
Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya, Vie berangkat ke sekolah dengan malas. Belajar adalah hal yang paling menyebalkan untuk seorang Nevi Queen Barahmansa.
"Sayang, cepat dong! Nanti telat!" Venus menegur putrinya itu yang terlihat tidak berselera makan pagi ini.
"Iya, ma." Jawab Vie malas.
"Kau ini sudah kelas tiga dan sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir, jadi harus lebih bersemangat lagi! Memangnya kau mau tidak lulus?" Reino pun ikut menasihati putrinya itu.
"Tidak, pa!" Lagi-lagi Vie menjawabnya dengan malas.
Gadis ajaib itu segera menghabiskan sarapan di hadapannya dan setelah itu beranjak dari tempat duduknya karena malas mendengar ocehan Reino.
"Aku sudah selesai! Aku pergi dulu ya, ma ... pa." Vie mencium pipi Venus dan Reino.
"Iya, selamat belajar, sayang. Semoga hari ini menyenangkan." Ucap Venus sambil tersenyum melihat punggung Vie yang menjauh.
"Sepertinya kau terlihat senang sekali hari ini?" Ledek Reino.
"Memangnya kenapa kalau aku terlihat senang? Kau tidak suka kalau aku senang." Venus langsung menatap tajam suaminya itu.
"Aku kan hanya bertanya, kenapa kau jadi menyeramkan begitu? Sepertinya aku harus membuat pengumuman di depan pagar rumah kita."
"Pemgumuman apa?" Venus menautkan alisnya dan memandang Reino dengan bingung.
"AWAS ADA ISTRI GALAK ...! Hahaha ..." Reino tergelak setelah menyindir istrinya sendiri.
"Kau ini!" Venus pun mencubit lengan Reino dengan geram, lelaki tampan itu meringis kesakitan sambil masih tertawa.
Sementara Vie yang sudah berada di dalam mobil tak menyadari siapa yang duduk di depan kemudi, gadis itu fokus memainkan ponselnya. Seperti biasa dia masuk begitu saja ke dalam mobil tanpa menyapa supirnya yang memang sudah berada di dalam mobil, sang supir juga tidak berkata apa-apa dan segera melaju setelah Vie naik.
Vie masih fokus dengan ponselnya, sesekali gadis itu tertawa riang saat membaca balasan-balasan konyol dari sahabat-sahabat gesreknya itu. Ternyata dia sedang membalas pesan grup yang hanya berisikan trio gesrek doang.
Si supir terus saja melirik Vie dari balik spion tanpa Vie sadari.
Tiba-tiba ponsel si supir berdering nyaring dan supir itu tak menjawab panggilan masuk di ponselnya karena sedang fokus mengemudi, hal itu membuat Vie terganggu dengan suaranya yang berisik.
"Pak, lain kali di silent dong ponselnya, berisik sekali!" Vie ngedumel.
"Baik, nona." Jawab sang supir.
Vie sontak kaget mendengar suara si supir yang beda dari biasanya dan dia merasa tidak asing dengan suara itu. Vie segera memandang ke arah depan dan dapat dia lihat dari spion siapa supirnya.
__ADS_1
"Kau ...?" Vie kaget bukan main saat menyadari bahwa supirnya adalah Andra yang baru mulai bekerja hari ini. "Bagaimana bisa kau menjadi supirku?" Vie bertanya dengan cemas.
Bukannya menjawab pertanyaan Vie, Andra hanya meliriknya dari spion dan tetap fokus mengemudi.
"Hey ... aku bertanya, kenapa kau tidak menjawabnya?" Vie mulai kesal.
"Maaf, saya tidak boleh berbicara ketika sedang mengemudi." Jawab Andra dengan nada bicara yang datar.
"Itu kau bicara?"
"Karena nona memaksa!" Jawab Andra seenaknya.
"Jangan memanggilku nona! Sekarang juga putar balik, aku mau pulang! Aku akan tanyakan semua ini kepada mama saja!" Vie benar-benar kesal melihat sikap dingin Andra.
Tapi Andra tidak menghiraukan perintah anak majikannya itu, dia tetap melajukan mobilnya menuju sekolah Vie tanpa bicara sepatah katapun. Dan benar-benar membuat Vie meradang.
"Hey ... kau dengar tidak? Balik ke rumah!" Vie berteriak kesal. Sepertinya gadis itu masih marah karena sikap Andra ketika di rumah sakit waktu itu. Dia bahkan tak datang menjenguk Mirna lagi.
Andra terus melaju dan akhirnya berhenti di depan gerbang sekolah Vie.
