
Zila seakan tak mampu lagi menumpu tubuh mungilnya.
BRUK
Zila jatuh dan pingsan di bawah Bonsai yang tumbuh subur.
Sudah berapa lama Zila terbaring di bawah bonsai namun tak ada yang tau, ketika matahari menerpa kulit tangannya, dia pun terbangun.
"Oooh....pusing..." Zila pun duduk dan menatap nasi beserta lauk sudah tumpah di tanah. Zila pun menangis dan telungkup di atas lututnya, dia terisak sehingga tubuhnya pun bergetar hebat.
"Aku harus kuat." Zila pun bangun dan mengambil wadah yang tadi dia bawa, namun dia tidak memunguti ikan dan juga lauk lainnya.
Diam diam Zila pun keluar dari rumah itu.
"Nona...kapan Nona datang?" Waktu Zila datang paman satpam sedang tidak ada di tempat mungkin dia lagi makan siang.
Zila tidak menjawab dan langsung pergi mencari taksi.
"Mau di antar ke mana Nona?" Tanya Sopir.
"Ke taman warna saja pak." Zila memutuskan tidak pulang ke rumah, namun dia memilih pergi ke taman bermain anak anak.
Sesampainya di sana Zila membayar, dan turun mendekati bak sampah.
Bruk
Tempat makan itu di buangnya. Bukankah itu milik Mitaπ.
Zila duduk di bangku panjang dan kembali menangis.
"Tante...kenapa menangis." Seorang anak cewek mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Sayaaang, kamu sama siapa?"
"Sama ummi...tuh." Gadis itu menunjuk seorang wanita yang juga memakai cadar sedang kerepotan menggendong seorang anak laki laki berusia 5 bulan, dan tangan lainnya sedang memegangi gadis mungil berusia 2 tahun. Zila simpatik melihat wanita itu.
"Sini mbak, biar aku bantu." Zila pun berniat mengambil anak laki laki yang di gendongan.
"Oh terimakasih." Wanita itu oun menyerahkan bayinya. Hati Zila sedikit tenang, dia pun membayangkan bagaimana Lili selama ini hidup tanpa suami.
Apakah aku harus berbagi suami?
Lirih hatinya.
"Mbak, ayah mereka kemana? kenapa mbak sendirian? apalagi dengan 3 anak yang masih kecil." Tanya Zila spontan.
"Papahnya lagi kerja, tapi aku sudah terbiasa kok begini, kalau papahnya lagi nggak di rumah." Ucap perempuan itu.
__ADS_1
"Kerja jauh ya mbak?" Tanya Zila lagi.
Wanita itu pun duduk di bangku panjang bersama Zila. Sementara bayi laki laki itu terlihat mengantuk dan tertidur di pangkuan Zila.
"Sebenarnya, ayahnya sering di istri mudanya, mereka baru menikah saat aku baru melahirkan 3 bulan." Ucap wanita itu, ada tetesan air mata yang mulai membasahi cadarnya.
"Oh maaf." Ucap Zila, Hati Zila terasa sakit, entah karena simpatik, atau karena saat ini dia pun sedang terluka.
"Tidak apa apa, awalnya aku hanya pekerja keras dan kami menikah Cinlok gitu. akhirnya aku memutuskan untuk diam di rumah. aku juga baru memakai pakaian Syar i ini ketika saat itu aku sedang gundah. Aku berusaha pasrah dengan takdir tuhan."
"Apakah mbak ikhlas? suami mbak menikah lagi?"
"Aku harus ikhlas, wong wanitanya udah hamil kok, dosa kan kalau aku menolak."
Wanita itu tersenyum getir, terlihat dari sudut matanya.
Zila hanya mengangguk.
"Ikhlas, bagaimana ikhlas itu mbak? kata yang sangat simple namun sangat sulit diterapkan." Tanya Zila.
"Aku berharap hanya Tuhan yang maha memnolak balikkan hati seseorang, aku berharap Dia berpihak padaku, dan memberikan ku hati yang sangat lapang untuk menerima takdirNYA." Wanita itu kembali menyeka matanya yang semakin basah.
"Oooh, maaf mbak, aku harus pulang, udah hampir sore." Zila pun pamit.
π·π·π·
"Mengapa dia tidak mengangkat telponnku?" Ucap Hanan yang terlihat khawatir.
"Aku ke kantor cuma sebentar, trus pulang ke rumah mamah makan siang." Ucap Hanan lahi.
"Assalamualaikum." Ternyata Zila yang baru,masuk dsri gerbang depan.
"Wa alaikumsalam, sayang... kok telpon nggak di angkat?" Tanya Hanan langsung mendekati Zila.
"Udah pulang?" Zila pun salim dan berjalan menuju kamarnya dengan wajah kusut.
"Zila kenapa?" Tanya Mita yang melihat Zila terlihat dingin saat lewat di depannya.
"Kakak, Zila lagi agak pusing, Zila ke kamar dulu." Zila pun ke kamar Hanan mengikuti di belakang.
"Pearl, kamu tadi ke kantor ya? aku ke rumah mamah, maaf kita tidak ketemu." Ucap Hanan.
"Iya Bang, nggak papa." Ucap Zila sambil mencoba memejamkan mata.
"Emang ada apa kamu ke kantor, ada hal penting apa?" Tanya Hanan samnil memeluk tubuh Zila dsri belakang, karena saat ini Zila membelakangi tepi ranjang.
"Hu...." Zila hampir muntah, karena mencium bau tubuh siaminya, namun dia tahan. Dia tidak ingin memberitahukan tentang kehamilannya ini, sebelim hatinya tenang.
__ADS_1
"Hu apa? ada apa?" Tanya Hanan lagi.
"Aku pusing Bang, mau tidur dulu." Zila pun memejamkan matanya. Namun air matanya mulai menetes.
"Baiklah, aku mau mandi dulu ya." Hanan pun mengambil baju ganti dan menuju kamar mandi.
Bang, aku ingin kau jujur
aku ingin kau menceritakan semuanya padaku sendiri.
Zila terus meneteskan air matanya. Hingga akhirnya dia tertidur.
...
...
...
Pagi yang cerah.
"Apa harus pulang hari ini sih Bang, kenapa nggak satu minggu aja di rumah kakak." Ponta Zila.
"Kan semalam janjinya cuma 2 hari sayang, nanti kita bisa ke mari lagi kok." Ucap Hanan.
Zila pun menurut. Setelah pamit sama Ayana, Mita dan Izzam mereka pun pergi meninggalkan kastel.
Sesampainya di rumah, Zila langsung masuk kamar dan kembali berbaring.
"Sayang, makan duku yuk!" Ajak Hanan, karena Zila belum makan pagi.
"Babang saja, aku lagi nggak selwra." Ucapnya.
"Nanti kamu sakit." Ucap Hanan dia pun merangkul tubuh istrinya seperti biasa, memeluknya erat dan menciumi rambut Zila.
"Babang saja, aku lagi nggak enak bada." Jawabnya.
"Oh iya, apa Babang beli in tespak dulu ya?" Ucap nya lagi.
"Nggak usah Bang."
Aku sudah tau hasilnya
Batin Zila
"Kamu kok berubah gini, nggak selera semua, kenapa, kamu sakit apa sayang?" Hanan mengeratkan pelukannya.
Hatiku yang sakit Bang
__ADS_1
Lirih hatinya.
BERSAMBUNG....