Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Uang Mahar


__ADS_3

Mita menenangkan Izzam, sementara Izzam terus saja marah marah karena perbuatan Lili.


Tring tring tring


("Hello....ada apa mas")Tami.


("Kamu dimana? Lili masuk Rumah sakit/") Izzam.


("Sakit apa dia?") Tami.


("Dia mencoba bunuh diri.")Izzam.


("Apa? anak bod*h, sekarang bagaimana keadaannya.") Tami.


("Sekarang sudah sadar, kamu kesini sekarang.") Izzam.


("Kalau sudah baikan biarin saja, besok saja ke sana, aku ngantuk") Tami.


("Kau diman?")


Tut tut tut


"Istri durhaka." Izzam mengumpat istrinya yang menutup Telpon tanpa pamit. Sementara di sebuah kamar Hotel.


"Siapa yank?" Rudi memeluk tubuh bug*l Tami


"Izzam Mas Rudi"


"Emang ada apa?" Rudi penasaran


"Lili hamil,dia mencoba bunuh diri."jawab Tami santai.


"Hamil? suruh saja si pria bertanggung jawab," Cetus Rudi lagi.


"Prianya kabur dengan cewek lain. Oh ya Mas, kapan mas menceraikan istri mas? ayo kita menikah, biar aku lepas dari suami ku yang dingin itu." Ucap Tami manja


"Sebentar lagi sayang, aku perlu membalik namakan perusahaannya dulu atas namaku, baru kita bisa tenang."bujuk Rudi gombal.


"aaaah, kelamaan sayank, kita nikah sirri aja ya?aku pengen cepat cerai dari Izzam." Suara Tami mesra dan manja.


"Sebentar lagi sayang," Rudi terus saja membujuk agar Tami menunggu.


💐💐💐


Sementara di Rumah sakit.


"Ada apa Mas?" Mita menatap suaminya khawatir, karena melihat wajah suaminya yang teelihat sangar.


"Aku akan melacak keberadaan Tami, kau jaga Lili dan juga Ayana ya!"


Izzam pun berangkat melacak Hp istrinya, sekarang kan zaman canggih mudah bagi Pengusaha seperti Izzam mengetahui istrinya sedang di mana.


"Hotel? sedang sama siapa dia di hotel? awas kalau ketahuan ku dengan laki-laki lain, akan aku balas perbuatan mu!"


Izzam menyuruh sopir taksi mempercepat lajunya mobil, tak berapa lama sampailah mereka di hotel berbintang.


Dia pun segera menaiki lift dan menekan lantai 17. Setelah sampai dia menuju sumber yang berwarna. tepat kamar no 27C


dia pun segera turun kembali dan menuju resepsionis untuk bertanya.


"Mbak maaf, kamar no 27C atas nama Sri Utami dan suaminya siapa tadi aku lupa, Apa sudah datang?"

__ADS_1


"Apa maksud bapa, Bapa Rudi dan Ibu Tami?"


" Iya, mereka, jam berapa mereka datang?"


"Sudah dari tadi malam Pa, sekitar jam 10an- ucap pegawai itu pada Izzam.


"Baik, terimakasih." Izzam pun pulang menuju Rumah sakit, ada rencana besar yang akan dia ungkap.


💐💐💐


Lili sudah boleh pulang, Mita terus saja merawat Lili yang masih lemes, namun sikap Lili tak sedikitpun baik padanya.


Cklek


"Lili! apa yang kau lakukan,dasar anak bo*oh." tiba tiba Tami datang dan masuk kamar Lili dengan marah marah.


"Mamah kalau cuma mau marah marah, tak usah datang aja, Lili cape mah!" Ucap Lili ketus seeprti biasanya.


"Aku lebih capek memikirkan kamu, keluyuran kemana mana, bahkan kamu tak pernah pulang ke rumah selama berbulan bulan, bilangnya nginep sama temen, nyatanya kenapa pulang pulang bawa bayi?" Tami sangat marah dan menunjuk nunjuk muka Lili yang sedang rebahan.


"Sudah mah, aku mau tidur." Lili pun menutup mukanya dengan bantal.


"Dasar anak durhaka."


Bruk.


Tami keluar dan menutup pintu Lili kasar.


"Mas...Mas...dimana kamu?" Tami pun masuk ke kamar Izzam yang ditempati Mita.


Ceklek


" Mas!" Tami menengok kedalam.


"Ayana, mana Papa?"


"Kerja mah."


"Ooh, ya udah, Mama mau kerja juga nyusul Papa."


"Tapi kakak sakit Mah."


"Sudah ada Mita kan, Ibu yang kau banggakan itu, sana sana!" Tami melerai pelukan Ayana dari tubuhnya.


