Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 95


__ADS_3

Semua orang sedang berdiri tertunduk dengan wajah penuh duka di samping sepasang makam bernisan putih, suasana pemakaman yang hening, menambah rasa haru dihati semua orang, terutama untuk Venus. Ini pertama kalinya dia berziarah ke makam kedua orang tuanya itu tepat di hari kematian mereka.


Venus bersimpuh di antara dua nisan yang bertuliskan nama Noah Adyatama dan Vivi Hendrawan, mereka adalah ayah dan ibunya. Venus menangis sesunggukan sambil mengusap kedua nisan itu.


"Ayah ... ibu ... aku datang." Hanya kata-kata itu yang terdengar dari mulut Venus. Tubuh gadis itu berguncang karena menangis.


"Tahun ini aku datang bersama putri kesayangan kalian, aku menepati janjiku untuk menemukannya." Vino menghampiri Venus dan mengelus pelan pundak adiknya itu.


"Sudahlah jangan menangis lagi, mari kita berdoa agar ayah dan ibu kalian tenang disana." Ucap Robby.


Mereka semua pun menadahkan tangan sambil menutup mata, lalu melantunkan doa-doa yang hanya mereka dan Tuhan saja yang tahu.


"Ayah ... ibu ... aku pamit ya." Ucap Venus seraya beranjak dari sisi makam kedua orang tuanya itu. Reino segera menyambut istrinya itu dan menuntun langkahnya.


Mereka semua berjalan meninggalkan pemakaman menuju ke mobil, Erik yang tinggal dimobil sudah menanti mereka. Setelah semua orang masuk ke dalam mobil, Erik segera melaju dengan kecepatan sedang.


"Om, aku penasaran deh, memangnya ayah dan ibuku meninggal kenapa? Kecelakaan ya? Kok bisa berbarengan?" Venus bertanya dengan penasaran. Selama ini dia memang tak tahu banyak tentang masa lalu keluarganya itu.


"Bukan! Beberapa hari setelah kau hilang, ayah dan ibumu ditemukan tewas tertembak di sebuah villa. Saat itu kebetulan om sedang berada di luar kota, om syok sekali dan buru-buru pulang." Robby mengenang saat menyedihkan itu.


"Maksud om, ayah dan ibuku dibunuh? Lalu siapa yang melakukannya?" Venus semakin penasaran, sungguh gadis itu benar-benar terkejut mengetahui penyebab kematian orang tuanya. Sementara Vino, Reino dan Erik hanya menyimak pembicaraan mereka.


"Sepertinya begitu! Pelakunya penjaga villa itu sendiri, dia menyerahkan diri sesaat setelah menembak ayah dan ibumu. Tapi ada satu keanehan, ayah dan ibumu sepertinya datang terpisah ke villa itu, sebab mereka menaiki mobil yang berbeda. Dan kata para pelayan di rumah, mereka selalu pergi bersama, entah mengapa saat hari naas itu, mereka pergi terpisah. Tapi kecurigaan itu tidak direspon oleh polisi." Robby kembali melanjutkan ceritanya.


"Lalu dimana pelakunya sekarang? Apa modusnya melakukan itu?" Kali ini Reino yang bertanya karena ikut penasaran.


"Dia meninggal dipenjara karena sakit. Dia mengaku melakukan pembunuhan itu karena cinta segi tiga. Entahlah, sepertinya om sulit mempercayainya. Om yakin rumah tangga ayah dan ibumu baik-baik saja, sangat tidak mungkin ada orang ketiga diantara mereka." Wajah Robby sudah semakin menyedih kala mengenang semua kejadian tragis itu.


"Sudahlah, om! Semua sudah berlalu. Setidaknya sekarang dia sudah mendapat balasan yang setimpal, dia akan membusuk dineraka." Vino menimpali pembicaraan mereka.


"Iya, kakak benar. Dia sudah mendapat karmanya." Ujar Venus.


"Hmmm ... om kenal dengan wanita yang bernama Lena?" Reino bertanya.


"Lena ...? Kalau tidak salah dia adalah pengasuh Venus dulu dan dialah yang menculik Venus. Memangnya kenapa?" Robby sedikit terkejut dengan pertanyaan Reino.

__ADS_1


"Kata ibu panti, saat itu wanita yang bernama Lena menitipkan Venus di panti. Kalau sudah jelas dia yang menculik Venus, kenapa polisi tidak bisa menemukan dan menangkapnya?" Ucap Reino penasaran.


"Polisi sudah mencarinya, tapi wanita itu seperti hilang ditelan bumi. Sampai akhirnya kasus penculikan ini hilang begitu saja." Lanjut Robby.


