
Mentari telah menampakkan dirinya, menyinari pagi dengan kehangatan. Cahayanya membuat siapa saja tersadar, bahwa kehidupan masih berlanjut.
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi dia masih bersembunyi dengan lelap di bawah selimutnya. Sudah dua kali sang mama membangunkan, tapi tetap dia masih melanjutkan tidurnya.
"Vie ... bangun!!!" Ini sudah ketiga kalinya Venus berteriak membangunkan putri semata wayangnya itu. Sudah menjadi kebiasaan bagi Vie untuk bangun kesiangan, sedari kecil gadis ini susah sekali dibangunkan jika sudah tidur. Dan dia hanya terbangun dengan suka rela, bila ada perlunya saja, misalnya karena lapar atau ingin buang air.
"Mama ... jangan teriak-teriak ...! Aku tidak tuli kok!" Vie menutup telinganya yang berdengung karena teriakan Venus yang melengking. Gadis itu masih berbaring malas sambil mengucek-ngucek matanya.
"Habis kau susah sekali jika dibangunkan!" Ucap Venus kesal.
"Mama, tapi aku masih mengantuk!" Vie menarik selimutnya sampai ke kepala.
"Ini anak ...! Kau fikir ini pukul berapa? Ini sudah pukul tujuh, kau bisa telat lagi ke sekolah!" Ucap Venus.
"Apaaaaa ...?" Vie sontak bangun dan melompat dari tempat tidur dan berlari masuk ke kamar mandi.
Venus hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku putrinya yang jauh dari kata anggun. Inilah akibatnya jika dari kecil Vie kebanyakan bergaul dengan papa, oom dan sepupunya yang cowok. Belum lagi di sekolah dia berteman dengan dua sahabatnya yang juga lelaki. Tingkahnya pun seperti anak lelaki.
Entah mengapa sedari kecil, Vie lebih senang bermain dengan lelaki dari pada wanita, dia bahkan lebih senang bermain mobil-mobilan dari pada harus bermain boneka seperti anak perempuan pada umumnya.
Venus sudah sering melatih putrinya itu agar menjadi gadis sesungguhnya, tapi selalu sia-sia.
Berkat kasih sayang yang melimpah dan nama besar keluarganya, Vie selalu bertingkah seenak jidatnya. Kelakuan gadis cantik itu selalu membuat orang geleng-geleng kepala, tapi walaupun nakal, Vie sebenarnya adalah gadis yang baik. Hatinya lembut seperti Venus tapi tingkahnya menyebalkan seperti Reino.
***
Vie berdiri di tengah lapangan bersama kedua orang sahabat karibnya yaitu Raja dan Dino, itu hukuman untuk mereka karena sudah telat datang ke sekolah. Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika ketiga orang yang dijuluki trio gesrek itu menjadi pajangan di tengah lapangan, bahkan dalam minggu ini saja, sudah empat kali mereka dihukum seperti ini. Sebenarnya Raja dan Dino tidak telat seperti Vie, tapi demi rasa setia kawan, merekapun jadi ikut-ikutan telat.
"Vie, besok-besok kau jangan telat lagi dong! Aku capek dihukum begini terus!" Raja memprotes tak terima. Keringat sudah mengalir dipelipisnya.
"Siapa bilang aku telat?"
"Kalau bukan telat, terus ini namanya apa?" Raja bertanya dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Aku itu tidak telat, merekanya saja yang kecepatan masuk!" Vie menjawab seenaknya.
"Lah ... ini ombus-ombus! Bisa saja ngelesnya." Raja memutar bola matanya dengan wajah malas.
"Hey ... Dinosaurus! Kenapa kau diam saja? Kemarin biawak tetanggaku diam-diam, lima menit kemudian mati!"Raja beralih mengusik Dino yang sedari tadi hanya diam bergeming.
"Diamlah kau, Raja singa! Aku sedang konsentrasi agar bisa mempraktekkan hiraishin no jutsu, biar bisa berpindah tempat." Dino berbicara tanpa memandang Raja yang terpelongo mendengar jawabanya itu.
"Cckk ... cckk ... cckk ... kebanyakan nonton Naruto ini anak, jadi halu gitu." Raja geleng-geleng kepala melihat Dino yang memejamkan mata seolah sedang benar-benar berkonsentrasi.
