Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 19 (S2)


__ADS_3

Dengan sangat terpaksa, Vie memperhatikan Andra yang duduk di hadapannya dengan seksama, mantan guru itu sedang menjelaskan kepada Vie tentang soal matematika yang menjadi pelajaran paling menyebalkan untuk gadis sableng sepertinya.


Panjang lebar Andra menjelaskan rumus-rumus matematika yang membuat kepala Vie ingin meledak memikirkannya, mendadak Vie merasa seperti terserang vertigo karena melihat angka-angka dan rumus rumit itu.


"Sekarang coba nona kerjakan soal yang ini!" Andra menunjuk sebuah soal matematika di buku pelajaran Vie.


"Haruskah aku mengerjakan ini sekarang? Tidak bisakah besok saja? Aku sudah cukup pusing melihat semua rumus menyebalkan ini!" Vie berbicara dengan malas.


"Iya, sekarang!" Pinta Andra tegas.


"Cckk ... baiklah!" Dengan sangat terpaksa Vie meraih buku itu dan memperhatikan soalnya dengan seksama.


Sepuluh menit berlalu, Vie masih belum menjawab apapun. Dia hanya memandangi soal di bukunya dengan tatapan ambigu. Andra hanya memperhatikan gadis di hadapannya itu.


Beberapa saat kemudian, bukannya menjawab soal itu, Vie malah berceloteh sambil memegangi kepalanya.


"Wahai matematika ... belajarlah dewasa sedikit. Selesaikanlah persoalanmu sendiri, jangan menyusahkanku. Aku lelah menyelesaikannya untukmu!" Vie mengomel dengan penuh drama.


Andra yang geli mendengar ocehan gadis lebay itu hanya mengulum senyum, dia berusaha menahan tawa melihat tingkah konyol Vie.


Akhirnya Andra memutuskan pindah dan duduk di sebelah Vie, gadis ajaib itu terkejut melihat aksi tiba-tiba Andra.


"Sini biar saya ajarkan lagi cara mengerjakannya!" Andra mengambil alih buku di hadapan Vie, dia menjelaskan dengan lebih detail cara mengerjakan rumus di soal itu.


Sementara Vie, bukannya memperhatikan, dia malah fokus memandangi wajah tampan Andra yang sedang serius.


"Tampan!" Ucap Vie pelan tanpa sadar.


"Haaa ... apa?" Tanya Andra saat samar-samar mendengar ucapan Vie itu.


"Hmmm ...? Apa ...?" Vie yang terkejut mendadak gugup.


"Tadi nona bicara apa?"


"Ah ... tidak ada! Dasar halu! Cepat jelaskan lagi!" Vie menyangkal dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


Andra yang masih bingung pun kembali mengulang penjelasannya tadi kepada Vie dan kali ini gadis nakal itu menyimaknya dengan serius.


Venus yang memperhatikan interaksi kedua orang itu hanya tersenyum penuh arti.


***


Beberapa hari berlalu, sekarang Vie mulai terbiasa dengan kehadiran Andra. Dia tidak lagi melarang Andra untuk mengantar dan mengawalnya kemana-mana, bahkan ke lapangan sekalipun. Vie tidak lagi protes dengan apapun yang dilakukan Andra, dia selalu diam tanpa berkata apapun. Tapi bagi Andra sikapnya itu bukan suatu penerimaan melainkan karena Vie hanya mengabaikan keberadaannya, mengingat Andra pernah mendengar Raja memberi saran agar Vie mengacuhkan mantan gurunya itu agar dia jenuh dan akhirnya mengundurkan diri.


Tapi Andra tak terpancing dengan trik gadis itu, dia tetap fokus pada tujuannya, yaitu menjaga dan melindungi anak majikannya.

__ADS_1


Hari ini Vie dan teman-temannya sedang bersiap-siap untuk bermain sepak bola di lapangan, seperti biasa Andra selalu menemani gadis sableng itu.


"Ja, kita kekurangan pemain ini. Si Beta tidak datang, kata mamanya doi baru sunat." Dino menginformasikan dengan raut cemas.


"Lah ... dia sudah berjakun gitu, masa baru sunat sekarang? Memangnya tidak alot apa tu sosis bakar?" Tanya Raja dengan wajah jenaka.


"Iya juga ya? Pasti dipotongnya pakai golok itu." Lanjut Dino.


"Iiiiiihhh ... kalian bicara apa sih? Aku jadi ngilu membayangkannya." Ucap Vie.


"Yaa tidak usah juga kau bayangkan, tungau! Ada-ada saja!" Raja menoyor kepala Vie.


"Macam tahu saja bentuknya sampai bisa dibayangkan segala!" Dino ikut menimpali.


"Hehehe ... tahu kok, aku pernah lihat di laptop papa!" Vie cengengesan.


"Apaaaa ...?" Teriak Raja dan Dino serentak.


"Jadi kau sudah lihat yang begituan?" Tanya Raja heboh.


"Dikit. Tapi segera aku matikan kok. Sumpah!" Vie mengangkat jarinya membentuk huruf V dengan wajah serius.


