
Sinar mentari yang terang mulai memasuki mata, dan mengusir setiap anak manusia dari alam mimpi, tetesan embun pagi juga sudah mulai menguap dan hilang tak berkesan.
Reino sudah bangun lebih dulu, tapi dia masih setia merebahkan badannya di samping Venus sambil memandangi wajah cantik istrinya yang masih terlelap itu.
Reino mengecup kening Venus dan membelai lembut wajah mulus Sang Istri dengan penuh kasih sayang.
"Aku sangat bahagia, akhirnya aku bisa melihat wajahmu lagi saat pertama kali aku bangun tidur. Aku sangat merindukanmu." Reino masih mengelus-elus pipi mulus milik Venus.
Venus mulai menggeliat sambil membuka perlahan matanya, berusaha memfokuskan pandangan. Netranya menangkap sosok tampan yang sedang memandanginya sedari tadi dengan senyum yang mengembang.
Cuup ...
"Selamat pagi sayang." Reino mendaratkan satu ciuman dikening Venus dan menyapa istrinya yang baru saja terbangun dari tidur.
"Eump ... pagi juga. Sudah pukul berapa sekarang?" Venus menarik badan untuk meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku dan lelah.
"Ini sudah pukul 09.00 pagi, lihat saja mentari mulai merangkak naik." Reino menunjuk jendela kamar yang sudah terang.
"Apa ...? Ya ampun!!! Kenapa kau tidak membangunkan dari tadi?" Venus tersentak dan segera bangun dari tidurnya, tanpa sadar selimut yang dia pakai melorot, menampilkan dada putih mulus miliknya.
"Wah ... kau ingin menggodaku lagi ya?"
Reino membelalakkan matanya dan memandang lurus kedada Venus.
"Eh ... tidak ... tidak ... kau ini! Dasar
mesum ...!!!" Venus yang tersadar, segera menarik selimut menutupi dadanya dengan wajah yang bersemu merah.
Reino tergelak karena berhasil menggoda istri cantiknya itu, walaupun dia sendiri tergoda dengan pemandangan barusan.
Venus segera bangun dan menjuntaikan kakinya ke lantai dengan tubuh polos yang dibalut selimut, dia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
"Kau mau kemana?" Tanya Reino yang juga bangun dari pembaringan.
"Aku mau mandi."
"Tunggu dulu ...! Kenapa terburu-buru sekali?" Reino segera memeluk Venus dari belakang.
__ADS_1
"Hey ... lepaskan aku! Aku ingin mandi dan memasak sarapan." Venus yang terkejut dengan aksi Reino berusaha melepaskan pelukan suaminya itu.
"Kan sudah ada koki dan pelayan, kenapa kau harus repot-repot sih ...? Lagi pula mungkin saja mereka sudah sarapan, ini kan sudah hampir siang." Reino semakin mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya dipundak Venus.
"Iya juga sih! Ini semua gara-gara kau! Aku jadi telat bangunkan!" Venus mencebik kesal berusaha melepaskan tangan Reino yang melingkar ditubuhnya.
"Wah ... kenapa kau menyalahkanku? Jelas-jelas ini semua salahmu!"
"Apa ...? Salahku ...?" Venus melepaskan tautan tangan Reino dari tubuhnya kemudian berbalik menghadap suaminya itu dan memandang Reino dengan wajah bingung.
"Iya, tentu saja ini salahmu! Kalau kau tidak membuatku hampir mati karena merindukanmu, aku tidak akan membuatmu kesiangan seperti ini." Reino mencari-cari alasan untuk menggoda istrinya itu.
"Haaa ... alasan macam apa itu? Dasar gila ...!!"
"Iya, aku memang gila karena dirimu! Jadi jangan salahkan orang gila ini jika membuatmu tak bisa berjalan dengan baik setelah ini." Reino segera menarik Venus kepelukannya dan meluma4t bibir istrinya itu dengan rakus, bahkan tangannya sudah mulai bergerak kesana kemari.
Venus melepaskan bibirnya dari bibir Reino, nafasnya mulai sesak karena kehabisan udara, tapi tangan suami genitnya itu masih belum beranjak dari tempat favoritnya.
"Kau mau membunuhku ya?" Tanya Venus setelah berhasil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Kau ini selalu saja menyalah ..." Venus tak melanjutkan kata-katanya saat ponsel Reino berdering nyaring.
