
Sudah beberapa hari ini Venus terlihat murung, perkataan Robby waktu itu masih mengganggu hati dan fikirannya. Beberapa kali Reino mencoba bertanya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Venus, namun gadis itu hanya diam membisu.
Dan sudah beberapa hari ini juga Venus tidak perduli dengan Vino, dia tidak datang menjenguk atau pun sekedar bertanya tentang kondisinya. Venus benar-benar memutuskan untuk menjauhi pria yang sedang berjuang antara hidup dan mati itu.
"Kau mau kemana?" Reino memandang bingung Venus yang sudah berdandan dengan rapi.
"Kemana lagi kalau bukan ke kantor." Venus menjawab dengan nada datar.
"Aku tidak mengizinkanmu pergi kalau kau tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi?" Reino mengancam Venus.
"Tidak terjadi apa-apa! Jadi apa yang harus aku katakan?"
"Ayolah ... kau fikir aku bodoh? Mulut cerewetmu itu mendadak membisu, pasti ada sebabnya!" Reino berkata dengan yakin.
"Harusnya kau bersyukur kalau aku sudah pensiun jadi cerewet. Sudahlah, aku sedang malas berdebat!" Venus hendak melangkah keluar dari kamar, namun Reino menarik tangannya dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Jangan pergi!" Reino mengeratkan pelukannya seolah takut kehilangan istrinya itu.
"Kau kenapa? Aku hanya akan ke kantor, bukan meninggalkan dunia ini. Lepaskan!" Venus mendorong tubuh Reino agar pria itu melepaskan pelukannya, tapi tenaga Venus tak cukup kuat untuk itu.
"Aku takut suatu saat kau pergi meninggalkanku!" Suara Reino terdengar lirih.
"Kau ini bicara apa? Seperti aku mau mati saja! Sudah lepaskan! Aku nggak bisa bernafas ini." Venus masih mendorong tubuh suaminya itu.
Reino pun akhirnya melepaskan pelukannya dan memandang dalam-dalam manik hitam Venus, sejenak mereka saling mengunci pandangan.
"Apa pun yang terjadi nanti, tolong jangan pernah tinggalkan aku." Reino berkata dengan penuh pengharapan.
"Tergantung, kalau kau mengkhianati dan membohongiku, mungkin aku akan meninggalkanmu." Venus berkata dengan senyum yang mengembang.
Deeegghh ...
Reino terdiam mendengar ucapan Venus tadi, seperti ada palu yang sangat besar menghantam hatinya. Venus pun berlalu dari hadapan Reino.
***
Reino, Venus, Liana dan Tomi sedang menyantap sarapan mereka. Tomi sesekali melirik Venus yang terlihat tidak bernafsu untuk makan, gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Rein, bagaimana kabar temanmu yang kecelakaan itu?" Tomi bertanya.
"Kemarin sih masih koma, Om. Tapi sekarang nggak tahu, aku belum ada jenguk dia lagi." Reino berbicara sambil mengunyah sarapannya.
"Kasihan ya? Padahal dia baru saja dari sini." Tomi menujukkan wajah prihatin.
"Sudah naas, Om! Takdir orang nggak ada yang tahu." Reino menjawab sekenanya sambil terus menyantap makanannya.
__ADS_1
Sementara Venus dan Liana hanya diam mendengarkan pembicaraan kedua pria itu.
"Tapi Om heran juga, kenapa dia yakin sekali mengatakan bahwa istri kamu adalah adiknya?" Tomi seolah sedang berfikir.
Uhuuukk ... uhuuukk ...
Reino terbatuk-batuk karena tersedak, Venus buru-buru mengambilkannya minum.
"Pelan-pelan saja makannya, Rein!" Ucap Liana.
Venus menepuk-nepuk pelan punggung belakang Reino.
"Iya, Ma." Reino menghela nafas lega.
Tiba-tiba ponsel Venus berdering, terlihat di layar ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Hallo, siapa ini?" Ragu-ragu Venus bertanya.
"Temui aku di cafe XX di dekat Rumah Sakit Medica pukul 12 siang nanti, dan jangan beritahu siapapun termasuk Reino. Kau harus datang sendiri!" Si penelepon.
Panggilan itu terputus tanpa Venus sempat menjawab, gadis itu coba menerka-nerka siapa Si penelepon dan apa yang dia inginkan?
