Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 30 (S2)


__ADS_3

Semua orang sudah tiba di kediaman keluarga Brahmansa, kecuali duo gesrek yang sudah diantar pulang ke rumah masing-masing dan Vino beserta keluarganya karena Hanna kecapekan.


Mereka semua sedang makan malam bersama termasuk Alvin, Davin dan juga Andra. Tadinya Andra sudah berulang kali menolaknya dan meminta izin untuk segera pulang karena hari sudah malam, tapi Venus memaksanya. Tentu saja kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Ayumi, dia duduk disebelah Andra dan sesekali bercanda tawa. Walaupun suasana hatinya sedang galau tapi lelaki tampan itu tetap meladeni Ayumi agar tidak menyakiti gadis itu.


Jangan lupakan Vie yang wajahnya sudah masam semasam ketek Abang penjaga parkiran pasar (Bercanda ✌️), tapi demi menjaga gengsi dan harga dirinya yang tidak tahu berapa, dia lebih memilih mengacuhkan keduanya dan sesekali mengobrol dengan Davin.


Mereka semua menyantap makanannya dalam keheningan, hanya suara sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring, sampai akhirnya. Vie membuka suara dan suasana menjadi tak enak.


"Pa ... ma ... entar aku mau lanjutin kuliah ke New York ya?" Ucap Vie tanpa beban sambil memasukkan satu suapan makanan ke dalam mulutnya.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ..." Venus sampai tersedak mendengar ucapan sang putri. Reino buru-buru memberikan segelas air minum kepada istri cantiknya itu.


"Pelan-pelan makannya, sayang. Kau ingin bunuh diri?" Kelakar Reino. Tapi Venus mengabaikannya.


"Kenapa harus kesana?" Tanya Venus dengan sorot mata tak terima.


"Ya karena memang aku maunya kesana, ma. Agar aku bisa jadi gantiin papa jadi CEO muda yang sukses." Jawaban Vie benar-benar tak terduga. Selama ini semua orang tahu Vie sama sekali tidak tertarik untuk menggantikan papanya nanti, tapi hari ini semua berubah begitu saja.


"Sejak kapan kau tertarik dengan dunia bisnis?" Ledek Ayumi.


"Sejak negara api menyerang!" Jawab Vie ketus sambil melirik Andra yang sedari tadi menatapnya dengan sorot mata tak percaya, sebelah tangan lelaki itu yang dia letakkan di bawah meja kini sudah mengepal dengan kuat untuk melampiaskan perasaannya yang semakin galau.


Sementara Ayumi hanya mengerucutkan bibirnya dan pura-pura merajuk karena Vie menjawabnya seperti itu.


"Iya, maksud mama kenapa harus ke New York, sayang? Kau kan bisa kuliah disini saja jadi tidak harus berpisah dari mama dan papa." Ucap Venus cemas, dia sesekali memandang Andra yang masih menatap Vie dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sayang, sepertinya kau keberatan ya? Kalau putri kita punya cita-cita, kita harus dukung demi masa depannya. Lagipula Vie benar, dia harus menggantikan aku menjadi CEO, karena aku sudah lelah dan ingin pensiun saja." Reino mengusap punggung tangan Venus dengan lembut.


"Terserahlah, kalian berdua memang keras kepala!" Rajuk Venus. Wajah cantiknya kini sudah cemberut.


"Sayang, disana ada anak mendiang Paman Gober. Kita bisa menitipkan Vie kepadanya, dia pasti akan merawat Vie dengan baik. Dan kita bisa mengunjunginya kapanpun kau mau." Lanjut Reino dengan senyum yang mengembang dan tatapan penuh cinta, Alvin hanya memandang kedua pasutri itu sambil tersenyum.


"Kalau Davin, nanti mau lanjut kuliah kemana?" Kini Reino beralih ke putra mantan sekretarisnya itu. Dia merasa tak enak karena mengabaikan tamunya.

__ADS_1


"Belum tahu, om." Jawab Davin.


"Ke New York saja, biar kita bisa bareng." Ajak Vie dengan penuh semangat.


"Nanti aku pikirkan lagi."


"Sudah-sudah, sekarang lanjutkan lagi makannya." Pinta Reino.


Mereka semua melanjutkan makan malam dengan tak berselera, kecuali Reino, Alvin dan juga Ayumi yang dengan lahap menikmati makan malam ini dengan pemikirannya masing-masing.


