Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 86


__ADS_3

Sebelumnya ...


Beranjak dari rumah Vino, Erik pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Erika. Saat tiba di depan pintu ruang perawatan Erika, pria itu hanya berdiri diam, ada keraguan dihatinya untuk masuk.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Erik mengurungkan niatnya dan berbalik, tapi tiba-tiba seseorang keluar dari dalam ruang perawatan Erika.


"Kau ... sedang apa disini? Kenapa tidak masuk?" Daniel memandang Erik dengan kebingungan.


"Hmmm ... saya lupa ada urusan sebentar." Ucap Erik berbohong dan bermaksud hendak pergi dari hadapan Daniel.


"Sayang sekali ya, padahal kau sudah sampai disini." Ada guratan kekecewaan di wajah Daniel. Erik menghentikan langkahnya.


"Bagaimana kondisi Erika?" Erik bertanya untuk memastikan.


"Fisiknya sudah lebih baik, tapi mental dan emosinya masih belum stabil. Sepertinya Erika sangat terguncang dan syok karena kehilangan bayinya." Daniel menjelaskan kondisi putrinya.


"Dia cerita apa yang sebenarnya terjadi kepadanya sampai dia bisa keguguran begitu?" Tanya Erik.


"Tidak ... dia hanya minta jangan katakan kepada Shane bahwa dia ada di rumah sakit ini. Tapi dia tidak bilang apa alasannya. Aku rasa Shane tahu sesuatu." Ada kecurigaan yang bersarang dihati pria separuh tua itu.


"Atau mungkin dialah penyebab semua yang menimpa Erika. Shane itu suami Erika, secara logika nggak mungkin Erika nggak ingin berada di dekat suaminya dalam kondisi seperti ini. Aku yakin Erika takut kepadanya!" Erik menjabarkan pernyataan yang masuk akal, membuat Daniel tersadar.


"Hmm ... jangan-jangan dia yang membuat Erika jadi keguguran sperti ini, aku harus tanyakan kepada Erika." Daniel berbalik dan hendak masuk kembali ke ruangan Erika, tapi Erik menahannya.


"Jangan ...! Erika pasti akan semakin syok jika Tuan terus terang bertanya. Kita harus memancingnya pelan-pelan." Erik memberi usul. Daniel sepertinya menurut.


"Kau benar juga! Ternyata selain tampan kau juga pintar, andai saja Erika belum menikah, aku pasti menjodohkannya denganmu." Daniel tersenyum memandang kagum kepada Erik.


"Tuan bisa saja!" Erik tersipu malu dengan wajah yang merah.


"Aku pun berharap begitu, tapi sekarang dia sudah menjadi milik orang lain." Bathin Erik.


"Baiklah, akan kuusahakan agar Erika mau menceritakan semuanya."


"Kalau begitu saya pamit dulu, katakan jika Tuan membutuhkan bantuan saya." Erik berpamitan dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit tanpa bertemu dengan Erika.


Tujuannya ke rumah sakit hanya ingin memastikan kondisi Erika dan tentunya berharap bisa bertemu dengan gadis yang telah mencuri hatinya itu. Tapi entah mengapa hati Erik berat sekali jika harus menemuinya mengingat status Erika adalah istri orang.

__ADS_1


Akhirnya Erik memutuskan untuk tetap memendam hasrat dan rasa dihatinya lalu membawanya pulang ke kediaman Brahmansa tanpa diketahui siapapun.


***


Pagi ini keadaan rumah kembali normal, meja makan kembali diisi oleh sepasang suami istri yang terlihat begitu harmonis.


"Ina ... Mama kenapa belum turun?" Tanya Reino saat netra hitamnya tak menemukan sosok Liana di ruang makan.


"Hmmm ... maaf, Tuan! Nyonya sudah pergi pagi-pagi sekali. Dia membawa koper yang besar, sepertinya Nyonya akan pergi untuk waktu yang lama." Ina menjelaskan sambil tertunduk.


"Cckk ... selalu saja begitu! Ya sudah, biarkan saja."


"Kau tidak khawatir?" Tanya Venus.


"Nanti juga pulang sendiri seperti yang subelum-sebelumnya. Mama memang selalu begitu kalau sedang marah." Reino terlihat tenang, dia tahu tabiat Mamanya itu.


"Mama Liana kan Ibu tirimu, apa dia tidak jahat seperti Ibu tiri di film-film itu? Yang hanya mau harta Ayah saja dan selalu menyiksa anak tirinya." Venus berbicara dengan nada dramatis.


