
Hari ini ada rapat akhir pelaksanaan launching brand fashion terbaru milik perusahaan Vino, yang diberi merk V-axcullin. Merk itu merangkup fashion pakaian pria, beberapa kandidat model besutan Grafika Grup juga sudah dipersiapkan dan sedang melakukan gladiresik.
Vino juga hadir disana sebagai pemilik brand ternama itu, tak seperti hari-hari sebelumnya, pria tampan yang satu itu lebih bersemangat hari ini, sudah pasti karena dia akan bertemu Venus.
Vino, Alvin, Venus dan beberapa staf sudah berada diruangan rapat lalu disusul oleh Vino dan sekretarisnya. Sebenarnya Reino tak mengizinkan Venus ikut rapat, tapi seperti biasa, gadis itu merengek dan membuat Reino luluh sektika.
Saat Vino melangkah masuk ke ruang rapat, matanya langsung tertuju pada sosok cantik yang sedang tersenyum kepadanya dan entah kebetulan atau tidak, kursi di sebelah Venus kosong. Tanpa ragu, Vino melangkah kearah Venus dan mendudukkan dirinya disebelah gadis itu.
Rasanya Vino ingin sekali memeluk gadis yang dia yakini adalah adiknya yang hilang.
Reino yang duduk di depan mereka memandang tidak suka, tapi pria itu berusaha menutupi kegusaran hatinya. Begitu juga dengan Alvin, sekretaris Reino itu mendengus kesal melirik Venus dan Vino duduk berdekatan.
Rapatpun dimulai, Alvin menjelaskan susunan acara launching besok dan beberapa hal penting dengan rinci. Semua orang memperhatikan Alvin dengan seksama, tapi tidak dua orang CEO aneh ini, Vino terus memandangi Venus yang duduk disebelahnya, jantungnya berdebar kencang.
Aku yakin kau adikku.
Kau Venusku. Aku akan segera menjemputmu.
Sementara Reino terus melirik kedua insan di hadapannya itu dengan perasaan kesal, dia terus memperhatikan sikap Vino yang memang tak biasa.
Apa mereka benar kakak dan adik?
Mungkinkah Si kecoa itu sudah tahu sesuatu?
Tapi kenapa aku merasa tidak rela jika mereka benar-benar saudara?
Kedua pria tampan itu hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing tanpa memperdulikan Alvin yang mengoceh sedari tadi.
Akhirnya rapat pun selesai, Vino membuka pembicaraan kepada Venus yang masih duduk disampingnya.
"Kau apa kabar? Apa kau sehat?" Vino bertanya dengan canggung, membuat Venus sedikit terhenyak dengan pertanyaan yang terdengar seperti basa-basi itu.
"Aku baik, Tuan." Venus menjawab dengan senyum dibibirnya, Vino tertegun memandang senyum itu.
"Ibu." Tanpa sadar Vino mengucapkan kata itu dengan sangat pelan, tapi Venus masih bisa mendengarkannya walaupun samar-samar.
"Haa ...? Ibu ...?" Venus mengerutkan dahinya memandang Vino dengan tanda tanya.
Vino gelagapan saat menyadari dirinya tanpa sengaja telah menyebut kata Ibu, dia secepatnya meralat ucapannya agar Venus tidak curiga.
"Oh, iya maksudku wajahmu keibuan, terlihat teduh sekali." Vino mengeles dengan alasan yang spontan muncul diotaknya.
__ADS_1
"Tuan Vino bisa saja." Venus kembali memamerkan senyum ajaibnya.
Reino hanya memandangi interaksi kedua insan itu dengan hati yang berkecamuk, dia sengaja membiarkan mereka agar bisa melihat sejauh apa Vino tahu tentang Venus.
Alvin yang sedang membereskan berkas-berkas juga memandang mereka dengan perasaan geram, ingin sekali dia menarik Venus menjauh dari Vino.
"Jangan panggil Tuan, terlalu formal." Vino memprotes.
"Lalu aku harus panggil apa?" Venus bertanya dengan wajah bingung.
"Kakak ... panggil saja aku Kakak!"
"Tapi aku kan bukan adiknya Tuan." Venus pura-pura tak terima, dia memasang wajah imut plus dengan bibir yang dimonyongi, ekspresinya sungguh menggemaskan. Reino langsung melotot melihat tingkah istrinya itu
Apa-apaan dia, kenapa wajahnya dibuat menggemaskan begitu dihadapan pria lain?
Dia mau memggoda kecoa itu ya?
Reino segera berdiri dan mendekati Venus.
"Buatkan aku teh!" Reino menarik Venus menjauh dari Vino dan menyeret gadis itu keluar dari ruang rapat.
