
Setelah seminggu berlalu, akhirnya Fasha pun kembali ke indonesia, dia sangat bahagia, akhirnya dia mendapatkan ramuan yang bisa mematikan syaraf-syaraf dan membuat orang seakan-akan mati dalam waktu 1 jam, itu yang di bilang tukang obat tersebut, tapi obat ini harus bekerja berdampingan dengan obat bius.
Fasha pun segera ke rumah sakit untuk mengatur siasat, Mita meminta perawat mematikan CCTV selama dia sadar dan mengatur siasat.
"Kita harus merencanakannya dengan matang. tidak boleh ada kesalahan," ucap Mita
"Tapi bagaimana dengan Zila?" Ucap Fasha lagi.
"Rahasiakan semuanya tentang rancana kita."
"Baiklah!"
Mita pun menghubungi manager yang ada di luar kota, dia menjelaskan tentang situasi dirinya yang hampir di bunuh Tami, karena Mita pernah menolong istri manager itu saat operasi kanker dan membayar biaya operasinya, manager itu pun berjanji akan menolongnya kalau suatu saat nanti di butuhkan. Setelah semua rencana tersusun rapi hari yang di tunggu pun datang.
"Fasha, aku bingung, perusahaanku yang ada di luar kota sedang bermasalah, tapi merasa tidak tega untuk meninggalkan Mita."
"Kakak Ipar, kau tenang saja aku akan mengurus semuanya di sini, aku sudah mengajukan cuti selama satu bulan untuk menjaga kak Mita sampai siuman, pergilah!"
"Tapi aku merasa tidak tega meninggalkan dia."
"Kakak tenang saja, tidak ada yang lebih baik mengurusnya kecuali aku, adiknya."
Semua berjalan dengan baik, dan Izzam pun percaya, selama satu minggu ini Izzam belum memberitahukan pada Ayana, bahwa Mita sedang koma. Dia pun berencana memberitahukan semuanya.
"Aku akan membawa Ayana kesini, mungkin dia perlu tau, bahwa Umminya sedang sakit."
"Kak Ipar, sebaiknya jangan, bagaimana kalau dia terus merengek minta diam disini, aku bisa repot mengurusnya." Fasha sangat pintar bersandiwara.
"Benar juga, baiklah, semua ku serahkan padamu, aku akan segera kembali."
Ke esokan harinya izzam pun berangkat keluar kota, untuk menyelesaikan urusannya di perusahaan cabang.
"Kak Mita," Fasha membangunkan kakaknya, tepat jam 7 pagi.
"Fasha, kita harus siap-siap melaksanakan rencana kita."
"Iya kak, tapi mengapa kakak lakukan ini?"
__ADS_1
"Aku takut tidak bisa bertahan dikemudian hari, aku takut mati sia-sia sedang dosaku masih manumpuk."
"Tapi apakah kakak sudah bicara dengan Zila, dia kan lebih tsu agama?"
"Tidak! jangan, aku tidak ingin dia terganggu dengan masalah ini, biarkan dia tenang belajar disana, nanti setelah aku ke sana, aku akan menjelaskannya."
"Baiklah kalau itu mau Kakak!"
💐💐💐
"Mita....mengapa kau pergi begitu cepat, Mita.........." Suara Izzam memecah keheningan siang itu, dia meraung-raung seakan-akan langit sudah runtuh. Izzam terus memeluk tanah basah itu, Mita sudah meninggal, itu yang Izzam , Ayana, Lili dan juga Tami tau. Sedang Tami tampak terlihat tersenyum puasa.
"Akhirnya, kau mati juga wanita jal**ng," Ucap nya dalam hati.
"Ummi.....Ummi....jangan tinggalkan Ayana Mi..." Begitu juga Ayana, dia terus saja menangis dan menepuk-nepuk gundukan tanah yang basah itu. Sementara Lili sedang menggendong anaknya juga sedang terisak, walau tak sehisteris Izzam dan Ayana, namun dia benar-benar terlihat sedih. Sementara dsri balik pepohonan, sepasang mata memandang tajam ke arah mereka juga dengan bercucuran air mata.
"Abang, Ayana, maafkan aku, aku harus melakukan ini, aku takut lengah dan mati sia-sia, biarlah aku mengalah, karena kalau aku minta cerai itu pasti tidak mungkin."
