
Lili tergesak gesak mencuci muka dan berlari keluar menyusul Mita, dia penasaran seperti apa sih suami karung beras tersebut. kata Ayana sih sangat tampan. itu dalam pikiran Lili.
"Zila, suaminya nggak masuk dulu?" Tanya kak Mita yang melihat Hanan berbalik masuk mobil setelah cipika cipiki.
"Nggak kak, dia mau langsung ke kantor, nanti sore baru bermalam di sini juga." Jawab Zila.
"Mana Suami Zila?",Lili yang baru keluar pun celingukan ke luar.
"Tuh, udah berangkat kerja, jangan dekat dekat nanti di marahin kak Zila lo?" cicit Ayana yang juga ada di depan.
"Yeee, emang nggak ada laki laki lain apa." Sahut Lili siambil kembali masuk menuju meja makan.
"Siapa tau aja, kakak suka, se sra kan Bang Hanan sangat,ganteng, Mmmmmh, so sweet deh sama kak Zila kalau liat tadi, pasti ngiri." Sahut Ayana lagi.
"Eh anak kecil tau apa loe?" ucsp Lili kesel.
"Udah ah, ayo kita makan!" Mita pun menyelang percakapan kakak adik itu.
Izzam sudah duduk manis di dekat meja makan dan menyantap sedikit icip icip lauk yang ada di atas meja.
"Ini Bang, mau lagi?" Mita pun mengambilkan nasi untuk Izzam.
"Ini,aja cukup, siang ini aku mau ke kantor, ada urusan yang harus ku urus. Li, apa dapat kabar dari ibumu? di mana dia tadi malam? kan dia bersamamu, namun tiba tiba ngilang gitu aja." Tanya Izzam penasaran.
"Belum pah, dia belum aktif." Sahut Liki.
Mereka pun makan bersama, sedang Zila menemani Ezra, karena Lili sudah sarapan.
"Mobil baru lagi Zil?" Tanya Mita.
"Iya Kak, kado pernikahan Babang buat Zila"
Lili yang mendengar itu entah mengapa terasa kepanasan sendiri.
"Waaah hebat si Hanan, aku aja belum pernah kasih kado buay Mita." Ucap Izzam.
"Bang, nggak penting juga mobil, aku kan slalu minta di anterin ke mana mana." ucap Mita.
"Iya, pah, ngapain punya mobil kalau nggak bisa nyetir, ya balik kembali suami yang nikmatin." Sahut Lili terdengar tak suka.
"Ayana, ayo makan!" Mita merasa Lili tersinggung dan menyindir Zila yang tak bis nyetir, jadi dia mengalihkan perhatian.
Akhirnya semuanya sudah selesai makan.
"Pah, aku mau pulang sekarang, siapa tau mamah sudah ada di rumah." Ucap Lili.
"Qiara tinggal sini aja, ada Ayana kok yang nemenin, kasian kamu masih daja suka keluyuran." Ucap Izzam kesel.
"Nggak Pah, biar Qiara sama Bibi,"
"Tapi dia kekurangan perhatian, sama seperti kau dulu, kau paham?" Suara Izzam di tekan agar Lili mengerti.
"Tapi kami bukan siapa siapa di sini." Lili pun berdiri dan berjalan keluar.
__ADS_1
"Aku merawatmu mulai kau masih dalam kandungan, bagaimana kau bisa bilang begitu heh?" Teriak Izzam.
"Udah Bang, kalau dia tidak mau tidak usah, nggak papa." Ucap Mita.
"Kasian Qiara sayang,"
Lili pun terlihat keluar meninggalkan Kastel Izzam dengan menggendong Qiara.
"Aa Yana, Aa, mah aa mah." Qiara sangat senang dengan Ayana, saat mereka dipisahkan, qiara pasti menangis.
"Kak Lili, biar Qiara di sini saja, Ayana bisa kok nemenin." Pinta Ayana. Sambil mensejajari langkah Lili setengah berlari.
"Nggak, biar aku yang urus, kau urus saja adikmu itu sang pewaris runggal,"
Lili pun keluar dan memesan taksi.
Di dapur.
"Kak, aku salah ya ngomong tadi?" Tanya Zila pada Mita, dia merasa tidak enak.
