
Ciiiit
"Babang! ada apa?"
Zila kaget saat Hanan berhenti mendadak di bahu jalan.
"Sebentar.....Apa aku salah liat?"
Hanan memicing micingkan matanya.
"Ada apa?"
Zila pun ikut menengok arah mata Hanan.
"Ayo!"
Hanan turun dari mobil.
"Ke mana,"
Zila bingung, namun dia juga turun karena penasaran.
"Kamu cukup diam, jangan bicara apa apa ya?"
Tap tap tap
Mereka menghampiri sebuah rumah makan yang terlihat ramai. Hanan menggandeng pinggang Zila. Sampailah di sebuah kursi kosong yang di duduki 2 orang sejoli.😜.
"Apa aku boleh duduk di sini?"
Tanya Hanan santai dengan ekpresi biasa.
"Ha?"
Zila terbrlalak.
Laki laki itu pun juga terbelalak.
"Santai saja.......Sayang, kamu mau makan apa?"
Ucap Hanan pada Zila.
"E..i..aku... sembarang saja."
Jawab Zila gugup.
"Hanan...kau? Hanan, tolong, kita bisa bicara baik baik."
papah,Hanan mulai gugup dan berkeringat dingin.
"Kau? kak Lena? jadi sekarang kau jadi simpenan Omom?"
Zila pun sedikit kesal dengan mantan Kak iparnya itu.
"Bukan urusanmu!"
Bentak Lena.
"Santai saja Tuan, mari kita makan bersama!" Ucap Hanan lagi, seakan dia sedang berbicara dengan orang lain.
Hanan pun memesan menu yang banyak, karena papahnya belum memesan makanan karena baru datang.
"Hanan, kita bicara nanti di rumah, ayo!"
Papah Hanan mengajak pulang.
"Aku laper, zila juga laper, kami mau makan kau juga laperkan?"
Tanya Hanan pada Lena. Lena hanya diam seribu bahasa.
__ADS_1
Makanan pun datang.
"Sayang ayo!"
Zila mengambil nasi dan makan pelan pelan lewat bawah cadarnya. Papah Hanan tidak bisa makan, dia hanya menatap Hanan dan Zila yang makan dengan lahap.
"Kak Lena! ayo makan!"
Zila pun menyuruh Lena untuk makan.
Selesai makan Hanan pun membayar ke kasir.
"Ayo Pah, aku ingin bicara ke kantor."
Lena pun di pesankan grabe oleh Zila.
"Dasar perempuan pembawa sial!"
Teriak Lena pada Zila, saat mobil Lena mulai jalan. dia sengaja nongol di kaca mobil.
"Astagfirullah, Kak Lena, nggak insaf insafnya ni orang mau ngehancurin rumah tangga orang."
Gumam Zila.
Hanan, papahnya dan Zila pun balik arah menuju kantor.
"Di mana papah ketemu Cewek macam itu?"
Hanan masih mencoba santai, walau sebenarnya hatinya sangat marah.
"Hanan, kau tau kan, aku sering tertekan di rumah, mamahmu tidak seperti dulu, perhatiannya mulai berkurang."
Bela Papah Hanan.
"Heh, hanya karena itu, papah mencari wanita lain yang lebih muda eh bukan, sangat muda, bahkan, mungkin saja dia hanya wanita matre. Oh iya Sayang, kok kamu kenal dengan Wanita itu, siapa tadi namanya?"
Hanan menanyai Zila.
Jawab Zila
"Hah? bener bener sangat kebetulan. Kenapa kakak mu bercerai?"
Hanan juga penasaran, kenapa rumah tangga kakaknya berantakan.
"Dia menjebak kak Zam, dia juga menjebak kak Mita. Bahkan kak Mita hampir meninggal gara gara kak Lena."
Tambah Zila
"Wow, perfect."
Ucap Hanan kehabisan kata kata.
Mereka sampai ke kantor pusat milik keluarga mereka.
Tap tap tap
Hanan masuk ke ruangan papahnya.
"Aku punya satu permintaan. Agar aku bisa tutup mulut dari mamah."
Apa permintaan Hanan ya?
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin perusahaan ini juga perusahaan cabang atas namaku."
Pinta Hanan, membuat mata Papahnya terbelalak.
"Gila kamu Nan, jangan macam macam kamu, apa kau ingin memerasku?"
__ADS_1
Papah Hanan naik pitam menahan marah.
"Heh...lebih baik anakmu yang memerasmu, dari pada wanita yang tidak ada ikatan darah setetes pun denganmu. Kalau kau tidak mau, baiklah, aku akan menelpon mamah untuk datang ke mari, selesai."
Ucap Hanan mengancam.
"Apa kau mengancamku?"
Papah Hanan terlihat marah dan emosi.
"Tidak, mana berani aki mengancam seorang ayah, dosa, iyakan sayang?" Tanyanya pada Zila.
sedang Zila hanya jadi penonton, dia tidak berani ikut bicara.
Dret dret dret.
Hanan pun menelpon mamahnya.
Ayah Hanan tampak galau.
"Baik, baiklah."
Akhirnya dia menyerah.
Dia pun mengeluarkan berkas perusahaan.
dan semuanya ada beberapa aset perusahaan juga villa yang sering di sewakan.
"Tapi aku minta persenan."
Ucapnya.
"Berapa?"
"50 persen dari hasil semua perusahaan."
"Hah? itu sama saja dengan kamu pemiliknya. Hanya 5%, titik."
"A..apa? 5, hanya 5 persen? Hanan, kamu jangan kutang ajar ya."
"Ini perusahaan keluarga mamah, kalau kau punya uang banyak, nanti malah kau bertingkah dan bahkan punya 10 istri lagi heh."
"20 persen."
"5 persen, cepat tanda tangani nerkas ini! aki masih banyak urusan."
Dreeeeeetttt
Hp Hanan berbunyi, ternyata mamah Hanan telpon balik.
'Mah...'
'Tidak Mah, cuma kepencet, kami akan segera pulang.'
Papah Hanan jadi gugup
"Baik, aku setuju."
Akhirnya dia pun membubuhkan tanda tangannya.
"Papah boleh masih duduk di sini, tapi tidak ada hak lagi mengambil uang perusahaan sembarangan. Aku akan menghubungi pak Hans, ayo sayang, kita pulang!"
Hanan tersenyum manis ke arah Zila.
"Sayang, kini aku jadi pemilik perusahaan ini, kalau saja kau dulu menolakku, kau pasti menyesal kan? hahaha,"
Zila menatap suaminya merasa sedih.
"Bang, uang bukan segalanya, aku takut malah nanti Babang yang terjerumus, bagaimana kalau nanti malah Babang yang akan menikah lagi?"
__ADS_1
"Tidak akaaan ah, jangan berandai andai.Emch, love you."
BERSAMBUNG....