Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 85


__ADS_3

Reino dan Venus sudah tiba di kediaman Brahmansa, mereka melangkah masuk sambil bergandengan tangan.


"Selamat datang kembali di istana kita, Tuan Putri." Ucap Reino dengan penuh kebahagiaan.


"Kau ini bisa saja." Venus tersipu malu.


"Mengapa kau membawa wanita sialan ini kembali, haa ...?" Suara Liana tiba-tiba menyambar gendang telinga Reino dan Venus. Mendadak rona bahagia di wajah mereka hilang entah kemana.


"Mama ...? Jangan begini! Venus ini istriku, aku berhak mengajaknya pulang ke rumah ini." Reino menarik Venus ke dalam pelukannya.


"Apa kau sudah lupa, dia cuma tumbal! Yang seharusnya menjadi istrimu adalah Diana, bukan wanita murahan ini! Sudah seharusnya kau mati iblis betina ...!" Liana berteriak memaki Venus. Sementara gadis itu hanya menyunggingkan senyum dibibirnya.


"Cukup, Ma! Mama yang memintaku menikah dengan Venus dan aku sudah menuritinya. Jangan memaksaku menuruti kemauan Mama lagi." Emosi Reino mulai naik.


"Aku menyesal menikahkan kau dengan putraku! Karena kau, Diana bersedih dan memutuskan untuk pergi, kau merebut posisi yang seharusnya menjadi miliknya. Kau perempuan jahat!" Liana memandang Venus dengan penuh kebencian.


"Hey ... Nyonya, kau mabuk ya? Yang jahat itu Diana, dia rela menjebak suamiku dengan cara menjijikan. Sungguh murahan!" Venus tak mau kalah, dia berbalik menghina Diana di hadapan Liana.


"Beraninya kau!"Liana mengamuk tak terima dengan perkataan Venus, wanita paruh baya itu melangkah dan mengangkat tangannya hendak menampar Venus, tapi dengan cepat Reino menahan tangan Liana.


"Hentikan, Ma! Jangan coba-coba menyakiti istriku apalagi di hadapanku." Reino menatap tajam ke arah Liana.


"Kau ...? Lepaskan tanganku ...!" Liana menggeram membalas tatapan tajam Reino.


Reino melepaskan tangan Liana, dan menarik Venus melangkah meninggalkan Mamanya itu, tapi suara teriakan Liana menghentikan sejenak langkah mereka.


"Kalau begitu sekarang kau pilih, dia atau aku yang keluar dari rumah ini?" Liana bertanya dengan penuh emosi.


Reino terdiam tanpa menoleh ke arah Liana, dan melanjutkan langkahnya sambil menggandeng tangan Venus.


Liana semakin geram melihat sikap Reino, rasanya amarah wanita itu sudah sampai di ubun-ubun.


"Kurang ajar! Aku akan membuat kalian semua menyesal karena telah memperlakukan aku dan putriku seperti ini." Gumam Liana sambil mengeraskan rahangnya menahan emosi yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


***


Venus terbangun dari tidurnya, gadis itu tidak mendapati Reino di sampingnya. Venus melirik jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul 1 dini hari.

__ADS_1


"Kemana dia? Apa dia masih ada pekerjaan?" Venus menjuntaikan kakinya ke lantai dan segera beranjak mencari sosok suaminya itu.


Venus pun keluar kamar dan berjalan pelan menuju ruang kerja Reino. Karena sebelum Venus tidur, Reino mengatakan ada pekerjaan yang harus dia kerjakan, gadis itu berharap, suaminya ada disana. Pintu ruang kerja terbuka sedikit dan lampunya juga menyala, Venus memberanikan diri mengintip ke dalam.


Dan tebakan gadis itu benar, Reino sedang duduk melamun di sofa, wajahnya terlihat sedih, seperti memikirkan sesuatu.



"Kau sedang apa? Mengapa tidak tidur?" Venus melangkah masuk, kedatangan gadis itu mengagetkan Reino.


"Hmm ... kau belum tidur?" Reino balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Venus.


"Sudah, tapi aku terbangun dan tidak mendapatimu di sampingku." Venus mengerucutkan bibirnya, gadis itu terlihat menggemaskan.


"Mari sini!" Reino menarik tangan Venus agar gadis itu duduk di sampingnya. Venus pun segera menjatuhkan tubuhnya di samping Reino dan berhambur memeluk suaminya itu.


"Kenapa kau tidak tidur?" Venus bertanya lagi dengan suara yang manja.