"Sudah-sudah! Jangan di bahas lagi! Sekarang fikirkan bagaimana tim kita kalau pemainnya kurang begini?" Ucap Dino cemas.


Ketiga trio gesrek itu sama-sama berfikir dengan keras.


"Ahaaa ... aku dapat ide! Bagaimana kalau pak Andra?" Dino memberi usul.


"Kenapa harus dia sih?" Vie protes.


"Karena cuma dia yang bisa kita ajak bergabung, lihatlah ... tim lawan saja ada yang sudah dewasa, sementara tim kita isinya pecahan botol semua. Sekali-kali kalau ada orang dewasa di tim kita kan seru." Dino menjelaskan.


"Yup ... kau benar sekali! Tumben hari ini kau cerdas!" Kata Raja.


"Dino gitu loh!"


"Hey ... tapi bagaimana mungkin dia bermain bola dengan pakaian semi formal begitu?" Vie melirik Andra yang memakai kemeja hitam dan celana panjang seperti karyawan kantoran, karena memang itulah seragam kerjanya yang diberikan Venus.


"Kau tenang saja! Aku membawa baju cadangan kok." Jawab Raja sambil mengeluarkan baju bola yang masih baru.


"Sejak kapan kau ada baju cadangan? Kok aku baru tahu?" Vie bingung. Karena setahu gadis ini, mereka semua hanya punya 1 baju untuk setiap pemain.


"Sejak hari ini!"


"Tapi tunggu! Dia tidak mungin ikut main tanpa sepatu bola kan?" Tanya Vie dengan sinis.

__ADS_1


"Aku juga bawa sepatu cadangan! Ini dia." Raja mengeluarkan sebuah sepatu dari tas ransel yang dia bawa.


"Apaaa ...? Kau juga bawa sepatu cadangan? Aneh sekali ...!" Vie menautkan alisnya, dia benar-benar bingung dengan semua ini.


"Apanya yang aneh? Aku hanya berjaga-jaga saja, mana tahu sepatuku rusak." Raja memberi alasan.


"Ya sudah! Yuk, Ja ... kita panggil pak Andra!" Ajak Dino.


"Hey ... tapi ..." Belum sempat Vie mengeluarkan protesnya, duo gesrek sudah berlari meninggalkannya. Mereka segera menghampiri Andra yang duduk di tepi lapangan.


***


Walaupun sempat menolak ajakan duo gesrek, tapi akhirnya Andra mengalah dan menuruti permintaan mantan muridnya itu. Bagaimana tidak, dua bocah gendeng itu memelas dan memohon penuh drama kepadanya. Sementara Vie hanya memandangi tingkah sahabat-sahabatnya itu dengan raut wajah kesal.


Setelah berganti pakaian, akhirnya Andra turun ke lapangan dan mulai bermain bersama bocah-bocah itu. Walaupun tidak terlalu mahir, tapi kemampuan Andra tidak bisa dikatakan buruk. Dan di menit ke lima belas, Andra berhasil membobol gawang lawan, semua orang bersorak meneriaki keberhasilannya. Tapi tentu saja tidak dengan Vie, gadis itu semakin kesal melihatnya.


"Sekarang kau boleh berbangga, tapi kita lihat setelah ini!" Gumam Vie di dalam hati dengan senyum liciknya. Entah apa yang direncanakan gadis nakal ini.


Permainan kembali dimulai. Raja mengoper bola ke Andra, lelaki tampan itu menggiring bola ke arah gawang lawan, Vie yang berdiri di depannya pun bersiap dan begitu Andra di dekatnya, gadis itu dengan cepat menjegal kaki Andra.


Andra yang akan terjatuh spontan menarik tangan Vie dan hasilnya gadis licik itu akhirnya ikut terjatuh di atas tubuh Andra dan bibir mereka sampai bertabrakan.


Keduanya saling mengunci pandangan untuk beberapa detik sampai sorakan semua orang menyadarkan mereka.


"Ciiiiiiieeeeee ..."


Vie yang tersadar, sontak panik dan berdiri dari atas badan Andra sambil memelototinya.


"Kau cari kesempatan ya?" Tanya Vie ketus.


"Bukankah nona yang menimpa dan mencium saya, kenapa saya yang dituduh mengambil kesempatan?" Jawab Andra santai sambil berdiri.


"Jangan sembarangan bicara! Aku tidak melakukannya!" Vie berusaha membela diri.


"Tapi kenyataannya seperti itu, nona! Mereka saksinya." Andra menunjuk semua orang yang tersenyum menonton mereka. Andra sengaja membalas Vie agar gadis itu berhenti menuduhnya macam-macam.


"Kau menyebalkan!" Vie yang kalah malu pergi begitu saja dengan wajah memerah. Andra hanya tersenyum samar.


"Vie, kau mau kemana?" Tanya Raja.


"Pulang!" Vie akhirnya berhenti bermain. Dan Andrapun buru-buru mengejarnya.


"Dia ngambek!" Ucap Dino cemas.


***

__ADS_1


__ADS_2