
Suasana ruang jenazah rumah sakit mendadak penuh haru, isak tangis semua orang menggema di ruangan itu.
Eliza meraung dan meratapi kepergian putri kesayangannya, wanita paruh baya itu baru saja sadar dari pingsannya karena mendengar kabar kepergian Erika.
"Erika ... sayang ... jangan tinggalkan Mama! Bangunlah, Sayang!!!" Eliza memeluk tubuh Erika yang sudah terbujur kaku itu.
"Sabar, Ma! Ikhlaskan kepergiannya, Erika sudah tenang disana." Daniel memeluk erat tubuh Eliza mencoba menenangkan wanita yang dia cintai itu sambil menyeka air matanya. Daniel pun sangat hancur melihat kepergian putrinya, tapi pria itu masih berusaha tegar untuk menguatkan istrinya.
Eliza tak menghiraukan ucapan suaminya itu, dia masih menangis meratap dengan pilu.
Venus pun menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Reino, betapa pun Erika menyakitinya, tetap saja Erika adalah adik yang dia sayangi.
Sementara Erik, pria itu sedang terduduk sendiri di luar ruang jenazah, sungguh dia tak sanggup berada di dalam sana dan melihat jasad wanita yang dia cintai itu.
Memori otaknya memutar kembali, flashback-flashback saat pertama melihat Erika, saat wanita itu menyamar menjadi Mika dan saat terakhir kali dia melihat Erika di rumah sakit.
Semua itu benar-benar membuat hati Erik semakin hancur, baru kali ini dia merasa kehilangan yang begitu menyakitkan.
"Erik ... kenapa kau disini?" Reino yang baru keluar dari ruang jenazah memandang heran supir sekaligus pengawal pribadinya itu.
"Saya menunggu, Tuan dan Nona." Erik berbohong kepada Reino.
"Kalau begitu, kau pulanglah. Aku dan Venus akan ke rumah duka, menyusullah setelah kau berganti pakaian." Reino memerintah Erik agar mengganti bajunya yang dipenuhi darah Erika.
"Baik, Tuan!" Erik tertunduk, menyembunyikan wajah sedih dan mata sembabnya.
Reino masih memeluk Venus dan berjalan meninggalkan rumah sakit, begitu juga dengan Daniel yang memapah istrinya yang tak henti-hentinya menangis. Di lorong rumah sakit, mereka berpas-pasan dengan orang tua Shane yang segera menghampiri Daniel dan Eliza.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" Ayah Shane bertanya dengan raut wajah penuh duka.
__ADS_1
"Semua ini karena anakmu! Dia penyebab kematian putriku! Aku berharap dia jadi abu di neraka!" Tanpa di duga, Eliza berteriak memaki orang tua Shane. Semua orang terkejut melihat reaksi Eliza.
"Ada apa ini? Kenapa kau bicara seperti itu?" Ayah Shane terlihat tak senang dengan kata-kata Eliza.
"Sudahlah, dia sedang syok. Sebaiknya kita urus pemakaman anak kita masing-masing!" Daniel akhirnya angkat bicara dan segera berlalu meninggalkan orang tua Shane yang masih bingung dengan situasi ini.
***
Semua orang sudah berkumpul di rumah duka, karena hari sudah malam, mereka memutuskan untuk memakamkan Erika besok pagi.
Terlihat Eliza yang sedari tadi selalu setia berada di samping jasad Erika, mengelus kepala putrinya dan sesekali mencium keningnya.
"Putriku, Sayang ... kau tertidur begitu lelap. Masih terbayang saat kau tersenyum dan tertawa, baru saja kau mengadu kepada Mamamu ini. Kini kau sudah pergi menyusul anakmu, meninggalkan Mama dan Papa." Eliza berkata dengan penuh kesedihan sambil mengelus pipi Erika yang pucat dan dingin.
"Mama sabar ya!" Venus mengusap pelan pundak Eliza, genangan air matanya tak bisa dia bendung lagi dan menetes membasahi pipinya.
"Mama ... ikhlaskan Erika." Venus memeluk erat tubuh Eliza. Tak ada penolakan dari Eliza, tangis wanita itu semakin menjadi, bahunya sampai terguncang.
