Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 47


__ADS_3

Reino sedang fokus melihat laptopnya, acara launching V-axcullin mendadak menjadi trending topik, tapi bukan karena kesuksesan acara atau hal baik lainnya, melainkan karena kejadian penembakan itu. Banyak media yang meliput langsung kejadian kemarin.


Dari sekian banyak artikel yang beredar, ada satu judul artikel yang membuat Reino berang, yaitu artikel dengan judul AKIBAT PERSAINGAN BISNIS 2 CEO MUDA, SEORANG MODEL TAK BERSALAH JADI KORBAN PENEMBAKAN DI ACARA LAUNCHING V-AXCULLIN.


"Shiiit ... berani sekali mereka membuat berita sampah seperti ini!" Reino menggeram dan mengepalkan kuat tangannya.


Lalu pria itu meraih ponselnya dan menelpon seseorang.


"Cari tahu siapa yang menulis berita itu! Dan kabari aku secepatnya!" Tuan Muda itu memberi perintah setelah panggilan teleponnya diterima seseorang di seberang sana.


"Baik, Tuan!" Jawab seseorang itu.


Reino melemparkan ponselnya ke atas meja kerja lalu beralih melihat laptopnya dan membuka rekaman CCTV di ruangan Venus, seketika senyum dibibirnya mengembang saat melihat istrinya itu tengah fokus memeriksa berkas-berkas yang ada di hadapannya. Entah mengapa kegundahan hati Reino mendadak hilang.


Cuma melihatmu saja, hatiku bisa setenang ini.


Lalu pintu ruangan Reino diketuk dari luar, membuat lamunannya buyar, pria itu segera beralih melihat rekaman CCTV di depan ruangannya, tampak Alvin berdiri disana sedang menunggu Reino mempersilakannya masuk.


"Masuk!"


"Permisi, Tuan." Alvin masuk ke ruangan kerja Reino dan menundukkan kepalanya.


"Ada apa?"


"Tuan Vino ada di luar, dia ingin bertemu dengan Tuan." Alvin menundukkan kepalanya.


"Suruh dia masuk!"


"Baiklah, Tuan! Saya permisi." Alvin berlalu dari ruangan Reino.


Setelah beberapa saat, pintu ruangan Reino terbuka dan sosok tampan Vino muncul dari sana.


"Kau sudah melihat artikel sialan itu?" Vino segera bertanya tanpa basa basi lalu mendudukkan badannya di sofa.


"Sudah! Aku juga sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahu siapa yang menyebarkan berita sampah itu." Reino berbicara sambil sesekali melirik layar laptopnya.


"Baguslah, tapi kita harus tetap klarifikasi kebenaran berita itu! Lihatlah, para masyarakat banyak yang berkomen negatif." Vino mengusap kasar wajahnya, dia nggak bisa berdiam diri saja melihat berita itu menyebar luas karena itu bisa merusak reputasinya dan V-axcullin yang baru saja dilaunching.


Reino menarik nafas dalam dan membuangnya kasar, dia benar-benar nggak menyangka bahwa acara lauching terbesar yang dia sponsori akan hancur berantakan seperti ini.


"Baiklah, kita akan adakan konfrensi pers untuk mengklarifikasi berita ini. Aku akan suruh Alvin mengatur semuanya."


"Iya, itu satu-satunya cara untuk meredam berita ini agar masyarakat tidak berfikiran negatif tentang kita." Vino menimpali ucapan Reino.

__ADS_1


Reino hanya mengangguk-anggukkan kepala pertanda menyetujui ucapan Vino, lalu beralih memandangi layar laptopnya lagi dengan perasaan kesal.


Sementara itu, Venus yang sedang memeriksa beberapa berkas di hadapannya dibuat kaget dengan kedatangan Alvin yang muncul tiba-tiba dari balik pintu ruangannya.



"Hai ... Venus! Lagi sibuk ya?" Alvin bertanya dari balik pintu, membuat Venus terperanjat kaget.


"Ya ampun ... kamu mengagetkanku saja, Vin!" Venus mengelus-elus dadanya untuk menenangkan diri.


"Hehehe ... maaf. Kau lagi sibuk ya?" Alvin melangkah masuk ke ruangan Venus dan berdiri di hadapan gadis itu sambil memperhatikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.



"Iya nih! Ada yang aku nggak paham, jadi aku periksa ulang." Venus kembali fokus memperhatikan berkas-berkas itu.


"Sini aku bantu!" Alvin segera mengambil alih berkas di hadapan Venus tanpa menunggu persetujuan gadis itu.


