Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 71


__ADS_3

Hari ini Vino sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan mengikuti rawat jalan, tapi dia tetap harus banyak istirahat. Alvin yang selalu setia menemani Venus sedang mendorong kursi roda yang dinaiki Vino dan Venus hanya berjalan di samping mereka, sedangkan pengawal yang diutus Robby membawa barang-barang Vino dan Venus.


"Akhirnya kita bisa pulang juga ke rumah, aku sudah nggak sabar ingin segera bekerja." Vino berkata dengan tersenyum.


"Kakak ingatkan kata dokter, Kakak harus banyak istirahat! Nggak boleh kelelahan dan banyak fikiran dulu. Kakak harus menurut!" Venus sudah cemas duluan.


"Iya ... iya ... Tuan Putri yang bawel! Belum apa-apa juga, sudah disemprot duluan. Entar aku hibernasi saja deh di dalam kamar!" Vino merajuk dengan tak tahu diri.


Venus dan Alvin hanya terkekeh mendengar rajukan Vino, Kakaknya itu mendadak manja kalau sudah berasa di dekat Venus.


"Nanti setelah mengantarkan Kakak, apakah kau bisa mengantarkan aku berbelanja? Hari ini aku akan memasak." Tanya Venus, pandangannya kini beralih ke Alvin.


"Baiklah! Dengan senang hati!" Jawab Alvin.


"Memangnya ada apa? Kenapa kau yang memasak hari ini? Bukankah ada pelayan di rumah?" Vino penasaran.


"Entahlah! Om Robby yang memintanya."


Mereka pun meninggalkan rumah sakit.


***


Reino dan Erik tiba di depan pintu sebuah apartemen yang tak jauh dari hotel tempat mereka menginap, sejam yang lalu Si pemilik apartemen yang baru datang dari luar negeri menghubungi Reino dan meminta pria tampan itu segera datang.


Reino merogoh ponsel disaku celananya dan menghubungi seseorang.


"Paman Gobber, aku sudah di depan apartemenmu. Kalau kau tidak membukakan pintu, aku akan pergi!" Reino merajuk dan mengancam Si pemilik apartemen.


Iya, pria yang dipanggil Paman Gober itu adalah Johan, pengacara sekaligus orang kepercayaan mendiang Papanya Reino yang mengatur semua wasiat dan memantau perusahaan.


"Selalu saja mengancam! Tunggulah sebentar!"


Tak lama kemudian, pintu apartemen itu dibuka oleh Johan yang langsung menjewer telinga Reino dan menarik pria itu masuk ke dalam apartemennya, Erik hanya melangkah mengikuti kedua orang itu.


"Dasar anak nakal!"


"Aaaww ... sakit! Kenapa Paman Gober menjewerku?" Tanya Reino heran sambil menahan sakit ditelinganya.


Sementara Erik hanya mengulum senyum. Dia tahu seperti apa tingkah mereka jika sudah bertemu.


"Kau masih bertanya kenapa? Kau sudah bosan jadi CEO ya? Atau kau ingin menghancurkan perusahaan Grafika Grup, begitu?" Mata pria yang di panggil Paman Gober itu menyalang penuh emosi.

__ADS_1


"Memang aku melakukan apa?" Reino bertanya dengan polos sambil mengusap-usap telinganya yang sakit setelah Johan berhenti menjewernya.


"Kenapa kau tidak masuk kantor beberapa hari ini? Banyak meeting dengan klien penting yang kau batalkan, kau sudah tidak waras ya?" Johan menatap tajam ke arah Reino.


"Itu ... aku ... lagi ada masalah, aku tidak bersemangat untuk bekerja." Reino beralasan.


"Alasan macam apa itu? Memang masalah apa yang sedang kau hadapi? Katakan kepadaku! Apa masalah penembakan di launching itu?"


"Bukan ... hmm ... anu ... itu ...masalah keluarga." Reino menjadi gugup, bingung harus mengatakan apa?


Sedangkan Johan belum tahu jika dia sudah menikah.


"Keluarga siapa? Mengapa sekarang kau menjadi gagap?" Johan semakin penasaran dengan anak kliennya ini.


"Aku sudah menikah, Paman." Reino berkata pelan.


"Apaaaa ...? Kau sudah menikah tapi tidak mengabari Paman Gobermu ini? Dasar anak durhaka!" Johan sudah mencak-mencak nggak karuan. Dan melemparkan bantal sofa kewajah Reino, Erik hanya terkekeh, kapan lagi bisa melihat Tuan Mudanya diperlakukan dengan semena-mena begitu. Begitulah kalau mereka sudah bertemu, mendadak harga diri Reino hilang entah kemana?


"Maaf, Paman ... pernikahanku mendadak. Awalnya aku juga tidak mau." Reino membela diri.


"Kalau begitu ceritakan semuanya kepadaku!" Johan memandang serius wajah Reino.