Semua pelayat pun tak kuasa menahan tangis melihat Eliza yang terisak begitu pilu, dari kejauhan Erik hanya memandangi jasad Erika, mata pria itu memerah menahan tangis, hatinya semakin hancur mendengar ratapan Eliza.
Sementara Reino dan Daniel sedang menyambut para pelayat yang berdatangan, termasuk Vino, Kenan, Robby dan Johan yang juga hadir untuk berbelasungkawa.
Kediaman Winata benar-benar diselimuti duka yang mendalam, isak tangis bersahutan menambah kepiluan dihati semua orang.
***
Proses pemakaman Erika sudah selesai, doa-doa sudah dipanjatkan untuk mengiringi kepergiannya ke alam abadi. Para pelayat pun sudah beranjak dari sana, menyisahkan keluarga dan kerabat dekatnya saja.
Eliza sedang bersimpuh di samping batu nisan Erika, Daniel memeluk tubuh istrinya itu seolah ingin berbagi kekuatan untuk menghadapi kesedihan ini.
__ADS_1
"Istirahatlah dengan tenang, putriku yang cantik. Mama pasti sangat merindukanmu." Eliza mengusap nisan Erika, air matanya terus menetes membasahi tanah makam putrinya itu.
"Selamat jalan, Sayang." Ucap Daniel dengan suara yang bergetar. Pria paruh baya ini lebih banyak diam merasakan duka dan kesedihan hatinya.
"Aku masih tak menyangka Erika akan pergi secepat ini dan dengan cara yang tragis." Venus berbicara pelan, air matanya meluncur turun tanpa bisa dihentikan. Wajahnya pun ikut memucat dengan mata yang sembab.
"Kematian adalah hukum alam yang tak dapat dilawan. Manusia tak diberi kesempatan untuk menawar, dia pasti datang jika waktunya telah tiba. Maka sabar dan ikhlaskan dia." Reino mengusap jejak air mata yang membasahi pipi Venus dan memeluk erat tubuh istrinya itu.
Mereka semua pun beranjak dari makam Erika dan melangkah meninggalkan pusara yang dipenuhi bunga itu. Setelah semua orang berlalu, Erik yang sedari tadi hanya berdiri memandangi makam Erika kini melangkah mendekat dan berjongkok sambil memegangi nisannya.
"Hai ... maaf, aku baru berani menyapamu sekarang, walaupun aku tahu kau takkan menjawabku. Maaf juga, karena hatiku dengan tidak tahu dirinya mencintaimu, seseorang yang bahkan tak pernah tersenyum untukku. Dan maaf, karena aku hanya bisa menjadi pengecut yang menyembunyikan perasaanku. Aku memang bodoh! Bisa-bisanya aku mencintai seseorang yang tak seharusnya aku cintai, aku minta maaf ..." Erik tertunduk menikmati rasa sakit dan sedih yang bercampur jadi satu dihatinya. Air matanya telah menetes membasahi bumi.
"Dari jauh aku akan selalu mendoakanmu, doa yang bukan sekedar kata-kata, melainkan sesuatu yang bahkan air matapun tak dapat menterjemahkannya. Kini aku tahu, salah satu cara mencintai adalah merelakanmu pergi." Erik kembali meluapkan isi hatinya, dia berbicara seakan Erika bisa mendengarnya. Wajah tampannya sudah basah karena air mata.
"Selamat jalan .... Erika sayang." Erik mencium nisan Erika dengan penuh kasih sayang, seolah sedang mencium gadis itu.
Sebenarnya Erik ingin sekali mencium Erika untuk terakhir kalinya, tapi dia merasa tak pantas untuk melakukan itu apalagi di hadapan semua orang.
Erik pun beranjak dan berjalan meninggalkan makam gadis yang telah merebut hatinya itu walaupun tak bisa dia miliki sampai ajal akhirnya memisahkan mereka.
Sementara Shane telah dimakamkan oleh orang tuanya di pemakaman keluarga milik mereka. Setiap orang berharap Erika, Shane dan bayi mereka yang keguguran bisa bersatu di alam sana. Suatu harapan yang terdengar konyol memang, tapi setidaknya itulah cara agar mereka merasa terobati.
Selamat jalan Erika Winata dan Shane Willson.😢
Semoga tenang di alam sana.
***
Jangan lupa likenya ya sayang akuh ...💜
__ADS_1