Bahkan Venus dan Andra hanya mengaduk makanan dihadapan mereka.


***


Beberapa hari kemudian, dengan perasaan sedikit takut, Andra menemui Reino sebelum dia berangkat ke kantor.


"Maaf, tuan ... ada yang ingin saya katakan." Ucap Andra sambil tertunduk di hadapan majikannya itu.


"Saya ingin mengundurkan diri, tuan. Dan mengenai sisa hutang saya, saya akan membayarnya dengan motor saya itu." Takut-takut Andra mengatakannya.


"Kenapa kau ingin mengundurkan diri? Gaji yang kuberikan kurang?" Tanya Reino.


"Saya ingin buka usaha bersama ibu, dia sudah pulih sekarang dan ingin berjualan seperti dulu lagi."Jawab Andra.


"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Lagipula Vie juga sebentar lagi akan ke New York, kau pasti tidak ada kerjaan disini." Ucap Reino. Dan ucapannya itu kembali membuat jantung Andra berdenyut nyeri.


"Terima kasih, tuan."


Reino mengeluarkan kertas cek dari dalam tas kerjanya dan menulis sebuah nominal yang lumayan besar, lalu menyerahkannya kepada Andra.


"Ini pesangonmu. Kau bisa gunakan untuk menambah modal usaha." Ujar Reino.


"Tapi ini banyak sekali, tuan?" Andra memandang cek itu dan wajah Reino bergantian.

__ADS_1


"Tidak seberapa dibandingkan jasamu telah menjaga dan mengajari banyak hal untuk putriku. Aku bahagia sekali saat mendengar dia ingin menggantikan aku nanti. Terimakasih ya." Reino berbicara dengan begitu tulus sambil mengembangkan senyumannya dan lagi-lagi seperti ada batu besar yang menghimpit dada Andra. Dia bisa pastikan, Vie akan semakin jauh dari jangkauannya.


"Itu kan memang sudah menjadi tugas saya, tuan."


"Kalau begitu ambillah, aku akan sangat kecewa jika kau menolaknya." Ucap Reino.


"Baiklah, sekali lagi terimakasih banyak ya, tuan untuk semuanya." Andra menundukkan kepalanya.


"Iya, sampaikan salamku dan istriku kepada ibumu."


"Iya, tuan. Akan saya sampaikan nanti. Kalau begitu saya permisi dulu." Andra beranjak dari duduknya dan melangkah pergi, namun baru beberapa langkah, Andra terpaku ditempatnya karena suara teriakkan Reino.


"Bawa sekalian motormu itu, rumahku bukan parkiran!" Teriak Reino.


Andra sontak berbalik dan terperangah mendengar ucapan mantan majikannya itu.


"Tapi hutang saya ...?" Tanya Andra bingung.


"Hutangmu sudah kuanggap lunas. Sudah sana pergi!" Jawab Reino santai lalu mengusir Andra.


"Sekali lagi terimakasih banyak ya, tuan."


"Hemmm ..."


Andra bergegas pergi dari kediaman Brahmansa dengan motornya, sebenarnya dia ingin berpamitan dengan Venus dan Vie, tapi kedua wanita itu sedang pergi pagi-pagi sekali. Dan kesempatan ini dimanfaatkan Andra untuk mengundurkan diri, karena kalau ada Venus, wanita itu pasti tidak akan mengizinkannya. Sampai detik ini Andra tak pernah paham kenapa Venus sangat baik dan perhatian kepadanya.


Perasaannya campur aduk, antara sedih, kecewa dan tak rela. Sudah beberapa bulan ini dia selalu menghabiskan hari-harinya bersama Vie, dari yang awalnya dia membenci gadis itu sampai akhirnya dia jatuh hati dan kemudian terluka.


Semua berubah menyakitkan saat liburan ke pantai waktu itu, andai liburan itu tak pernah terjadi, mungkin semua masih baik-baik saja.


Dan Andra masih tak habis pikir Vie memutuskan untuk kuliah bisnis manajemen agar bisa menggantikan papanya, sesuatu yang sama sekali tidak pernah menarik minatnya. Karena Andra tahu, gadis itu ingin menjadi apa, tapi entah apa yang mengubahnya?


***

__ADS_1


__ADS_2