Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 62


__ADS_3

"Kita akan kehilangan dia. Cepat siapkan alat defibrillator!" Dokter itu berteriak memerintah perawatnya.


"Kakak ... jangan tinggalkan aku!" Venus berucap dengan bibir yang gemetar. Rasanya tubuh Venus lemas tak bertulang, kalau saja Alvin tak memeluk erat tubuhnya, mungkin saat ini dirinya sudah merosot ke lantai.


Kenan yang mendengar kondisi Vino segera berlari memasuki ruangan ICU dengan wajah yang begitu cemas bahkan dia tak menghiraukan keberadaan Venus dan Alvin disana.


"Apa yang terjadi?" Kenan mengecek kondisi Vino yang kejangnya sudah berhenti.


"Dia mengalami cardiact arrest, dok." Ujar seorang dokter yang sudah memegang alat defibrillator.


"Ya, Tuhan!!! Segera lakukan!" Kenan memundurkan langkahnya menjauh dari ranjang Vino.


"Siap ...? Mulai ...!"dokter itu meletakkan alat kejut jantung didada Vino, tubuh pria tampan itu terangkat naik lalu terhempas lagi ke kasur.


Dokter itu melakukannya sampai berkali-kali, tapi garis di monitor tetap lurus, menandakan jantung Vino telah berhenti. Venus semakin terisak di dalam pelukan Alvin, rasanya ingin sekali dia memeluk tubuh Vino yang terbaring tak berdaya itu.


"Kakak ... jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" Gemetar-gemetar Venus mengatakannya dengan perasaan hancur.


Bahkan Kenan telah pasrah dan memalingkan wajahnya karena tak sanggup menyaksikan kepergian teman baiknya itu, mata pria jenaka itu telah basah karena cairan bening yang meleleh turun tanpa permisi.


Dokter itu masih berusaha melakukan kejut jantung kepada Vino untuk yang terakhir kalinya, berharap masih ada harapan dan keajaiban. Dan yang benar saja, garis lurus itu berubah, detak jantung Vino mulai normal lagi.


"Dia kembali ...! Ini sungguh keajaiban ...!" dokter itu berteriak tak percaya dengan apa yang dia saksikan, sangat jarang ada yang masih bertahan dengan kondisi seperti Vino tadi.


"Haaa ...syukurlah! Terima kasih, Tuhan ...!!!" Kenan menghela nafas lega dan menghapus air matanya. Buru-buru pria humoris itu melangkah mendekat Vino dan mengecek kondisi temannya itu.


"Terima kasih, Tuhan! Terima kasih ...!" Venus semakin memeluk erat tubuh Alvin untuk meluapkan kebahagiaan dan rasa syukurnya.


Kenan telah memastikan bahwa detak jantung Vino sudah benar-benar normal dan dia telah menyuntikkan obat anti kejang kepada Vino dan beberapa obat lainnya. Kenan juga sudah menjelaskan kondisi terkini dan penyebab Vino seperti tadi kepada Venus.


Mereka berharap Vino bisa segera sadar dan bangun dari tidurnya panjangnya.


"Dia pasti berjuang untuk hidup agar bisa bertemu denganmu. Aku nggak menyangka bahwa kau adalah adik yang dia cari selama ini." Kenan berbicara dengan raut wajah serius.


"Aku juga nggak menyangka! Semua kejadian dan rahasia yang terbongkar ini, terjadi begitu cepat." Venus memaksakan senyum dibibirnya.


"Eh, tapi dari mana Tuan tahu jika aku adiknya Vino?" Venus baru tersadar sesuatu, hatinya tiba-tiba merasa aneh, mengapa Kenan bisa tahu?


"Hmmm ... itu ... itu karena ... sebelum kecelakaan, Vino meneleponku dan mengatakan semuanya." Kenan mendadak menjadi gugup, untung saja dia teringat bahwa sebelum kejadiaan naas itu, Vino sudah meneleponnya dan memberi tahukan semua, bahkan mereka berjanji untuk bertemu. Namun kecelakaan itu lebih dulu terjadi.


"Oh ... aku kira Tuan juga mengetahui sesuatu tetapi memutupinya dariku, seperti sahabat baik Tuan itu." Venus mencebik kesal. Wajah cantiknya menjadi masam.

__ADS_1


"Haaa ...? Maksudmu Reino? Memang apa yang dia tutupi?" Kenan memberondong pertanyaan kepada Venus karena terlalu penasaran.


Venus pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhir tanpa ada yang terlewatkan, wajah Kenan yang jenaka mendadak diselimuti kemarahan.


"Jadi selama ini Reino sudah mengetahui jika kau bukan putri keluarga Winata? Dia juga merahasiakan siapa yang mendonorkan darah untukmu? Berarti kemungkinan besar dia juga tahu bahwa kau adalah adik kandung Vino." Kenan menggeram, dia tak menyangka jika sahabatnya itu bisa melakukan semua ini.


"Aku bahkan sempat merasa bersalah karena telah merahasiakannya, tapi ternyata kau sendiri tega menutupinya. Apa yang membuatmu melakukan semua ini?" Gumam Kenan dalam hati.


