Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 25


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, kondisi Liana semakin tidak baik, dia nggak pernah mau keluar dari kamar dan ditinggal sendiri, bahkan saat tidur malam, Diana selalu terpaksah menemani Liana di kamarnya. Liana sering mengigau dan bermimpi seram, membuat Diana frustasi sendiri.


Sementara Reino, dia selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam, bukan tidak perduli kepada Mamanya tapi Reino sangat sibuk dengan urusannya akhir-akhir ini.


Seperti malam ini, Diana benar-benar sudah hilang kesabaran, matanya sudah sangat mengantuk tapi Liana masih memaksa gadis itu tetap terjaga untuk menemaninya karena Liana tak bisa tidur.


"Tante, aku mengantuk sekali. Aku mau tidur." Diana membaringkan badannya dan memejamkan mata.


"Diana jangan tidur! Temani Tante dulu, Tante takut." Liana menarik lengan Diana hingga gadis itu kembali duduk dan membuka matanya yang terasa berat.


"Hoooaaammm ... Tante, aku sudah ratusan kali menguap, aku ngantuk sekali. Tante tidurlah!" Liana menutup mulutnya sambil kembali membaringkan badannya, memang benar, gadis itu sudah berkali-kali menguap menahan kantuk.


"Tante nggak bisa tidur, Di." Liana menarik-narik lengan Diana.


Tok ... tok ... tok ...


Liana terperanjat saat mendengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar, suara ketukan yang sama persis seperti yang dia dengar beberapa hari yang lalu. Seketika bulu kuduk Liana merinding, tubuhnya bergetar ketakutan.


"Diana, kau dengar itu?" Liana berbisik sambil menggoyangkan tubuh Diana, tapi sepertinya gadis itu sudah terlelap.


Tok ...tok ...tok ...


Ketukan itu terdengar lagi, membuat Liana semakin ketakutan.


Asataga ... apa dia datang lagi?


Apa dia akan masuk dan mencekikku?


"Aaaaarrgghh .... Diana banguuuun ...!!!" Liana berteriak mengagetkan Diana, gadis itu sampai hampir lompat dari ranjang.


"Ada apa, Tante?"


"Dia datang lagi! Hantu Venus datang lagi!" Liana memeluk Diana dan bersembunyi di dalam dekapan gadis itu.


"Cukup, Tante! Aku sudah nggak tahan lagi!" Diana yang sudah habis kesabaran akhirnya menyerah dari situasi ini dan berbicara dengan nada tinggi kepada Liana.


"Kau berani membentakku?" Liana menatap tajam Diana.


"Aku lelah, Tante! Aku juga mau istirahat dengan tenang! Sebaiknya Tante ke psikiater, Tante harus periksa kejiwaan Tante!" Diana semakin meninggikan suaranya, rasanya gadis itu sudah tak perduli lagi dengan tata krama, dia benar-benar telah membuat Liana marah.


Plaaaakk ...!!


"Kau fikir aku gila? Beraninya kau?" Liana lepas kontrol dan menampar Diana.


Begitulah Liana kalau sedang emosi, dia tak bisa mengontrol amarahnya dan selalu bersikap kasar.

__ADS_1


"Tante, menamparku?" Diana tak percaya dengan apa yang dilakukan Liana, gadis itu terisak sambil memegangi pipinya yang perih.


"Diana maafkan, Tante! Tante tidak sengaja." Liana merasa menyesal.


"Orangtuaku saja nggak pernah kasar kepadaku, tapi Tante berani menamparku! Aku mau pulang!" Diana berdiri dan melangkah keluar dari kamar Liana dan membanting pintu dengan kuat.


"Diana ... Diana ...!! Maafkan Ma ..." Teriakan Liana terhenti saat dia mendengar kembali suara seseorang menangis dari luar kamarnya.


Diana sudah berlalu keluar dari kamar Liana, tinggallah wanita itu dalam ketakutan dan penyesalan, ingin rasanya dia ikut keluar mengejar Diana, tapi rasa takutnya juga sangat besar. Dia takut hantu Venus menampakkan diri lagi.


Liana meraih ponselnya dan segera menelpon Reino.


"Rein, cepat pulang! Mama sangat takut, Diana pergi!" Suara Liana bergetar karena takut.


"Baiklah, Ma ...aku pulang sekarang juga!" Reino


Bagaimana pun juga Liana adalah Mamanya, Reino tetap mengkhawatirkannya.


***


Reino tiba di halaman rumahnya bertepatan dengan Diana yang sedang melangkah keluar dengan menarik kopernya, sepertinya gadis itu benar-benar ingin pergi dari kediaman Brahmansa.