Mita pun berjalan menjauh dari pemakaman itu. Sementara Fasha sudah tau apa yang harus dia lakukan, dia harus melindungi Ayana dan Lili, juga perusahaan Izzam yang mungkin saja tidak di perdulikan oleh Izzam lagi karena terlalu sakit.
.
"Paman! tidak mau! aku tidak mau pulang, aku akan menemani Ummi di sini sampai Ummi bangun, aku tidak mau hik hik hik."
"Dia akan lebih menderita kalau kau begini Ayana? dia akan tenang kalau Ayana bahagia."
"Benarkah, tapi mengapa Ummi meninggalkan kami?"
"Ini takdir Tuhan Ayana, kita tidak boleh marah atas, takdir tuhan." Rayu Fasha lagi.
"Iya Ayana, ayo kita pulang! lagian kan masih ada Mamah!" Tami pun membujuk Ayana agar mau pulang, sementara Lili sudah masuk kedalam mobil bersama bayinya
"Tidak! Mamah tidak perduli pada kami! Hanya Ummi yang perduli, hik hik hik."
Ayana menangis dan menangis, hingga Fasha pun terpaksa mengangkat gadis mungil itu naik mobil. Fasha pun kembali dan menggandeng tubuh Izzam yang terlihat lemah.
"Kak Ipar, ayo kita pulang! kita harus melakukan tahlilan malam ini."
__ADS_1
Izzam pun berjalan sambil di gandeng Fasha. Fasha pun masuk keruang kemudi dan menjalankan mobil mewah Izzam. di sepanjang jalan hanya isakan tangis yang terdengar. Fasha lun bingung harus mulai dari mana. Tampak dari kaca spion Tami terlihat tersenyum, senyum liciknya yang membuat Fasha yakin, wanita ini berdarah dingin dan akan melakukan apa pun untuk menyingkirkan orang-orang yang dia kira menghalangi jalannya. Sesampainya di rumah, semua krang sudah terlihat turun kecuali Izzam, dia tampak tidak ingin keluar dari mobil itu.
"Bawa aku ke rumah Mita!"
Deg.
Fasha kaget, sedang di sana ada Mita yang belum pergi keluar negri, dia pun mencari akal. Dia pun menghubungi nomor Mita tanpa load speaker.
Setelah tersambung dia membiarkan Hp itu berbunyi. Dan Fasha pun berbicara dengan Izzam dengan suara yang di lantangkan.
"Apakah Kakak akan ke rumah Kak Mita sekarang! apakah akan bermalam di sana?"
"Bawa saja aku ke sana, selebihnya nanti ku pikirkan."
"Baik Kakak, kita akan ke rumah Kak Mita sekarang."
Di perjalanan.
"Bagaimana dengan perusahaan, apakah Kakak akan mengambil cuti? kalau Kakak tidak keberatan, aku akan membantu Kakak, sampai Kakak pulih."
"Baiklah, kau saja yang ke kantor mulai besok, aku tidak ingin kemana-mana dulu, tahlilan malam ini di rumah Mita saja, suruh Bu Inah menyiapkan makanannya dan semua keperluannya, aku akan menyiapkan uang saja."
"Baik Kak, Tapi bagaimana dengan Tami, aku dengar saat di rumah sakit, dia sempat ingin membunuh Kak Mita?"
"Aku akan mengurusnya, kau tenang saja."
"Aku takut dia akan ke kantor dan membuat kekacauan, atau mungkin bisa saja mengusir aku di sana Kak?"
"Aku tau itu, aku akan melarangnya datang ke kantor"
Akhirnya mereka pun sampai di rumah yang Asri itu, Izzam turun dan masuk ke rumah, sedang Fasha segera ke rumah Bu Inah untuk memesan makanan.
"Bu, bisa bicara sebentar?" Bu Inah lun keluar dan duduk di teras rumah.
"Begini bu, malam ini akan di adakan tahlilan di rumah kami, bisakah ibu menyediakan masakan 100 porsi buat tamu."" Oh tentu bisa, saya akan segera menyiapkan."
"ku ambil uang dulu Bu ya, sama Kak ipar."
__ADS_1
Fasha pun pamit pulang dan menemui Izzam. Untuk menyelesaikan pembayaran catering.
BERSAMBUNG...