Reino pun menceritakan awal mula dia mengenal dan menikahi Venus, sampai akhirnya dia jatuh cinta kepada istrinya itu.


"Tapi aku tidak menyesal dengan pernikahan ini, malah aku bersyukur telah di jodohkan dengan dia. Dia gadis yang cantik dan baik." Reino tersenyum bangga.


"Dasar kau ...! Baiklah, karena kau sudah menikah, berarti sudah saatnya kau mengetahui wasiat Papamu." Ucap Johan.


"Wasiat ...? Wasiat apa ...?" Reino menautkan kedua alisnya, menanti jawaban dari mulut Johan.


"Papamu berwasiat, jika kau sudah menikah, maka 60 persen harta kekayaan Brahmansa akan jatuh ketanganmu secara sah, lalu 30 persen lagi ketangan istrimu dan sisanya 10 persen menjadi milik Mamamu. Tapi jika kau meniggal sebelum menikah, maka 90 persen harta keluarga Brahmansa disumbangkan ke panti sosial." Johan menjelaskan dengan rinci wasiat mendiang Papanya Reino, yang selama ini tidak diketahui oleh Reino.


Beberapa tahun ini Reino hanya diminta untuk menjalankan perusahaan yang belum resmi menjadi miliknya.


"Kenapa begitu? Lalu kenapa Mama hanya mendapatkan 10 persen, sementara istriku 30 persen? Aku menjadi bingung!" Reino menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Aku tidak tahu pasti alasan Papamu membuat wasiat seperti ini, yang aku tahu sebelum Papamu membuatnya, rumah tangganya sedang tidak baik dengan Mamamu. Aku fikir mungkin itu alasannya." Lanjut Johan.


"Apa Mama tahu wasiat ini?"


"Iya, dia tahu. Beberapa bulan setelah Papamu meninggal, Mamamu menemui aku dan memaksaku membacakan surat wasiat Papamu. Saat itu dia sangat marah setelah mengetahui isi wasiatnya. Dia mengusirku dan mengatakan aku yang memprovokasi Papamu, maka sejak saat itu aku nggak pernah datang kerumahmu lagi. Karena aku tahu, Mamamu sangat membenciku." Johan lanjut menjelaskan semuanya. Reino maupun Erik terkesiap mendengar semua ucapan Johan.

__ADS_1


"Tapi kenapa Mama tidak pernah mengatakan apa-apa kepadaku?" Tanya Reino bingung.


"Entahlah ... dia pasti punya alasan melakukannya."


Reino maupun Erik sejenak terdiam mencoba mencerna semua perkataan Johan, bahkan Erik mencurigai sesuatu.


"Lalu dimana istrimu itu? Tidakkah kau berniat mengenalkannya kepada Paman Gobermu ini?" Johan memandang Reino penuh harap.


"Hmm ... dia ... dia sedang pergi ke luar negeri, Paman. Kalau nanti dia pulang, aku akan membawanya kesini." Ucap Reino gugup, mencoba menutupi kebohongannya.


Bagaimana dia bisa mengenalkan Venus kepada Johan? Sedangkan hubungannya sedang tidak baik dengan istrinya itu.


"Wah ... sayang sekali ya? Kalau begitu, saat dia pulang nanti, segera bawa dia menemuiku!" Johan sedikit kecewa.


"Hehehe ... iya, Paman!" Reino tertunduk, merasa canggung karena telah membohongi Johan. Erik hanya dia dan menghela nafas mendengar kebohongan Reino.


"Oh iya, nanti malam teman lamaku mengundang untuk makan malam di rumahnya. Kau ikutlah bersamaku!" Ucap Johan.


"Kenapa aku harus ikut?"


"Hanya menemaniku saja! Lagipula dia pembisnis yang handal, kau bisa belajar banyak dari dia." Johan tersenyum membanggakan temannya itu.


"Baiklah!" Reino menjawab dengan malas.


"Hmm ... maaf, Tuan ... nanti malam saya ada urusan, jadi saya tidak bisa ikut." Ragu-ragu Erik mengatakan hal itu.


"Sejak kapan kau punya urusan di luar? Kau juga harus ikut!" Reino menatap tajam ke arah Erik.


"Hey ... dia kan juga punya kehidupan, kenapa kau memaksanya ikut bersamamu? Biarkan dia menyelesaikan urusannya!" Johan melemparkan lagi bantal sofa kewajah Reino.


"Cckk ... iya, terserahlah!" Reino hanya berdecak pasrah.


"Terima kasih, Tuan!" Erik tersenyum samar.


***


Pasti penasaran kenapa Reino memanggil Johan dengan sebutan Paman Gober...?


Tau kan Paman Gober itu wataknya seperti apa?


Di bab-bab berikutnya, kalian bakal tahu alasannya....😂😊

__ADS_1


Jangan lupa like....💜


__ADS_2