
Sepanjang jalan menuju rumah, Mita tampak begitu sedih, isakan tangis nya sesekali terdengar di belakang Ahyar.
"Mbak kenapa menangis? maaf mbak kalau lancang, sebenarnya suami Lili kemana? kenapa tidak menemaninya saat melahirkan?"
Ahyar tampak penasaran dengan keluarga Izzam.
"Lili kecelakaan dengan pacarnya Yar!"
"Maksudnya apa mbak?"
"Dia hamil di luar nikah, dan di tinggal kabur oleh pacarnya."
"Apa? kasian sekali dia, bagaimana nasib anaknya nanti?"
"Papahnya sudah mencari laki-laki yang mau menikahi Lili, tapi tak satu pun rekan bisnisnya yang mau menerima keadaan Lili, mereka tak mau punya menantu yang hamil di luar Nikah, padahal ada banyak rekanan papahnya yang mempunyai anak laki-laki."
"Ooh, mudahan suatu saat ada jodohnya yang mau menerima dia apa adanya."
"Padahal papahnya mau memberi satu perusahaan cabang kalau ada laki-laki yang mau menerima keadaannya itu."
"Tapi, pernikahan itu tidak boleh di anggap main-main mbak, apalagi sampai nikah kontrak."
"Lili sangat malu, dia bahkan sempat mau bunuh diri waktu itu, sampai dia memotong nadinya dan mengeluarkan darah sangat banyak."
"Benarkah?"
"Apa kau tertarik dengan Lili?"
"Ah, mbak, aku rasa tak pantas memiki Lili, selain aku sih kayak Udik, kami juga hanya orang tak punya, pas-pasan, sedangkan Lili pasti anak gaul yang bergelimpangan harta."
"Kalau Papah Lili kayaknya tidak masalah dengan itu, asal ada orang yang benar-benar sayang sama Lili, apalagi kalau sampai menikah seumur hidup, pasti Papahnya sangat senang."
"Mudahan Lili dapat jodoh yang terbaik, aamiin."
Tak terasa mereka pun sudah sampai di halaman rumah Mita. rumah yang begitu asri dengan pepohonan di halamannya.
"Makasih ya, oh iya, tolong pikirkan lagi, aku tau kamu orang naik, apalagi kau pernah mondok juga, mungkin saja kau berubah pikiran katakan saja padaku ya!"
"Iya mbak, kalau mbak pengen ke rumah sakit lagi biar aku antar nanti, nggak papa kok, bilang aja."
"Baiklah."
Mita pun masuk kerumahnya dan membuka pintu.
Ceklek
Krek krek.
Mita terlihat mengambil Hpnya dan menelpon seseorang.
__ADS_1
("Hello, Fasha, kau dimana?")
("Ada apa kak, aku masih diluar kota, nanti malam naru datang.")
("Baiklah, kalau bisa cepat pulang ya, sudah sebulan ini kamu tidak pulang, Kakak sudah beli rumah baru, rumah lama sudah tidak di pakai lagi.")
(" Benarkah? apakah Kakak Ipar yang membelikannya?")
("Iya.")
("Baik Kak, aku lagi bongkar barang, sudah ya assalamualaikum.")
("Walaikumussalam.")
Mita pun merebahkan tubuhnya di sofa, dia kembali membuka Foto yang di kirim seseorang tadi malam. Hatinya kembali tercabik.
"Hik...hik...hik...Bang, kenapa kamu tega sama aku bang, mungkin ini salahku juga yang telah mengizinkan dia tinggal kembali di rumah kami, hik...hik...hik." Mita menangis kembali, hatinya sakit sakit. Dadanya sesak. ketika telpon masuk.
"Izzam." Lirihnya.
Dia hanya memandangi nama yang muncul di layar ponselnya itu, tanpa berniat mengangkatnya. Beberapa kali nama itu muncul, namun Mita tidak memperdulikannya, hati nya sangat sakit membayangkan, apa yang telah di lakukan suaminya itu bersama mantan istrinya. Mita pun mensenyapkan panggilan telpon dan tertidur di atas sofa karena lelah bekas menjaga Lili tadi malam.
"Mita, maaf, aku harus mengatakan ini, aku dan Tami akan kembali rujuk, kita akan kembali serumah sepertu dulu."Ucap Izzam pada Mita.
