Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Melamar


__ADS_3

Mita, Zila dan Ayana pun bersiap pulang.


"Fasha, kami pulang dulu ya, bilang sama istrimu hati-hati, jangan sampai salah makan nanti keselek sendiri." Ucap Mita.


"Ho? lesan apaan tu kak? hihi, aku nggak paham."


"Bilang aja begitu, nanti dia paham aja kok, udah ya, assalamualaikum." Lena tak ikut mengantar karena alasan sakit perut.


"Baiklah, wa alaikumsalam."


Ceklek.


Bruk.


Mereka pun berangkat menuju kastel Izzam.


"Sayang, apa kita mampir untuk membeli sesuatu dulu?" Izzam menggenggam tangan Mita sambil nyetir mobil.


"Rujak aja deh Bang, lagi pengen yang acem-acem." ucap Mita.


"Lho kok pengen yang acem lagi sih, tadi kan udah!" jawab Izzam, mukanya terlihat serius.


"Kapan?" Mita malah heran.


"Tadi di kamar."


"....???" Mita pun memutar otaknya.


bruk bruk


"Ih Abang, apaan sih."Dia baru ingat kejadian siang tadi saat tidur sambil cium dada Izzam yang berkeringat, dia pun memukuk-mukul pundak suaminya manja.


"Hahahahahahna" Izzam tertawa terbahak-bahak.


"Itu ada rujak Pah." Ayana sangat perhatian, saat Mita pengen yang acem, Ayana langsung siaga melihat setiap pinggir jalan yang jual rujak. Izzam pun menepi dan membeli beberapa bungkus.


"mau kemana lagi sayang?" Izzam pun menatap Istrinya dan menanyainya.


"Langsung pulang aja Pah."


Mereka pun berangkat menuju kastel.


Sesampainya di Kastel Izzam.


"Maaf tuan, ada seorang wanita menunggu tuan, kalau tidak salah dia...dia istri pertama Tuan." ucap paman satpam ragu-ragu.


Mita yang mendengar pun kaget.


Pasti Tami, bisik hatinya.


"Baiklah, ayo sayang!" Izzam pun merangkul tubuh istrinya dan membawanya nempel di badannya, sengaja gitu buat manasin Tami kaleee.


Tap


Tap


Tap


"Mas Zam"


Bruk


Tami memeluk tubuh Izzam dan membuat Izzam dan Mita sedikit terhuyung ke belakang.


"Kau, hey."


Prak


Izzam menghempaskan tanganTami yang merangkulnya kasar, hingga Tami pun terduduk di lantai.


"Mas, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena telah membebaskan aku dari Sel tahanan."


"Tak perlu juga sambil peluk-peluk, apalagi di depan istriku." Ucap Izzam ketus.


"Mas sudahlah, aku pusing mau istirahat." Mita males berdebat, dia pun melepaskan rangkulan suaminya dan melangkah menuju kamarnya.


Hap

__ADS_1


Izzam kembali merangkul istrinya dan berjalan menuju kamar.


"Mas, tunggu! aku ingin bicara." Tami menghampiri, namun Izzam tak menghentikan langkahnya, dia terus berjalan sambil menggandeng istrinya.


"Bicara saja sama Aunte Rahma, nanti dia akan menyampaikan padaku." Aunte Rahmi adalah sekretaris di rumah itu, dia yang mencatat keluar masuknya laporan belanja.


"Bang, temui saja dia, aku tidak apa-apa kok."


"Tidak, aku mau nemenin kamu dan nemenin pewaris kerajaanku oke? jangan memaksa, ayo!"


Ceklek


Izzam pun membukakan pintu, Mita sangat istimewa, dia bagaikan Ratu dadakan yang semua keperluannya di sediakan di depan kamar, bahkan meja makan pun tersedia di depan kamar.


Malam menunjukakan jam 8.30 malam.


Tok tok tok


"Tuan besar ada tamu untuk Non Mita."


"Tamu? siapa Bi?" Izzam yang saat ini sedang memeluk istrinya yang sedang tidur pun heran, tamu malam-malam?


"Tidak tau Tuan, mereka menunggu di ruang tamu."


"Baik Bi."


"Mereka? sayang, ada tamu untukmu, ayo bangun!"


"Mmmmmm, ngantuk Bang." Mita malah semakin membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya yang berbulu, baginya itu adalah candunya, selama hamil dia akan susah tidur kalau tidak demikian, begitu juga Izzam sebelum tidur dia akan menempelkan telapak tangan istrinya di pipi atau pun di hidungnya. sama-sama ngidam aneh.


"Aunte...."


"Iya Tuan besar." Aunte slalu ada di depan kamar sebelum jam 10 malam.


"Tolong tanyakan, siapa tamunya, kalau tidak penting kembali besok, bumil,sedang istirahat."


"baik Tuan Besar.


Tap tap tap


Tap tap tap


"Tuan besar, katanya tuan Hanan adik ipar Tuan beserta kedua orang tuanya."