"Aku tidak bisa tidur."


"Bicara apa kau ini, tentu aja tidak! Aku hanya sedang merindukan seseorang?" Wajah Reino kembali menyedih.


"Siapa ...? Orang tuamu ...?" Tanya Venus.


"Bukan!"


"Lalu siapa ...? Wah ... jangan-jangan wanita lain ya?" Venus memelototkan matanya.


"Kau ini sebarangan saja kalau bicara!" Reino mengecup bibir Venus.


"Lalu siapa?"


"Hendrik ... saat mendengar Hanna menyebut nama itu tadi, aku jadi merindukannya." Ucap Reino dengan wajah yang kembali sendu.


"Hendrik sepupumu itu? Apa kau tidak bisa mencaritahu dimana dia? Kau kan selalu mengetahui kehidupan orang lain, buktinya kau bisa tahu kehidupan masa laluku. Kenapa sekarang kau tidak mencaritahu tentang Hendrik?" Venus memberondongkan pertanyaan yang sedikit menyindir Reino.


"Sudah, tapi tidak ada informasi apa-apa yang kudapat. Bahkan Om Tomi pun tidak tahu dimana anaknya itu. Oh iya ... kita tidak melihat Om Tomi tadi, kemana dia?" Reino baru tersadar jika Tomi tidak ada di rumahnya lagi.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin dia sudah pulang."


"Apa karena beberapa hari ini aku tidak di rumah? Mungkin dia merasa diabaikan. Aku akan menelponnya nanti untuk meminta maaf." Ujar Reino.


Venus hanya mengangguk lalu melirik figura yang terletak di atas meja, ada foto dua orang anak kecil didalamnya. Yang satu agak kurus dan satu lagi sangat gemuk.



"Ini foto siapa?" Venus meraih figura itu.


"Ini aku dan yang gemuk itu Hendrik. Foto ini diambil saat dia baru saja menyelamatkan aku dari anak-anak nakal yang menggangguku. Dia membagi makanannya kepadaku, agar aku berhenti menangis." Reino menjelaskan.


"Wah ... dia lucu sekali, menggemaskan. Pipinya seperti bakpao, bahkan hidungnya sampai nyaris hilang." Venus tertawa melihat bocah gendut itu.


"Iya, dia suka sekali makan. Kami sampai menjulukinya balon udara dan dia hanya tertawa mendengar ejekan itu." Kenang Reino.


"Lucunya ... kalian seumuran ya? Apa dia baik?" Tanya Venus ingin tahu.


"Dia lebih tua setahun dariku, makanya dia selalu melindungiku. Dia sangat baik sama seperti Ibunya ... Tante Yuna. Makanya aku sedikit kaget ketika Om Tomi bilang, Tante Yuna selingkuh dan membawa Hendrik." Lanjut Reino.


"Apa Om Tomi tidak baik? Kenapa kau hanya memuji Ibunya?" Tanya Venus bingung.


"Baik sih, tapi dia sedikit kejam kepada Hendrik dan Tante Yuna. Om Tomi sering memukul mereka kalau sedang marah, Hendrik selalu bercerita kepadaku. Kalau Tante Yuna baik dan lembut sekali, dia sudah aku anggap seperti Ibu sendiri. Saat Mama Liana datang dan menikah dengan Papa, Om Tomi membawa Tante Yuna dan Hendrik pergi." Reino menceritakan kisah masa kecilnya dengan raut wajah sedih.


"Jangan bersedih. Semoga suatu saat kalian bisa bertemu lagi."


Reino hanya tersenyum mendengar doa Venus dan selalu menjadi harapannya.


Tanpa sepengetauan Reino dan Venus, Erik mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu.


Erik yang baru saja pulang tak sengaja melihat lampu ruang kerja Reino masih menyala dari luar rumah, padahal sudah pukul 1 dini hari, dia hanya ingin memastikan keamanan rumah ini apakah baik-baik saja, mengingat beberapa masalah yang terjadi belakangan ini, Erik harus lebih waspada dan berhati-hati.


Akhirnya Erik memutuskan mengecek ruang kerja Reino untuk memastikan, tapi dia terpaku saat mendengar Reino bercerita tentang teman kecilnya itu kepada Venus. Dan akhirnya Erik memutuskan untuk pergi sebelum Reino dan Venus menyadari kehadirannya.


***


Jangan lupa like dan Rate 5 nya sayang akuh ...💜

__ADS_1


__ADS_2