
Andra sedang duduk sendiri di atas pasir, pandangannya lurus kearah Vie dan Davin yang sedang berlarian di tepi pantai dengan tawa riang mereka.
"Bocah itu benar, aku harus nyatakan perasaanku. Mau bagaimanapun nanti, aku harus terima dengan lapang dada." Andra menguatkan tekadnya. Lelaki tampan itu segera beranjak dari duduknya dan bermaksud menghampiri Vie.
"Hai ... kak, sedang apa sendiri disini?" Ayumi tiba-tiba duduk di sisi kanan Andra sambil menarik lengan Andra agar duduk kembali.
"Saya sedang bersantai saja, nona." Jawab Andra datar dan kembali duduk di tempatnya.
"Iiiihhh ... kan aku sudah bilang jangan panggil aku nona! Panggil Ayumi saja!" Rajuk Ayumi dengan wajah yang cemberut.
"Iya, Ayumi." Andra memaksakan senyuman di bibirnya.
"Begitu dong! Oh iya, kak Andra sudah punya pacar belum?" Tanya Ayumi penasaran dengan nada yang manja.
"Belum."
"Kalau orang yang disukai?" Tanya Ayumi lagi.
"Emm ... saya ..." Belum sempat Andra menjawab, Raja datang mengagetkan mereka.
"Hai ... bro! Hallo Ayumi." Raja duduk diantara Ayumi dan Andra.
"Cckk ... disebelah sana masih ada tempat, kenapa harus duduk disini sih?" Gerutu Ayumi dengan wajah kesal.
"Weess ... jangan galak-galak dong! Kamu dipanggil tante Venus, buruan sana!" Raja mengusir Ayumi.
"Ada apa tante memanggilku?"
" Meneketehek ...!" Raja mengangkat bahu dan menjawab sekenanya. "Sudah sana!" Usir Raja lagi.
Dengan berat hati Ayumi beranjak lalu meninggalkan Andra dan juga Raja.
"Tugas saya sudah selesai, selanjutnya saya serahkan ke anda." Raja berbicara dengan gaya sok keren sambil memakai kaca mata hitamnya.
"Maksudnya?" Andra menaikkan sebelah alisnya, memandang bingung kepada Raja.
" Aish ... begini ini kalau tua-tua dikarbet! Masa tidak mengerti sih?" Ucap Raja kesal dengan kebodohan Andra.
"Habis kamu bicaranya tidak jelas, mana saya paham!"
__ADS_1
"Saya sudah menyingkirkan si Ayumi itu, dan mereka sedang berusaha menyingkirkan si Davin yang sok keren itu. Setelah itu kak Andra bisa menemui Vie tanpa diganggu mereka dan segera nyatakan perasaan." Raja berbicara dengan serius sambil menunjuk kearah Dino, Dafa dan Rafa yang sedang berusaha mengajak Davin pergi agar menjauh dari Vie.
Andra terkejut sekaligus merasa geli karena Raja memanggilnya kakak, lelaki tampan itu tersenyum samar.
"Kenapa kalian melakukan semua ini?"
"Habis kak Andra payah! Belum berperang masa sudah menyerah? Kalau memang kak Andra menyukai Vie, kak Andra harus ungkapin, sebelum Vie diambil orang." Lanjut Raja penuh emosi, dia gemes lihat Andra yang tak berani menyatakan perasaannya. Andra akhirnya terkekeh mendengar ucapan bocah sableng ini.
"Kenapa ketawa? Apa yang lucu?" Tanya Raja bingung.
"Kenapa kalian ngebet banget sih? Bagaimana kalau Vie menolak saya?" Andra menggoda Raja.
"Kita akan mencobanya lagi!"
"Kalau ditolak lagi?" Andra semakin memancing emosi Raja.
"Matikan saja saya! Ribet banget sih?" Raja melengos. Andra kembali terkekeh melihat ekspresi bocah itu.
"Hahaha ... iya-iya, tadi juga saya mau menghampiri dia dan menyatakan perasaan saya, tapi keburu kamu dan Ayumi datang mengganggu niat saya." Ucap Andra dengan nada mengejek.
"Ciihh ... kenapa aku jadi ikut disalahkan?" Raja bergumam sendiri. " Ya sudah, buruan sana, kak! Vie sedang sendiri itu." Raja mengusir Andra.
Andra pun berdiri dan berjalan kearah Vie, tapi baru beberapa langkah, Andra berhenti saat seseorang lebih dulu menghampiri gadis pujaan hatinya itu.
