
"Hey, lepaskan dia!"
Sontak semua orang melihat ke arah seseorang yang membentak Reino itu.
"Kakak ..." Mata Venus sampai melotot seperti hendak keluar dengan mulut yang mengangah.
Sementara Reino hanya memandangi Vino dengan tatapan ambigu, bahkan Johan dan Robby sampai berdiri dari tempat duduk mereka. Lalu Alvin? Pria itu hanya terpaku memandangi Vino dan Reino bergantian, dia merasa sedikit cemas, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kau tidak mendengarku? Lepaskan dia!" Vino kembali berteriak membentak Reino. Suara pria yang sedang terduduk di kursi roda itu sampai menggema diseluruh penjuru rumah.
"Kau dengar itu? Lepaskan aku!" Venus berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Reino. Tapi tenaga suaminya itu jauh lebih kuat darinya, usaha Venus hanya sia-sia.
"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskannya!" Vino berbicara tanpa menoleh ke arah Venus, pandangan matanya hanya lurus ke depan menjurus ke Vino.
"Berani sekali kau? Dia Adikku, jangan seenaknya kau!" Vino semakin menggeram.
"Tapi dia juga istriku! Apa kau lupa? Aku juga berhak atas dirinya!" Reino berbicara dengan pelan tapi penuh penekanan. Dia tak memperdulikan lagi apa yang ada difikiran semua orang, dia sudah benar-benar nggak tahan menghadapi semua ini, apalagi harus terpisah dari Venus.
Johan dan Robby hanya terdiam memandangi perseteruan kedua orang itu. Alvin yang cemas pun nggak bisa berbuat apa-apa.
"Ciihh ... suami macam apa yang menutupi jati diri istrinya dan menjauhkannya dari keluarga kandungnya. Lagi pula aku tahu, kau menikahi Adikku karena hanya ingin menjadikannya tumbal, Adikku cuma kambing hitam di keluargamu!" Vino semakin emosi, dia mengeraskan rahangnya dan menatap tajam ke arah Reino dan Venus.
"Aku minta maaf! Sungguh, aku nggak bermaksud untuk menutupi jati diri Venus, aku juga baru tahu jika kalian saudara kandung saat Venus memberikan hasil tes DNA itu. Dan masalah tumbal itu, awalnya aku sama sekali nggak setuju, tapi Mamaku memaksanya. Tapi aku bersyukur bisa menikahi Venus, sekarang aku sangat mencintainya." Reino berbicara dengan jujur dan tegas sambil melirik istrinya, sedangkan tangannya masih memegang tangan Venus yang terluka.
__ADS_1
Seolah lupa dengan rasa sakit di jarinya, Venus terpukau dengan pengakuan Reino barusan. Dia sampai tak bisa mengalihkan pandangan matanya dari wajah Reino.
Dia bilang, dia sangat mencintaiku?
Kata-kata itu yang selalu aku tunggu ke luar dari mulutnya, hari ini dia mengatakannya.
"Lalu jika kau tidak menyembunyikan jati dirinya, kenapa kau menyimpan gelang perak itu? Pasti karena kau ingin menghilangkan buktinya. Iyakan ...?" Ucap Vino masih dengan kemarahan yang meluap-meluap. Venus kaget saat mendengar Vino menyebut gelang perak, otak nya seolah memutar kembali memori yang lalu, saat Venus menemukan gelang di kamar Reino waktu itu. Dan Reino mengatakan itu gelang miliknya.
Jadi itu gelang perak milikku? Kenapa dia berbohong?
"Nggak ... itu nggak benar! Aku hanya ingin menyelidikinya, aku bahkan sudah ke panti asuhan tempat dia berasal, tapi tak banyak informasi yang aku dapat. Aku sungguh nggak bermaksud menyembunyikan kebenaran, aku memang sempat curiga jika kalian saudara kandung karena donor darah itu, tapi aku nggak tahu dengan pasti." Reino mencoba menjelaskan semua kebenaran yang ada, berharap Vino dan Venus mau memaafkannya.
"Tapi kenapa kau tidak menceritakan semuanya kepadaku? Harusnya kau katakan jika Kak Vino yang mendonorkan darah untukku dan aku bukan anak kandung orang tuaku. Lalu kau juga berbohong tentang gelang itu. Kenapa kau membiarkan aku mengetahuinya dari orang lain?" Venus menatapa tajam wajah suaminya itu, air matanya mulai menetes.