Mita yang ada dikamar mandi pun cepat cepat menyelesaikan mandinya, karena mendengar Tami ada di kamarnya.


"Mana mamahnya sayang?"


"Udah pergi Mi, kesel deh sama mamah, slalu saja pergi."


Ayana pun duduk di tepi ranjang dengan muka cemberut.


"Mamah lagi kerja sayang,kan buat bayar sekolah Ayana dan kaka Lili." Mita pun memeluk tubuh mungil Ayana penuh kasih sayang.


"Ummi jangan tinggalkan Ayana Mi ya!" Ayana pun memeluk tubuh Mita erat.


"Enggak sayang, asal Ayana nggak nakal dan nurut sama Ummi."


Tap Tap Tap.


Ceklek.

__ADS_1


"Papa sudah pulang? emang sekarang jam berapa? baru jam 11 Pah." Ayana centil tanya tapi jawab sendiri.


"Ayana turun dulu ya...Papah mau ngomong sesuatu sama Ummi emcch" Izzam mencium kepala Ayana dan menyuruhnya turun.


"Baik pa." Ayana pun keluar dan menutup pintu.


Krek krek.


Izzam mengunci pintu dari dalam.


"Lho ko di kunci bang?" Mita jadi bingung dan sedikit panik dalam hati.


"Aku ingin bicara serius, kemari lah!" Izzam pun duduk di lantai halaman ranjang, dia membuka cash box besarnya, Mita pun terbelalak melihat isinya penuh dengan uang. Izzam mengeluarkan semua uang itu. Dan meletakkannya didepan Mita." Semua ini untukmu, kau boleh menyimpannya. Anggap saja ini adalah mahar yang dulu pernah kau pinta."


FLASHBACK


"Aku bersedia jadi istri keduamu, asal kau bisa memberiku sebuah rumah, agar aku dan juga Adikku tidak perlu lagi di kejar kejar ibu kost karena terlambat bayar kontrakan."


"Emang kamu punya harga segitu? kamu itu tidak berarti apa pun, memiliki tiang rumah saja kamu nggak pantes tau nggak? masih untung aku mau menerimamu jadi istriku, dari pada tiap malam keluyuran cari Oom!"


"Aku bukan wanita seperti itu Tuan! aku hanya terpaksa,aku juga ingin hidup normal."


"Makanya jangan blago, sudah! terima saja kau jadi istriku, itu sudah cukup agar kau tak keluyuran lagi!"


FLASHBACK END


"Bang, ini terlalu banyak, aku hanya meminta sebuah rumah."


"Ambilah, aku juga minta maaf atas kata kataku dulu, dengan ini semoga kau mau memaafkanku, bisakah aku meminta sesuatu darimu?"


"Kalau aku mampu, aku akan mengabulkannya."


"Tolong jaga Ayana dan juga Lili, aku tidak bisa mengandalkan Tami, maafkan kalau sikap Ku dan juga sikap Lili kadang membuatmu tidak nyaman." Izzam menatap wajah Mita yang tidak mengenakan Cadar itu tajam.pandangannya teralihkan pada bibir merah muda nan menggodanya, seakan-akan bibir itu memanggilnya untuk dia dekati.


"Abang tidak perlu khawatir, tanpa abang suruh pun aku akan melakukannya, aku sudah menganggap mereka keluargaku."


Mita menundukkan kepalanya dan menatap uang yang begitu banyak dihadapannya dengan perasaan yang tak dapat di gambarkan.


"Emang uang ini berapa bang? aku merasa tidak akan bjsa selesai menghitungnya dalam sehari."


Mita pun mengangkat kepalanya, namun dia kaget ketika wajah Izzam sudah ada di depan wajahnya.


"Abang?" Tiba- tiba Izzam mel**mat bibir merahnya dengan penuh nafsu, dipeganginya kepala Mita agar tidak bisa menghindar.


Duk duk duk.


"Papah sudah selesai?"


Deg.


Oh ternyata Ayana datang dan menggedor pintu dengan tangan mungilnya.


"Tunngu Ayana, belum selesai." Izzam menjawab dan terus melancarkan Aksinya. Dia pun mengangkat tubuh Mita.


"Bang, aku tidak bisa!" Mita masih di gendongan Izzam menuju ranjang.


"Kenapa? apa benar kau penyakitan seperti yang dikatakan Tami? heh?" Izzam meletakkan Mita di ranjang dan mendekatkan tubuhnya lagi di wajah Mita.


Duk duk duk.


"Papah, Ayana mau pipis." Ayana masih saja berteriak.

__ADS_1


Jangan lupa like ya syukron....


BERSAMBUNG.......


__ADS_2