Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Cemburu dalam Diam


__ADS_3

Zila berencana bangun untuk mengganti bajunya.


"Heart jangan! di sini saja" Pekik Hanan lagi sambil mencengkram tubuh Zila.


"Hah?" Zila yang mendengar suara suaminya pun heran.


"Heart?" Zila menatap wajah suaminya berulang ulang.


Hanan mengigau.


"Babang, ada apa?" Tanya Zila


"Heart...Heart..." Hanan terus mengeratkan pelukannya.


Siapa Heart?


Bathin Zila. Akhirnya Zila pun mengalah dan tidak jadi ganti baju. Dia kembali berbaring di samping suami tampannya itu sambil memeluk erat tubuh suaminya dan perlahan terlelap.


Jam 04.00 pagi Zila pun terbangun.


Mau sholat lail dulu ah.


Gumamnya.


Dia pun bangun dan mengambil wudhu.


Zila begitu khusus berdoa di antaranya dia ingin diberi momongan. Setelah sholat dia juga tadarrus. Tak terasa azan subuh pun berkomandang dengan merdunya setelah sholat Sunnah qabliyah subuh yang pahalanya sangat besar, Zila pun membangunkan suaminya.


"Babang, bangun! ayo sholat Bang." Zila menarik narik tangan suaminya.


"Heart, se...jak...kaaaaaapan...loe....shoooo laaaaat."


Hanan masih menutup matanya sambil berbicara. dengan suara repley nya.


"Babang! bangun!" Zila menggoyang-goyang tubuh suaminya.


Heart? apakah mereka pernah tidur bareng?


Gumam Zila. Tiba tiba hatinya tak karuan.


"Iya...hah? udah pagi?" Hanan pun tersadar dan duduk di sisi ranjang.


"Ayo wudhu! Zila tungguin." Ucap Zila lagi.


"Oh, iya, sebentar My Pearl."


Pearl, tadi manggil Heart.


siapa Heart?


Selesai wudhu Hanan pun memasang baju dan sarungnya, lalu menjadi imam sholat. selesai sholat.


"Sayang, sini!" Hanan menarik ujung mukena Zila yang belum di lepas. Zila pun mendekat.


"Kuatkan aku sekarang, jangan pernah ragukan aku ya?"


Hanan memeluk tubuh istrinya dan membiarkan Zila bersandar di dadanya.


"Hah?" Zila malah bingung dan menengadah ke muka Hanan.


"Kenapa?" Senyum Hanan yang sangat manis membuat Zila melupakan saat tadi Hanan memanggil nama lain.


"Babang kok aneh, oh iya, Sempolan Zila tadi malam mana? ke tinggalan di mobil ya?" Tiba tiba Zila ke ingetan makanan kesukaan yang di beli tadi malam.


"Ha? sempolan? astagfirullah, lupa, ke tinggalan di taman waktu ngelerai Aya, hihi, nanti aku beli in lagi ya, maaf atas kejadian tadi malam." Hanan mengelus elus pundak Zila menenangkan, dan meminta maaf.


"Oooh, nggak papa kok, belum rezeki. Yang hampir masuk mulut aja kalau belum rezeki bisa terlepas, apalagi yang jauh yang belum Zila liat, untung belum ngidam hihi."


Zila pun memeluk erat balik suaminya.

__ADS_1


"Ngidam? apa sekarang kau ngidam?" Hanan tampak antusias.


"Ih Babang apaan sih, baru sehari juga." Ucap Zila malu malu.


"Ooh.Hem. Pengen punya anak berapa?" Kali ini Hanan tampak menggoda istri mungilnya itu.


"Babang berapa?" Zila malah tanya balik


"Terserah Pearl aja deh." Balas Hanan.


"3 gimana?" Zila menatap manik mata Hanan.


"Kenapa ganjil?" Hanan jadi heran kenapa harus 3 nggak 4 atau 2.


"Allah kan suka yang ganjil2 Bang." sahutZila kemudian.


"Bagaimana kalau 5?" Ucap Hanan sambil tersenyum.


"Hah? banyak amat."


Zila jadi terkejut, 5 satu aja belum, kalau 5 siapa yang mengurusnya.


"Ya amat emang banyak, bahkan ribuan." Xanda Hanan.


"Ih Babang, maksudnya anaknya kebanyakan."


"Hihi."


Zila pun pengen berdiri untuk membereskan mukena dan sajadahnya namun.