"Hah? Hanan, orang tua? ada apa ya, apa mereka akan melamar? Sayang, ayo bangun, orang tua Hanan datang sayang"


"Hanan? bersama orang tua? uaaaaah, baiklah," Mita pun bangun dengan sempoyongan menuju kamar mandi untuk cuci muka.


"Aunte, tolong panggilkan Zila." Ucap Izzam, karena dia yakin pasti ini bersangkutan dengan Zila.


"Baik Nyonya Besar."


Tap tap tap


Tok tok tok


"Non Zila, di panggil Tuan besar ke bawah."


"Iya Aunte," Ada apa kakak memanggilku


Gumam Zila.


Dia pun mengambil kerudung dan juga cadarnya. Zila menuruni tangga yang megah dan mewah dengan sangat anggun.


Tok tok tok


"Kakak, ada apa?"


Ceklek


"Kamu diam di sini ya, di luar ada Hanan dan keluarga. Mungkin saja mau ngelamar kamu."


"Hanan? mau apa lagi orang itu ya."


Izzam dan Mita pun keluar beriringan.


"Assalamualaikum Kakak ipar."

__ADS_1


Hanan dan krang tuanya lun berdiri dan bersalaman dengan Izzam.sementara Mita hanya bersalaman dengan mamah Hanan.


"Apa kabar Nan? kok kamu bisa sampai sini?" tanya Izzam heran, padahal dia tidak tau alamat baru ini.


"Tadi kami ke rumah lama, terus di kasih tau sama tetangga di sana, apalagi Kak ipar kan terkenal, nggak sulit lah untuk nemuin alamat Kakak." Hanan cengengesan.


"Ada apa Nan kok mendadak malam-malam begini?"


"Mah ayo jelasin." Ucap Hanan pada mamanya.


"Ini Pak, anak kami siang malam slalu merengek minta kawin haha."


"Mamah ah, ada -ada aja." Hanan tersipu malu


"Iya be ar kan? jadi nggak nih?" Tambah papa Hanan lagi.


"Iya Pah, silahkan, tapi jangan malu-maluin Hanan juga kale mah hihi.


"Emang kenapa bu?" Mita pun jadi penasaran, walau di lubuk hatinya sudah menduga, ini pasti lamaran.


"Hanan mau melamar Zila adik Kamu, iya kan Nan, adik ya?"


"Iya mamah."


"Oooh...hahahah. Sebentar, Hanan gimana kalau dia tidak mau, atau mungkin saja dia sudah di lamar orang lain?" Goda Mita, karena Mita tau Hanan sangat berharap banyak.


"Kakak, jangan nakutin ah, tanyain aja dulu."


Hanan tampak sedikit kesal, hihi.


"Baiklah! Aunte tolong panggilkan Zila di kamar Utama ya." Pelayanan itu pun pergi melaksanakan perintah.


Tap tap tap.


Orang tua Hanan pun terlihat terkesima melihat gadis mungil yang sedang berjalan ke arah mereka. Zila menunduk tanda hormat dan,duduk di samping Kakaknya. dia hanya menunduk tanpa menatap Hanan atau Orang tua Hanan.


"Sayang, kamu pasti sudah menduga kan? kedatangan Hanan ke sini?" Ucap Mita pada adiknya, sambil merangkul pundak adiknya.


"Menduga? ada apa Kak?" Zila pura-pura bego lagi.


Iiiiih Gemes banget ma ini cewe. pengen cepat-cepat di halalin aja deh.


Gumam Hanan, nakal.


"Hanan dan keluarga mau ngelamar kamu." ucap Izzam lagi.


"Hah?" Zila pun mengangkat wajahnya dan replek menatap wajah tampan Hanan yang tersenyum sangat manis.


Astagfirullah,


Zila beristigfar ketika melihat makhluk sempurna ciptaanNYA itu menatapnya intens.


"Nagaimana Zil? apa,kau menerimanya?"


"Kak, Zila masih sekolah satu tahun lagi, trus pengen kuliah juga."


"Zila, menikahkan masih bisa sambil kuliah kok, aku akan biayain semua kuliahmu nanti mau S berapa pun aku siap." Hanan sungguh tergila-gila ni ama Zila.


"Tali kalau Zila masih mondok nggak bisa menikah Tuan!" jawab Zila lagi.


"Aku akan menunggu, asal kita tunangan dulu ya? Mau ya, please...." Hanan pin duduk di lantai dan memohon dengan jarak yang lumayan jauh.


Orang tua Hanan pun tersenyum begitu juga Izzam, selama ini,Hanan adalah orang yang sedikit angkuh, apalagi masa lalunya yang kelam, dia sangat arogan beberapa tahun lalu.


Nanti ada ceritanya lagi Part Zila dan Hanan ya, di judul berbeda.


"Zila....Tidak..." Zila menggantung kalimatnya


"Zila mohon, aku mohon." Hanan terus memohon.


Zila pun menatap wajah kakaknya.


"Zila Tidak..."


Dia menarik nafas dalam. Sementara Hanan terlihat lunglai di lantai.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2