"Nggak kok dek, Lili aja mungkin lagi sensitif. oh ya dek, gimana? apa ada tanda tanda kamu hamil?" Tanya Mita, Mita kan belum tau kalau Zila baru berhubungan satu bulan ini, mereka menikah sudah 4 bulan.
"Belum kaka, gimana dengan kak airin?"
"Dia udah hamil kok, seminggu lalu dia kabarin kakak."
"Waaah benarkah? bakal punya ponakan lagi nih." Ucap Zila.
"Mamah Hanan pasti sangat ingin punya cucu, kamu juga jaha kesehatan, dan makan yang bergizi, mudahan cepat hamil ya." Zila mengangguk dan tersenyum malu malu.
"Hanan, tolong isi rekening mamah ya?" Ternyata Mamah Hanan sedang mampir keperusahaan, dan berkunjung ke ruangan Hanan.
"Lho? minggu tadi kan udah Hanan kasih 30 juta, kok abis?" Tanya Hanan heran. di habiskan ke mana uang sebanyak itu, lagian Zila juga nggak jadi ikut waktu itu shoping karena mamah tjba tiba pergi ada urusan.
"Biasa Nak, ada sosialita gitu, udah ah, uang perusahaan kan sangat banyak, buat apa di simpan simpan, kamu juga belum luna anak juga." Bujuk mamahnya.
"Iya mah, nanti aku TF, mau berapa?"
"Sekalian bulan depan aja deh 50 juta." Karena papah Hanan sering ke luar kota mengurus perusahan cabang, jadi sekarang Hanan lah yang mengurus perusahaan inti.
"Oh? 50"
"Iya..."
Hanan oun mengangguk
"Oke."
"Mamah pulang dulu." Hanan oun salim dan mengantar mamahnya sampai muka pintu.
'Hello, baik aku akan mentranfer sisanya.'
Ketika Mamah Hanan mengangkat telpon sambil berjalan menjauhi ruangan Hanan, rupanya Hanan mengikuti mamahnya, dan Mamahnya tidak menyadari itu.
__ADS_1
Apa? bicara dengan siapa,dia?
Bathin Hanan, dia pun berhenti dan tidak,lagi mengikuti mamahnya.
"Aku harus mencari tau," Gumamnya.
"Mamah...tunggu!" Hanam pun melangkah panjang panjang mengikuti mamahnya.
"Tampan sekali Bos kita, mengapa semakin dia menikah semakin membuat,jantungku,deg degkan." ucap seorang karyawan yang sangat terpesona.
"Kamu jangan berani macam macam, katanya dia type lelaki setia, bisa bisa nanti kamu di pecat karena mengganggu kenyamanannya di sini." karyawan lain mengingatkan.
"Ada apa Nan?"
"Mamah mau ke mana, biar aku antar."
"Mamah mau pulang aja, paling singgah di supermarket buat beli buah, taruh di kulkas, nanti kalu Zila pulang, dia bisa makan buah yang banyak, siapa tau cepat hamil." ucap mamahnya.
"Hihi, iya mah, aku antar?" ucap,Hanan.
"Nggak usah."
"Baiklah, klau begitu aku kembali ke ruangan."
"Iya sana, kerja yang bener, kamu udah punya istri mungkin bentar lagi punya anak kan?"
Hanan pun kembali mencium pipi mamahnya dan kembali ke ruangan.
Beribu tanya di otak Hanan, dia pun tidak Fokus.
Hanan menelpon seseorang.
'Hello, aku ingin kau menyelidiki mamahku dalam minggu minggu ini, dia pergi dengan siapa? menemui siapa? dan sedang apa?' Ucap Hanan pada seseorang.
'Aneh kau bro? masa mamah sendiri di selidiki sih? emang kenapa?' Tanya seseorang di sebrang telpon.
'Aaah, kau tak perlu tau, karena aku juga belum tau hahaha, kau ikuti saja, nanti kabari aku ya.' Ucap Hanan lagi.
'Baik Bro, Dp ya!' suara orang itu.
'Oke segera.'
tuut
Hanan pun menutup Telponnya dan termenung.
Mamah apa yang kau rahasiakan?
apakah ini berhubungan dengan uang yang cepat habis?
Bathinnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1