
Like dulu sebelum baca ya guys ...💜
Sementara itu Reino memilih duduk di taman belakang rumahnya, dia memandang hamparan bintang di langit malam, ditemani cahaya rembulan dan sejuknya tiupan angin malam yang membelai tubuhnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus jujur kepada mereka? Tapi aku takut dia meninggalkanku dan kembali kepada keluarganya. Tapi aku juga merasa jahat jika terus menutupi semua ini." Reino bergumam dan mengusap kasar wajahnya.
"Anda sedang apa disini, Tuan?" Erik datang mengagetkan Reino.
"Aku sedang memikirkan sesuatu." Reino memijit kepalanya yang sedikit berdenyut.
"Apa ini tentang Nona Muda?" Erik langsung bisa menebak.
"Kau tahu darimana?" Reino segera memutar kepalanya dan kini memandang lekat wajah Erik.
"Saya hanya menebaknya saja, Tuan." Erik menjawab dengan sedikit senyum dibibirnya.
Siapa lagi yang bisa membuatmu uring-uringan begini kalau bukan istrimu itu.
Kau bahkan tak pernah duduk disini sebelumnya jika malam hari.
"Kau benar! Aku sedang memikirkan dirinya." Reino menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang dia duduki, kini matanya semakin jelas memandang langit dengan jutaan bintang yang bertaburan.
"Tuan bisa cerita ke saya jika Tuan mau." Erik menawarkan dirinya.
Reino diam sejenak, dia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan lalu akhirnya mulai berbicara.
Reino menceritakan semua informasi yang di sampaikan orang suruhannya dan menunjukkan gelang perak yang dia dapatkan kepada Erik, supir dan pengawal pribadinya itu cukup terkejut.
"Jadi benar mereka saudara kandung?" Erik menautkan alisnya dan memandang Reino dengan penasaran.
"Entahlah, kurasa begitu!"
"Kita harus tes DNA untuk memastikannya lagi, Tuan." Erik memberi usul.
" Bagaimana caranya, aku nggak mau kecoa itu sampai tahu tentang semua ini." Reino semakin gusar.
"Tapi bukankah dia dan Nona Muda memang berhak untuk tahu, bahwa mereka saudara kandung, Tuan?" Erik sedikit bingung dengan cara berfikiran Reino.
"Iya, aku tahu! Tapi paling tidak tunggu sampai Venus dan aku memiliki anak, agar dia tak bisa meninggalkanku saat mengetahui siapa keluarga kandungnya." Reino memberi alasan, ketakutan pria itu sungguh besar.
"Tuan, saya rasa Nona Muda juga tidak akan meninggalkan Tuan kalau dia tahu Tuan Vino adalah Kakaknya." Erik berusaha menenangkan Reino.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Dia selalu bilang ingin berpisah dariku." Reino hanya melirik Erik.
"Nona Muda pasti tidak serius, Tuan, karena dia mencintai Tuan, sama seperti Tuan mencintainya. Dia nggak akan meninggalkan orang yang dia cintai." Erik terdiam sesaat setelah mengatakan hal itu, dia mendadak bingung, kenapa dia bisa berbicara begitu. Tahu apa dia tentang cinta?
Ah ... kenapa aku berbicara begitu?
Terdengar menggelikan sekali.
"Cih ... tahu apa kau tentang cinta? Kau saja masih membujang sampai sekarang, terkadang aku curiga, jangan-jangan kau tidak tertarik dengan wanita." Reino mencibir Erik.
Supir sekaligus pengawal pribadinya itu hanya tersenyum miris tanpa menjawab ejekan majikannya itu.
Jaga ucapanmu Bocah Nakal!
Aku juga merasakan cinta tapi sayangnya dengan orang yang salah.
"Lalu bagaimana dengan keluarga Winata? Nona Muda pasti sangat terpukul kalau tahu dirinya hanya anak angkat." Erik mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan mengurus yang itu!"
"Permisi, Tuan Muda ... saya sudah mencari Anda kemana-mana, ternyata Anda disini." Ina tiba-tiba datang dengan terengah-engah sambil mengatur nafasnya, wanita itu sudah berkeliling di rumah yang besar itu untuk mencari Reino, dia tak menyangka akhirnya menemukan majikannya itu di taman belakang, tempat yang tak pernah didatangi Reino jika malam hari.
"Ada apa?"
"Mama ...? Baiklah, aku akan menemuinya." Reino segera melangkah meninggalkan taman.
