
Malam sudah semakin larut, dengan sangat terpaksa Liana mengizinkan Mika tidur di kamarnya. Tapi gadis itu harus tidur di sofa, karena Liana tidak mau seranjang dengannya.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu itu terdengar kembali, Liana yang baru saja tertidur sampai tersentak bangun. Jantungnya berdetak kencang, dia beranjak membangunkan Mika yang tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Hey ... perawat jelek, bangun!" Liana mengguncang pundak Mika dengan kasar.
Mika membuka selimut yang menutupi wajahnya, Liana heran melihat gadis itu tidur dengan menggunakan kaca matanya. Tapi dia tak perduli, karena rasa takutnya itu lebih penting.
"Dasar tak berguna! Tugasmu menemaniku, kenapa kau malah tertidur begitu?" Liana memelototkan matanya kepada Mika, membuat gadis itu spontan bangkit dari tidurnya.
"Maaf, Nyonya! Saya tertidur tadi." Mika tertunduk takut.
Tok ... tok ... tok ...
"Kau dengar suara ketukan itu?" Tatapan Liana beralih ke pintu kamarnya, saat ketukan itu terdengar kembali.
"Suara apa, Nyonya? Saya tidak mendengar apa-apa." Mika memasang wajah bingungnya.
"Yang benar saja, mana mungkin kau tidak mendengarnya!" Liana memundurkan langkahnya dan bersembunyi di balik tubuh Mika.
"Sungguh saya tidak mendengar apa-apa, Nyonya."
"Dia datang lagi! Hantu wanita itu datang lagi!" Liana semakin ketakutan dan merinding.
"Nyonya, tenanglah! Saya akan mengambilkan minum untuk Anda!" Mika hendak melangkah meninggalkan Liana, tapi wanita itu menahannya.
"Jangan kemana-mana! Aku takut!" Liana menarik lengan Mika.
"Baiklah, sekarang Nyonya tidur! Saya akan menjaga Nyonya." Mika menuntun Liana kembali ke atas ranjang dan wanita itu hanya menurut.
"Kepalaku sangat sakit, tolong pijatkan!" Liana menyuruh Mika untuk memijat kepalanya yang benar-benar berdenyut karena kurang tidur beberapa hari ini, lagipula itu alasan Liana agar Mika berada di dekatnya sampai dia tertidur.
"Baik, Nyonya!" Mika memijat dengan lembut kepala Liana, hingga dengan cepat Liana kembali terlelap.
***
Hari sudah hampir pagi, tiba-tiba lampu di kamar Liana padam, keadaan menjadi gelap gulita. Lalu selimut yang dipakai Liana ditarik sampai terjatuh di lantai membuat wanita itu tersentak bangun.
"Ah ... kenapa gelap sekali? Hey ... nyalakan lampunya!" Liana bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.
Ctek ...
__ADS_1
Tiba-tiba lampu di kamar Liana menyala lagi, tapi seketika Liana membulatkan matanya sempurna bahkan mulutnya sampai terbuka saat dia melihat sesosok wanita yang berdiri di sudut kamarnya dengan rambut panjang menutupi hampir seluruh wajahnya dan memakai gaun putih.
"Hantuuuuuu ...!!!" Liana berteriak ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.
Sosok wanita itu mendekati Liana, membuat Liana mematung tak sanggup bergerak lagi.
"Venus ... jangan bunuh aku! Ampuni aku!" Liana berteriak histeris, kali ini dia ingin sekali pingsan seperti waktu itu, tapi tidak bisa.
Lampu dikamar Liana padam lagi, membuat wanita itu semakin ketakutan dan berteriak-teriak seperti orang gila sehingga membangunkan seisi rumah. Lalu lampunya menyala kembali dan tak ada siapapun di kamar itu.
"Mama, kenapa?" Reino masuk ke kamar Liana dan berlari menghampiri Mamanya.
Disusul juga oleh Ina, karena hanya Ina yang tidur dirumah utama. Sementara para pelayan yang lain sudah kembali ke paviliun dan penjaga sedang berjaga di pos penjagaan. Lalu Diana? Sepertinya gadis itu masih terlelap di kamarnya atau mungkin pura-pura tidak mendengar.
"Ada hantu Venus! Dia datang! Mama takut!" Liana menghambur memeluk putranya.
"Kemana Mika?" Reino celingak celinguk mencari si perawat itu.
