Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Tekanan Batin


__ADS_3

"Sebelum kami menikah, dia sudah menikah dan mempunyai dua anak, perjalanan yang panjang, sampai akhirnya istri tuanya pernah memberiku racun saat aku mengandung 7 bulan, sampai akhirnya aku keguguran."


Deg.


Izzam terdiam.


Benarkah? apakah ada kisah yang tidak ku ketahui?


Batin Izzam


"Benarkah? mengapa kau mau menikah dengannya? bukankah dia sudah mempunyai istri?"


"Mereka menikah hanya formalitas, ah sudahlah, itu masa lalu, maaf aku jadi sedikit curhat."


"Aku ingin tau lebih banyak tentangmu, mengapa istri tuanya meracuni mu? bukankah dia mengizinkan suaminya untuk menikahi mu?"


"Maaf, hanya itu yang bisa ku ceritakan, aku bukanlah wanita sempurna, aku tidak pandai tentang agama, aku hanya wanita yang banyak kekurangan, adikku lah yang sering membimbingku."


"Secara agama, bukankah kalian sudah bercerai? karena tidak di beri nafkah selama bertahun-tahun, lalu mengapa kau tidak coba membuka hatimu?"


"Entahlah Tuan, kehidupanku sangat rumit, aku tidak ingin lagi terjebak dengan suasana yang serumit itu, oh ya Tuan, mengapa istri Tuan meninggalkan Tuan?"


"Aku tidak tau, dia pergi begitu saja, tanpa menjelaskan apa pun."


"Oh, maaf Tuan, saya lancang."


Mereka pun sampai di Apartemen.


"Terimakasih banyak Tuan."


"Mita, jangan panggil aku Tuan, panggil saja Emre atau Bang Em," Ujar nya lagi.


"Ah, terasa tidak pantas Tuan, bagaimana kalau Mas saja, lebih umum."


"Terserah kau saja, tapi tolong pikirkan lagi tentang penawaran ku tadi, maukah kau jadi istriku?"


"Aku butuh waktu Tuan, maaf, permisi."


Mita pun berjalan duluan menuju Apartemennya, sementara Izzam masih terlihat duduk di kursi kemudinya. Dan dia menghubungi seseorang.


Tampak Pak Bambang sedang santai duduk di kursi kerjanya saat Hpnya bergetar.


Dreeet dreeeet dreet


("Pa Bambang, tolong selidiki Tami, sepertinya keguguran Mita 2 thun silam karena olah nya, kau selidiki dia atau suruh orang untuk mengorek keterangan darinya.")


("Baik Tuan")


Tut tut tut


💐💐💐


Indonesia 16.00


"Qiara sayang...ayo ikut Oma." Tami yang baru datang langsung menggendong Qiara yang sedang bermain di halaman.


"Mah, kapan datang? Ayana tampak senang melihat Mamahnya datang, hubungan Ayana dan Tami tampak lebih baik, karena Tami sering bermalam di rumah Mita untuk mendekati Izzam sebelumnya.


"Baru aja Nak, Kak Lili mana?"


"Pergi Mi, katanya mau rame-rame malam mingguan."

__ADS_1


"Oh, Mama? mari masuk Mah?" Ahyar yang baru dari dapur sambil megang dodot Qiara pun salim dengan mertuanya.


"Kamu nggak pergi sama Lili?"


"Nggak Mah, kasian Qiara kalau harus di tinggal, kalau di bawa malam-malam pun, takut kalau sakit."


"Kok kamu nggak ngelarang Lili pergi?"


"Sudah Mah, Kak Lili memang bandel, mana mau dia dengerin kak Ahyar!" Jawab Ayana.


"Kalau Papah gimana? apa ada pulang ke rumah?"


"Udah beberapa bulan Papah nggak ada pulang Mah, katanya sibuk ngurus perusahaan di luar kota."


"Perusahaan yang mana Ayana? biar kita susul ke sana!"


"Nggak tau Mah, perusahaan Papah kan banyak."


"Kamu bisa tanya Om Fasha, pasti dia tau."


"Om fasha aja bingung Papah ada di mana sekarang!"


"Apa? jadi Fasha nggak tau juga? Aneh?"


"Ahyar, apa Papah mu pernah menelpon? atau Vc?"


"Pernah, cuma di dalam kamar aja, jadi tidak kelihatan alam sekitarnya."


