
Pagi-pagi sekali Vino sudah melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat tinggal Kenan, rasanya hati Vino sungguh sudah tak sanggup menahan rasa penasarannya. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Kenan malam itu sebelum ponsel sialannya berdering?
Vino telah tiba di rumah yang tidak terlalu besar, dia memarkirkan mobilnya dengan rapi disamping mobil Kenan, mengetuk dengan tidak sabar pintu utama berwarna coklat itu.
Seorang wanita parubaya membuka pintu dan memandang Vino bingung, kenapa dia bertamu sepagi ini? Begitulah kira-kira arti pandangannya.
"Selamat pagi, maaf saya mengganggu ... saya ingin bertemu Kenan, Bi." Vino menundukkan kepalanya dengan sedikit memaksakan senyuman karena merasa tak enak hati.
"Eh, Tuan Vino ... maaf, tapi Tuan Kenannya masih tidur."
"Boleh saya masuk?" Tanya Vino sedikit ragu, mau apa dia masuk sedangkan yang dicari masih tidur. Ah ... dia kan bisa membangunkannya.
Wanita itu diam sejenak, ada rasa ragu dihatinya, mengizinkan Vino masuk atau tidak, tapi tak mungkin mengusir teman majikannya ini.
"Iya, Tuan ... silahkan!" Wanita itu mempersilahkan Vino masuk. Semoga ini keputusan terbaiknya.
"Terima kasih." Vino melangkah masuk dan segera menuju kamar Kenan.
Vino tahu persis dimana letak kamar temannya itu, karena dia pernah beberapa kali menginap disini. Saat tiba di depan sebuah kamar, Vino membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci itu dan segera masuk mendekati sesosok manusia yang masih terlelap di atas ranjangnya.
"Hey ... bangun!" Vino menarik kasar selimut yang menutupi tubuh Kenan, hingga membuat pria itu tersentak kaget.
"Shiiit ...! Mau apa kau pagi-pagi kesini? Aku baru saja pulang dan tertidur." Kenan tampak kesal karena tidurnya terganggu. Kenan baru saja pulang dari rumah sakit dan teridur selama 20 menit, tapi si perusuh ini sudah menganggunya.
"Maaf, tapi aku sungguh penasaran, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan ketika di restoran itu?" Vino duduk di tepi ranjang Kenan. Sementara Kenan sudah lebih dulu menegakkan badannya dan bersandar malas.
"Astaga, cuma karena itu kau sampai kesini dan menggangguku?" Kenan memandang malas Vino.
"Aku harus secepatnya memastikan apakah dia adikku atau bukan!" Vino menegaskan suaranya.
"Kenapa terburu-buru sekali sih?" Ucapan Kenan kali ini benar-benar membuat Vino kesal.
__ADS_1
"Kau mau katakan atau tidak?" Vino mencengkeram baju Kenan dan mendekatkan wajah pria nyeleneh itu ke depan wajahnya, tatapan Vino seperti ingin menelan Kenan bulat-bulat.
"Iya-iya aku akan katakan! Selow laaaah ...!" Kenan yang ketakutan segera menuruti kemauan Vino.
"Huuuuu ... kau makan apa sih? Bau mulutmu seperti toilet umum!" Vino menghela nafas kasar dan mendorong tubuh Kenan menjauh darinya saat aroma nafas pria itu menusuk indra penciumannya.
"Hehehe ... cuma makan pakai lalapan jengkol dan petai mentah." Kenan cengengesan sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
Vino mendengus kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jelaslah aroma nafasnya tidak enak, dia kan baru saja bangun tidur dan habis makan jengkol dan petai mentah pula. Sumpah ... itu bagaikan gas alam yang mematikan.
"Sekarang cepat katakan!" Vino kembali pada niat awal, mendengarkan ucapan Kenan yang menggantung.
"Kemarin aku cuma mau bilang, setahu aku Venus itu adalah sepupu Reino, dia yatim piatu makanya waktu dia terluka dan butuh transfusi darah, tak ada darah yang cocok dengan darahnya yang langka." Kenan mulai menjelaskan.
"Langka? Memang apa golongan darahnya?" Vino menautkan kedua alis dan menunggu jawaban Kenan.
"Sama seperti darahmu ... O-negatif."
