
Lili pun makan dengan lahap, sesekali masih menyisakan isakan karena terlalu lama menangis. Selesai makan Lili masuk kamar dan menguncinya dari dalam.
Sayup sayup azan magrib terdengar dari kejauhan, Mita pun Sholat magrib berjamaah sama Ayana, selesai sholat Ayana dan Mita hendak makan malam kebawah.
"Sayang, panggil Kakak dulu, barangkali kakak lapar, biar kita makan bareng."
"Iya Mi!"
Ayana berlari menuju kamar kakaknya.
"Kak Lili."
Tok tok tok.
"Kak makan yu!"
"Aya...na...to...lo...ng ka..ka..ka..."
"Kakak ngomong apa sih ? buka dong."
"Aya..." Suara Lili sangat kecil hingga Si comel Ayana tidak mengerti. Ayana pun balik ke dapur.
"Sayang, Kakak bilang apa?"
"Nggak ngerti Mi, katanya to to long gitu."
"Apa?"
Mita berlari menuju kamar Lili
"Ada apa sih Mi?" Ayana heran tapi dia penasaran dia pun ikut berlari mengiringi ummi nya.
Tok tok tok
"Lili, kau sedang apa? buka pintunya! jangan bertindak bodoh, Li buka!"
dok dok dok.
Pintu di gedor gedor namun Lili tidak menjawab.
Mita berlari keluar.
"Ada apa sih Mi, heran deh Ummi ko bolak balik nggak karuan." Ayana masih saja cerewet menunggu jawaban ummi nya.
"Paman, tolong kemari." Ternyata Mita memanggil paman satpam.
"Ada apa non?"
"Tolong dobrak pintu Lili, aku takut terjadi sesuatu."
Mereka pun masuk kedalam, setelah beberapa kali mencoba, paman pun mencongkel pintu dengan linggis.
Betapa terbelalaknya mereka, melihat Lili sudah bersimbah darah, dia memotong nadinya ingin bunuh diri.
"Ya Allah, Lili."
"Kaka hik hik." Ayana histeris memeluk tubuh kakaknya.
Satpam segera menelpon taksi online.Tak berapa lama taksi pun datang. Lili dibawa ke rumah sakit.
Sampai di UGD Lili masih belum sadar.
"Bu, kami perlu darah, Anak ibu terlalu banyak mengeluarkan darah, golongan darahnya O."
"Saya, ambil saja darah saya pak, saya O." ucap Mita cepat.
Mita pun mendonorkan darahnya, setelah selesai, mereka pun menunggu Lili harap harap cemas.
Mau menelpon, dia tidak tau no HP Izzam.
paman juga tidak bawa Hp tertinggal di pos.
"Paman sebaiknya pulang, mungkin saja nanti Pa izzam atau Nyonya Tami datang."
"Baiklah non."
Setelah paman satpam pulang. Lili pun mendapatkan kamar. Sementara Ayana terlihat mengantuk.
__ADS_1
"Sayang tidur sini." Mita menyuruh Ayana berbaring di pahanya, tak berapa lama dia pun tertidur.
"Nicol...Nicol jangan tinggalkan aku." Ternyata, Lili mengigau, Mita pun dengan pelan pelan meletakkan kepala Ayana di lantai, dan mendekati Lili.
"Lili sayang...kamu sudah bangun?"
Mita mengelus elus kepala Lili.
"Kau...kenapa kau bawa aku kesini? mengapa?hik hik hik." Lili pun bangun dan menangis lagi karena kesal telah diselamatkan.
"Tidak baik seperti itu Li? kalau kamu mati kamu akan masuk neraka, sementara Nicol pacarmu itu, dia tetap senang senang, tak ada yang berubah di dunia itu kalau kau mati."
"Apa perdulimu, dasar pelakor"
"Astagfirullah Li, aku tidak seperti itu."
"Trus apa? kau mau dinikahin Papa, sementara Papa sudah ada istri!"
"Papa dan mamamu yang menginginkan aku jadi istri papamu, untuk menemani Ayana."
"Alesan! mana mungkin Mama mau di madu!"
"Terserah kau saja Li, sekarang kamu makan dulu ini."
"Prang." Lili mendorong piring dan jatuh kelantai. Mita pun memungut piring dan sampah yang berserakan.
Kayaknya Mita terus saja di pertemukan dengan beling ya akhwat.
"Mana Papa dan juga Mama?" Ucap Lili ketus
"Aku tidak punya no mereka."
"Apa? aneh! istri macam apa itu? punya suami tapi nggak tau no HPnya!"
Mita hanya terdiam dan menyapu lantai yang kotor.
"Ummi...ada apa Mi?.....Kakak." Ayana bangun mendengar keributan dan segera berhambur kepelukan Lili.