"Siapa sih ...? Mengganggu saja!" Reino yang kesal segera meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas dan melepaskan istri cantiknya itu.
Reino menatap layar ponselnya, ternyata ada panggilan masuk dari orang suruhannya. Pria tampan itu segera menjawab panggilan itu.
"Katakan informasi apa yang kau dapat?" Tanya Reino tanpa basa-basi.
"Saya sudah menemukan reporter yang membuat berita hoax tentang penembakan di acara launching itu, Tuan." Orang suruhan Reino.
"Benarkah ...? Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Reino penasaran.
"Di rumah sakit XX, Tuan. Tadi ketika saya berhasil menemukan pria itu dan mengintrogasinya, dia berusaha kabur. Saat dia berlari menyeberang jalan untuk menjauh dari saya, tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan tinggi menabrak tubuh pria itu dan mobil itu lari, Tuan." Orang suruhan Reino.
"Apa ...? Lalu bagaimana kondisi pria itu sekarang?" Reino terkejut. Bahkan Venus pun terlihat khawatir melihat reaksi suaminya itu.
"Pria itu meninggal dunia, Tuan. Tapi saya menemukan bukti diponselnya, sepertinya dia disuruh seseorang." Orang suruhan Reino.
__ADS_1
"Ya ... Tuhan!!! Sepertinya kecelakaan ini bukan kebetulan, dia pasti sengaja ditabrak! Baiklah ... aku akan segera kesana, tunggu aku!" Reino mendadak panik sekaligus geram. Dia segera mengakhiri panggilan telepon itu sebelum orang suruhannya menjawab.
"Ada apa?" Tanya Venus dengan raut wajah cemas.
Reino menceritakan apa yang terjadi kepada Venus, mendadak gadis itu merasa takut saat Reino mengatakan untuk pergi ke rumah sakit. Seperti ada firasat buruk yang akan terjadi jika suaminya itu pergi.
"Bisakah kau tidak pergi? Tetaplah disini bersamaku! Aku rela melayanimu seharian ini." Venus memohon bahkan sampai melupakan harga dirinya sendiri.
"Hahaha ... kau tenang saja, aku akan segera kembali. Sekarang aku pergi dulu dan kau tetap disini sampai aku datang!" Reino mengelus rambut panjang Venus, mencoba menenangkan istrinya itu.
"Kau hati-hati ya."
"Iya, istriku sayang." Ucap Reino.
Reino segera menghubungi Erik agar menjemputnya di rumah Vino, lalu pria tampan yang dalam keadaan polos itu melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Venus memandangi punggung suaminya dengan perasaan was-was, entah mengapa dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
***
Reino dan Venus sudah keluar dari kamar setelah membersihkan diri masing-masing, Reino buru-buru beranjak pergi meninggalkan kediaman Adyatama saat Erik sudah datang untuk menjemputnya tanpa menceritakan apapun kepada Vino dan Robby. Bahkan Reino tak menyentuh sarapan yang sudah disediakan untuknya.
"Ada apa? Kenapa dia terburu-buru sekali?" Tanya Vino penasaran.
Venus nenceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada reporter naas itu, Vino dan Robby terkejut bukan main, bahkan Vino merasa kesal sendiri, kenapa Reino tidak mengajaknya atau paling nggak menceritakan semuanya.
"Berengsek ...! Dia merasa sok hebat sekarang? Kenapa dia tidak mengajakku atau paling tidak dia menceritakan semuanya kepadaku!" Vino mencak-mencak karena kesal kepada adik iparnya itu.
"Kakak kan masih sakit, Reino nggak ingin membuat kondisi Kakak menjadi tidak baik karena hal ini." Hati-hati Venus menjelaskan maksud suaminya itu agar Vino tidak marah dan salah paham.
"Adikmu benar sekali, Vin! Kau fokus saja dengan kesehatanmu dulu, jangan fikirkan hal lain. Siang ini kita akan ada jadwal terapi, kau bersiaplah." Ucap Robby.
"Iya, baiklah! Aku mengalah!" Vino menghela nafas pasrah walaupun hatinya masih kesal.
***
Haii ... sekarang author nggak janji bisa up 2 episode tiap hari ya. Kalau author sempat, author akan usahakan up 2 episode tapi kalau author tidak sempat author hanya bisa up 1 episode saja.
Dukung terus karya author ini ya sayang akuh ... akan ada rahasia-rahasia yang terbongkar dan kejadian-kejadian yang tak terduga.
__ADS_1