"Maaf, tujuan saya kesini. Jadi saya tidak bisa memutar balik ke rumah." Andra baru menjawab Vie setelah mobilnya berhenti.
"Menyebalkan!"
"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri!" Vie melengos dan segera keluar lalu membanting pintu dengan sangat keras.
Andra hanya menghela nafas melihat sikap gadis itu.
"Apa aku tahan bekerja dengan gadis menyebalkan itu? Aku benar-benar merasa serba salah sekarang." Gumam Andra di dalam hati.
Kemudian melajukan mobilnya kembali pulang ke kediaman Brahmansa.
***
Vie masuk ke dalam kelas dengan wajah yang masam, hari ini moodnya benar-benar buruk dan semua itu karena Andra. Dia mencampakkan tasnya begitu saja ke hadapan Dino dan duduk dengan kasar, kedua sahabatnya itu sampai bingung melihat tingkahnya. Bukankah ketika chatingan tadi dia baik-baik saja, kenapa sekarang begini?
"Kau kenapa? Pagi-pagi wajahmu sudah ketat seperti celana dalam baru." Raja memperhatikan wajah Vie dengan seksama.
"Tadi pagi dia cuci muka pakai air semen kali, Ja. Jadi wajahnya kaku begitu." Ucap Dino seenaknya.
"Kalian berdua berisik sekali! Sudah bosan hidup ya?" Vie semakin kesal karena ocehan duo gesrek.
__ADS_1
"Kalau hidup sih belum bosan, tapi dekat kau yang bosan!" Lanjut Raja.
"Kalau begitu, pergi sana! Jangan dekat-dekat aku!" Bentak Vie dengan keras sehingga membuat duo gesrek dan semua orang terkejut mendengarnya.
"Ja, dia lagi PMS kali, makanya marah-marah terus." Dino berbicara pelan di telinga Raja.
"Kau baik-baik saja kan? Hmm ... maksudku, apa ada masalah?" Raja yang sadar kalau sahabatnya itu sedang benar-benar marah pun akhirnya bertanya dengan serius.
Tapi Vie hanya diam dan meletakkan dahinya di atas meja.
"Vie, kalau kau ada masalah, cerita ke kita. Siapa tahu kita bisa bantu." Ucap Dino.
"Mantan guru BP menyebalkan itu sekarang menjadi supirku." Vie akhirnya membuka suara.
"Apaaaa ...?" Raja dan Dino sontak berteriak kaget mendengar pernyataan Vie. Suara mereka bahkan mengejutkan siswa lain.
"Maksudmu pak Andra?" Raja memastikan lagi.
"Memangnya ada yang lain?" Vie mengangkat kepalanya dan memandang Raja dengan malas.
"Bagaimana bisa dia menjadi supirmu? Bukankah kau bilang dia masih sangat marah dan membencimu?"Dino jadi bingung sendiri.
"Mana ku tahu! Aku bahkan baru tahu setelah sudah di jalan menuju sekolah." Ucap Vie. Dia mulai kesel.
"Aneh sekali. Menurutku pak Andra tak mungkin dengan sengaja melamar menjadi supirmu, mengingat dia membencimu. Kecuali dia ada tujuan tertentu." Raja yang penasaran mulai berfikir.
"Haaa ... atau jangan-jangan dia ada niat jelek kepadamu. Dengan menjadi supirmu, dia akan membawamu pergi lalau memperkosamu terus memutilasi tubuhmu kemudian membuang potongan-potongan tubuhmu ke sungai biar di makan buaya. Dan akhirnya kau gentayangan." Dino memprovokasi Vie dengan alur cerita yang menyeramkan. Seketika membuat Vie merinding takut.
"Kau kebanyakan menonton film horor!" Raja menepuk pelan kepala Dino. "Aku rasa pak Andra tak akan senekat itu, dia punya ibu yang harus dia lindungi. Aku yakin ada alasan lain mengapa dia menjadi supirmu." Raja menjelaskan dengan logis.
"Kau benar juga!"
"Tunggu! Bukankah kau bilang mamamu melunasi biaya operasi bu Mirna? Mungkin saja pak Andra menjadi supir karena ingin balas budi. Bisa sajakan?" Tiba-tiba Dino berbicara dengan masuk akal.
Vie terdiam, dia mengingat beberapa hari yang lalu menceritakan hal itu kepada duo gesrek.
"Kalau begitu aku akan tanya mama dan papa, mereka pasti tahu sesuatu." Ucap Vie yakin.
"Wah ... tumben sekali cara berfikirmu bagus?" Raja meledek Dino.
"Mungkin karena kau pukul tadi, jadi otakku bergeser ke tempat yang lebih baik." Dino menjawab seenaknya.
__ADS_1
***