"Ayana pernah ko Mi, Papah VC di atas gedung, dan sekelilingnya hanya gedung-gedung kayak nggak ada pohon gitu."


"Coba sekarang Ayana Vc tapi kamera belakang aja, biar Mamah lihat Papah ada di mana"


"Baik Mi!"


("Ada apa sayang?")


Izzam tampak sedang duduk di Balkon Apartemennya.


("Pah, mau liat sekeliling Papah dong!")


("Emang kenapa sayang?") Izzam tak curiga sedikit pun tentang keinginan Ayana.


("Mau liat aja, Papah sedang di mana?")


("Emang Ayana bisa nebak, lihat ini....")


Izzam pun memutar kameranya, Tami sangat terkejut." Tami pun meng-kode Ayana untuk mengakhiri telpon.


("Udah ya Pah, assalamualaikum.") Izzam tampak bingung dan menjawab salam karena sudah terlanjur di putus.


"Ayana, Papah mu sedang berapa di timur tengah Nak!"


"Di mana itu Mah?"


"Di Arab Nak."


"Apa? masa Papah nggak ngajak Ayana ke sana?" Ayana tampak kesal dan cemberut.


"Ya udah, sementara Mamah akan tinggal disini, tapi jangan bilang Papah ya, nanti di marahin."


Ayana pun senang dan memeluk Mamahnya.

__ADS_1


"Oke mah."


"Sekarang Mamah mau ke kantor dulu ya, nanti Mamah akan mengambil baju dulu, baru ke sini lagi ya!"


"Baik Mah."


Sementara di kantor Tami, Pak Bambang sudah mendapatkan seseorang yang pintar bersilat lidah, dan akan mengorek keterangan dari Tami. Apakah ke guguran Mita beberapa tahun silam adalah olah Tami.


"Ingat! kamu harus bisa mengorek keterangan dari Tami, kau bisa saja curhat pada dia tentang masa lalu mu, kau cerita saja yang membuat Tami pun akan bercerita banyak padamu, kau mengerti!"


"Baik Tuan." Susi pun di persilahkan pergi meninggalkan ruangan Pak Bambang.


Tap


Tap


Tap


"Susi! apa kau karyawan baru itu?" Tami sudah tiba di kantor dan berhenti di meja Susi yang ada di depan ruangan Tami.


"Iya Bu! ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong rapikan berkas saya yang ada di lemari dalam!"


"Baik Bu!" Ini kesempatan Susi untuk melancarkan aksinya. Dia pun mengiringi Tami masuk keruangan nya.


"Lemari yang di pojok sana ya! setelah selesai di sana baru yang di atas meja ini!"


"Baik Bu!" Susi pun membongkar semua berkas dan menyusunnya.


Setelah 30 menit berlalu, Susi berpura-pura terisak.


"Hik hik hik."


"Susi, ada apa? apa kau tidak suka ku suruh?"


"Tidak Bu, saya teringat seseorang, hik hik hik."


"Seseorang? apa dia pacarmu?"


"Iya Bu, maaf." Susi pun meneruskan pekerjaannya.


"Emang kenapa dengan pacarmu?"


"Maaf Bu, saya lancang bercerita masalah Pribadi saya. maaf." Untuk hari ini mungkin cukup begitu, Batin Susi, dia akan berpura-pura pelan-pelan saja.


"Baiklah, kalau kau tak ingin bercerita lebih banyak, kalau kau kurang sehat, istirahat saja."


"Tidak apa-apa Bu, saya akan menyelesaikan semuanya." Susi pun menyapu debu yang nempel, tapi terlihat dia mengerjakannya dengan di lambat-lambatkan. Seperti bermalas-malasan.


Jam menunjukkan jam 16.30 sore jam pulang pun tiba.


"Maaf Bu, karena banyak debu dan ada beberapa yang terpisah-pisah, jadi saya sambung besok ya Bu!"


"Baiklah!" Susi pun pamit pulang. Tami pun terlihat keluar dari ruangannya menuju parkiran.


"Fasha!" Di parkiran Tami melihat Fasha yang memasuki Mobil, dia pun memanggil.


"Ada apa Mbak?"


"Malam ini aku akan bermalam di rumah kalian, tapi jangan kasih tau Izzam, aku ingin menemani Ayana."

__ADS_1


"Oh, baiklah." Fasha pun terlihat menutup pintu dan pergi.


BERSAMBUNG....


__ADS_2