
Erika melangkah dengan malas dan membukakan pintu utama karena ada yang mengetuknya dari luar, gadis yang sedang hamil itu memandang bingung seorang pria tampan yang berdiri di hadapannya.
"Selamat sore, bisa bertemu dengan Tuan Daniel Winata?"
"Kau siapa?" Erika bertanya dengan judes.
Belum sempat pria itu menjawab pertanyaan Erika, tiba-tiba Daniel datang dari luar rumah, sepertinya dia baru pulang dari kantor.
"Bukankah kau Vino Adyatama? CEO V2 Grup? Aku baru saja melihatmu dengan Tuan Muda Reino di televisi tadi. Ada apa kau kemari?" Daniel menautkan kedua alisnya.
"Aku ingin menawarkan kerja sama, boleh kita bicara di dalam?" Vino tersenyum manis.
"Oh ... tentu, silahkan masuk! Maaf ... membuatmu menunggu di luar." Daniel mempersilahkan Vino masuk dengan sangat ramah. Begitulah pria tua tak tahu diri itu, dia akan melakukan apa saja demi keuntungannya, termasuk menukar putrinya dengan perusahaan.
Setelah Vino dan Daniel duduk di ruang tamu, Erika pun menghidangkan teh atas perintah Daniel dan segera berlalu dengan gaya angkuhnya. Vino hanya memperhatikan gadis itu.
Dia pasti Erika, putri Tuan Daniel.
Lalu mengapa Venus mengatakan kalau dia putri keluarga ini? Sementara kata Kenan dia adalah sepupunya Reino. Dan Reino juga mengakuinya.
"Kerja sama apa yang ingin kau tawarkan, Tuan Vino?" Daniel bertanya tanpa basa-basi, membuyarkan lamunan Vino tentang Erika dan Venus, sepertinya pria tua itu sangat penasaran.
"Aku akan menjadi investor di perusahaanmu, jika kau bersedia menceritakan asal usul Venus." Jawab Vino to the point.
Daniel tampak terkejut, dia terdiam tak tahu harus berkata apa? Dia tertarik dengan tawaran Vino tapi dia takut jika Reino tahu dia membeberkan cerita tentang Venus kepada orang lain.
"Hmm ... maksud Tuan apa?" Daniel pura-pura tak mengerti.
"Kau jangan berpura-pura! Kau tahu pasti apa maksudku!" Vino menggertak Daniel.
"Ta ... tapi, a ... aku ..." Daniel mendadak gugup.
"Kenapa? Kau takut kepada seseorang? Aku berjanji akan menjaga rahasia ini." Ucap Vino meyakinkan Daniel.
"Baiklah! Tapi aku bingung harus mulai dari mana?" Daniel tampak berfikir.
__ADS_1
"Mulailah bercerita tentang masa kecilnya."
"Sekitar 20 tahun yang lalu, aku dan istriku mengadopsi seorang anak perempuan dari panti asuhan Kasih, karena kami sudah 5 tahun menikah dan belum memiliki anak. Tapi sebulan setelah mengadopsinya, istriku pun hamil anak kami." Daniel mulai bercerita.
"Apa anak perempuan yang kau adopsi itu adalah Venus?" Hati Vino seperti mencelos keluar dari tempatnya, mendadak detak jantungnya tak karuan, seperti ada ratusan kuda yang berlarian disana.
"Iya, Tuan. Dia Venus." Daniel menjawab dengan pasti.
"Lalu dari mana kau tahu namanya itu?" Vino semakin penasaran.
"Dari gelang perak yang dia pakai, aku berfikir itulah namanya." Jawab Daniel.
"Ya, Tuhan ...! Sekarang dimana gelang itu? Apa Venus menyimpannya?" Tanya Vino lagi.
"Venus tidak pernah mengetahui gelang itu, karena sejak dia kubawa ke rumah ini, gelang itu aku simpan." Ucap Daniel.
"Kalau begitu kumohon berikan gelang itu kepadaku!" Vino menadahkan tangannya ke hadapan Daniel.
"Maaf, Tuan ... gelang itu sudah diambil oleh Tuan Muda Reino kemarin." Daniel tertunduk menyesal.
"Reino?"
"Dari mana Reino tahu tentang gelang itu? Dan kenapa dia mengambilnya?" Vino semakin tak bisa mengontrol emosinya, matanya mulai panas menahan cairan bening yang sudah memaksa untuk keluar.
