
Hanan pun di bawa ke rumah sakit terdekat.
"Sus, bagaimana suami saya?" Zila sangat khawatir dengan kondisi Hanan yang tidak bangun dari pingsannya.
"Dia keracunan makanan Mbak, sebelumnya dia ada makan apa ya?" Tanya suster itu.
"Dia memakan rujak sus,"
"Apa ada anggota keluarga yang memakan itu?"
"Tidak ada, hanya dia yang sempat memakannya."
Jawab Mamahnya.
Hanan pun sudah di pasangkan infus dan obat penghambat racun.
...
...
...
"Rasain loe karung beras, pasti sekarang udah ke guguran tu cewek, hahahahaha. puas gue." Ucap Sinta yang lagi makan di warung bakso bersama Lili.
"Maksud nya apaan sih Sin? aku nggak paham nih." Lili yang belum tau ceritanya jadi bingung.
"Aku tadi ke rumah Nicol, mamahnya bilang, mereka lagi keluar Negeri, tapi aku nggak percaya, aku dengar, istrinya lagi hamil muda, aku kirimin aja rujak bertabur racun pelemah kandungan, gue mau di kibulin? nggak bisa dooong."
Sinta terlihat sangat bangga karena telah mengirim racun buat Zila.
"Lho, emang bener kok mereka ke Yaman udah sebulan yang lalu lho!" Lili kan belum tau kalau Zila udah balik.
"Masa sih? dari mana kamu tau?" Sinta malah terlihat nggak percaya banget gitu.
"Ya tau lah, wong istri nya itu Bibi tiri aku, kakak ipar Hanan itu mamah tiriku tau!" ucap Lili sambil terus menghabiskan baksonya.
"Ha? jadi kau sudah bertemu dengan Istri Nicol? dan Nicol tau kalau Loe ngandung anaknya?"
Sinta kaget bukan kepalang, bekal hancur deh rencananya memeras mamah Hanan. duluan Lili kale..
"Iya...udah sebulan yang lalu kami ketemu, aku kaget, dia juga kaget, parahnya ni, istri papahku kayaknya udah tau duluan, dan sengaja mempertemukan aku saat acara makan malam."
Lili pun bercerita panjang lebar saat kejadian malam itu, saat Hanan bonyok dan Zila hilang.
"Loe nggak cerita ke gue?" Protes Sinta.
"Mana aku sempet cerita begituan, aku juga galau."
__ADS_1
"Sekarang bagaimana nih? siapa yang makan rujaknya ya?" Sinta jadi bingung sendiri.
"Jangan jangan Mamah Nicol, trus kalau dia nggak kuat dan meninggal bagaimana,? pasti akan di cari cari tu tukang rujak." Sinta terlihat panik.
"Emang ketahuan ya, rujaknya beli di mana?" Sahut Lili.
"Oh iya ya, santai aja lagi, kan nggak ada yang tau, tapi bagaimana kalau yang ngantar di cari in, kan di halaman Nicol banyak CCTV?" tambah Sinta.
"Ah bikin panik aja loe, udah ah, aku mau pulang, bikin kepalaku pusing aja, biar aku yang traktir."
Lili pun berdiri dan ke kasir membayar Bakso dan jus yabg telah mereka makan.
🌻
🌻
🌻
"Sus, bagaimana dengan Babangku,Sus?",Zila terus memegangi tangan Hanan tanpa menjauh sedikit pun.
." Makan dulu nak! ini sudah papah belikan, gado gado, kamu kan nggak suka makanan yang pake Ikan?" Papah membujuk Zila.
"Nggak Pah, sebelum Babang siuman Zila nggak akan makan." Air matanya kembali menetes.
"Sayang, kasian bayi kamu, dia pasti keleparan." Bujuk Mamah juga.
"Ya makan Nak, dia akan menyerap Nutrisi dari apa yang kamu makan." balas mamah.
"Sayaaaang....uaaaah, pusing..."
"Babang... udah bangun? (alhamdulillh)" serentak.
"Bang, aku takut sekali, udah lebih 5 jam nggak bangun bangun hik hik hik, Zila nggak mau janda Bang hik hik hik." Zila memeluk tubuh Hanan erat dan terus menangis. Hanan pun tersenyum mendengar pernyataan Zila yang polos.
"Kalau nggak mau janda, ya nikah lagi." Jawab Hanan santai, dia jadi seger kembali saat merasakan pelukan kasih sayang dari istrinya. Dan mencandainya.
"Babang! nggak asyik ah." Zila pun melepaskan pelukannya."
"Makan dulu ayo! Hanan udah bangun tuh!" Ucap Mamah.
Hap
Hanan kembali menarik Zila yang berdiri ingin menjauh.
"Nggak Mah, udah kenyang." Zila terlihat merajuk.
" Mah, sini, biar aku suapin." Hanan pun duduk.
__ADS_1
"Au...",Dia merasakan kepalanya mau pecah, sakit luar biasa
" Ada apa Nan?" Tanya Papah.
Sementara Zila hanya menatap wajah suaminya tanpa berkedip.
"Nggak pah, aku seperti di tusuk panah oleh tatapan menantumu itu hahahahaha."
Hanan bercanda lagi, padahal kepalanya sangat sakit.
Papah dan mamahnya pun,tersenyum.
"Ini, Nan." gado gado Zila pun di ambil Hanan.
"Ayo sayang, kasian baby kita kelaparan, makan dulu!" Hanan menyodorkan Sendok ke mulut Zila.
"Nggak, udah kenyang."
"Sayaaaang, apa kamu mau aku mati beneren heh, gara gara mikiran kamu yang nggak makan?"
"Tapi Babang janji, jangan ngomong gitu lagi. aku bener bener takut tadi Bang."
"Iya sayang.
Karena mereka di ruangan Vip, Zila pun membuka cadarnya dan mulai menyuap gado gado yang di pegang Hanan.
"Ini apaan sih? yang sakit siapaaa? yang di layanin siapa, hihi.", Ucap Hanan menggumam sendiri.
" Nggak ikhlas ya?" Tanya Zila tiba tiba.
"Kok ngomong gitu sih, sini! Mamah itu di pintu ada apa?"
Cup
Kecupan kilat nempel di Bi bir Zila lembut, ketika mamah dan papahnya sama sama tertipu oleh tipuan Hanan yang menuntun mereka menatap pintu..hahahaha.
"Babaaaaang" pekik Zila.
"Hahaha." Hanan tertawa puas.
mamah dan papahnya pun baru sadar.
"Dasar loe Bocil hahaha." ucap papah lagi sambil tertawa.
Sedang mamahnya pun tersenyum.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
like like komen pleasee