Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 10 (S2)


__ADS_3

Kenan sudah selesai memeriksa kaki Vie, dia juga sudah memberikan obat penghilang rasa sakit.


"Bagaimana kaki putriku?" Tanya Reino panik.


"Tidak ada yang serius, paling tiga hari lagi dia sudah bisa berjalan." Jawab Kenan.


"Ah ... yang benar? Aku tidak percaya dengan ucapanmu." Reino memandang dengan tatapan curiga.


"Eh ... kalau kau tidak percaya, kenapa memanggilku?" Kenan mengomel tak terima.


"Begitu saja kau marah. Aku kan hanya bercanda! Kau terlalu sensitif, pantas saja sampai sekarang kau tidak laku-laku." Reino meledek sahabatnya yang sampai sekarang belum menikah itu.


"Siapa bilang aku tidak laku? Aku hanya belum menemukan yang cocok saja!" Kenan membela diri.


"Masa sih? Dari sekian banyak wanita yang kau kencani, masa tidak ada satupun yang cocok? Aneh sekali." Reino bergaya seperti berfikir.


"Apanya yang aneh?" Tanya Kenan ngotot.


"Aku jadi curiga, jangan-jangan orientasi s3xmu menyimpang. Kau homo ya?" Reino menuduh seenaknya.


"Jaga mulutmu ya! Dasar radio rusak! Aku masih normal! Enak saja mengatakan aku homo!" Kenan mencak-mencak.


"Mungkin sajakan?"


"Sebenarnya aku sedang menunggu seorang gadis tamat sekolah, setelah dia tamat baru aku melamarnya." Ucap Kenan dengan wajah serius.


"Memangnya ada gadis muda yang mau dengan om-om genit sepertimu?" Reino mengejek Kenan.


"Vie kalau sudah tamat maukah kau menikah dengan om tampan ini?" Kenan beralih menatap Vie dan mengabaikan pertanyaan Reino.


"Hey ... beraninya kau? Aku tidak sudi mempunyai menantu bujang lapuk sepertimu! Pergi sana!" Reino murka.


"Hahaha ... baiklah ayah mertua!" Kenan tergelak puas lalu beranjak pergi.


"Dasar gila!" Reino pun menyusul sahabatnya itu sambil mengomel-ngomel tak jelas.


Venus dan Vie hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan tak berguna kedua sahabat itu, begitulah keduanya kalau sudah bertemu, pasti seperti Tom and Jerry. Apalagi jika sudah bertemu Vino dan Erik, bisa makin parah kegilaan mereka.


***


Setelah mendapatkan kabar dari Vie, duo gesrek pun akhirnya batal mengikuti pertandingan sepak bola dan memutuskan untuk ke rumah sahabat mereka itu.


"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Dino cemas.


"Preman yang waktu itu menyerangku, tapi kali ini dia bersama temannya yang bulat kayak semangka itu." Vie mengadu.


"Kurang ajar itu sampah masyarakat! Sudah aku katakan jangan menampakkan lagi batang hidungnya, dia masih juga berani datang!" Raja menggeram.


"Berarti dia belum kapok, Ja. Dia tidak takut dengan ancamanmu." Dino memprovokasi.


"Awas saja kalau ketemu denganku! Lalu siapa yang menyelamatkanmu? Kau kan tak mungkin melawan mereka." Tanya Raja dengan penasaran.


"Pak Andra." Jawab Vie.

__ADS_1


"Whaaaat ...?" Raja dan Dino serentak berteriak kaget.


"Apaan sih teriak-teriak? Seperti di hutan saja." Vie menggerutu sambil menutupi kedua telinganya.


"Kok bisa ada pak Andra?" Raja semakin penasaran.


"Entahlah, tiba-tiba saja dia datang dan menyerang preman burik itu terus dia juga mengantar aku pulang. Bahkan dia juga menggendongku masuk ke dalam rumah." Vie menjelaskan dengan santai.


"Apaaaaa ...?" Sekali lagi duo gesrek berteriak kaget.


"Iiiiisss ... jangan teriak-teriak!!!" Vie melemparkan bantal ke arah dua sahabatnya itu.


"Kebetulan macam apa ini? Pak Andra muncul disaat Vie membutuhkan pertolongan?" Raja seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Hmmm ... jadi seperti pangeran kodok menyelamatkan tuan putri. Apakah mereka berjodoh dan setelah ini menikah?" Dino ikut menimpali.


"Sudah ... ah ... fikiran kalian terlalu liar, kejauhan mainnya!" Vie melengos.


"Hahaha ..." Dino dan Raja tertawa.


"Tapi sepertinya pak Andra masih marah deh, bicaranya ketus sekali bahkan dia tak mau melihatku. Apa dia segitu bencinya denganku? Tapi akukan tidak sengaja. Aku juga sudah minta maaf." Vie mendadak muram mengingat mantan gurunya itu masih marah kepadanya.


"Mungkin dia sangat malu dan kesal karena kejadian itu. Kau juga minta maafnya tidak tulus, buktinya kau masih melawannya waktu itu." Dino menasehati sahabatnya itu.