Tampak dari kejauhan, Vie tersenyum menyambut kedatangan Alvin, lalu mereka terlibat obrolan yang sepertinya serius. Mendadak wajah Vie berubah sendu dan tertunduk begitu juga dengan Alvin, bahkan terlihat Alvin mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya seperti sedang memohon.
Andra dan Raja hanya memandangi mereka dari jauh dengan penasaran, tanpa tahu apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya.
"Kamu janji ya, Vie?" Tanya Alvin penuh harap.
"Iya, om ... aku janji!" Jawab Vie sambil memaksakan senyum di bibirnya. Walaupun hatinya belum bisa percaya dan masih sedih mendengar cerita Alvin tadi.
"Terimakasih ya. Kamu memang baik hati seperti ibumu." Alvin menggenggam erat tangan Vie. Dia benar-benar melihat sosok Venus di dalam diri gadis itu.
"Wah ... kau ingin merayu putriku rupanya ya? Dasar Pedofil!" Tiba-tiba suara dingin Reino mengagetkan Alvin dan Vie dari belakang. Begitu juga dengan Andra dan Raja yang masih setia memandangi mereka dari kejauhan.
"Eh ... Rein, maaf ... aku tidak bermaksud ..." Alvin menjadi gugup dan sontak melepaskan genggaman tangannya di tangan Vie.
"Hahaha ... kenapa kau gugup begitu? Aku hanya bercanda!" Reino tergelak. Alvin menghela nafas lega dan memaksakan senyuman, dia takut Reino salah paham lagi seperti dulu.
__ADS_1
"Papa kok sendirian? Mama mana, pa?" Tanya Vie.
"Entahlah. Makanya papa kesini mau mencari mamamu. Tiba-tiba mama pergi tidak bilang-bilang saat papa ketiduran tadi." Reino menjelaskan dengan raut bingung.
"Tumben sekali mama pergi tidak bilang dulu? Papa sudah tanya tante Hanna?" Tanya Vie lagi.
"Sudah. Tapi tante Hanna juga tidak tahu, sayang. Ponsel mama juga tertinggal di kamar. Padahal papa mau suruh mama siap-siap, kita kan harus pulang hari ini." Reino mulai kesal dan cemas.
"Kalau begitu mari aku bantu mencari Venus, kita akan minta bantuan anak-anak juga." Alvin memberi saran dan Reino mengangguk setuju.
"Kalau begitu kau tetap disini, mana tahu mama kembali kesini." Pinta Reino pada Vie.
"Iya, pa."
Reino dan Alvin pun berlalu dari hadapan Vie, melihat kepergian mereka, Andra pun berlari kearah Vie, dia bertekad kali ini dia tidak boleh gagal lagi.
"Vie ..." Sapa Andra lembut dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan karena habis berlari.
"Hmmm ..." Vie berdehem tanpa memandang Andra. Gadis itu masih kesel dengannya.
"Ada yang mau aku ..." Apapun yang ingin dikatakan Andra terputus saat dari kejauhan Rafa berlari sambil berteriak heboh.
"Davin berkelahi!!!" Teriakan Rafa mengundang perhatian semua orang terutama Alvin dan Vie.
"Apa? Dimana?" Tanya Alvin panik.
"Disana, om." Rafa menunjuk kesalah satu arah. Alvin dan Reino sontak berlari mengikuti Rafa yang sudah lebih dulu kembali ke TKP.
"Ya, Tuhan ... Davin!!!" Vie yang cemas pun ikut berlari mengikuti Rafa dan yang lain, meninggalkan Andra begitu saja.
"Vie ...!!! Vie ...!!!" Andra berteriak memanggil gadis itu, berharap dia mau tetap disisinya, tapi Vie tak memperdulikannya sama sekali.
"Aaarrgghh ... sial ...!!!" Andra berteriak penuh emosi sambil menendang pasir dikakinya.
Raja yang melihat adegan tak mengenakkan itu segera berlari menghampiri Andra, dia merasa prihatin dan tak enak hati. Rencana yang dia susun kini benar-benar gagal.
"Ya sabar ya boss!" Ucap Raja pelan.
***
__ADS_1
Maaf ya guys, karena sudah beberapa hari author nggak up. Author terserang sakit tipes dan harus istirahat total, kepala yang berdenyut membuat author susah mikir.
Mohon pengertiannya ya sayang akuh ...