***
Reino dan Erik yang baru datang dari taman sama-sama terkesiap melihat kedatangan Liana yang tak sendiri, dia datang bersama seorang lelaki yang sudah berumur separuh abad lebih.
"Om Tomi?" Reino membulatkan matanya sempurna melihat sosok yang sudah lama sekali tidak dia lihat.
"Hai, keponakanku Reino ... kau sudah dewasa sekarang. Apa kabar?" Tomi memeluk Reino.
"Aku baik, Om. Lama sekali kita tidak bertemu, Om jadi setua ini. Om sendiri apa kabar?" Reino membalas memeluk Om nya itu, mereka saling melepas kerinduan.
"Om, baik." Tomi melepas pelukannya dan beralih memandang Erik yang berdiri di sebelah Reino. "Ini siapa?"
"Dia Erik, supir sekaligus pengawalku, Om." Reino memperkenalkan Erik kepada Tomi.
"Oh, jadi kamu yang selama ini menjaga keponakanku? Terima kasih ya Erik." Tomi juga memeluk Erik sambil menepuk-nepuk pelan pundaknya. Erik sedikit risih dengan perlakuan Tomi, pria itu hanya diam bergeming.
__ADS_1
"Hey ... cukup reuninya! Kalian melupakanku." Liana yang berdiri di belakang Tomi berpura-pura merajuk.
Reino segera berhambur memeluk Liana, "Mama apa kabar? Kenapa lama sekali baru pulang? Aku rindu!"
"Benarkah kau merindukan Mama? Bukankah kau sudah tidak perduli lagi denganku." Liana mendorong tubuh Reino dan memasang wajah masam.
"Mana mungkin aku tidak memperdulikan Mama, aku kan anak Mama."
"Dimana istrimu? Kok tidak kelihatan?" Liana mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah.
"Dia sudah tidur, Ma."
"Oh ..., kalau begitu Mama juga mau istirahat. Selamat malam semuanya." Liana berlalu meninggalkan ruang keluarga.
"Saya juga permisi, Tuan. Selamat malam." Erik mengangguk lalu beranjak pergi, namun langkahnya terhenti saat indera pendengarannya menangkap suara Tomi.
"Kau tidak ingin mengobrol dulu bersama kami, Erik?" Toni bertanya penuh harap.
"Tidak, Tuan. Terima kasih, saya permisi." Erik melanjutkan langkahnya meninggalkan Reino dan Tomi.
"Ceritakan, bagaimana Om bisa ikut Mama kesini? Selama ini Om tinggal dimana?"
"Minggu lalu Om bertemu Mamamu di kota A, dia banyak bercerita tentangmu, katanya kamu juga sudah menikah, Om jadi ingin bertemu denganmu dan istrimu. Selama ini Om tinggal di Jepang, mengelola bisnis yang diwariskan kakek." Tomi bercerita dengan semangat.
"Oh ... lalu bagaimana kabar Hendrik? Apa dia sudah menikah, Om? Sudah hampir 20 tahun aku tidak bertemu dengannya."
Mendadak wajah tua Tomi berubah sedih, dia tertunduk. "Anak itu sudah pergi meninggalkanku."
"Maksud, Om?" Reino memandang lekat wajah tua Tomi yang semakin sendu.
"Dia pergi bersama Ibunya saat berumur 8 tahun, mereka meninggalkanku sendiri. Ibunya selingkuh dengan pria lain dan membawa Hendrik bersamanya." Suara Tomi bergetar menceritakan kepiluan itu.
"Maaf, Om ... aku nggak bermaksud membuat Om mengingat masa lalu yang menyakitkan itu. Aku sungguh nggak tahu." Reino merasa tak enak.
"Tidak apa, Rein. Sekarang coba ceritakan hari-harimu selama ini, sepertinya Om ketinggalan cerita tentangmu." Tomi memaksakan senyum dibibirnya dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Namun saat Reino hendak bercerita, tiba-tiba ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Erik. Reino segera membuka dan membaca pesan itu.
"Tuan, saya mohon jangan ceritakan masalah Nona Muda kepada siapapun, termasuk kepada Nyonya Besar dan Om Anda itu." Erik
Reino mengerti maksud Erik, pria itu pasti takut Liana atau Tomi merusak semua rencana mereka dan membeberkan rahasia ini ke publik.
__ADS_1
***
Vote banyak2 lah sayang akuh ...💜