beberapa notif panggilan masuk dari Venus dan sebuah pesan darinya.
Dia pasti sangat ketakutan waktu itu.
Maafkan aku karena telah lalai menjagamu.
"Bagaimana kondisi Nona Muda, Tuan?" Erik masih merasa cemas.
"Dia masih belum siuman, tapi dia sudah mendapatkan transfusi darah."
"Apa? Siapa pendonornya, Tuan?" Erik penasaran.
"Dia teman Kenan, aku lupa siapa namanya." Reino malas mengingat.
"Syukurlah ... semoga Nona Muda cepat pulih." Erik berbicara penuh harap, Reino hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Sekarang ceritakan apa yang kau dapat dari panti asuhan itu?" Reino menatap penuh selidik.
Erik menceritakan kembali apa yang disampaikan Ibu Lusi tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun, bahkan dia juga mengatakan bahwa dirinya telah meninggalkan Daniel disana.
Reino serius mendengarkan cerita Erik, dia semakin merasa kasihan kepada gadis itu. Sungguh malang nasibnya.
"Maaf, Tuan ... ada lagi yang ingin saya sampaikan!"
"Apa?"
Sejenak Erik terdiam, dia sedikit ragu untuk berbicara tapi Tuan Mudanya itu harus tahu tentang kecurigaannya.
Erik menarik nafas dalam dan menghembusakannya pelan, lalu dia mulai menceritakan apa yang seharusnya dia ceritakan, semua kecurigaan Erik telah dia sampaikan kepada majikannya itu.
Seketika wajah Reino berubah antara marah dan nggak percaya, tapi dia berusaha menahan emosinya karena Erik memintanya untuk tetap tenang dan pura-pura tidak mencurigai siapa pun.
"Apa yang kau katakan ada benarnya juga, aku akan menyelediki kebenarannya."
"Iya, Tuan. Tapi saya harap Tuan tetap tenang, jangan sampai ada yang tahu kondisi Nona Muda yang sebenarnya. Saya juga sudah meminta pihak polisi untuk merahasiakan semua ini dari publik." Erik berbicara dengan tenang. Walaupun dia hanya seorang supir sekaligus pengawal, tapi Reino selalu percaya kepadanya.
"Baiklah!" Reino mengangguk tanda setuju.
Lalu tiba-tiba suster yang memeriksa Venus berlari keluar ruangan dengan terburu-buru, Reino dan Erik pun tersentak kaget, rasa cemas dan takut seketika menyelimuti hati Reino.
Reino berlari menerobos masuk keruangan Venus diikuti juga oleh Erik, seketika mereka terkesiap melihat Venus.
"Nona Muda!" Erik memekik pelan dan memandang lekat wajah pucat itu.
Kemudian suster tadi kembali bersama seorang dokter yang berjalan tergesa-gesa, mereka langsung menghampiri Venus dan segera memastikan kondisi gadis itu.
***
Sementara itu, Diana dan Liana sedang tertawa riang bersama para tamu yang datang ke acara arisan mendadak yang mereka buat, ada banyak sekali wanita-wanita dari kalangan atas yang hadir. Liana memperkenalkan Diana sebagai calon istri Reino, gadis angkuh itu sangat bahagia hari ini.
"Jadi kapan mereka akan menikah?" Seorang wanita berambut pendek bertanya dengan penasaran.
"Secepatnya! Nanti pasti kami undang." Liana sangat yakin.
"Wah, mereka pasangan yang serasi. Yang satu cantik dan yang satu lagi tampan." Seorang wanita lagi ikut memuji.
Diana hanya tersipu malu mendengar kata-kata wanita itu, dia merasa semakin besar kepala dan sombong.
"Tapi bagaimana dengan kutukan istri pertama itu?" Wanita berambut pendek tadi bertanya lagi dengan penasaran.
__ADS_1
Seketika Liana dan Diana mendadak diam saling pandang, memang bukan rahasia lagi cerita kutukan istri pertama itu, hampir seluruh publik kalangan atas tahu cerita itu.
"Oh, sudah nggak ada masalah kok. Kutukan itu sudah berakhir." Liana memaksakan senyuman diwajahnya untuk menutupi rasa gugup.
Semua yang mendengar ucapan Liana hanya saling pandang, ada rasa heran bercampur penasaran dihati mereka, tapi segan untuk bertanya lebih. Sementara Diana hanya menyunggingkan senyum dibibirnya.
"Sudah-sudah, mari kita bersenang-senang!" Liana mengalihkan perhatian wanita-wanita sosialita yang masih dalam mode kepo itu.
Mereka membicarakan hal-hal lain, Liana dan Diana tak henti-hentinya tersenyum bahagia seperti orang yang baru menang lotre.
Lalu tiba-tiba ponsel Liana berdering, ada panggilan masuk dari Reino, Liana semakin melebarkan senyuman dibibirnya.
"Hallo .... Sayang, kamu dimana?" Liana bertanya.
"Hallo, Ma ... aku lagi di pemakaman." Reino
"Sedang apa?" Liana berbicara dengan nada cemas.
"Venus .... Venus sudah tiada." Suara Reino terdengar lirih.
"Benarkah ...? Heemm ... maksud Mama bagaimana bisa?" Liana berteriak kaget membuat orang-orang beralih memandangnya.
"Dia dibunuh!" Reino.
"Baiklah, Mama akan segera menyusulmu!" Liana begitu antusias.
"Baiklah, Ma. Aku di pemakaman keluarga kita." Reino.
"Mama akan segera kesana!" Liana sangat bersemangat, lalu menutup panggilan masuk itu.
"Ada apa, Tan?" Diana sangat penasaran.
"Wanita itu sudah mati, kutukan itu sudah terjadi." Liana tersenyum sinis.
"Yang benar Tante?" Tanya Diana tak percaya.
"Iya, Sayang. Kamu bisa segera menikah dengan Reino."
"Aku senang banget, Tante!" Diana menghambur memeluk Liana.
Mendadak Liana membubarkan tamu undangannya, dia beralasan bahwa ada kerabatnya yang meninggal dunia. Setelah para tamu bubar, kedua wanita itu bergegas menuju pemakaman keluarga dengan baju serba hitam khas orang berduka cita.
***
__ADS_1
Maaf ya, malam ini cuma up 1 episode, soalnya lagi nggak enak badan.
Jangan lupa like dan vote nya ya guys...