Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 50


__ADS_3

"Memangnya kenapa kalau kami ada disini?" Reino dan Venus muncul dari balik tembok. Wajah pria tampan itu terlihat kesal karena melihat Shane.


"Eh ... Tuan Muda, ini berkas-berkasnya." Daniel menyerahkan amplop coklat yang berisikan kartu keluarga dan surat-surat penting lainnya untuk mengalihkan perhatian Reino dari putri dan menantunya itu.


Venus segera mengambil amplop coklat yang disodorkan Daniel ke hadapannya.


Erika dan Shane hanya memandangi amplop itu tanpa berani bertanya, mereka hanya menyimpan pertanyaan itu dihati mereka untuk nanti.


"Aku ingin bicara berdua denganmu!" Reino menatap tajam kearah Daniel.


"Oh ... iya, kita bicara di ruang kerja saya saja. Silahkan, Tuan." Daniel yang penasaran sekaligus takut, segera mempersilahkan Reino berjalan mengikutinya


Semua orang yang berada di ruang tamu memandang kepergian mereka dengan berbagai pertanyaan di kepala.


Setelah memasuki ruang kerjanya, Daniel segera menutup pintunya dan kembali berdiri di hadapan Reino.


"Apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan?" Tanya Daniel penasaran dan sedikit takut.


"Berikan gelang perak itu?" Reino bertanya tanpa basa-basi.


"Gelang perak apa yang Tuan maksud?"


"Kau jangan berpura-pura! Kau tahu pasti kan gelang apa yang aku maksud? Berikan atau kubuat perusahaanmu bangkrut hari ini juga!" Reino mencengkeram kerah kemeja Daniel dan menatap tajam pria tua itu.


"Ja ... jangan, Tuan! Saya akan berikan! Lepaskan dulu ..." Daniel akhirnya pasrah.


Reino melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Daniel dan sedikit mendorong lelaki tua tak tahu diri itu, Daniel buru-buru membuka laci meja kerjanya dan membongkar tempat itu. Akhirnya Daniel menemukan apa yang dia cari.


"Ini, Tuan!" Daniel segera memberikan gelang perak kecil yang bertuliskan nama Venus.


Reino mengambil gelang itu dan menyimpannya di saku celana kemudian berlalu pergi dari ruang kerja Daniel.


Flashback on ...


Saat di dalam kamar Venus, Reino terus-terusan meminta Venus untuk membongkar barang-barang miliknya dengan alasan ingin melihat apa saja yang gadis itu miliki. Sungguh alasan yang tidak masuk akal, tapi Venus menuruti perintah konyol suaminya itu.


"Lihatlah, tidak ada apa-apa disini, untuk apa menyuruhku membongkar semua ini?" Venus mencebik kesal sambil masih mengeluarkan semua barang-barangnya dari lemari.


"Aku hanya ingin melihat apa saja yang kau miliki." Jawab Reino seenaknya.


"Ya, Tuhan ... Reino! Kau membuatku lelah dengan semua ini!"


"Hey ... berani sekali kau memanggilku begitu! Kau mau aku menghukum bibir cerewetmu itu?" Reino menajamkan pandangannya ke Venus.


"Habis aku kesal!" Venus cemberut plus dengan bibir yang dimonyongi 2 cm.

__ADS_1


Reino mendekati Venus dan merangkum kedua pipi gadis itu dengan tangannya, Reino memandang netra hitam Venus dalam-dalam, membuat gadis itu sedikit gugup.


"Lelah ya?"


Venus hanya menganggukan kepalanya pelan.


"Kalau begitu, nanti malam gantian deh, biar aku yang kelelahan demi muasin kamu."


Eh ... dia bilang apa barusan?


Kok jadi lari kesana?


Venus mendadak merasa dimanfaatkan oleh budak cinta yang bergelar suami ini. Wajah gadis itu sudah bersemu merah.


Reino tersenyum licik sambil menaik-naikkan kedua alisnya.


"Dasar mesum!" Venus melengos.


"Hahaha ... mesum sama istri sendirikan nggak apa-apa." Reino melepaskan rangkuman tangannya dan segera memeluk erat tubuh Venus.


Aku yakin si tua bangka itu yang menyimpannya.


Aku harus dapatkan gelang itu.


Flashback off ...