Vino dan Alvin kaget melihat aksi Reino, kenapa sampai harus menarik Venus begitu?
Sepanjang jalan, dari ruang rapat sampai ruangannya, Reino terus menarik lengan Venus, persetan dengan semua karyawan yang melihat. Toh, mereka tak akan berani bergosip macam-macam kalau masih ingin bekerja disini.
Di dalam ruangannya, Reino menghempaskan Venus di atas sofa dan mengunci pintu, lalu menatap tajam gadis itu.
"Kau kenapa sih? Salah makan ya?" Venus mencak-mencak duluan sebelum Reino mengeluarkan suaranya.
"Kenapa kau yang marah? Seharusnya marah itu jatahku!" Reino memprotes tak terima.
"Marah ...? Kenapa kau harus marah? Memangnya aku salah apa?" Tanya Venus bingung.
"Kau masih bertanya kenapa aku marah? Jelas aku marah kalau melihat istriku bermanja-manjaan dengan pria lain di hadapanku!" Reino meluapkan kekesalan hatinya kepada Venus.
"Hahaha ... ternyata kau cemburu?" Venus tergelak saat menyadari penyebab kemarahan suami lebaynya itu.
Reino terdiam, mendadak dia merasa malu karena ditertawakan oleh istrinya sendiri. Namun seketika otak liciknya bekerja, dia mendapatkan ide yang entah datang dari mana untuk membalas Venus.
Reino melangkah mendekati Venus lalu mendorong tubuh gadis itu hingga terbaring di sofa, dan menahan kedua tangannya agar tidak bisa melepaskan diri, wajah Venus mendadak berubah pias.
"Kau mau apa?" Venus menelan salivanya.
"Karena kau telah membuatku cemburu dan mentertawakanku, aku akan menghukummu!" Ucap Reino dengan diiringi seringai liciknya.
__ADS_1
"Jangan macam-macam!" Venus mulai takut, dia tahu pasti hukuman apa yang akan diberikan suaminya yang mendadak mesum bekangan ini.
"Apa kau fikir ancamanmu membuatku takut Nona Muda?"
"Ini di kantor! Jangan ma ...eeeeuummpp ...!" Belum sempat Venus selesai bicara, mulutnya sudah dibungkam oleh mulut Reino.
Reino melum4t bibir Venus dengan penuh hasrat, lama-kelamaan Venus pun membalas ciuman itu dengan lembut. Sejujurnya Venus masih malu dan takut melakukan semua ini, tapi entah mengapa tubuhnya malah bereaksi sebaliknya.
Cukup lama mereka berciuman, saling menukar saliva, tangan Reino malah sudah bergerilya ke daerah sensitive Venus. Tapi tiba-tiba keduanya tersentak kaget saat pintu ruangan Reino di ketuk dari luar.
"Cckk ... mengganggu saja!" Reino segera bangkit dan membuka kunci pintu ruangannya dengan malas. Sementara Venus buru-buru merapikan baju dan rambutnya yang berantakan karena ulah Reino.
Ternyata Alvin yang datang dengan beberapa berkas ditangannya.
"Ada apa?"
"Maaf, Tuan ... ada berkas yang harus Anda tanda tangani." Alvin menyodorkan berkas ditangannya ke hadapan Reino. Lalu mata pria itu melirik Venus yang duduk menunduk di sofa.
Sedang apa mereka?
Kenapa Tuan Muda menngunci pintunya?
Alvin mendadak mencurigai sesuatu, sebelum ini dia juga sudah curiga melihat sikap Reino tadi ketika di ruang rapat.
Reino mengembalikan berkas-berkas yang telah dia tanda tangani kepada Alvin.
"Ada lagi?"
"Tidak, Tuan. Saya permisi!" Alvin melangkah pergi sambil melirik kearah Venus.
"Hemm ...!"
Venus yang melihat Alvin keluar dari ruangan Reino segera berlari mengikuti langkah pria itu, dia nggak ingin terjebak lagi bersama suami mesumnya.
"Saya juga permisi ya, Tuan." Venus mengayun nada bicaranya, lalu menjulurkan lidahnya mengejek Reino.
"Hey ...!" Reino memelototkan matanya. Tapi gadis itu buru-buru keluar dan menghilang di balik pintu.
"Kau bisa menghindar sekarang, tapi kau nggak akan bisa lari saat di rumah nanti. Aku akan membuatmu menyesal!" Reino menyunggingkan bibirnya sinis sambil menahan hasrat yang sempat naik tapi kini harus tertunda.
***
Jangan lupa like, rate 5 dan votenya banyak-banyak ya sayang akuh ...
Biar author makin semangat up nya ...
__ADS_1