"Saya disini, Tuan! Tadi saya lagi di dapur mengambilkan minum untuk Nyonya." Mika yang baru datang berdiri di depan pintu kamar Liana dengan membawa segelas air putih.
"Berikan minumnya!" Reino meminta Mika memberikan minum kepada Liana agar wanita itu tenang. Liana meminum air itu dengan sangat rakus, sepertinya dia haus sekali.
"Tidak ada apa-apa disini, Ma. Mungkin Mama cuma bermimpi." Reino berusaha menenangkan Mamanya itu.
"Kenapa dia harus mendatangai Mama, bukan mendatangi aku ...suaminya?" Reino bertanya dengan tatapan menyelidik.
Liana melepaskan pelukannya dari Reino dan tertunduk, tiba-tiba wanita itu terisak, Reino semakin penasaran.
"Rein, maafkan Mama! Sebenarnya Mama ..." Kata-kata Liana tertahan saat mendengar suara teriakan Diana di depan pintu kamarnya.
Sontak semua orang yang berada di kamar Liana berhambur keluar menghampiri Diana yang sedang berdiri dan menutup wajahnya, wanita itu ketakutan seperti baru melihat hantu.
"Kau kenapa?" Reino memandang Diana khawatir.
"Reino, aku melihat hantu Venus! Aku takut!" Diana langsung memeluk Reino dan membenamkan wajahnya di dada pria itu.
"Apaaaaa ...?" Semua orang serentak berteriak kaget, bahkan Mika dan Ina saling pandang dengan tatapan bingung.
"Itukan Rein, Mama nggak bohong. Hantu Venus memang ada." Liana pun ikut bersembunyi di balik badan Reino.
"Dimana kau melihatnya?" Tanya Reino penasaran seraya melepaskan pelukan Diana yang benar-benar sudah membuatnya risih.
"Di depan kamarnya." Diana megarahkan jari telunjuknya ke arah kamar Venus.
__ADS_1
"Kalau begitu, malam ini tidurlah di kamar Mama! Mika akan menjaga kalian berdua." Reino berlalu bersama Ina, meninggalkan Diana, Liana dan juga Mika.
Diana masuk ke kamar Liana dengan wajah malas dan langsung membanting badannya di atas ranjang, diikuti oleh Liana yang berbaring di sampingnya, sementara Mika hanya duduk di sofa memandang mereka dengan tatapan sinis.
"Maafkan Tante ya, Di?" Liana memandang Diana penuh harap.
"Sudahlah, Tante! Aku mau tidur!" Diana menjawab acuh dan tidur membelakangi Liana yang terdiam dengan wajah sendu.
Mika hanya tersenyum samar melihat dua wanita itu.
***
Keesokan paginya, Liana sudah bangun dan duduk di tepi ranjang tapi sepertinya wanita itu kurang enak badan, wajahnya pucat dan terlihat lesu. Mika masuk ke kamar Liana dengan nampan yang membawa semangkuk bubur kacang hijau dan jus tomat kesukaannya.
"Nyonya, saya bawakan sarapan Anda." Mika meletakkan nampan itu di atas meja.
"Bawa kemari! Aku sangat lapar!" Liana memerintahkan Mika agar membawa nampan itu ke pangkuannya.
Mika berjalan dan melakukan perintah Liana.
Liana segera melahap bubur yang ada dihadapannya, dia juga menenggak jus tomat kesukaannya. Tapi aktifitas makan Liana terhenti saat ponselnya berdering, Liana meraih ponselnya, ada panggilan dari private number.
Awalnya Liana ragu untuk menjawab panggilan itu, tapi karena penasaran akhirnya dia menggeser tombol hijau dan panggilan terhubung.
"Hallo!" Liana menjawab dengan sedikit membentak.
"Apa kabar Nyonya Besar? Apa kau hidup dengan baik sekarang?"
"Siapa kau?" Liana semakin meninggikan suaranya.
"Kau sudah meminum darahku, masa kau lupa dengan Menantumu ini?"
"Apa?" Liana melirik gelas yang berisi jus tomat itu, warna merahnya tiba-tiba membuat Liana mual dan hampir muntah.
"Kenapa Mertuaku sayang? Kau sudah ingat siapa aku?"
"Tidaaaaakk ...!!!"
Praaaaang ...!
Liana melemparkan nampan yang ada dipangkuannya, hingga sisa bubur dan jus tercecer kemana-mana.
Mika hanya tersenyum samar, lalu memasang wajah paniknya dan menghampiri Liana.
__ADS_1
***