Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 33


__ADS_3

Keesokan harinya, Reino sedang menikmati sarapan di meja makan, namun tak ada Liana disana, dari semalam wanita itu tak keluar kamar sama sekali. Reino sedikit cemas tapi rasa kesalnya kepada Liana masih memenuhi hati dan pikirannya. Sementara Venus baru saja turun dengan pakaian yang rapi dan sedikit polesan make-up di wajahnya, Reino hanya memandang bingung gadis itu.


"Kau mau kemana?" Reino bertanya.


"Kau masih bertanya? Tentu saja mau ke kentor, aku kan harus bekerja." Venus mendudukan tubuhnya di samping Reino.


"Kerja? Apa aku mengizinkanmu bekerja?" Reino mengerutkan dahinya memandang Venus penuh tanya.


"Aku sudah terlalu lama cuti, jadi izinkanlah aku bekerja," Venus memelas.


"Kau sudah ku pecat!" Ucap Reino acuh.


"Apaaaa ...?" Venus memekik kuat, membuat Reino terkejut.


"Hey ... jangan berteriak! Suaramu jelek!" Reino mengusap pelan telingannya.


"Kau jahat sekali! Bagaimana bisa kau memecat karyawan yang sakit dan hampir mati? Lagipula aku baru bekerja sehari, aku tidak akan mendapat gaji pertamaku." Venus berbicara dengan nada tinggi dengan kecepatan 100km/jam.


"Wah ... kau semakin berisik sejak lolos dari maut! Pokoknya kau tetap di rumah, jangan bekerja!"


"Kau jahat!" Venus merajuk dan tertunduk sedih, wajahnya yang cemberut benar-benar membuat Reino gemas.


"Kau baru saja terluka, kau harus banyak istirahat." Reino berbicara dengan nada yang lembut.


"Tapi aku ingin bekerja, aku mohon izinkanlah." Venus beralih memandang Reino dengan tatapan ala puppy eyes, Reino benar-benar nggak tahan melihat wajah istrinya yang sangat menggemaskan itu.


"Baiklah! Tapi kau jangan terlalu lelah. Kalau kau sampai kelelahan, aku akan mengurungmu seumur hidup di rumah." Reino pasrah namun tetap mengeluarkan ancamannya.


"Siap, Tuan Muda!" Dalam sekejab wajah Venus berbinar dengan bibir yang tertawa riang, memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih.


Reino hanya tersenyum memandang wajah ceria Venus, entah mengapa sejak Venus hadir dihidupnya, hari-hari Reino lebih berwarna. Rasa kasihan yang besar kepada gadis itu benar-benar membuat Reino selalu ingin menjaganya dan membahagiakannya.


"Tuan Muda!" Suara Venus membuyarkan lamunan Reino.


"Hemmm,"


"Aku boleh bertanya sesuatu?" Venus terlihat ragu-ragu.


"Apa?"


"Tentang ucapanmu yang semalam itu."


"Yang mana?"


"Hmmm ... yang itu ..." Venus semakin ragu.

__ADS_1


"Yang itu mana? Bicara yang jelas!" Reino memandang lekat wajah cantik Venus.


"Sudah, lupakan saja!" Venus mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Kau aneh sekali!" Reino menggeleng kepalanya.


Lalu tiba-tiba Liana turun membawa kopernya dan berlalu begitu saja melewati meja makan tanpa menoleh ataupun menyapa Reino dan Venus.


"Mama mau kemana?" Suara tegas Reino menghentikan langkah Liana.


"Jangan mengurusi Mama! Urus saja istri sialanmu itu!" Liana berbicara tanpa menoleh kearah putranya.


"Ma, jangan seperti ini! Mama yang memintaku untuk menikahi Venus, tapi kenapa sekarang Mama begini?" Reino melangkah mendekati Liana.


"Mama menyuruhmu menikahinya untuk menjadikannya tumbal agar kau bisa segera menikahi Diana, tapi kau malah mengusir Diana dan membatalkan perjodohan kalian," Liana membalikkan badannya, memandang Reino dengan tatapan penuh duka.


"Ma, kutukan itu tidak ada, mungkin memang takdirku menikah dengan Venus. Lagipula aku tidak mencintai Diana, aku nggak bisa hidup bersamanya." Reino berbicara dengan logika.


"Lantas apa kau mencintainya?" Liana menunjuk Venus dengan jari telunjuknya.


Reino hanya terdiam nggak bisa menjawab pertanyaan Liana, dia sendiri bingung harus menjawab apa?


