
Di hari Minggu yang cerah ini, Venus hanya berdiam diri di dalam kamarnya, tak ada yang bisa dia kerjakan selain bermalas-malasan, karena Reino tidak mengizinkannya keluar dari rumah sejak kejadian kemarin.
Venus memutuskan untuk keluar dari kamarnya karena rasa jenuh sudah merasuki dirinya, kaki jenjangnya melangkah pelan tanpa tujuan, rumah Reino yang sungguh besar, benar-benar membuat Venus kesepian.
Venus menghentikan langkahnya di depan pintu ruang kerja Reino yang sedikit terbuka, dia mengintip dari celah pintu. Terlihat Reino sedang fokus membaca sebuah buku dengan memakai kaca mata, ekspresi seriusnya menambah kadar ketampanan pria itu.
Dia makin tampan kalau sedang serius begitu.
Ah ... apa sih yang aku fikirkan?
Sadarlah Venus ... sadar ...!!
Venus menepuk-nepuk pelan pipinya berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
"Masuklah! Mau sampai kapan kau mengintipku begitu?" Suara Reino mengagetkan Venus, pria itu berbicara tanpa menoleh kearah Venus dan pura-pura fokus pada buku di hadapannya.
Ternyata Reino sudah mengetahui bahwa Venus sedang memandanginya dari balik pintu.
"Si ... siapa yang mengintip? Aku cuma kebetulan lewat saja." Venus menepis tuduhan Reino dan menutupi kegugupannya.
"Kenapa kau menjadi gugup? Mari sini!" Reino menutup buku ditangannya dan beralih memandang Venus sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
Venus masuk ke ruangan kerja Reino dan duduk tepat di samping suami tampannya itu.
"Kau sedang membaca apa?" Venus melirik buku yang tadi di pegang oleh Reino, sebuah buku novel romantis karya Ziozil.
"Aku sedang membaca buku dongeng."
"Kau ini? Aku sungguh-sungguh bertanya!" Venus melengos kesal.
"Kenapa kau masih bertanya kalau kau sudah tahu?" Reino mengacak-ngacak pucuk kepala Venus dengan gemas.
"Apa-apaan sih? Kau merusak rambutku!" Venus menepis tangan Reino dari kepalanya dan segera merapikan rambutnya yang kusut akibat ulah Reino.
"Bukankah hari ini adikmu itu menikah? kau tidak menghadiri pernikahannya?"
"Mengetahui si berengs*k itu bebas dari penjara saja sudah membuatku kesal, apalagi harus melihat dia menikahi adikku." Venus melipat tangan di depan dada dan mengerucutkan bibir, wajah cantiknya kini terlihat masam membuat Reino gemas jadinya .
"Hey ... aku terpaksa membebaskannya demi adikmu yang menyebalkan itu, kalau tidak dia pasti menolak bekerja sama dengan kita." Reino berusaha menjelaskan alasannya membebaskan Shane dari penjara.
__ADS_1
"Tapi aku membencinya! Aku berharap dia membusuk selamanya di dalam penjara! Kau malah membebaskannya." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Venus, membuat Reino sedikit terhenyak mendengarnya.
"Mengapa kau sangat membencinya?" Reino memandang lekat Venus, membuat gadis itu tersadar bahwa dia baru saja kelepasan membeberkan kebenciannya kepada Shane.
"Anu ... itu ...itu karena dia sudah kurang ajar kepadaku tempo hari!" Kegugupan menyerang Venus lagi.
"Bukan karena dia sudah memfitnahmu dan menjebloskanmu ke dalam penjara?" Reino menautkan kedua alisnya menunggu jawaban Venus.
"Haaa ...? Kau tahu dari mana?" Wajah Venus mendadak pias.
"Hahaha ... apa kau pikir sulit mencari tahu tentangmu?" Reino tergelak.
"Iiihh ... kau kepoin hidup aku ya?" Venus menatap tajam pria tampan itu. Seketika tawa dibibir Reino mendadak hilang saat mendengar tuduhan Venus.
"Eh ... apa menariknya hidupmu sampai aku harus kepoin?" Reino memelototkan matanya.
"Menarik atau tidak, tetap saja kamu sudah kepo! Huuu ..." Venus mencebik sebal sambil memalingkan wajahnya dengan kasar.
"Kau ini ...!!!" Reino semakin menajamkan tatapannya, membuat Venus sedikit takut.
