
Reino berjalan dengan cepat, menghampiri Kenan yang sudah menunggunya di sebuah cafe tak jauh dari Rumah Sakit Medica, tanpa sepengetahuan mereka bedua, Alvin juga ada disana, duduk tepat di belakang Kenan. Alvin sudah mengganti jasnya dengan jaket hoodie yang dia bawa di dalam mobil.
Sebenarnya setelah berbicara dengan Venus tadi, Kenan segera menghubungi Reino dan memintanya datang ke cafe di dekat rumah sakit, tapi saat Kenan menelpon Reino, Alvin kebetulan berjalan di belakang Kenan. Entah mengapa saat itu Alvin merasa penasaran, dan berniat untuk mengikuti Kenan. Dan akhirnya sampailah mereka bertiga di cafe ini, Alvin sengaja memakai jaket hoodienya agar Kenan atau Reino tidak dapat mengenalinya dan dia memilih duduk di dekat meja Kenan agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Ada apa kau memanggilku kesini?" Reino segera melempar pertanyaan setelah mendudukkan tubuhnya di hadapan Kenan.
"Kau berhutang sebuah penjelasan kepadaku!"
"Penjelasan apa yang kau maksud?" Reino menautkan kedua alisnya, memandang heran sahabatnya itu.
"Kau jangan berpura-pura lagi! Kenapa kau menutupi semua kebenaran tentang Venus?" Nada bicara Kenan sedikit tinggi, membuat beberapa pengunjung melirik ke arah mereka.
"Aku nggak bermaksud menutupinya." Jawab Reino datar.
"Kalau bukan menutupi, lantas apa? Menyembunyikan?" Kenan semakin kesal.
"Aku hanya menunda untuk memberitahunya. Lagipula aku juga belum yakin 100% kalau mereka adalah saudara kandung."
"Lalu kenapa kau harus menundanya ...?" Kenan mengernyitkan dahinya bingung.
"Karena aku takut, jika Venus mengetahuinya sekarang, dia akan pergi meninggalkanku dan kembali kepada keluarganya. Aku nggak ingin kehilangan dia." Ungkap Reino.
"Jadi kau menyukainya?" Tanya Kenan tanpa basa-basi.
Reino terdiam sejenak, sebenarnya dia masih enggan membeberkan hubungannya dengan Venus kepada banyak orang termasuk kepada sahabatnya yang satu ini. Tapi di situasi mendesak seperti ini, mau tak mau, Reino akhirnya terpaksa mengakuinya.
"Kami sudah menikah! Venus adalah istriku!" Ucap Reino pelan, takut pengunjung lain mendengarnya.
"Apa ...? Kau nggak lagi bercandakan?" Mata Kenan membulat sempurna. Sumpah demi apapun, jantung pria satu ini benar-benar seperti melompat keluar dari tempatnya. Pengakuan Reino membuat Kenan kaget setengah mati.
Alvin yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Reino dan Kenan pun hanya tertunduk menghela nafas pelan, hatinya seperti ditusuk ribuan duri.
"Jadi Tuan Reino benar-benar telah menikah dengan Venus? Tadinya aku berharap dia hanya berbohong saat mengatakannya." Bathin Alvin.
"Kami sudah menikah hampir dua bulan."
Kenan tampak berfikiri sejenak, tiba-tiba pria humoris itu seperti mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Berarti selama ini kau membohongiku? Kau bilang Venus adalah sepupumu, tapi ternyata dia adalah istrimu! Kenapa lagi-lagi kau menutupinya?" Kenan semakin kesal karena sadar dirinya telah dibohongi oleh Reino.
"Maafkan aku! Aku terpaksa menyembunyikan pernikahan kami, karena aku nggak ingin jika publik tahu alasannya, mereka pasti berkomentar negatif." Lanjut Reino.
"Kenapa begitu?" Tanya Kenan dengan kebingungan tingkat dewanya.
Reino pun menceritakan alasannya menikahi siri Venus dan kenapa harus Venus yang menjadi istrinya. Reino juga bercerita kapan dia mengetahui kebenaran tentang Venus dan kecurigaanya kepada Vino.
Mendengar cerita Reino, Kenan maupun Alvin benar-benar terkejut bukan main, mereka nggak menyangka keluarga Venus dan Reino tega menjadikan Venus sebagai kambing hitam.
"Gila ...! Ini benar-benar gila, Rein!! Apa kalian fikir, Venus itu tidak punya perasaan? Kenapa kalian tega melakukan ini?" Kenan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Awalnya aku juga menolak, tapi Mamaku memaksa! Kau kan tahu bagaimana kejiwaan Mamaku kalau sedang emosi, aku hanya menghindari hal-hal buruk terjadi saja." Ucap Reino.