***


Reino sedang duduk di atas ranjangnya sambil memperhatikan dengan seksama gelang perak yang bertuliskan nama istrinya itu, namun tiba-tiba Venus masuk ke dalam kamar tapi Reino tidak menyadarinya karena terlalu fokus memperhatikan gelang itu.


Ya, memang sejak malam penyatuhan tubuh itu, Venus resmi pindah ke kamar Reino.


"Kau sedang apa?" Venus mendekati Reino, memandangi suaminya dan benda ditangannya. "Itu apa?"


Mendengar suara Venus, Reino yang terkejut pun tak sengaja menjatuhkan gelang itu ke bawah. Venus mengambil gelang perak itu, namun dengan cepat Reino merebutnya kembali sebelum gadis itu melihat namanya terukir disana.


"Itu gelang siapa?" Venus menautkan kedua alisnya, bertanya dengan raut wajah penasaran.


"Oh ... itu gelangku waktu kecil." Reino menjawab dengan gugup, tentu saja dia berbohong.


"Aku ingin lihat!"


"Lain kali saja, aku baru ingat, ada email yang harus aku balas. Kau tidurlah lebih dulu!" Reino segera berlalu meninggalkan Venus di dalam kamar.


"Aneh sekali." Venus pun segera naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya.

__ADS_1


Sementara itu Reino memilih duduk di taman belakang rumahnya, dia memandang hamparan bintang di langit malam, ditemani cahaya rembulan dan sejuknya tiupan angin malam yang membelai tubuhnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus jujur kepada mereka? Tapi aku takut dia meninggalkanku dan kembali kepada keluarganya. Tapi aku juga merasa jahat jika terus menutupi semua ini." Reino bergumam dan mengusap kasar wajahnya.


*Flash back on ...


Sepulang dari kediaman Winata, Venus buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu tiba-tiba ponsel Reino berdering, ada panggilan masuk dari orang suruhannya.


"Katakan informasi apa yang kau dapat?" Tanya Reino tak sabar.


"Tuan, saya mendapatkan informasi bahwa Vino Adyatama adalah anak yatim piatu, orang tuanya meninggal saat dia masih kecil. Dia diasuh oleh pamannya hingga dewasa, dan dia juga kehilangan adik perempuannya yang masih berumur 1 tahun." Orang suruhan Reino melaporkan informasi yang dia dapat.


Mendengar kata-kata orang suruhannya itu, hati Reino seperti terlempar keluar dari tempatnya.


"Apa adiknya itu diculik? Lalu apa sekarang sudah ditemukan?" Reino semakin penasaran.


"Sepertinya begitu, Tuan. Dari informasi yang saya dapat, adiknya diculik oleh pengasuhnya sendiri dan sampai sekarang belum ditemukan. Polisi pun sudah menutup kasus ini."


"Apa ...? Kau tahu siapa nama adiknya dan nama pengasuhnya?" Tanya Reino lagi.


"Maaf, Tuan ... saya tidak mendapatkan informasi tentang itu."


"Ya sudah, terus cari tahu tentang Vino Adyatama dan keluarganya, laporkan kepadaku sekecil apa pun informasi yang kau dapat."


"Baik, Tuan!"


Reino mengakhiri panggilan itu, dan terduduk lemas. Semakin mengetahui kebenaran Venus dan Vino adalah saudara kandung, Reino semakin takut kehilangan istrinya itu. Dia takut Venus lebih memilih keluarganya dari pada dirinya, karena dia tahu Venus tak diterima baik dikeluarganya. Apalagi niat awal keluarga Reino menjadikan Venus menantu hanya untuk dijadikan tumbal semata, walaupun sekarang Reino sudah mencintainya dan benar-benar menganggapnya istri, tapi tetap saja Vino pasti marah kalau tahu perlakuan keluarga Reino.


Ditambah lagi selama ini Venus selalu ingin berpisah darinya tapi takut tak punya tempat setelah pergi dari rumah Reino, tapi jika ada Vino, gadis itu pasti akan pergi kembali kepada kakaknya.


Ah ... semua pikira-pikiran buruk itu benar-benar menghantui Reino.


Flashback off ...


***


Hai ... pembaca setia aku yang baik hati dan tidak sombong ... wkwkwk


Kali ini aku kasih visualnya Erika ya ...


jangan lupa like, rate 5 dan vote banyak-banyak...


Dukung aku terus ya .... biar aku makin semangat up nya...


Erika Winata

__ADS_1



__ADS_2