Reino, Liana dan Tomi yang melihat Venus pun ikut penasaran.
"Hmm ... oh, bukan siapa-siapa! Cuma salah sambung, nggak penting kok!" Venus memaksakan senyuman untuk menutupi kebohongannya.
"Oh, ya sudah ... mari berangkat!" Reino beranjak dari kursinya lalu berpamitan dengan Liana dan Tomi. Begitu juga dengan Venus.
***
Venus sedang gelisah di ruangannya, dia bolak-balik melirik arloji di tangannya, kini waktu sudah menunjukkan pukul 11.40 itu artinya dia punya 20 menit lagi untuk sampai di cafe XX yang ditentukan Si penelepon tadi.
Sejujurnya Venus ragu untuk datang, tapi hatinya sungguh penasaran, siapa si penelepon dan apa maunya?
Dan sekarang yang jadi masalah, bagaimana caranya Venus bisa pergi dari kantor ini tanpa sepengetahuan Reino, karena kalau sampai Reino tahu, Venus pasti tidak diizini pergi.
Venus memberanikan diri keluar dari ruangannya, tapi di depan ruangannya Venus bertemu dengan Alvin.
"Kau mau kemana?" Alvin memandangi Venus dengan curiga.
"Aku ingin keluar sebentar, aku ada urusan." Venus berbohong.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu!"
"Tidak ... tidak usah!" Venus menolak.
__ADS_1
"Tidak apa, aku juga ingin keluar makan siang."
"Tapi ini belum pukul 12.00, belum waktunya makan siang." Venus melirik arloji di tangannya.
"Tenang saja! Aku bisa keluar makan siang kapan saja." Alvin tersenyum bangga.
Venus terdiam sejenak, otaknya seperti mendapatkan ide untuk memanfaatkan Alvin.
"Aku ingin keluar tapi tanpa sepengetahuan Tuan Muda Reino atau pun pengawalnya, bisakah kau membantuku?" Tanya Venus.
"Bisa sih! Tapi kenapa tidak izin dulu kepada Tuan Reino, aku takut kau mendapat masalah nanti." Alvin sedikit cemas.
"Maka dari itu jangan sampai ketahuan! Kau bisa membantuku atau tidak?"
"Baiklah! Kau turun dari tangga darurat dan keluar dari pintu belakang gedung ini, aku akan menjemputmu disana." Alvin mengarahkan Venus.
"Ok ...!" Jawab Venus singkat dan segera berjalan cepat menuju tangga darurat.
Saat tiba di lantai bawah, Venus segera membuka pintu belakang gedung Grafika Grup dan buru-buru keluar. Alvin sudah menunggunya disana.
"Ayo ...!" Alvin mengajak Venus dengan isyarat tangannya. Venus bergegas masuk ke dalam mobil Alvin sebelum ada yang melihatnya dan Alvin pun melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Grafika Grup.
***
Venus tiba di cafe yang dijanjikan Si Penelpon, dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari seseorang yang mungkin dia kenal. Sementara Alvin sudah memilih duduk di tempat yang agak jauh dari Venus tapi dia masih bisa melihat gadis itu.
"Venus!" Seorang pria yang duduk sendiri dengan memakai masker, topi dan kaca mata hitam melambaikan tangannya ke Venus, suaranya terdengar tidak asing untuk Venus. Ragu-ragu Venus melangkah mendekati pria itu.
"Kau siapa? Dan mau apa?" Tanya Venus bingung.
"Yang pasti aku bukan orang jahat! Aku memanggilmu kesini hanya ingin memberikan ini." Pria bermasker itu menyodorkan sebuah amplop bertuliskan logo Rumah Sakit Medica.
"Apa ini?" Venus memperhatikan amplop putih itu dengan seksama.
"Itu titipan dari Vino Adyatama untuk adiknya. Buka dan bacalah!" Pria itu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Venus.
Aku sudah menyampaikan amanahnya.
Maafkan aku Reino.
"Apa ...? Tapi ..." Venus menjadi bingung dan penasaran. Buru-buru Venus membuka amplop itu dan membaca isinya dengan teliti.
Mendadak wajah Venus berubah, air matanya jatuh bagaikan hujan. Alvin yang melihat itu, segera menghampiri Venus.
***
__ADS_1