
Izzam terus berpikir, mengapa Istrinya tiba-tiba merajuk?.
Tak sengaja matanya melihat Hp Mita yang di letakkan di meja tami. Dia pun mengambilnya.
pertama-tama dia membuka pesan Chat, pesan terbaru tanpa nama.
Deg.
Seakan-akan jantung Izzam mau copot saat melihat nomor itu mengirim foto dirinya dengan Tami seolah-olah tanpa sehelai benang pun. Dia sadar ada orang yang ingin menghancurkan hubungan Izzam dengan Mita. Pantas saja Mita marah. Izzam pun segera menuju kamar Mita.
"Mita, buka!"
Duk duk duk
Izzam terus menggedor-gedor pintu Mita, namun Mita tak membuka.
"Sayang, apa kau marah gara-gara foto ini?,itu fitnah sayang, aku tidak, melakukan apa-apa."
Mita tak menyahut apa pun, dia hanya diam tanpa suara.
"Mita buka, buka sayang, ayolah, aku akan jelaskan semuanya, aku di jebak, sungguh."
Tak ada suara.
"Aku akan mendobrak pintu ini kalau kau tidak membukanya."
"Sayang, apa kau dengar? Aku akan mendobraknya, satu, dua, tiga."
BRUK
Pintu pun jebol dengan sekali tendangan.
"Mita, sayang, bangun, Mita." ternyata Mita pingsan, mungkin sesak di dadanya terlalu berat, hingga dia tidak bisa menahan beban mental itu. Izzam pun segera membawa Mita, ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Mita pun di bawa ke IGD. Setelah di periksa beberapa tahap, Mita pun di beri obat.
"Maaf, Tuan Izzam, istri anda tampaknya stres berat, ini mengganggu kehamilannya."
"Jadi bagaimana Dok?"
"Apakah ada seseorang di rumah yang membuatnya tidak nyaman?"
"Selama ini kami baik-baik saja Dok!"
"Mungkin saja dia sedang merahasiakannya, anda harus peka, karena dia sedang hamil."
"Baik dok, aku akan mencari tahu."
"Uaaaah, dimana ini?" Mita tampak sudah siuman. Dia pun ingin duduk.
"Sayang, kau sudah sadar?" Izzam pun membantu Mita untuk duduk.
"Ayo kita pulang!" Ajak Mita
"Kau belum sehat, diam lah di sini beberapa hari lagi."
Izzam pun duduk di samping Mita.
"Aku mau pulang Bang, kasian Lili kalau abang jagain aku?"
"Aku bilang kau istirahat saja dulu disini! biar Lili Tami yang jaga."
"Tapi Lili butuh kedua orang tuanya Bang, aku tidak papa, aku sudah terbiasa begini." Mita pun menarik selang infus dan turun dari kasur dengan tangan yang berdarah karena menarik paksa selang infus.
"Mita! apa yang kau lakukan?" Izzam panik dan menarik tangan istrinya, menutupi bekas infus yang mengeluarkan darah.
"Lepaskan." Mita malah menghempaskan tangan Izzam, dan membuat darah muncrat kemana-mana. Mita berjalan menuju keluar, sementara Izzam mengambil ponsel Mita yang ada di atas ranjang.
Bruk
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar benda jatuh di depan kamar.
Izzam pun berlari,, ternyata Mita sudah tergeletak di lantai, ada beberapa orang yang langsung mendekat dan meraih kepala Mita untuk di rebahkan di pahanya.
"Hey, menjauh kau, dia istriku!" Izzam tampak emosi ketika yang meraih kepala Mita malah seorang laki-laki. Laki-laki itu pun segera menjauh.
Mita di bawa ke kamar kembali, Izzam pun memanggil suster yang jaga. Suster segera mendatangi kamar Mita, dan memasangkan infus ulang.
"Tuan, kenapa dengan dia, astaga, dia pendarahan."
Terlihat dari luar gamis bawah Mita mengeluarkan darah, Suster pun panik dan memanggil dokter.
"Mita, apa yang terjadi, Mita."
Izzam tampak frustasi, dia pun sampai menangis melihat istrinya bersimbah darah.
Dokter pun datang dan segera melakukan pemeriksaan.
"Bawa dia keruang operasi"
"Dok, apa yang terjadi dengan istri saya?"
"Bapa tenang dulu, kami akan memeriksanya lebih detil lagi."
Mita pun di bawa keruang operasi.
Izzam tampak sangat cemas, dia pun mondar mandir di depan ruang operasi.
Tring tring tring
("Hello, Papah dimana?)
("Aku di ruang operasi, Mita sedang pendarahan.")
("Kenapa Ummi pendarahan Pa? tadi malam dia baik-baik saja")
("Aku tidak tau Li, sudah ya")
Sementara di kamar Lili.
"Li, bagaimana rasanya sudah melahirkan? seperti itu juga dulu aku melahirkan mu."
