
Hari ini Zila dan keluarga akan mencarikan sekolah baru buat Zila, Zila sangat terlihat sumringah karena sangat bahagia, akhirnya cita citanya pun akan tercapai berkat doa dan kaka iparnya yang sangat dermawan. Dia slalu berdoa,agar usaha kakaknya akan terus maju seumur hidupnya, rezki yang di bagi-bagi bagi orang yang menuntut ilmu itu takkan pernah ada habisnya, malah tambah melimpah.
"Pengennya sekolah di pesantren Dar-il musthofa kak." ucap Zila sambil menatap muka kakaknya.
"Itu pesantren atau apa?" Tanya Mita penasaran.
"Pesantrennya yang didirikan habib Umar Bin hafidz kak."
"Oh ya! Ayo kita ke sana?" Mita pun antusias mendengar Habib Umar.
"Tapi kak, bayarnya mahal" Zila terlihat murung.
"Emang berapa?" Izzam pun ikut nimbrung.
" Kalau nggak salah sekarang 45 juta kak,di awal,bulanannya sekitar 1.5 juta kurang lebih." ucap Zila sedikit memelankan suaranya.
"Ah itu nggak masalah, kakakmu sekarang jadi orang kaya,dia pelit amat, masa aku kasih uang 1 M belum dibelanjain?" ucap Izzam sambil terkekeh.
"Kenapa mesti aku yang bayar? Ini kan abang yang ngizinin Zila sekolah disini." Bela Mita lagi.
Terlihat Ayana sedang tidur nyenyak,tak sengaja mata Izzam menatap wajah putrinya dan ada butiran halus menetes di ujung mata kecilnya.
Izzam pun menyikut Mita dan memberi isyarat dengan mata. Mita pun menengok wajah putri sambungnya itu. Mita merasa bersalah beberapa hari ini dia kurang memperhatikan bumil itu karena sibuk berdebat masalah sekolah Zila.
"Kita makan dulu, sebelum menuju ke pesantren habib umar." ucap Mita.
Mereka pun turun dan mendatangi restauran yang ada dipinggir jalan.
"Ayo sayang!" Mita pun membuka pintu Lili dan meraih tangan putrinya.Lili pun tak menolak.
Mita menebus kesalahannya dengan merangkul erat pundak putri sambungnya itu.
sementara tangan sebelahnya sudah dikuasai Ayana yang tak mau lepas dari ummi tersayangnya.
"Mau makan apa nak?"ucap Izzam pada Lili.
"Nasi mandi aja pah." Mereka semua pun memesan nasi mandi,mereka bagitu asyik,namun Lili masih sedikit murung.
"Sayang!kamu sakit?" Tanya Mita sambil menyentuh pundaknya.
"Nggak mi." Dia pun melanjutkan makannya.
"Kamu terlihat murung." Izzam pun ikut bertanya.
"Pah..." Akhirnya butiran bening itu gugur lagi setelah dengan susah payah di tahannya.
"Ada apa sayang?" Mita pun merangkul pundak Lili erat.
__ADS_1
"Maafin Lili Pah, Ummi juga, Lili banyak salah, seandainya Lili jadi anak baik-baik dari awal, tentu sekarang Lili bisa sekolah kesini juga bersama Zila." dia pun menangis sambil di tahan-tahan.
Dia teringat berapa banyak dosa yang ia lakukan, pergaulan bebas, hingga saat ini dia sudah berbadan dua di usia 18 tahun.
"Kalau kamu mau, nanti setelah lahiran kamu bisa ko sekolah lagi, tapi nggak disini, terlalu jauh ninggalin anak." Ucap Mita
"Ini juga salah papah dan mamah, seandainya dari dulu kita mengenal Ummi mu ini, tentu tak seperti ini kejadiannya?" ucap Izzam juga terlihat murung.
"Jangan slahkan takdir, ini semua sudah takdir." jawab Mita
"Lili malu mi, masa sudah punya anak sekolah lagi sih?" Lili pun menghapus air matanya dengan ujung kerudungnya.
"Nggak ada kata terlambat ko Li, ayo dimakan ! biar kita cepat menyelesaikan tugas hari ini mencarikn sekolah untuk Zila!"
Mereka pun menikmati hari itu dengan bahagia.