Tiba-tiba mata Venus tertuju pada sebuah album foto di bawah meja di dekat sofa, terbesit rasa penasaran dihati Venus untuk melihat isi album itu.
"Ini album foto siapa?" Venus mengalihkan perhatian Reino dan meraih album foto itu.
Venus membuka lembar demi lembar album itu, ada beberapa foto seorang bayi lucu nan menggemaskan yang dipastikan itu adalah Reino kecil.
"Lutu cekali bayi ini." Venus meledek suaminya dengan gaya bicara khas bayi sambil menunjuk foto Reino kecil yang sedang tertawa.
"Kau mau? Aku bisa membuatkannya satu untukmu!" Reino membalas ledekan istrinya.
"Ciiiihh ... amit-amit! Tapi waktu kecil kamu sungguh menggemaskan, kenapa sudah besar menyebalkan begini?" Venus memandang malas Reino.
"Berisik ...!!!"
"Mereka siapa?" Venus menunjuk foto sepasang suami istri yang bersama seorang anak laki-laki.
"Itu Papa dan Mamaku!"
"Tapi ..." Venus menatap Reino penuh tanda tanya, dia sedikit bingung mengapa Mamanya Reino bukan Liana?
Reino pun mengerti maksud tatapan Venus.
__ADS_1
"Mama Liana bukan Ibu kandungku, dia menikah dengan Papa setalah Mamaku meninggal. Tapi aku menyayanginya seperti Ibu kandungku sendiri." Wajah Reino mendadak sendu.
Venus yang menyadari perubahan raut wajah Reino segera mengalihkan pembicaraan, walaupun hatinya masih terkejut dan menyimpan banyak pertanyaan.
"Lalu yang ini siapa?" Venus beralih menunjuk foto seorang pria bertubuh kekar.
"Dia itu Kakaknya Papa, namanya Om Tomi."
"Dimana dia sekarang?"
"Entahlah, terakhir kali aku bertemu dengannya saat di pemakaman Papa. Setelah itu kami nggak pernah berhubungan lagi." Reino menjawab apa adanya.
"Kenapa begitu? Kau tidak pernah mencarinya?" Venus semakin ingin tahu.
"Kau cerewet sekali!" Reino menggeram.
"Aku kan cuma ingin tahu!"
"Kau kepo sekali! Kalau begitu aku akan memperkenalkan semua keluargaku kepadamu, agar kau tidak mati karena penasaran!" Reino mengambil alih album itu dan menunjukkan satu per satu foto keluarganya, Venus hanya memperhatikannya dengan seksama.
Tiba- tiba ponsel Reino berdering, ada panggilan masuk dari orang suruhannya yang dia perintahkan untuk mencari tahu siapa orang-orang yang menyerang Venus kemarin. Reino beranjak menjauhi Venus, lalu menjawab panggilan itu.
"Hallo, katakan informasi apa yang kau dapat?" Reino berbicara dengan nada pelan, sehingga Venus agak kesulitan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Maaf, Tuan ... kami sudah berusaha mencari tahu siapa mereka, tapi sepertinya mereka sangat licin sehingga kami kesulitan mendapatkan informasi tentang merek**a." Orang suruhan Reino.
"Dasar tak berguna! Terus cari tahu dan awasi orang-orang yang mencurigakan, terutama Mama dan Diana." Reino sedikit membentak, lalu mengakhiri panggilan setelah memerintah orang itu.
Reino kembali duduk di samping Venus setelah panggilan itu selesai, guratan-guratan kekecewaan terukir jelas diwajah tampan itu.
"Ada apa?" Venus bertanya dengan raut wajah penasaran.
"Tidak ada!" Reino mengusap kasar wajahnya dan menghela nafas.
"Kau ada masalah?" Venus bertanya lagi.
Reino hanya menggelengkan kepala tanpa berniat menjawab pertanyaan Venus, sepertinya pria itu benar-benar kesal karena belum berhasil mendapatkan informasi apa pun tentang orang-orang yang menyerang Venus.
Sementara di kediaman Winata sedang berlangsung pesta pernikahan Erika dan Shane. Wajah Erika sangat cantik dengan gaun putih yang membalut tubuh rampingnya, gadis itu tak henti-hentinya tersenyum.
Sementara Shane, tak tampak raut bahagia di wajah pria itu, sejujurnya Shane terpaksa menikahi Erika agar dia bisa terbebas dari balik jeruji besi.
__ADS_1
***