"Tuan Reino tahu bahwa Venus bukan putri kandungku, tapi sungguh aku nggak tahu kenapa Tuan Reino menginginkan gelang itu." Daniel tertunduk takut melihat sorot mata tajam Vino yang sedang memandanginya.
"Sejak kapan dia tahu kalau Venus bukan putri kandungmu?"
"Sejak Venus terluka karena di tikam dan membutuhkan tranfusi darah sedangkan darah kami tak ada yang cocok dengannya. Bahkan Tuan Reino juga sudah mengutus pengawal pribadinya itu ke panti asuhan Kasih untuk mencari tahu tentang Venus. Dari situlah dia tahu tentang gelang itu." Daniel mengenang saat malam itu.
"Jadi Reino sudah lama tahu? Lalu kenapa dia mengatakan bahwa Venus adalah sepupunya?" Vino benar-benar meluapkan semua rasa penasarannya.
"Sepupu?" Daniel mengerutkan dahinya karena bingung. "Mereka itu pasangan suami istri." Daniel melanjutkan kata-katanya.
"Apa ...?" Vino tersentak kaget, mulutnya sampai terbuka dengan mata yang membulat sempurna.
__ADS_1
Pantas saja dia mengatakan bahwa Venus sudah menikah, jadi dia suami adikku. Lalu bagaimana dengan Diana?
Ya ... Tuhan, dia benar-benar membodohiku.
"Kalau mereka suami istri, tapi kenapa Reino tidak mengakuinya? Dia mengatakan bahwa Venus adalah asistennya." Vino bertanya lagi.
Daniel kembali terdiam, pria itu tak berani menjawab pertanyaan Vino karena dia tahu dirinya telah berlaku tak pantas menukar Venus dengan perusahaannya.
"Katakan!" Vino membentak Daniel, emosi pria itu naik saat melihat Daniel bungkam.
"Itu salahku, Tuan. Saat itu perusaanku terlilit hutang oleh Tuan Reino, aku tak sanggup membayarnya. Tapi Ibu Tuan Reino memintaku untuk menyerahkan putriku agar menikah dengan anaknya, lalu hutang perusahaanku dianggap lunas." Gemetar-gemetar Daniel menceritakan semuanya kepada Vino.
"Untuk apa dia meminta putrimu agar menikah dengan putranya itu?" Vino curiga.
"Untuk dijadikan tumbal istri pertama." Daniel menjawab, pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
Apa ...? Jadi cerita itu benar?
"Berengs*k ...!! Kenapa kau menyerahkan Adikku? Kenapa kau menukarnya dengan perusahaanmu?" Vino mencengkeram kerah baju Daniel dan menatap tajam pria tua yang sudah ketakutan itu. Emosi Vino sungguh sudah tak terkontrol.
"Adik?" Daniel terkejut bukan main mendengar ucapan Vino itu.
Bahkan seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka juga sangat terkejut.
"Iya, dia adikku ... dia Venus Adyatama yang hilang 21 tahun lalu!" Vino semakin menguatkan cengkeramannya.
"Maafkan saya, Tuan!" Ucap Daniel dengan memelas.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu setelah ini!" Vino melepaskan cengkeraman tangannya dileher Daniel dan beranjak pergi dari rumahnya. Rasanya ingin sekali Vino menghajar lelaki itu kalau tidak mengingat umurnya yang sudah tua dan jasanya yang telah mengurus Venus dari kecil hingga besar.
Vino melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beberapa kali dia memukul stir mobilnya untuk meluapkan kekesalan dan kesedihan hatinya, dia nggak menyangka akan bertemu dengan adiknya dalam keadaan seperti ini.
"Dari awal aku sudah yakin bahwa kau adalah adikku. Tapi apa yang mereka lakukan kepadamu? Kau putri kesayangan keluarga kita, tapi mereka memperlakukanmu dengan sangat buruk. Aku nggak terima mereka menjadikanmu tumbal, aku akan menjemputmu. Kita akan pulang, Adikku." Vino meracau meluapkan isi hatinya, air matanya sudah tak bisa dia bendung lagi.
Harusnya dia bahagia karena telah menemukan adik yang selama bertahun-tahun ini dia cari, adik yang sangat dia rindukan. Tapi kenyataan yang dia dapat sungguh membuat hatinya sakit.
__ADS_1
"Aku akan menghajarmu, Reino! Bila perlu aku akan melenyapkanmu dan seluruh keluargamu dari muka bumi ini!" Vino mengeraskan rahangnya dan meremas kuat stir mobilnya, hingga ujung jari-jari tangannya sampai memutih.
***