Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 94


__ADS_3

Drama ayam goreng sudah selesai, kini Reino, Venus dan Johan sedang mengobrol di ruang keluarga.


Venus memanfaatkan situasi ini untuk bertanya tentang keluarga Reino kepada Johan, karena selama ini Reino tak pernah mau menceritakannya.


"Om, sebenarnya kutukan istri pertama di keluarga ini benar-benar ada atau tidak?"


"Kalau aku sih tidak percaya, tapi begitulah kenyataannya. Setiap istri pertama dikeluarga ini, dari mulai nenek sampai ke ibunya Reino, meninggal mendadak. Padahal tadinya mereka sehat-sehat saja, lalu tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal." Johan mulai menceritakan kisah hidup keluarga Brahmansa yang dia ketahui.


"Kenapa begitu? Memangnya mereka sakit apa?" Tanya Venus bingung.


"Entahlah, saat diperiksa, dokter cuma mengatakan terjadi kerusakan liver dan ginjal serta ada kelainan darah. Gejalanya seperti kanker darah stadium akhir dan yang anehnya, setiap mereka yang meninggal mengalami gejala yang sama. Begitu juga dengan Thomas ... ayahnya Reino." Wajah johan mendadak sendu mengenang kisah pilu itu.


"Lalu bagaimana rumor kutukan itu bisa beredar? Apa memang ada hubungannya, Om?" Venus bertanya lagi, sepertinya gadis itu semakin tertarik mendengar cerita Johan. Sementara Reino hanya diam menyimak cerita pembicaraan mereka.


"Ada yang sengaja menyebarkan rumor itu dan mengaitkannya dengan kematian istri tua di keluarga ini. Dan sialnya lagi, publik percaya dengan rumor itu!" Ucap Johan.


"Oh ... begitu? Lalu apa ada hubungannya dengan guci-guci antik itu, aku fikir mungkin guci-guci itu juga keramat?" Venus menunjuk ke arah lemari kaca di sudut ruang keluarga.


"Tidak ... tidak ada, itu hanya guci-guci kesayangan nenek Reino yang dibelikan oleh Tuan Bram ... kakeknya Reino."


"Lalu kenapa kau melarangku menyentuhnya waktu itu?" Venus beralih menatap suaminya.


"Karena aku takut kau merusaknya. Siapa tahu kau malah memecahkan salah satu dari guci antik itu." Reino akhirnya membuka suara.


"Sejak Nyonya Merry meninggal, Tuan Bram melarang sembarangan orang menyentuh guci-guci itu, dia hanya mempercayai satu orang untuk membersihkannya, tapi sekarang orang itu sudah tiada." Johan kembali melanjutkan ceritanya.


"Oh ... Pantas saja waktu itu kau melarangku menyentuhnya. Hmm ... kalau begitu sekarang siapa yang membersihkannya?" Venus masih bingung.


"Ada, sebulan sekali dia yang aku percayakan untuk membersihkan guci-guci itu. Lagipula rak kacanya dibuat tak bercela jadi debu tidak dapat masuk."


Venus terdiam dan berusaha mencerna setiap cerita yang disampaikan Johan dan Reino, mendadak hatinya merasa takut.


"Jadi apa aku juga akan mati seperti nenek dan mamamu?" Wajah Venus seketika berubah muram.


"Hey ... kau bicara apa? Kutukan itu tidak ada! Aku rasa itu hanya kebetulan saja!" Reino menarik Venus ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan istrinya itu.


"Siapa tahu kutukan itu memang ada."


"Sudah, diamlah. Kau jangan bertanya apa-apa lagi, aku tak ingin kau jadi berfikir yang aneh-aneh." Reino semakin mengeratkan pelukan tangannya dipundak Venus.

__ADS_1


"Aku kan hanya ingin tahu tentang keluargamu saja." Bibir Venus sudah mengkerucut manja.


Reino yang gemas melihat ekspresi Venus menghujani banyak kecupan dipucuk kepala istrinya itu.


Sementara Johan hanya tersenyum melihat kemesraan kedua insan itu.


"Aku berharap nasib kalian tidak berakhir seperti kisah Tuan Bram dan sahabatku ... Thomas." Gumam Johan dalam hati, mengingat sosok orang-orang yang sangat baik kepadanya dan juga keluarganya.


***


Sementara itu di teras samping kediaman Brahmansa, Erik sedang duduk melamun seorang diri. Pria itu masih berduka atas kepergian Erika, sekelebat wajah Erika menari-nari difikirannya. Air mata Erik bahkan sudah menggenangi pelupuk matanya.


