Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Meminta untuk di Pinang


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, kini saatnya mereka akan pulang ke Indonesia untuk liburan puasa Ramadhan. Segala baju dan oleh-oleh sudah siap di kemas. Perasaan Mita tak karuan, banyak hal yang dia khawatirkan kalau ke indonesia. Apakah di akan di penjara karena telah membuat kebohongan, ah dia percayakan saja kepada suaminya.


"Kakak, emch." Zila terlihat bahagia, dia pun berlari-lari kecil dan mencium pipi Kakaknya, tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang menatapnya tajam dan tersenyum sangat manis, seorang lelaki berbaju Kaos celana katun pakai topi pet dan masker, hidungnya yang mancung tak ada gadis yang mampu menolak pesonanya.


"Hay, kenapa kau senyum-senyum.-


" Ssst, jangan berisik, aku lagi menikmati ke indahan bidadariku." Hanan pun menunjuk ke arah Zila yang berada 5 meter di depannya.


"Jadi dia, gadis yang selama 2 tahun kau cari itu?" Hanan hanya mengangguk tanpa menoleh, dia menikmati semua gerak-gerik Zila dari jauh, dia benar-benar jatuh cinta pada gadis yang baru 2 kali di lihatnya itu. Semua berjalan sesuai rencana, Saatnya mereka memilih no kursi masing-masing.


"Lho, kok aku duduk dengan krang lain, aku maunya sama Kak Mita." Ucap Zila saat dia berada di kursi belakang Mita dan Izzam.


"Enak aja, aku sudah di pisahkan 2 tahun, masa aku harus dipisah lagi sekarang, nggak mau doong." Ucap Izzam sambil merangkul tubuh ramping istrinya.


"Kakak,,cuma sebentar kok."


"Nggak, aku takut nanti malah sejajar dengan cowok lain, kayak kamu waktu itu, bisa-bisa bergoncang pesawat kalau aku ngamuk." Ucap Izzam lagi. Zila lun terpaksa cuma manyun, dia pun menghempaskan tubuhnya ke kursinya.


Setttt


Tiba-tiba seorang lelaki duduk di samping Zila, karena Zila emang nggak pernah mau melihat muka orang, dia hanya duduk mengarah ke jendela Pesawat. Lelaki itu adalah Hanan, dia pun tersenyum senang, Hamzah yang duduk di belakangnya pun tersenyum geli melihat tingkat temannya itu. Pesawat pun mulai naik meninggalkan Yaman, semakin tinggi dan menjauh. Hanan pun melepas topi pet dan juga maskernya. Dengan sengaja dia menatap wajah Zila tajam, Zila jadi salah tingkah, walau Zila tak menatap wajah Hanan, namun Zila merasa kalau dia sedang di perhatikan.


"Ehem ehem." Hanan sengaja batuk buatan. namun Zila tetap istiqomah( tak menengok) 😄 menatap jendela.


Hanan tidak sabar lagi melihat reaksi Zila yang sangat cuek, dia pun mendekatkan mulutnya di telinga Zila yang tertutup kerudung.


"Zila sayang!" dengan sekejap dia mengucap itu.


"Hah!?" Zila pun sontak berpaling menatap Hanan.


"Ka-u si-a-pa!?" Tanya Zila heran, 2 tahun silam tentu saja dia tak begitu ingat dengan wajah Hanan.


"Kau melupakanku, ish, calon istri macam apa kau ini?" Tuk. Hanan mencolek jidad Zila dengan telunjuknya sambil tersenyum.


"Apa maksudmu? aki tidak mengenalmu?" Ucap Zila, walau ada keraguan, dlam hati memang dia seperti mengingat sesuatu, jangan-jangan?


Zila menutup mulutnya, namun dia kembali cuek dan menatap jendela.


Akhirnya ku menemukanmu


Saat hati ini mulai merapuh


Akhirnya ku menemukanmu


Saat raga ini ingin berlabuh

__ADS_1


Ku berharap engkau lah


Jawaban sgala risau hatiku


Dan biarkan diriku


Mencintaimu hingga ujung usiaku


Tiba-tiba lagu itu terdengar jelas di telinga Zila.


Zila tetap Cuek, namun semakin lama lagu iti semakin merasuk hati.


Krak


Zila pun menoleh.


Seeeet


Pelan tapi pasti seketika tangan Hanan yang memegangi Headset yang sudah dari tadi menempelkannya di telinga Zila, Spontan nempel di pipi Zila.


"Au," Zila pun kaget.