💐💐💐
Mereka pun sudah terlihat di pesawat menuju indonesia. Zila terlihat ceria dan sering tersenyum sendiri.dia sangat bahagia akhirnya bisa meneruskan cita-citanya.
4 wanita bercadar itu pun tertidur lelap, sedang Izzam membelai Kepala istrinya yang bersandar di pundaknya.
Ya Allah, kenapa aku terlambat menyadari dosa ini.Ternyata seorang wanita malam yang di anggap hina inilah yang menyadarkan hamba. Terimakasih ya Allah.
Bisik hati Izzam, dan akhirnya dia pun ikut tertidur. Tak terasa berapa jam sudah berlalu mereka pun sudah sampai ke Indonesia dwngan selamat. Mereka menelpon taksi online dan memboking sebuah mini bus karena terlalu banyak belanjaan dan juga mereka ingin tempat yang luas.
Sesampainya di pekarangan Rumah Izzam, mereka di kejutkan seseorang sedang duduk santai di kursi teras Rumah.
Bruk
Ternyata Tami mantan istri Izzam. Dia menabrak tubuh Izzam dan memeluk erat tubuh kekar itu. Mita yang melihat pemandangan itu pun berpaling.
"Hey,Tami lepaskan!" Izzam pun melerai tangan Tami kasar.
"Sayang, maafkan aku, aku khilaf Mas, ayo kita rujuk!" Bujuk Tami
"Elleh, khilaf khilaf, kalau khilaf itu sekali, ini malah tidur dengan pria lain berkali-kali" ucap Izzam mengejek.
"Ayo sayang!" Izzam pun merangkul pundak istri mungilnya Mita, dan membawanya berjalan menuju Rumah.
"Mas, tunggu!" Tami masih berusaha meraih tangan kiri Izzam.
"Plak." Izzam menepisnya.
"Aku sudah bilang! setelah pencairan dana 5M itu, kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi." Izzam, pun berjalan kembali sambil tetap merangkul Mita.
"Apa mah? Mamah memeras papah 5 M?keterlaluan." ucap Lili juga tak habis pikir.
__ADS_1
"Kau siapa? tunggu! aku seperti mengenal suaramu, apa kau Lili?"
Krek.
Tami menarik Cadar Lili dan terbelalak.
"Apa-apaan ini? kau Lili! kenapa kau berpakaian seperti ini? apa wanita ****** itu yang mengajarimu?" Tami makin marah melihat penampilan Lili yang di anggapnya seperti karung beras.
"Mah, sudah cukup! baiknya mamah pergi. Bukankah mamah sudah mempunyai uang 5M?buat apa mamah kembali kesini?" Lili pun mempercepat langkahnya menuju rumah mengikuti papahnya yang sudah duluan.
"Lili , tolong mamah nak! Mamah di tipu, uang 5 M itu tidak ada! sudah habis..hik..hik..hik." Tami menangis histeris dia pun berjalan menuju pintu utama.
Dor
Dor
Dor
Dia mengamuk dan menggedor gedor pintu.
"Tami! kurang ajar sekali kau, pergi! jangan ganggu kami, kita sudah berjanji untuk tidak saling bertemu lagi bukan?" Izzam meraih tangan Tami dan menghempaskan nya, sehingga Tami pun tersungkur ke tanah.
"Mas, tolong mas, maafkan aku, aku tidak punya siapa siapa lagi, paling tidak, izinkan aku bekerja di perusahaan mu lagi! "ucap Tami lagi.
"Tidak, pergi kau!" Izzam benar-benar kesal dengan ulah Tami.
Bruk..
Izzam menendang pintu dengan kakinya dan menguncinya.
"Huak...huak..." Mita kembali mual
Tap
Tap
Tap
Izzam tampak baru menaiki tangga. Dan melihat istrinya berlari ke kamar mandi.
"Ada apa sayang ?" Izzam pun mengoleskan minyak kayu putih di punggung Mita.
"Entahlah, aku sangat pusing"
"Ayo kita ke dokter! " Ajak Izzam.
"Nggak usah bang,nanti juga berhenti sendiri, itu mbak Tami biarin aja dia tinggal di rumah ini, nemenin Lili, biar kita pindah rumah." Pinta Mita sambil mengelus-elus dadanya.
__ADS_1
"Nggak! dia sudah dapat bagiannya,buat apa aku mengizinkannya tinggal disini." Jawab Izzam lagi.
BERSAMBUNG.....