"Habis dia marah-marah, aku kan menjadi naik darah."


"Harusnya saat dia marah, kau diam saja! Kau kan emang salah walaupun tidak sengaja." Lanjut Dino.


"Ya, minta maaflah dengan tulus. Aku yakin pak Andra pasti memaafkanmu." Ujar Raja.


Vie terdiam, gadis itu memikirkan perkataan Dino dan Raja yang tumben bisa serius dan bijak.


"Oh iya, kau sudah mengatakannya kepada papamu? Biar papamu mengerahkan orang-orangnya utk menangkap preman setengah jadi itu." Tanya Raja.


"Kau gila ya? Kalau papaku tahu, aku pasti dikawal kemana-mana atau yang lebih parah bisa-bisa aku malah tak diizini keluar lagi. Bisa mati jenuhlah aku di rumah!" Ucap Vie.


"Kau benar juga!"


"Memang aku selalu benar!" Jawab Vie sombong.


"Ciihh ..." Raja berdecih jijik.


"Masih saja sombong! Begini kalau waktu lahir diazani pakai radio." Ucap Dino dengan raut wajah kesal.


"Hahaha ..." Vie hanya terkekeh mendengar celotehan sahabat gesreknya itu.


Dan akhirnya trio gesrek melanjutkan obrolan mereka yang unfaedah itu.


***


Empat hari kemudian, Vie sudah kembali ke sekolah setelah tiga hari dia cuti karena kakinya sakit. Dan sejak mendapat hukuman sebulan yang lalu, sekarang gadis ini sudah tidak pernah telat lagi ke sekolah, karena Venus membangunkannya satu jam lebih awal dari biasanya.


Vie masih berjalan terpincang-pincang, membuat beberapa temannya yang lain memandang heran.

__ADS_1


Bahkan seorang teman wanitanya yang bernama Niken sampai bertenya karena penasaran.


"Kakimu kenapa, Vie? Kok pincang?" Tanya Niken. Seketika Vie menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap gadis itu.


"Kemarin ditabrak Ninja Hatori." Jawab Vie dengan nada malas. Dia sangat tidak suka dengan teman-teman wanitanya yang terlalu kepo.


"Ninja Hatori ...? Memangnya disini ada?" Niken mendadak bingung.


"Ada, itu lagi ngopi di warung depan bareng Shisimaru dan Kimimaki." Lanjut Vie kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Niken dan teman-teman lainnya.


"Haaa ... ada-ada saja! Dasar halu." Niken menggerutu.


Vie, Raja dan Dino pun memasuki kelas. Mereka duduk dengan manis di bangku masing-masing.


"Guys ... bagaimana ya caranya agar pak Andra mau memaafkan aku?" Vie tiba-tiba bertanya, membuat Raja dan Dino kaget mendengar pertanyaan gadis itu.


Sebenarnya beberapa hari ini Vie selalu memikirkan Andra, dia merasa benar-benar bersalah dan tak enak hati. Apalagi sejak mendapat nasihat dari duo gesrek.


"Haaa ...? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Raja membalas Vie dengan pertanyaan juga.


"Entahlah, guys ... aku kok jadi merasa bersalah sekali. Aku juga menyesal melawannya waktu itu. Kalian benar, seharusnya aku mengalah ketika dia marah. Bukannya malah balik marah." Jawab Vie dengan wajah sendu.


"Yeeee ... kesambet setan mana ini bocah? Tumben otaknya tidak korslet." Ejek Raja dengan wajah bingung.


"Saraf otaknya terjepit kali, Ja. Coba pukul kepalanya, biar normal lagi!" Dino pun ikut-ikutan meledek Vie.


"Heee ... Munkar dan Nakir ...!!! Aku lagi serius, jangan bercanda terus!" Vie akhirnya murka.


"Alhamdulillah, dia kembali lagi!" Ucap Raja sambil mengusap wajahnya.


"Wah ... benar-benar ini anak minta dipensiunkan jadi orang." Vie geram dan mencekik leher Raja sambil menggoyang-goyangkannya.


"Ampun kanjeng ratu!" Raja bertetiak. Membuat seisi kelas memandangi tingkah konyol mereka.


"Hahaha ... rasakan itu kemurkaan Nyi Roro Kidul!" Dino tertawa mengejek Raja.


Akhirnya Vie pun lupa dengan kegundahan hatinya itu, bukannya mendapat jawaban dari pertanyaannya, dia malah buang-buang tenaga menyiksa sahabat somplaknya itu.


***


Kenan : thor ngapa sih dicerita ini aku dibuat jomblo? Sementara yang lain sudah pada menikah semua. Author nggak adil! 😤😤😤


Author : Yang pentingkan masih ada, bang. Daripada author buat mati.


Reino : sudah, terima nasib aja jadi Panglatu, bro!


Kenan : apa itu Panglatu?


Reino : Panglima Lajang Tua. 😂😂😂😂


Kenan : 😭😭😭😭😭😭


Author : 😂😂😂😂 (ngakak guling-guling)

__ADS_1


__ADS_2