"Iyeess ... kau benar sekali." Kenan menjawab dengan santai, dasar ya pria yang satu ini, entah kapan dia bisa serius.
Vino mendadak tak bertenaga, badannya lemas seperti tak bernyawa. Hatinya mendadak sedih sekaligus bahagia, pencariannya yang bertahun-tahun, kini membuahkan hasil, adik yang selama ini dia cari ada di depan matanya. Begitulah pikiran Vino saat ini.
"Aku akan mengatakan kepadanya bahwa dia adalah adikku! Aku akan menjemputnya!" Vino hendak beranjak dari kamar Kenan, tapi pria humoris itu menahannya.
"Kau jangan gegabah! Kau fikir dia bisa percaya begitu saja kepadamu? Lagipula mungkin saja ini cuma kebetulan." Kenan sedikit ragu dengan kesimpulan yang dibuat oleh Vino.
"Aku yakin dia adikku, terlalu banyak fakta yang membenarkannya!" Vino berkata dengan yakin.
"Kalau begitu kenapa Reino mengatakan Venus adalah sepupunya? Bahkan Venus sendiri mengaku sebagai putri keluarga Winata." Kenan mengerutkan dahi seolah-seolah sedang berfikir.
"Mereka pasti menyembunyikan sesuatu, aku harus cari tahu!"
__ADS_1
"Tapi sebaiknya untuk saat ini, kau rahasiakan dulu semuanya sampai kau mendapatkan bukti yang kuat bahwa Venus memang benar-benar adikmu. Kalau kau datang tiba-tiba dan mengaku sebagai kakaknya, dia pasti syok dan nggak bisa terima begitu saja. Selidikilah dulu kebenarannya." Kenan berbicara dengan logika, akhirnya pria nyeleneh ini bisa serius juga.
Vino tampak tertegun mendengar kata-kata Kenan, teman gilanya ini ada benarnya juga.
"Baiklah, kau benar juga! Aku akan terus selidiki kebenarannya dan mencari bukti-bukti, bahwa dia memang adikku. Bila perlu aku akan tes DNA."
"Aku akan membantumu sebisaku." Kenan menepuk pelan bahu Vino, menunjukan dukungan yang dia berikan.
Vino terdiam dengan pandangan kosong, mendadak memori masa lalu terputar diotaknya, Vino teringat ada sebuah gelang perak bertuliskan nama adiknya, gelang itu sengaja ditempah oleh Ayah Vino, yang satu untuk Vino dan yang satu lagi untuk adiknya.
Gelang itu? Dia pasti masih menyimpan gelang itu. Aku harus cari tahu!
Kenan yang melihat Vino melamun mencoba mengalihkan perhatian temannya itu. " Bagaimana rencana launching brand terbarumu? Kapan akan diadakan?"
"Eng ... oh, launchingnya lusa di pelataran mall XY. Kau datangkan?" Vino yang gelagapan mengalihkan pandangannya ke Kenan saat suara pria itu membuyarkan lamuanannya.
"Tentu, ini launching terkeren, V2 Grup berkolaborasi dengan Grafika Grup. Dua perusahaan besar dengan CEO yang menyebalkan!" Kenan menjawab dengan nada mengejek plus memasang wajah jenakanya.
"Kau ini ...?" Vino memelototkan matanya kepada Kenan, pria itu hanya terkekeh.
"Sudah sana pergi! Aku ingin tidur lagi, kau mengganggu saja!" Kenan mengusir Vino dan kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Iya, tidurlah dan jangan bangun-bangun lagi! Aku pergi dulu!" Vino menyumpahi Kenan dan berjalan keluar dari kamar manusia aneh itu.
"Berengs*k kau!" Kenan memaki Vino karena sudah menyumpahinya.
Vino melangkahkan kakinya dengan lemah keluar dari rumah Kenan, lalu pria rupawan itu melajukan mobilnya menuju gedung perusahaan miliknya.
Namun tanpa Vino sadari ada seseorang yang menaiki motor sedang mengintai dan mengikutinya sampai ke gedung V2 Grup.
Seorang pria misterius yang memakai jaket kulit hitam dan helm full face sedang memperhatikan Vino yang telah tiba di parkiran gedung perusahaannya, terlihat beberapa karyawan menyapa Vino sambil mengangguk memberi hormat.
__ADS_1
***