
Rumah sakit.
"Bang, bagaimana?"
Zila terlihat lemes, dia merasakan perutnya kram dan sangat sakit waktu pendarahan tadi.
"Tidak apa apa sayang, nanti akan sembuh sendiri kok, bayi kita baik baik saja," Jawab Hanan yang slalu memegangi tangan istrinya.
"Mamah mana?"
Tanya Zila. Dia merasa kasian dengan Mamah yang mengantarnya ke rumah sakit, padahal beliau sudah berumur.
"Ketiduran, kamu mau makan?"
Hanan menyodorkan air mineral.
"Nggak Bang, kan tadi udah makan, minum aja."
Shaina pun meneguk minumannya.
Hap
Hanan berbaring di samping istrinya, dan memelukinya erat, sambil menenggelamkan kepalanya di bahu Zila yang menggunakan Hijab.
"Maaf Bang, Zila tak sekuat ibu ibu zaman dulu. hanya karena becanda, malah pendarahan." Zila merasa bersalah, padahal ini adalah sang pewaris keluarga Hanan kelak.
"Nggak papa sayang, kita masih sehat, kalau Allah belum izinin, nanti kita bisa bikin lagi kan, hihi." Hanan mengelus perut istrinya lembut.
"Ayo tidur, Zila ngantuk sekali nih."
Mereka pun mencoba memejamkan mata, sementara Mamahnya sudah tertidur di atas sofa. Wanita anggun yang kharismatik itu rela tidur seadanya demi mantu yang di sayanginya.
Ceklek
"Assalamualaikum."
Mita dan Izzam datang tepat jam 11 malam, Rumah sakit nenek moyang, suka suka dia datang.
"Ooh mereka tertidur Bang," ucap Mita saat tidak mendengar jawaban.
__ADS_1
"Ya udah, masuk aja dulu."
"Aku hanya ingin melihat keadaan Zila, trus kita pulang, takut kalau Ezra juga bangun malam."
Mereka pun masuk diam diam.
"Hanan, ish lelaki ini, nempel terus."
Ledek Izzam yang melihat Hanan nempel kayak prangko.
"Hanan."
Izzam menggoyang tubuh Hanan.
"Oooh? ah? Kak Zam? kapan kalian datang?"
"Bagaimana kabar Zila?" Tanya Mita.
"Alhamdulillah baik kak, cuma pendarahan aja, nanti asal istirahat cukup nanti akan pulih."
"Emang goyang kayak apaan sih, kok sampai pendarahan, kasar amat loe jadi cowok, hahaha." Canda Izzam.
"Goyang apaan sih, kami nggak ngapa ngapain." Sahut Hanan protes di sebut main kasar.
"Kalau begitu kami pulang aja ya, kasian Ezra sama Bibi, biasanya tengah malam dia akan bangun dan mencari mamahnya." Ucap Mita ingin pamit.
"Eh, Kak! ada kabar baik." Hanan pun berdiri dan berjalan agak jauh dari Zila.
"Apaan?" Tanya Izzam penasaran.
"Ternyata Qiara bukan anak aku?" Hanan sangat antusias mengatakan kabar itu.
"Hah? benarkah? apa tesnya sudah keluar?"
"Iya Kak, karena sangat bahagia tadi kami bercanda dan,saling gelitik, itu yang menyebabkan Zila pendarahan."
"Sembrono." Cerca Izzam, tapi sambil ketawa.
"Iya Kak, aku nggak tau kalau itu berbahaya."
__ADS_1
"Sekarang bagaimana? apa kalian akan mengusut Lili?" Tanya Mita
"Pasti, aku akan mengusutnya Kak. Dia telah berbuat gaduh di keluarga kecilku." Zila berapi api sekali ingin membalas perbuatan Lili.
"Anak itu, padahal dia di besarkan dengan cintaku." ucap Izzam.
"Hah? dengan cinta, dengan uang kali Bangggg." Sahut Mita protes.
"Sama saja kan, iang kalau nggak ada cinta mana mau memberikannya cuma cuma.
" Udah ah, Hanan kami pulang saja ya, jaga adikku baik baik, masalah Lili nanti kita bicarakan."
"Baik Kak."
...
...
...
"Huaaaah, sayang, bangun, udah pagi!" Papah Hanan terlihat duduk di samping wanita seksi yang tidak mengenakan pakaian.
"Masih ngantuk Mas, Mas sih masa sekali ketemu minta 3 ronde, cape Mas."
"Kangen sayang, kan satu minggu sekali, itu pun kalau aku bisa cari alasan, ya udah, hari ini kamu Shoping aja ya... mandi dulu kita cari makan di luar saja."
Akhirnya wanita cantik itu bangun dan mandi bersama, tentu saja Papah Hanan tak membuang kesempatan, sekali lagi mendaki gunung, dan terjun di lautan.
Cekelek
Mereka tampak meninggalkan Hotel. dan menuju warung makan pinggiran kota.
Setelah memesan makanan mereka pun dudiluk manis di pojokan. Sengaja biar bisa mesra mesraan.
"Lho dinda, itu kan papah Soraya, sama wanita cantik din!"
Dilara dan Lira sahabat Soraya yang sedang mengerjakan tugas PPL di kota kecil itu kaget.
"Foto foto, biar kita kirim ke soraya."
__ADS_1
Cekrek cekrek cekrek.
BERSAMBUNG...