"Kakak jangan mati, Ayana takut Kak."
"Tau ah." Cuma itu jawaban Lili pada adiknya.
"Siapa suruh, dia sendiri yang pengen, CAPER." Lili tetap saja ketus menjawab semua pertanyaan adik mungilnya.
"Nggak tau terimakasih, kata Ummi kalau sudah di bantuin itu barus ucap terimakasih kak!"
"Terus saja muji dia yang pelakor itu cih."
Deg!
Entah yang keberapa kalinya kata kata itu keluar dari mulut Lili, yang jelas, suara itu bagai menghantam jantung Mita seketika.Tak terasa ada butiran bening yang mengalir di sudut pipinya, ternyata itu juga tak lepas dari penglihatan Ayana.
"Ummiiiii....jangan nangis mi...maafin Kakak, Kakak jahat." Ayana memeluk Mita penuh sayang.
Sementara Lili melirik dan memalingkan wajahnya saat dia melihat wanita yang dihinanya itu menangis.
"Kakak jahat!" Ayana mengulangnya berulang-ulang.
💐💐💐
Sementara malam semakin Larut jam menunjukan jam 3 pagi, sudah menjadi kebiasaan Izzam jam segitu dia akan pulang.
Tit tit
Suara mobil memasuki halaman rumah, tentu saja izzam dibawa oleh sopir. Karena dia mabuk berat, dia pun masuk kerumah. Panggilan paman satpam yang ingin memberi tahu bahwa Lili masuk Rumah sakit pun, tak dihiraukannya, dia sempoyongan dan Menutup pintu kasar.
BRUK.
"Jingga...dimana kau...Jingga!" Izzam teriak teriak, memanggil nama tener Mita. Namun tak ada ada sahutan.
Dia pun menaiki tangga dan memasuki kamar, tapi Mita tak ada.
BRUK.
Dia menutupnya kembali.
Tap......tap......tap....
__ADS_1
turun kebawah dengan gontai dan membuka kamar istrinya, namun istrinya juga tidak ada.
"Sial! Dimana kaliaaaan?" prang
meja terbuat dari kaca pun pecah.
"Tuan, maaf Nona Lili masuk Rumah sakit, dia coba bunuh diri tadi." Paman satpam pun datang dan memegangi tubuh Izzam
"A...pa....? di...ma...na...dia?"
"Tuan sebaiknya mandi dulu biar segar."
Tangan satpam pun di tepisnya.
"Tuan mau kemana?"
"A..ku..ma..u ke..ru..mah sa...kit"
izzam masih sangat mabuk.
"Tuan harus mandi dulu, Tuan, agar sadar."
Satpam coba membangunkannya, namun tidak bisa.
"Maaf Tuan, saya akan memandikan tuan dulu."
Izzam ditarik paman satpam ke halaman di dudukan depan kran dan ssrrrrrrrrrt
air pun di guyurkan langsung dari krannya.
"Hey...kau...mengapa?"
Paman satpam terus saja mengguyur
"Dingiiin..."
"Maaf tuan."
"Kau berani sekali."
"Maaf tuan, Tuan harus segera ke rumah sakit, Nona Lili mencoba bunuh diri yadi, Non Mita sudah membawanya ke Rumah sakit."
"Apa? Baik lah."
Dia pun akhirnya masuk ke rumah dan ke kamar mandi, terdengar dia juga mandi, minum di dapur agar bisa menetralkan alkohol yang meresap di tubuhnya, setelah sedikit tenang dia pun memesan taksi online.
Sesampainya di Rumah sakit dia pun bertanya pada petugas masih dengan sedikit sempoyongan, tapi dia tidak di izinkan masuk karena terlihat masih mabok.
Mita pun di panggil karena dari ruangan yang di sebutkan Izzam.
"Benarkah tuan ini keluarga anda?"
"Bang Izzam? iya pa dia suami saya."
Sontak saja sucurity menatap Mita dan Izzam bergantian, mungkin di dalam hatinya.
masa perempuan bercadar punya suami pemabuk.
Mita pun membawanya ke kamar Lili dengan menjamin bahwa dia tak akan ribut.
Cklek
Mereka, masuk kamar Lili, Lili pun menoleh ke arah pintu.
"Papa." Matanya berkaca kaca.
"Kurang ajar."
"Plak, plak, plak."
"Au." Teriak Lili
"Papa, hentikan, Ummi." Ayana histeris melihat Papahnya memukuli Lili
Ayana memeluk Mita erat. Saat Izzam mau memukuli Lili lagi namun Mita yang datang dan berdiri di tengah tengah mereka, hingga kepala Mitalah yang jadi sasaran.
"Mengapa kau menghalangiku?"
__ADS_1
Izzam yang mulai sadar pun jengkel.
BERSAMBUNG....