"Sebentar lagi, diam begini." Hanan malah merangkulnya kembali, membuat Zila tak bisa bergerak.


Zila pun menuruti kemauan suaminya.


Zila, maafkan Babang, tadi malam entah mengapa Babang mimpi ketemu Sinta


mengapa dia muncul lagi.


"Hups."


Hanan menghempaskan nafasnya kasar.


"Kenapa Bang? kok berat banget nafasnya?"


Tanya Zila, yang merasakan suaminya seperti ada beban yang tidak bisa di ungkapkan.


"Nggak ko, ayo kita ke bawah, udah laper nih, tadi malam nggak jadi makan."


Zila pun membereskan mukena dan juga sajadahnya.


Tap


Tap


Tap


"Eeh sayang, udah bangun? ayo makan, katanya tadi malam nggak jadi makan kan?" Rupanya Aya bercerita lebih dulu.


"Tadi malam saat Mamah ke dapur, Aya makan, mamah kaget, katanya kelaparan, gara-gara ada nini sihir, hihi."


"Udah ah Mah, aku males membahasnya." ucap Hanan.


"Mamah mau ke depan dulu ada janji sama ojol, mau nitip sayuran, bibi sakit kepala nggak bisa ke pasar."


"Iya mah." jawab Zila.


Hanan dan Zila pun menuju dapur dan makan pagi tepat jam 06.30.


"Babang mau sayur apa?"

__ADS_1


"Apa aja, sedikit aja ya, Babang merasa kurang enak nih mungkin mag kumat gara-gara tadi malam nggak makan."


Zila pun mengambilkan sedikit nasi dan juga lauk. Hanan terlihat lesu dan tidak berselera. Hanan pun mulai menyantap makanannya dan menghabisjannya dalam sekejap.


"Babang sakit?" Tanya Zila yang khawatir pada suaminya.


"Kurang sehat mungkin, ayo!" Hanan mengajak Zila ke atas. untuk beristirahat kembali.


"Babang duluan aja, kasian Bibi sakit kan, biar Zila bersihin ini dulu."


"Baiklah, jangan lama-lama ya?"


Hanan pun meninggalkan dapur, sementara Zila merapikan meja dan mencuci piring bekas mereka makan.


"Eh Kakak udah bangun?" Tiba tiba Aya datang mau mengambil minum.


"Iya, tadi malam kan nggak makan, jadi makannya pagi-pagi sekali." Ucap Zila.


"Kakak mana?"


"Udah makan, dia duluan kurang enak badan."


"Oooh, kakak emang nggak bisa kalau tidak makan, pasti magnya bekal kumat.


"Oh iya kamu tau Heart kan?" Selidik Zila.


"Nini sihir itu? kenapa kakak menanyakan itu?"


"Kamu nggak boleh mengatain orang, kan dia punya nama!"


"Kaka juga ngapain nanya Heart atau si Sinta itu sih? itu masa lalu kakak Hanan yang sudah dia kubur dalam dalam."


"Nggak papa, tapi jangan bilang bilang kalau aku nanya, nanti kakakmu marah ya?" pinta Zila pada Aya.


"Aman." Aya menatap Wajah kaka cantiknya dan tersenyum.


"Janji ya?" Zila meyakinkan lagi, bahwa Aya tidak akan cerita.


"Iya iya kakak cantik,- Goda Ayan lagi.


Zila sudah selesai mencuci dia pun segera menyusul Hanan.


Ceklek


"Bang!",Zila mendekati suaminya yabg lagi duduk di sisi ranjang.


"Sini!" Hanan pun tiba tiba berbaring di ranjangnya. dan melambaikan,tangannya pada Zila.


Zila pun duduk di sisi ranjang.


"Ngapain? Babang sakit" Tanya Zila. sambil meraba jidad Hanan.


"Nggak, udah minum obat kok, obat mag aja."


Aku juga sakit Bang, aku cemburu tadi malam kamu ngigau Heart.


ternyata Heart adalah Sinta. Apakah kamu masih belum bisa melupakannya?


Bathin Zila sambil menatap wajah suaminya.


"Ada apa, kok kamu menatap aku begitu, kayak aku mau mati aja." Ucap Hanan yang heran dengan arti tatapan Zila yang seakan tak berkedip.


"Oh...eng...ngak kok, kamu sangat tampan, aku baru menyadarinya.


Hao


Hanan pun memeluk Zila dan menciumi wanita Halalnya itu sangat mesra.


BERSAMBUNG*....

__ADS_1


__ADS_2