"Aneh sekali! Aku yakin dia pasti bersembunyi atau ada yang menyembunyikannya." Reino mengerutkan dahinya seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Jangan terlalu kau fikirkan, nanti kau cepat tua! Yang terpenting sekarang Venus sudah kembali bersama keluarganya lagi." Vino meledek Reino.


"Iya, kau benar sekali, kakak!" Reino berbalik mengejek Vino dengan suara yang dibuat seperti anak kecil bicara.


"Diamlah kau! Sudah kukatakan, jangan memanggilku begitu!" Vino memekik tak terima.


"Jadi aku harus panggil apa?" Reino tak mau kalah. Suasana di dalam mobil mendadak panas. Erik dan Robby yang duduk di bangku depan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua pria tampan itu.


"Sudah diam! Atau aku akan turun dari mobil ini!" Venus berteriak, membuat kedua pria kekanak-kanakan itu terdiam.


Semua kembali hening, hanya suara deruman mesin mobil yang menemani perjalanan mereka. Robby dan Erik hanya menghela nafas lega.


***


Sejak pertemuannya dengan Liana waktu itu, Diana memutuskan untuk menyusul orang tua angkatnya ke kota A. Gadis itu masih belum bisa menerima kenyataan yang dia hadapi, apa lagi sejak Helen pun membenarkan kata-kata Liana, hati Diana semakin hancur, dia merasa di bohongi dan dicampakkan oleh orang tua kandungnya sendiri. Diana merasa sakit hati kepada Liana dan juga ayah yang tidak dia ketahui siapa orangnya. Sejak saat itu, Diana selalu mengurung dirinya di kamar.


Liana sudah berada di ruangan yang dia tuju, tangisnya semakin menjadi melihat Diana sudah terbaring lemah tak berdaya dengan pergelangan tangan yang diperban.


"Sayang, kenapa kau lakukan semua ini?" Liana mendekati Diana dan menggenggam erat tangan sang putri.


"Tenanglah, Liana! Dia baik-baik saja kok!" Helen mencoba menenangkan Liana.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Diana bisa seperti ini?"


"Dia memotong pergelangan tanganya dengan pecahan gelas yang dia lempar ke dinding kamarnya, sepertinya dia benar-benar terpukul mendengar kenyataan ini." Ucap Helen menjelaskan.


"Aku memang bodoh! Seharusnya aku tidak terbawa emosi dan mengatakan yang sebenarnya." Liana semakin terisak mengutuki dirinya sendiri.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Mungkin sudah seharusnya Diana tahu yang sebenarnya, dia hanya butuh waktu untuk bisa terima." Helen mengusap pundak Liana dengan sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Mama ..." Suara Diana terdengar lemah. Gadis itu mulai sadar dari pengaruh obat.


"Iya, sayang!" Liana dan Helen menjawab dengan serentak.


Kedua wanita paruh baya itu saling pandang, sementara Diana yang telah sepenuhnya sadar hanya memandang Liana dan Helen dengan mata yang sayu.


"Kau sudah sadar, sayang?" Liana memberanikan diri bertanya.


"Mau apa kesini?" Diana bertanya dengan nada yang ketus dan memandang sinis kepada Liana.


"Sayang, mama khawatir denganmu! Kenapa kau lakukan ini?" Liana kembali terisak. Helen hanya memperhatikan kedua ibu dan anak itu, dia sengaja memberi mereka waktu untuk bicara.


"Baru sekarang kau perduli kepadaku? Bertahun-tahun kau membohongiku setelah kau mencampakkanku. Ibu macam apa kau ini?" Diana berbicara dengan suara yang lirih, air matanya menetes sampai membasahi bantal.


"Maafkan ... mama, sayang! Mama memang salah! Mama akan melakukan apa saja asal kau mau memaafkan mama." Liana memelas memohon kepada Diana.


"Aku akan maafkan jika kau katakan siapa ayahku? Aku tahu dia pasti masih hidupkan?" Tanya Diana.


Liana terdiam. Wajah wanita itu berubah tegang.


Helen mendekatinya dan membisikkan sesuatu ketelinga Liana, "Katakanlah! Jangan membohonginya lagi!"


"Baiklah, mama akan katakan siapa ayahmu, tapi setelah ini kau harus ikut pulang bersama mama, kita akan bertemu dengan ayahmu." Liana akhirnya mengalah dan memberi pilihan kepada putrinya itu.


Diana pun mengangguk dan menyetujui permintaan Liana, dia juga sangat penasaran siapa ayah kandungnya.


***


Ngegantung ya ceritanya?


Author sengaja buat pembaca penasaran. hehehe


Likenya jangan lupa ya ...💜


Kalau nggak like, author nggak mau lanjut ni...✌✌

__ADS_1


__ADS_2