"Iya, tapi bukan berarti kau bisa bermain-main dengan pernikahan!"
"Siapa bilang aku bermain-main dengan pernikahan? Dari awal aku menikah dengan Venus, aku sudah bertekad untuk menjalani rumah tangga ini dengan serius, aku berjanji akan menjaganya. Bahkan aku juga ..." Ada jeda sejenak, Reino tak melanjutkan kata-katanya.
"Bahkan kau juga apa? Kenapa tidak dilanjutkan? Ayo katakan!!" Kenan yang penasaran sedikit memaksa.
"Bahkan aku juga sudah jatuh cinta dan menginginkan seorang anak darinya." Ucap Reino di dalam hati.
"Kau ini! Vino pasti marah sekali jika tahu kalian menjadikan adiknya sebagai tumbal." Kenan mendengus kesal.
"Aku akan meminta maaf kepadanya."
"Apa kau yakin dia akan memaafkan kalian?" Tanya Kenan.
"Entahlah ...! Aku pun ragu, apalagi sekarang Venus juga marah kepadaku." Reino tertunduk sedih.
"Dasar bodoh! Jelas saja dia marah! Kau sungguh keterlaluan kali ini!" Kenan mencebik.
"Aku hanya takut dia meninggalkanku!"
"Tapi lihatlah sekarang ...! Karena keegoisan dan ketakutanmu itu, Vino jadi terbaring koma dan tadi dia hampir saja kehilangan nyawa karena jantungnya berhenti. Venus bisa saja membencimu setelah ini." Kenan mengutuki kebodohan Reino. Dan untuk pertama kalinya Reino tidak marah karena di umpat begini oleh orang lain.
"Apa ...? Jadi bagaimana kondisinya sekarang?" Reino menjadi cemas.
__ADS_1
"Syukurnya dia masih bisa tertolong dan kondisinya sudah normal lagi."
"Syukurlah ...!" Reino menghela nafas lega. "Kalau begitu, tolong bantu aku kali ini!" Reino memelas. Memandang Kenan penuh harap.
"Kali ini ...? Bukankah aku sudah sering membantumu?" Kenan memandang malas ke arah Reino.
"Kalau begitu, tolong aku sekali lagi!" Reino menggenggam erat tangan Kenan.
"Ciihh ... lepaskan tanganmu! Aku geli sekali! Katakan apa yang harus aku lakukan?" Kenan menarik kasar tangannya agar terlepas dari genggaman Reino.
"Bantu aku untuk mencari tahu siapa yang sudah memberikan hasil tes DNA itu kepada Venus. Tolong tanyakan kepadanya! Karena hanya dia yang tahu." Reino memohon.
"Kenapa tidak kau sendiri saja yang bertanya ...? Kenapa harus aku ...?"
"Dia pasti akan mengusirku seperti waktu itu, sebelum aku sempat bertanya. Lagipula cuma kau yang saat ini bisa dekat dengannya." Reino berbicara dengan raut wajah mengiba.
"Bukankah sekretarismu itu juga dekat dengan Venus? Tadinya malah aku berfikir, mereka berpacaran. Habis mereka mesra sekali." Kenan sengaja memancing Reino, dia ingin melihat sahabatnya itu cemburu.
"Apa ...? Apalagi yang dilakukan bedebah sialan itu?" Otak dan hati Reino mulai memanas, kini dia menatap tajam Kenan, menuntut jawaban.
"Saat kondisi Vino gawat tadi, sekretarismu itu tak berhenti memeluk Venus dengan sangat erat. Sepertinya dia sangat menyukai istrimu itu." Kenan Si ember bocor mulai mengoceh. Inilah alasannya kenapa Reino merahasiakan semuanya dari Kenan, karena Reino tahu terkadang mulut pria jenaka itu nggak ada akhlaknya.
"Dasar bajing4n ...!" Reino menggeram dan mengeraskan rahangnya.
"Mungkin saja setelah ini mereka akan berkencan lalu berciuman dan menikah, pastinya setelah Venus bercerai darimu. Hahaha ..." Kali ini Kenan tergelak karena melihat wajah Reino merah padam menahan amarah karena cemburu.
Baru kali ini aku melihatmu cemburu begitu, Rein.
"Berengsek kau ...! Bisa gila aku lama-lama meladenimu! Jangan lupa tugasmu itu!" Reino berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan Kenan.
"Iya ... iya, selalu saja merepotkan!!!" Kenan pun segera beranjak dari cafe itu.
Tinggallah Alvin dengan perasaan geram karena mendengar cerita dan umpatan-umpatan dari Reino.
"Aku memang menyukainya dan mulai detik ini aku berjanji akan selalu melindunginya, termasuk darimu Reino Brahmansa." Gumam Alvin dalam hati.
***
__ADS_1