"Maaf ... Tuan-Tuan, bisakah perdebatannya ditunda dulu? Lihatlah jari Venus harus segera diobati!" Takut-takut Alvin menyela dan mengingatkan kedua pria tampan yang berseteru itu sambil menunjuk jari Venus yang masih berdarah. Wajah Alvin sudah cemas bukan main, dia merasa salah karena berada di situasi pelik ini.
"Ya, Tuhan ... maaf, aku lupa! Sini aku obati!" Reino meraih kotak P3K dan segera mengobati jari Venus yang terluka itu.
"Sudah tidak usah! Biarkan aku saja yang mengobatinya sendiri." Venus berusaha menarik jarinya yang dipegang oleh Reino, tapi pria itu tak menghiraukannya.
"Hey ... kau tidak dengar apa katanya? Cepat lepaskan! Jangan mengalihkan situasi ini!" Vino semakin mendekati Reino dan Venus. Dia merasa Reino sengaja berpura-pura mengobati Venus untuk menghindari perdebatan dengannya.
Tapi laju kursi roda Vino berhenti saat Robby menahannya, Johan juga berjalan mendekati pria tampan yang sedang marah itu. Kedua pria paruh baya itu semakin menarik Vino menjauh dari Reino dan Venus, seolah ingin membiarkan mereka berdua saja.
__ADS_1
"Om, kenapa membawaku kesini? Urusanku belum selesai dengan Si Kepar4t itu!" Vino merasa heran karena Robby dan Johan membawanya ke kamar.
"Tidakkah kau melihat cinta diantara mereka? Apa kau tidak merasa egois jika memisahkan suami istri yang saling mencintai?" Kata-kata Robby membuat Vino terdiam.
"Reino itu anak yang baik, aku sangat mengenalnya! Dia pasti nggak memiliki niat yang buruk, dia hanya berusaha mempertahankan cintanya. Lagi pula dia sudah cukup menderita karena kehilangan orang-orang yang dia sayangi, jadi aku mohon jangan pisahkan dia dari istrinya." Johan mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Vino dengan wajah yang menyedih. Walaupun dia hanya pengacara keluarga Brahmansa, tapi Johan sangat mengenal baik keluarga itu terutama Reino. Bahkan dia sudah menganggap Reino seperti putranya sendiri.
Melihat sikap kedua pria tua itu, Vino menjadi bingung. Tiba-tiba keegoisan dihatinya mendadak runtuh berganti iba. Dia merasa menjadi orang yang jahat jika memaksakan keegoisannya itu kepada adik yang dia sayangi.
"Tapi dia sudah bersalah! Dia sudah menutupi semuanya dan menjadikan Adikku sebagai kambing hitam!" Vino masih berusaha mencari kesalahan Reino.
"Vin, bukankah Reino sudah menjelaskan semuanya tadi, dia bahkan sudah meminta maaf kepadamu. Apa itu belum cukup?" Robby memandang lekat wajah Vino.
"Kenapa Om jadi membela dia? Sebenarnya yang kepenokan Om itu aku atau dia sih?" Vino merajuk. Robby terkekeh melihat tingkah Vino, ini pertanda emosi dan kemarahannya mulai mereda, yang tersisa hanya gengsi dan egoisnya saja.
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja keponakan Om itu Si Tampan Vino Adyatama." Robby berbicara dengan raut wajah jenakanya. "Sudahlah, Nak ... maafkan Reino. Jangan pisahkan mereka! Sekali ini saja turunkan keegoisanmu, demi kebahagiaan Venus." Robby memandang Vino dengan tatapan memohon.
Vino terdiam sejenak, berusaha menata hatinya, bernego dengan rasa egois di dalam dirinya. Vino menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Baiklah, demi Adikku ... kali ini aku maafkan. Tapi jika dia melakukan kesalahan lagi dan menyakiti Adikku, aku akan membawa Venus pergi jauh darinya." Vino akhirnya mengalah, walaupun rasa kesalnya kepada Reino nggak bisa dia tutupi.
"Terima kasih ya, Vin!" Johan tersenyum puas.
***
__ADS_1