Tami tampak menggendong cucunya itu dan menciuminya.
"Sakit Mi, sangat sakit." Ucap Lili. Tami pun tersenyum licik.
"Li, tolong bujuk Papah mu agar mau kembali rujuk denganku!"
"Aku tidak yakin Mah, apalagi Mamah terang-terangan sudah berselingkuh dengan Om Rudi saat itu."
"Aku khilaf Li, ingat saat aku susah payah melahirkan mu! saatnya kau berbakti pada Mamah."
"Aku akan mencoba bilang sama Papah, tapi tidak sekarang, sekarang Mita sedang sakit dan pendarahan, Papah pasti lagi pusing."
"Pendarahan? kapan."
"Sekarang Mita ada di ruang operasi, Papah juga ada di sana sekarang, mengurus semuanya."
"Baiklah, aku akan ke sana."
"Jangan macam-macam Mah, Papah lagi kacau, jangan membuat Papah makin membenci Mamah."
Tap tap tap
Tami pun pergi menuju ruang operasi.
Sesampainya di sana tak ada siapa-siapa.
"Maaf Sus, wanita bernama Mita, dimana dia? bukankah dia baru saja di operasi karena pendarahan?"
__ADS_1
"Dia sudah di pindahkan ke ruangan Vip sebelah sana Bu."
Suster itu pun mengantar Tami menunju kamar yang di tempati Mita.
"Disini Bu." Setelah mengantar Tami sampai tujuan, suster itu pun pergi.
Tami mengintip dari balik kaca pintu, dia melihat Mita masih terbaring sendirian, dan masih menutup matanya, mungkin masih tidak sadarkan diri.
Ceklek
Tami pun masuk pelan-pelan.
"Mita, Mita, apa kau mendengar ku?"
Deg.
seperti suara Ny.Tami. Tidak! aku harus pura-pura tidak mendengar.
batin Mita.
"Baguslah, ternyata kau masih pingsan, kau pasti tertekan melihat foto itu kan? aku akan membuatmu lebih menderita lagi daripada itu, Izzam harus kembali padaku, kau hanya wanita yang di pungut dari bak sampah, sedang aku adalah wanita terhormat, mana boleh aku kalah oleh mu yang tak ada harganya."
Tami terus berbicara sendiri. Karena dia mengira Mita masih pingsan. Hati mita sangat sakit mendengar semua itu. Dengan susah payah dia menahan tangisnya agar tidak keluar.
Ceklek.
Suara pintu di buka.
"Mas Izzam?" Tapi pun menoleh dan tersenyum manis pada pria incarannya itu.
"Kau? sedang apa kau disini? pergi kau, tadi malam bukankah kau sengaja menjebak ku heh!?"
"Apa maksud Mas? menjebak apa?"
"Jangan pura-pura luhu kau Tami, bagaimana bisa kau, foto yang di kirim ke HP Mita, bukankah itu ulahmu?"
"Foto? aku tidak punya foto, foto apa maksudmu?"
"Baiklah kalau kau tidak mengerti." Izzam pun mengambil tas kecilnya dan mengeluarkan Hp Mita.
"Lihatlah ini! lihat!" Izzam sangat,kesal.
Tami terkejut, bagaimana bisa semua ini begitu cepat ketahuan.
"Apa maksudmu? itu buka nomorku bukankah kau tau nomor ku?"
Izzam lun memencet nomor itu
Tring tring tring
Lalu di matikan nya, di pencet nya lagi dan di matikan nya lagi berulang-ulang.
"Bagaimana kau mengelak Tami, kau sangat, busuk, ku kira kau sudah berubah, ternyata tidak, pergi kau dari sini! jangan pernah kau perlihatkan mukamu di hadapanku lagi."
Izzam pun mendorong tubuh Tami keluar dari ruangan itu.
"Mas tunggu! aku tidak ingin kehilanganmu lagi, tolong beri aku kesempatan kedua Mas!"
Duk duk duk
Tami berteriak-teriak.
"Mbak, maaf, jangan membuat keributan disini." Seorang suster mendekati Tami dan menegurnya. Tami lin keluar karena merasa malu. Sementara di dalam.
"Mita, bangunlah! kau harus mendengarkan penjelasan ku, aku di jebak, aku tidak sadaekan diri, mungkin Tami telah memasukkan obat tidur ke minumanku saat kami berangkat kerja kemaren, Mita, ayolah, kau harus bangun, Ank kita sudah tidak ada, hanya aku ingin kau bangun, aku tidak masalah dengan bayi itu, kita bisa memulainya lagi Mita.
Deg.
Jantung mita berdetak kencang saat mendengar bayinya tidak ada, apa maksud Izzam. Ingin sekali rasanya Mita meraba perutnya, namun dia juga tidak ingin ketahuan bahwa dia telah siuman.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
LIKE ya biar author lebih sadis lagi cari idenya😄