"Sudahlah, Rein ... Mama nggak ada waktu berdebat denganmu!" Liana melanjutkan langkahnya meninggalkan kediaman Brahmansa.


Reino hanya menghela nafas memandang pundak Mamanya yang semakin menjauh, sementara Venus hanya terdiam mencoba mencerna sikap diam Reino.


Kenapa aku merasa sedikit kecewa?


***


Reino dan Venus melangkah memasuki gedung Grafika Grup, seperti pertama kali Venus datang, hari ini seluruh karyawan memandang heran kedatangan mereka, sebagian juga ada yang berbisik.


Reino dan Venus berjalan memasuki ruangan mereka masing-masing, tapi Venus berpas-pasan dengan Alvin. Sekretaris Reino itu membulatkan matanya sempurna saat melihat Venus.


"Kau masuk lagi? Bukankah kau sudah resigne?" Alvin mengernyitkan dahinya bingung.


"Iya, tadinya begitu karena sedikit masalah, tapi sekarang aku kembali bekerja lagi disini." Venus berbicara dengan lembut dan memamerkan senyum di bibirnya.


Reino yang mendengar pembicaraan mereka hanya melirik tajam, lalu masuk keruangannya meninggalkan sepasang karyawannya itu.


"Ya sudah, aku masuk dulu." Pamit Alvin dengan raut wajah bahagia.


"Iya, sampai nanti."


Beberapa saat kemudian, Alvin masuk ke ruangan Reino membawa berkas di tangannya.

__ADS_1


"Permisi, Tuan ... saya membawa berkas yang harus ditanda tangani." Alvin menyerahkan berkas itu, Reino segera membubuhkan tanda tangannya di berkas itu.


"Hari ini kita ada meeting dengan CEO V2 Grup pukul 09.00, Tuan."


"Kalau begitu siapkan semuanya!" Reino berbicara dengan nada dingin.


"Baik, Tuan! Saya permisi!" Alvin mengangguk pelan, lalu berlalu dari ruangan Reino.


Reino melirik arloji ditangannya, jarum jam telah menunjukkan pukul 08.40, itu berarti 20 menit lagi meeting dimulai. Reino segera beranjak dari kursi kebesarannya dan melangkah keluar, namun di depan ruangannya Reino bertemu dengan Venus yang baru datang dari toilet.


"Kau mau kemana?" Venus bertanya dengan pandangan menyelidik.


"Aku ada meeting sebentar." Reino menjawab apa adanya.


"Aku mau ikut!"


"Nggak usah, kau disini saja!" Reino menolak permintaan Venus, membuat gadis mencibir kesal.


"Aku bosan disini, tidak ada pekerjaan sama sekali. Lagipula aku juga bisa sekalian belajar." Venus memelas penuh harap.


Memang benar, Walaupun Reino mengizinkan Venus bekerja tapi Reino tetap tidak memberikannya pekerjaan, Venus hanya duduk manis di ruangannya.


Reino menghela nafas pelan dan pasrah dengan permintaan gadis itu, " Baiklah, kau boleh ikut! Tapi jangan membuat keributan dan menyusahkanku!"


"Baiklah!" Senyum mengembang seketika menghiasi wajah cantik Venus.


***


Reino dan Venus memasuki ruang meeting, disana sudah ada Erik dan CEO V2 Grup.


Reino terkejut saat mereka saling tatap, ternyata CEO V2 Grup adalah Vino Adyatama, teman dokter Kenan yang pernah mendonorkan darahnya untuk Venus.


"Kau ...? Wah ... sempit sekali dunia ini," Reino sedikit menyunggingkan semyum di bibirnya.


"Begitulah!" Vino menjawab singkat.


Mata Vino tertuju kepada Venus yang berada di samping Reino, mata pria itu tak berkedip saat memandangi Venus, membuat Venus risih sendiri. Reino yang menyadari sikap Vino segera mengalihkan perhatian pria itu.


"Bagaimana, sudah kau fikirkan apa yang akan kau minta dariku?" Reino bertanya dengan nada datar.


"Aku ingin berkenalan dengannya!" Jawaban nyeleneh itu keluarga begitu saja dari mulut Vino tanpa mengalihkan pandangannya dari Venus.


"Apa kau tidak punya permintaan lain?" Reino tampak tidak suka.


"Kalau begitu perkenalkan, saya Venus." Tanpa di duga Venus langsung memperkenalkan dirinya kepada Vino. Reino memandang gadis itu dengan tatapan tak bersahabat

__ADS_1


"Nama itu?" Gumam Vino, hatinya seperti mencelos keluar.


***


__ADS_2