Dari kejauhan Ina yang baru saja selesai membuang sampai tampak memperhatikan Erik, kepala pelayan itu segera berjalan menghampiri supir sekaligus pengawal pribadi Reino itu.


"Erik ... kenapa kau melamun begitu? Nanti kesambet loh!" Ina meledek Erik tapi pria itu tak menjawab, dia mau setia berdiam diri.


"Kau ada masalah? Apa Tuan memarahimu?" Tanya Ina dengan raut wajah penasaran.


"Tidak! Aku hanya sedang memikirkan seseorang." Jawab Erik apa adanya.


"Siapa ...? Kekasihmu ya?" Tanya Ina lagi.


"Erik ...!"


"Hemmm ..."


"Kau sudah punya kekasih?" Takut-takut Ina bertanya kepada pria yang sedang bermuram durja itu.


"Kenapa kau bertanya begitu?" Erik segera menoleh ke arah Ina dan memandang lekat wajah manis gadis itu.


"Hmmm ... kalau belum, aku mau kok jadi kekasihmu!" Wajah Ina sudah merah bak kepiting rebus, jantung seperti hampir copot. Entah mendapat keberanian darimana, gadis itu tiba-tiba mengatakan hal yang tak disangka.


"Hahaha ... itu kan, kau yang sudah kesambet! Sudah sana kembali bekerja! Jangan bercanda yang aneh-aneh!" Erik tertawa geli mendengar kata-kata Ina. Seketika kesedihannya hilang karena ulah gadis itu.


Wajah Ina semakin memerah memahan malu, dia merasa bodoh karena dengan polosnya mengatakan hal memalukan itu. Ina segera beranjak dan berlalu pergi dari hadapan Erik sambil terus mengutuki dirinya.


Erik hanya memandangi pundak kecil Ina yang semakin menjauh darinya dan akhirnya hilang di balik tembok.


"Apa dia baru saja menyatakan perasaanya kepadaku? Kenapa tiba-tiba dia jadi begini? Aneh sekali!" Gumam Erik dalam hati.

__ADS_1


***


Dua minggu kemudian ...


Hanna masih setia melatih Vino berjalan, dan perkembangannya sangat baik, Vino sudah bisa berjalan menggunakan tongkat, walaupun masih agak kesulitan.


Ternyata semangat pria tampan itu untuk segera bisa berjalan sungguh luar biasa, dia berlatih dengan sangat keras.


Begitu juga hubungan Vino dan Hanna, mereka sudah sangat dekat karena setiap hari bertemu. Sifat Hanna yang hangat dan ceria memudahkan gadis itu untuk merebut simpatinya Vino.


"Kau lelah? Bagaimana kalau kita istirahat dulu?" Hanna betanya.


"Iya, aku agak lelah!" Reino berusaha mendudukkan tubuhnya di bangku taman.


Hanna segera membantu Vino duduk dengan hati-hati, setelah itu dia pun ikut duduk di samping Vino.


"Sepertinya kau sudah banyak kemajuan. Sesuai perjanjian awal, kalau kau sudah bisa berjalan dengan tongkat berarti tugasku selesai disini." Hanna berbicara sambil tersenyum kepada Vino.


"Itu artinya kau akan berhenti menjadi terapisku?" Vino memandang lekat wajah Hanna. Entah mengapa ada rasa kecewa dan tidak rela yang mendadak menyerang hatinya.


"Hmmm ... begitulah."


"Apa kau tidak mau lebih lama lagi disini?" Tanya Vino.


"Bukan tidak mau! Aku hanya bertindak profesional sesuai perjanjian kerjaku, aku juga harus bergantian menterapi pasien-pasien lain yang membutuhkanku." Hanna menjawab dengan logis.


"Tapi aku juga membutuhkanmu!" Wajah Vino seketika menjadi muram.


"Hahaha ... sebentar lagi juga kau tidak akan membutuhkan aku, kau akan bisa berjalan lagi seperti dulu."Hanna tertawa mendengar kata-kata Vino.


"Lucu sekali pria ini. Kenapa aku jadi merasa berat meninggalkannya ya?" Bathin Hanna.


"Haaaa ... baiklah kalau memang harus begitu. Tapi kita masih bisa berteman kan?" Vino memandang wajah Hanna penuh harap.


"Tentu saja! Aku akan senang bisa menjadi temanmu." Hanna tersenyum manis kepada Vino.


Vino hanya memandangi Hanna dengan tatapan yang sulit di artikan. Sepertinya gadis itu telah membuat Vino tertarik walaupun perkenalan mereka terbilang singkat.


***

__ADS_1


likenya sayang akuh...💜


__ADS_2