"Eh, maaf, bukan salahku!" Ucap Hanan sambil menarik tangannya, namun dengan sengaja menggereknya di pipi Zila seakan menjadi elusan yang lembut. Hanan sangat nakal, hihi.


"Hey, kau? ish," Zila kehabisan kata-kata untuk memarahi lelaki di sampingnya itu. Zila merasa tidak betah, dia pun punya strategi untuk menjauh dari lelaki itu, Zila sangat takut, kalau kejadian 2 tahun silam terulang lagi.


"Mau ngomong sesuatu ya sama aku, kaya di film-film gitu, udah di sini aja ngomongnya nggak papa."


Ujarnya lagi bikin greget, Zila pun tak menolak ketampanan Pria itu, saat tak sengaja menatap wajahnya, hatinya berdesir, Zila hanya wanita biasa yang mencoba menahan diri. Sementata Izzam sengaja mengajak Mita terus berbicara macam-macam, agar pembicaraan Zila dan Hanan tidak terdengar.


"Permisi, cepat aku mau kebelakang!" Zila semakin kesal di buatnya.


"Baiklah." Hanan lun berdiri dan memberi jalan. Zila sebenarnya pengen ke toilet beneran, dia pun menuju belakang.


Set


Set


Set


Selesai pipis, Zila pun keluar.


Hap


Tangan Zila di pegang seseorang. Hanan, tentu saja dia, mau siapa lagi.

__ADS_1


"Hey, lepaskan!" Pekik pelan Zila, dia kaget.


"Tolong terima aku! aku sudah berdo'a siang dan malam untuk bisa menjadi takdirmu, tolong." Bujuk Hanan sambil memohon pada Zila. Zila pun jadi bingung, Hanan pun berdiri dan tidak akan membiarkan Zila melewatinya.


"Hups, kau ini terbuat dari apa? aku ini masih sekolah Tuan! masih kelas 2 Aliayah, masih 1 tahun lagi, belum lagi kuliahnya 4 tahun, apa Tuan mau menunggu selama itu?" Zila sengaja berucap itu, agar Hanan tau, berama lama lagi dia harus menunggu.


"Aku akan menunggu, meski harus menunggu berapa pun, aku akan menunggu."


Dasar dodol, Hanan benar-benar cinta mati.


Bruk


"Au." Tiba-tiba pesawat Oleng 😁 sehingga Zila pun menabrak tubuh Hanan, kesempatan sekali ini, Hanan pun memeluk erat tubuh Zila dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya berpegangan pada dinding. Goncangan tiba-tiba karena gangguan cuaca. Sesaat Zila tak mampu berbuat apa-apa, Zila pun menengadah menatap lelaki yang lebih tinggi 2 jengkal di atasnya. Tampan sekali, hati Zila tak menolak ketampanan itu.


"Hey, jangan lama-lama menatapku, nanti kau jatuh cinta padaku." Ucap Hanan tiba-tiba. Goncangan itu sudah berhenti. Zila pun salah tingkah dan melerai pelukan Hanan, namun Hanan tak melepasnya.


"Tuan mohon, lepaskan aku!" Ucap Zila lagi.


"Tidak!" dengan tegas Hanan menolak.


"Baiklah, kalau kau serius, bicaralah pada Kakakku." Zila merasa pasrah.


"Apa? jadi kau menyuruhku meminangmu? benarkah?" Hanan tampak gembira sekali.


"Harus bagaimana lagi, aku tak mau terjebak berdiri disini berpuluh-puluh jam." Ucapnya sambil menunduk.


"Terimakasih, Cup." Hanan mengecup kepala Zila yang di lapisi kerudung.


"Hey, kau kurang ajar tuan." Zila sangat jesal dan berjalan menjauh tergesa-gesak.


Tap


Tap


Tap


Zila pun keluar menuju kursinya, di ikuti Hanan yang berjarak cukup jauh dari belakang. Tapi Eeeet.


"Kak Ipar, Kakak di belakang, saya mau dekat Kak Mita." Zila meminta kursi Kakaknya.


"Ho?" Mita pun melongo begitu juga Izzam. Izzam kan slalu menggenggam tangan Mita darii tadi, mesra amat.


"Tidak bisa!" Ucap Izzam ketus.


"Ada apa Zil, Kok tiba-tiba mau pindah?"

__ADS_1


"Tuh" Zila memanyumkan bibirnya menatap Hanan, sementara Hanan pura-pura tidak tau dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berjalan santai menuju kursinya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2