"Entahlah ...! Sepertinya begitu!"


"Lalu mengapa kau bersama dia? Dimana si berengsek itu?" Kenan melirik Alvin yang berdiri di samping Venus.


"Dia hanya menemaniku disini." Venus berbicara apa adanya. Kenan hanya memandanginya dengan tatapan curiga.


Pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Baiklah, aku masih ada urusan. Kau tetaplah disini menemani Kakakmu itu. Dan jika Om Robby datang, jangan katakan apapun tentang kejadian tadi, kesehatannya tidaklah baik." Kenan berpesan kemudian berlalu dari hadapan Venus dan Alvin dengan tergesa-gesa bahkan tanpa berpamitan kepada Alvin.


"Hmmm ... aku juga pamit pulang sebentar ya? Nanti aku kembali lagi kesini." Alvin berkata dengan pelan.


"Ya sudah, kamu pulang saja! Aku bisa sendiri kok."


"Kau hati-hati ya."


Alvin pun berlalu pergi dari hadapan Venus. Kini tinggallah gadis itu sendiri, memandang Sang Kakak dari balik kaca ruang ICU dengan tatapan nanar.


Kak, berjuanglah! Aku menunggumu disini. Aku ingin mendengar banyak hal darimu tentang keluarga kita.


"Venus ...? Kau ada disini ...?" Suara Robby yang baru saja datang mengagetkan Venus.


"Om Robby ...?" Venus yang kaget segera membalikkan badannya menghadap asal suara.


"Apa kabar, Nak? Lama tidak melihatmu?" Robby tersenyum sembari berjalan mendekati Venus.


"Om ... maafkan aku!!!" Venus pun segera berhambur memeluk Robby, sehingga membuat pria tua itu terkejut dengan aksinya.


"Ada apa, Nak ...?"


"Aku sempat berusaha untuk menghindari Om dan juga Kakakku, aku mengabaikannya disaat dia butuh aku. Aku jahat, Om!" Venus terisak sambil tetap memeluk tubuh tua Robby.


"Apa ...? Kakak ...? Jadi benar kau adalah Venus adik Vino? Kau keponakanku?" Tanya Robby tak percaya untuk memastikan lagi.

__ADS_1


"Iya, Om."


"Ya, Tuhan ... setelah 21 tahun, akhirnya aku bisa memelukmu lagi! Dari awal aku sudah yakin kau pasti Venus keponakannku." Robby yang tadinya bingung dengan tingkah Venus, kini membalas pelukan gadis itu. Bahkan mata tuanya pun telas basah karena menangis haru.


Robby melepaskan pelukannya, dan memandang dalam-dalam wajah Venus yang sembab.


"Kau mirip sekali dengan Ibumu. Apalagi senyumanmu itu, sama persis sepertinya." Robby menangkup kedua pipi Venus.


"Pantas saja Kakak pernah memanggilku Ibu waktu itu, aku jadi penasaran bagaimana wajah Ibu dan Ayahku."


"Kalau begitu pulanglah ke rumah, Nak. Kau bisa melihat banyak foto Ayah dan Ibumu disana." Robby berharap Venus mau pulang ke rumah orang tuanya yang ditempati oleh Vino.


"Nanti aku pasti pulang, tapi bersama Kakak!"


"Kenapa begitu? Kau bisa pulang lebih dulu, lalu nanti kembali kesini lagi." Robby memberi saran.


"Aku cuma nggak ingin meninggalkan Kakak, aku ingin berada di dekatnya sampai dia bangun." Ucap Venus.


"Tapi kau juga harus beristirahat, pulanglah sebentar! Supir akan mengantarkanmu. Biar Om yang menjaga Vino disini." Robby menawarkan dirinya untuk bergantian menjaga Vino.


"Tidak apa-apa, Om. Sebaiknya Om saja yang pulang, diumur setua ini, Om harus banyak istirahat." Ujar Venus diselingi tawa kecilnya.


"Kau menyepelekan Om ya? Tua-tua begini, Om masih kuat bermain bola." Kelakar Robby menyombongkan diri.


"Wah ... benarkah?"


"Iya, bola bekkel. Hahaha ..." Robby tergelak karena melihat bibir Venus yang mendadak monyong karena candaannya.


"Om, bisa saja!"


Seketika mereka berdua menjadi akrab satu sama lain.


"Ya, sudah ... Om mau melihat Vino dulu, baru setelah itu Om akan pulang." Robby mengusak pucuk kepala Venus dengan gemas lalu masuk ke ruang ICU.


Venus sengaja tidak memberitahukan kejadian tadi kepada Robby, agar pria tua itu tak khawatir, mengingat kata Kenan kesehatan Omnya itu tidak baik.


***


Yeeee ... sesuai permintaan kalian, si ganteng Vino masih hidup...😁😁


Gimana guys ... kira-kira ada yang baper nggak sama cerita author ini...? 😁✌

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya sayang akuh...💜


__ADS_2