"Boleh juga! Aku sudah lelah ni dari tadi memandangi berkas-berkas menyebalkan ini." Venus menyerahkan berkas-berkas itu kepada Alvin lalu meregangkan otot-otot badannya yang kaku.


Alvin hanya tersenyum mendengar umpatan Venus, dia dengan senang hati membantu Venus, yang penting dia bisa dekat-dekat dengan gadis cantik yang penuh pesona itu.


Tak perlu waktu lama, Alvin telah selesai menyusun dan mengecek berkas-berkas itu, pria itu segera memberi tahu Venus dimana letak kesalahannya dan meminta Venus untuk segera memperbaikinya.


"Terima kasih banyak ya, Vin. Untung ada kamu, jadi aku nggak terlalu pusing." Venus tersenyum manis, Alvin terpaku melihat bibir merah yang sensual itu, seketika jantungnya berdetak tak karuan, ada hasrat yang tiba-tiba naik. Ingin rasanya Alvin mengecup bibir merah yang sedang tersenyum itu.


"Oh ... tidak ...tidak ... wajah kamu nggak ada kotoran kok." Jawab Alvin. Lamunannya buyar karena suara Venus.


"Terus kenapa kau melihatku seperti itu?"


"Itu ... anu ... karena wajahmu cantik sekali." Alvin menjadi gugup.


"Ih ... bisa saja." Venus tersipu malu.


"Ya sudah, aku kembali ke ruangan dulu, takut ketahuan Tuan Reino kalau kita mengobrol begini." Alvin hendak melangkah keluar.


"Iya, sekali lagi terima kasih ya." Venus kembali tersenyum.


Saat tiba di depan pintu ruangan Venus, Alvin berbalik memandangi gadis itu yang masih tersenyum ke arahnya.



Aku nggak tahan jika berlama-lama memandang bibirnya yang tersenyum itu. Dia sungguh mempesona.

__ADS_1


Lalu Alvin keluar dari ruangan Venus, namun di depan ruangan gadis itu, Alvin bertemu dengan Vino yang juga baru saja keluar dari ruangan Reino.


"Tuan." Alvin menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Vino.


"Kau, sedang apa di ruangan Venus?" Vino bertanya dengan wajah penasaran.


"Saya membantunya memeriksa berkas, Tuan."


"Oh, begitu. Apa dia sedang sangat sibuk?" Vino bertanya lagi.


"Sepertinya begitu, Tuan." Alvin sengaja berbohong agar Vino tidak mengganggu Venus, padahal dia tahu pasti pekerjaan Venus telah selesai karena dia sendiri yang membantunya. Tentu saja Alvin melakukan ini karena dia cemburu melihat Vino mendekati gadis incarannya.


"Padahal aku ingin sekali bertemu dan mengobrol dengannya." Vino terlihat kecewa.


"Mungkin lain kali, Tuan." Alvin memasang senyum diwajahnya.


Lain kali pun kalau aku bisa, aku akan menghalangimu mendekatinya.


Namun tiba-tiba Venus keluar dari ruangannya membawa berkas-berkas yang dia periksa tadi untuk diserahkan ke Reino.


Venus terkesiap melihat Vino dan Alvin yang berdiri di depan ruangannya.


"Eh, Tuan Vino? Apa yang kalian lakukan disini?" Venus memandangi Vino dan Alvin bergantian.


"Venus, kau sudah selesai?" Alvin menyela cepat.


"Sudah ... aku sudah selesai."


"Venus, kalau begitu bisa kita bicara sebentar?" Vino bertanya dengan penuh harap. Sementara Alvin memandang Vino dengan tatapan tidak suka.


"Tapi aku mau mengantarkan berkas-berkas ini ke ruangan Tuan Reino." Venus menunjuk berkas-berkas ditangannya.


"Iya, aku akan menunggumu mengantarkan berkas-berkas itu." Vino masih berharap.


Venus terdiam tak tahu harus menjawab apa?


Dia tahu pasti bahwa Reino sangat cemburu kepada Vino, suaminya itu pasti akan marah jika dia mengobrol berdua dengan Vino. Tapi Venus juga nggak enak hati bila harus menolak ajakan pria itu.


Sementara Alvin hanya memandang lekat wajah Venus menanti jawaban gadis itu.


"Kumohon jangan mau. Katakan tidak!" Gumam Alvin dalam hati.


"Bagaimana Venus, bisa kita mengobrol sebentar saja?" Vino bertanya sekali lagi.

__ADS_1


"Tidak bisa!" Suara tegas itu mengagetkan semua orang.


***


__ADS_2