"Kau mau kemana malam-malam begini?" Reino yang baru turun dari mobil segera menghampiri Diana.


"Aku mau pulang! Aku nggak mau tinggal disini lagi!" Diana berbicara dengan ketus.


"Tante Liana menamparku!" Liana meneteskan air matanya.


"Tapi orang tuamu masih di luar negeri, siapa yang akan menjagamu nanti? Bukankah kau baru saja pulih dari cedera kemarin?" Reino berbicara dengan sangat lembut.


"Tumben sekali kau perhatian kepadaku?" Diana bertanya dengan curiga.


"Kami sudah berjanji akan menjagamu. Lagipula kondisi Mama sedang tidak baik, aku berharap kau memakluminya. Tetaplah tinggal disini." Reino memandang Diana penuh harap.


"Tapi aku nggak bisa terus-terusan menghadapinya! Bahkan aku tidak bisa tidur dengan baik, aku juga lelah." Wajah Diana menjadi semakin sedih.


"Kau tenang saja, aku akan menyewa seorang perawat untuk mengurus Mama, dia nggak akan menyusahkanmu lagi." Reino menggengam tangan Diana dan tersenyum kepada gadis itu.


Ini untuk pertama kalinya Reino memperlakukan Diana dengan begitu manis, hingga membuat gadis itu luluh jadinya.


"Baiklah!" Diana menyetujui permintaan Reino, karena sesungguhnya dia pun sangat senang bisa tinggal bersama Reino.


Dari kejauhan, sesosok pria sedang memandang mereka dengan perasaan geram, dia mengepalkan tangannya, rasanya ingin sekali dia membunuh Reino malam ini juga.


Aku sudah tak sabar untuk menghabisimu.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, Reino pulang lebih awal dari kantor, setelah membicarakannya dengan Liana dan Diana tadi malam, akhirnya hari ini Reino membawa seorang perawat wanita untuk mengurus dan menemani Liana.


Wanita itu berjalan dengan ragu memasuki rumah Reino, kepalanya hanya tertunduk.


Semua pengawal dan pelayan memandang aneh kepadanya, bagaimana tidak, wanita berambut pendek dengan poni, memakai kacamata dan ada tahi lalat besar dipipinya bahkan dia memakai kawat gigi.


Sumpah demi apapun, dia sungguh terlihat jelek dan culun sekali.


"Mari aku antar ke kamar Mama!" Reino mengajak wanita itu menemui Liana.


"Baik, Tuan." Suara wanita sangat pelan, bahkan hampir nggak terdengar.


Saat berjalan kearah kamar Liana, mereka berpas-pasan dengan Diana.


"Siapa dia?" Diana memandang wanita itu dari kepala sampai kaki.


"Dia perawat yang aku ceritakan, dia yang akan menemani Mama."


"Hahaha ... berdoa sajalah agar Tante Liana mau menerimanya." Diana tertawa mengejek sambil berlalu dari hadapan mereka.


"Jangan hiraukan perkataannya!"


"Baik, Tuan!" Wanita itu mengangguk pelan. tetapi di dalam hatinya sumgguh dia sangat geram melihat sikap Diana yang menertawakannya.


Reino dan wanita itu masuk ke kamar Liana, tampak wanita paruhbaya itu sedang duduk diatas ranjang sambil melamun.


"Ma, perkenalkan ini perawat yang aku ceritakan semalam, namanya Mika." Reino memperkenalkan wanita yang bernama Mika itu.


Liana memandang Mika dengan gaya tatapan jijik, dia memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah, "Kau mendapatkannya dari mana?"


"Dia perawat di rumah sakit tempat Kenan bekerja."


"Kau benar seorang perawat?" Liana menautkan kedua alisnya memandang Mika dengan seksama.


"Iya, Nyonya." Mika mengangguk pelan.


"Tidak meyakinkan! Kau jelek sekali, membuat mataku sakit memandangmu." Liana memalingkan wajahnya dengan angkuh.


"Jangan begitu, Ma. Bersikaplah dengan baik kepadanya, atau Mama akan tidur seorang diri mulai malam ini. Diana sudah tidak mau menemani Mama tidur." Reino mengancam Liana yang bersikap tidak baik kepada Mika.


"Beraninya kau mengancam Mamamu!" Liana memandang sebal Reino, namun dia mengalah membiarkan Mika menemaninya.


Karena nggak ada pilihan lain untuk Liana.

__ADS_1


***


__ADS_2