"Kau ini kebanyakan nonton film! Dari kecil Mama Liana selalu baik kepadaku, walau terkadang dia kasar kalau sedang marah. Tapi aku tetap menyayanginya." Reino mengusak rambut Venus dengan gemas.


"Kan aku cuma bertanya saja." Venus memonyongkan bibirnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Reino.


"Wah ... pasti segar sekali! Terima kasih ya Ina cantik." Venus kegirangan melihat sepiring buah yang terhidang di hadapannya.


"Hey ... ini masih pagi, kenapa kau memakan itu? Kau harus sarapan dulu!" Reino menarik piring yang berisi buah asam itu dari hadapan Venus dan menggantinya dengan sepiring nasi goreng.


"Aku tidak mau ini! Kembalikan buah manggaku!" Venus menyingkirkan piring di hadapannya dan merengek agar Reino mengembalikan piring yang berisi mangga muda itu.


"Kau bisa sakit perut kalau memakan ini pagi-pagi. Aku tidak akan mengembalikannya!" Reino keke tak mau mengembalikan.


"Hiks ... hiks ... kau jahat ...!! Aku benci!!!" Venus menangis seperti anak kecil yang permennya dicuri.


"He ... kenapa kau menangis? Aku hanya takut kau sakit perut kalau memakannya, kau bisa makan ini setelah sarapan." Reino mendadak panik dan bingung melihat sikap aneh istrinya itu.


"Tapi aku mau sekarang! Aku tidak berselera makan nasi atau apapun, aku cuma mau itu." Venus masih merengek manja.


"Aneh sekali, sejak kapan kau jadi sensitiv dan cengeng begini ...?" Reino semakin bingung.

__ADS_1


"Kalau kau nggak memberikannya, aku nggak mau makan seharian ini." Venus mengancam sambil mengerucutkan bibirnya dengan tangan yang bersidekap di depan dada.


Reino yang kehabisan kata-kata, akhirnya menyerah dan mengalah.


"Baiklah ... baiklah ... ini makanlah, tapi kalau kau sakit perut jangan salahkan aku. Aku sudah memperingatkanmu!" Reino meletakkan piring buah itu ke hadapan Venus dengan perasaan kesal.


Venus segera melahap mangga muda itu tanpa memperdulikan ucapan suaminya. Reino masih terheran-heran melihat Venus yang sangat menikmati buah yang rasanya asam itu.


"Hmmm ... Sayang, aku ingin tanyakan sesuatu."


"Tanyakanlah, sebelum bertanya itu bayar!" Venus menjawab seenaknya tanpa menoleh ke arah Reino dan masih sibuk menikmati mangga muda di hadapannya.


"Siapa yang memberikan hasil tes DNA itu kepadamu?" Tanya Reino dengan hati-hati.


"Aku tidak tahu!"


"Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Apa bisa hasil tes itu datang sendiri kepadamu?" Reino meninggikan suaranya, pria tampan itu nendadak kesal.


"Iya ... Reinooooo ...!! Aku memang benar-benar tidak tahu. Dia memakai topi dan masker, aku tidak mengenalinya." Suara Venus pun ikut meninggi.


"Lalu bagaimana kau bisa bertemu dengan orang itu?" Reino semakin penasaran.


"Dia mengirim pesan kepadaku dan memintaku datang ke cafe XX, saat itu aku memutuskan pergi berasama Alvin. Setelah aku mengetahui hasil tes itu, aku meminta Alvin mengantarku ke rumah Ayah Daniel dan Erika memberikan video percakapan antara Kakak dan Ayah Daniel. Dari video itulah aku tahu ternyata kau juga mengetahui bahwa aku bukan putri kandung keluarga Winata." Lanjut Venus sambil masih menyendokkan buah mangga itu kemulutnya.


"Haaa ...? Kenapa kau pergi bersama Alvin, kenapa tidak bersamaku? Lalu dari mana Erika mendapatkan rekaman itu?" Reino semakin penasaran, darahnya mendidih.


"Karena orang itu melarangku untuk memberitahumu. Kalau rekaman itu, sepertinya Erika sengaja merekam pembicaraan antara Kakak dan Ayah Daniel." Pelan tapi pasti akhirnya potongan buah mangga itu habis dilahap oleh Venus.


Sementara Reino hanya terdiam mencerna kata-kata istri cantiknya itu, dia penasaran siapa orang yang telah memberikan hasil tes DNA itu kepada Venus?


***


Guys ... karena jarang di bahas, author jadi lupa kasih visualnya Shane.... hehehe


Ini author kasih ya ...


Shane Willson.

__ADS_1



__ADS_2