"Gayanya mau konsentrasi, berpikir saja kau tidak pandai!" Kali ini Vie ikut mengejek sahabatnya itu.
"Aish ... kalian berisik sekali, rasakan ini ... saringan ...!" Dino berlagak seperti tokoh anime Naruto yang sedang mengeluarkan jurusnya.
"Kalau kau saringan, aku keluarkan jurus parutan! Eeeeaaakk ..." Raja pun meladeni Dino.
" Di sebelah kanan ada hokage kesatu dan di sebelah kiri ada hokage kedua. Kita saksikan pertarungan mereka!" Vie pun ikut-ikutan somplak seperti kedua sahabatnya itu.
"Hey ... kalian bertiga! Sudah dihukum masih saja tidak tahu malu!" Tiba-tiba seorang lelaki berpostur pendek dan buncit berteriak membentak ketiga orang itu.
"M@mpus kita, bertambah deh durasi hukuman kita, bisa sampai besok pagi kita disini." Raja tertunduk takut. Sementara Dino sudah lebih dulu pura-pura jadi patung.
"Kalian bertiga ikut saya!" Kepala sekolah yang bernama Teddy itu pun mengajak trio gesrek mengikutinya.
Vie, Dino dan Raja pun berjalan mengikuti Teddy ke ujung gedung sekolah.
"Kita mau diajak kemana?" Raja bertanya dengan sedikit berbisik.
"Nonton konser Slank kali!" Vie menjawab sekenanya.
"Hmmm ... aku mencium aroma-aroma kantor BP." Dino mengibas-ngibaskan telapak tangannya sambil menghirup udara.
"Macam penciuman kau bagus saja! Kemarin bau telur busuk kau bilang wangi nasi matang." Raja kembali mengejek sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hidungmu itu terlalu dekat dengan mulut!" Dino melengos.
"Hahaha ..." Vie hanya terkekeh mendengar perdebatan tak berfaedah kedua sahabatnya itu.
Dan benar, Teddy membawa trio gesrek itu ke kantor BP.
"Kalian bertiga, bersihkan kantor BP ini, besok akan ada guru BP baru yang masuk!" Teddy memberi titah.
"Loh, guru BP yang lama kemana, pak?" Vie bertanya.
"Kabur, karena tidak sanggup menghadapi kelakuan kalian!" Jawab Teddy berbohong, padahal guru BP yang lama berhenti karena mau pindah ke luar kota.
"Ya sudah, cepat bersihkan! Sebelum bel istirahat pertama, kalian harus sudah selesai." Lanjut Teddy lalu beranjak pergi meninggalkan ketiga siswa terabsurdnya itu.
Selepas kepergian Teddy, Vie segera duduk di kursi kebesaran guru BP, sementara Raja dan Dino mulai bersih-bersih.
"Hee ... klepon! Kita disuruh bersihkan ruangan ini, bukannya bersantai!" Raja memprotes tak terima dengan kelakuan Vie.
"Kan sudah ada kalian yang bersih-bersih! Lagipula masa seorang Nevi Queen Brahmansa dijadiin upik abu sih? Apa kata dunia?" Mode sombong Vie kumat, dia berbicara dengan gaya angkuh.
"Dunia akan berkata ... sombong kali kau, baaaahh ...!" Raja menjawab ucapan Vie dengan logat khas kampung halamannya, yaitu Medan.
"Sudah ... sudah ... kalau kalian tak cepat membersihkannya, kita takkan siap tepat waktu!" Dino yang malas meladeni kedua sahabatnya itu berusaha mendinginkan suasana.
"Itu dengarkan apa kata Dino? Buruan bersihkan!" Vie memerintah Raja seenak jidatnya.
"Ciihh ... untung saja kau sahabatku, kalau tidak sudah kutenggelamkan kau di laut, biar dimakan ikan buntal ...!" Raja mengomel seperti emak-emak kurang piknik.
"Ikannya tak ada yang lebih keren ya? Misalnya paus gitu?" Vie semakin meledek Raja yang sudah kesal.
"Bodoh amat!" Raja melengos.
Akhirnya Dino dan Raja mengalah, mereka membiarkan Vie yang tak mau ikut bersih-bersih. Begitulah mereka, Vie selalu mengakali kedua sahabatnya itu demi keuntungannya. Tapi itu tak membuat persahabatan mereka rusak, malah semakin hari semakin erat dan mereka pun saling menyayangi.
__ADS_1
***