Mita terbelalak, dan menatap wajah,suaminya tajam, dia ingin tau bahwa itu hanya candaan suaminya, namun mata itu tak menampakkan gurauan, melainkan benar bahwa Izzam ingin rujuk dengan Tami.
"Apakah itu bisa ditunda sampai aku melahirkan?"
"Tapi dulu dan sekarang beda Bang, dlu aku terpaksa, dan juga tidak ada cinta, sekarang aku mencintaimu, kalau ada wanita lain yang ingin mengambil hatimu, tentu aku sangat sakit bang, aku beljm siap, aku tidak bisa."
"Nanti juga akan terbiasa, kita juga pernah begini sebelumnya, baiklah, aku harus pergi, Tami menunggu ku di bawah untuk mengurus surat-surat nikah kembali."
Bruk.
"Hik...hik...hik..bang Izzam bang Izzam...hik hik hik.."
Nafas Mita tersengal-sengal menahan sesak, dia terus berteriak memanggil nama suaminya.
"Bang...tolong jangan pergi bang."
Bruk Bruk
"Mita bangun, sayang, ada apa? bangun!" Ternyata Izzam yang datang dan mendobrak pintu, karena mendengar,istrinya berteriak-teriak.
"Abang, hik hik hik." Mita pun memeluk Izzam erat, dia menangis histeris.
"Ada apa sayang? kenapa kau berteriak-teriak, siang bolong begini kok mimpi buruk?" Izzam pun memeluk erat Istrinya.
"Abang, kapan kau datang?" Mita pun tersadar dan melepas pelukannya.
__ADS_1
"Aku menelpon mu berulang-ulang, kenapa kau tidak menjawab?"
"Aku ketiduran, Hp tidak dibunyikan, aku sangat capek." Jawabnya, Mita pun bersandar di sandaran sofa sambil memejamkan matanya kembali.
"Kenapa kau tidak menelponku tadi malam, saat Lili mau melahirkan?" Tanya Izzam lagi.
"Sudahlah, toh sekarang Lili sudah melahirkan dengan selamat?"
"Mengapa kau tidak menanyakan sesuatu, mengapa tadi malam aku tidak pulang?" Tanya Izzam lagi.
"Abang pasti sedang lembur bekerja, emang mau apa lagi kalau tidak bekerja?" Mita sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia sudah mengetahui hal itu, dia ingin Izzam mengatakan sendiri kalau sebenarnya mereka benar-benar akan rujuk.
"Baiklah, ayo kita makan! ini sudah jam 1 siang."
"Aku mau sholat dulu, aku tidak ingin kemana-mana, aku merasa sangat lelah,aku akan pesan online saja." Ucap Mita lagi.
Mita pun sholat, selesai sholat dia pun mengambil Hpnya dan bermaksud memesan makanan online.
"Sudah aku pesan, tunggu sebentar lagi!"
"Ooh." Mita pun kembali duduk di sofa,dia berusaha menyembunyikan kesedihannya, mulai sekarang dia akan siap-siap dengan segala hal yang terjadi.
Tok tok tok
"Paket!" Makan siang pun datang, Mita langsung berdiri dan mengambil juga membayarnya, sedang Izzam di kamar sedang sholat Zuhur.
Mita membuka makanan itu dan menyantapnya tanpa menunggu Izzam, karena ada dua kotak, jadi pasti satu orang satu, Batin Mita. Izzam yang melihat istrinya itu menatap aneh, apa dia kelaparan ya. Batinnya.
"Apa kau sangat lapar?"
"Eeeh." Jawab Mita dengan mulut masih penuh makanan. yang sebenarnya, Mita sangat kesal, dia bahkan tak mengunyah makanan itu.
"Makan saja ini, aku bisa cari lagi, kasian juga kalau Bumil kelaparan."
"Emang abang perduli dengan ku?" Mita pin menghentikan makannya dan masuk kamar
Bruk
Krek krek
"hik..hik..hik."
"Mita, ada apa? kenapa kau marah tanpa alasan?"
Izzam mengetuk pintu kamar namun Mita tak mau membukanya.
"Ada apa ini?" Dia pun duduk di sofa, dia mengingat-ingat kesalahannya.
Apa dia marah karena tadi malam aku tidak pulang ya..
__ADS_1
Batinnya.
BERSAMBUNG....