
Bruk
Emre mendorong paksa pintu yang sudah setengah tertutup.
"Tuan?" Mita kaget.
Ceklek Menutup
Krek krek
Emre menutup pintu Apartemen dan menguncinya dari dalam.
"Tuaaaan." Mita pun mundur, namun Emre terus mendekat. Hingga Mita kehabisan langkah karena dia sudah tersandar di dinding kamar mandi.
Hap
Emre memeluk Mita erat, matanya berkaca-kaca, bahkan isakan tangisnya pun terdengar oleh telinga Mita karena mereka saling berdempetan.
"Tuan, tolong lepaskan saya." Mita mencoba berontak, namun apa daya, tubuh langsingnya tak kan mampu melawan tubuh kekar Emre.
"Mengapa kau menolak ku, mengapa? setidaknya kalau tidak bisa menerima dia, bisakah kau menerima aku, apa salahku padamu, mengapa kau lakukan ini?"
"Tuan maaf, mungkin aku menerima mu karena kau mirip dengan mantan suamiku dulu, aku tidak ingin berdosa di bawah bayang-bayang dia, mungkin aku tidak mencintaimu, tetapi mencintai dia di tubuh Tuan."
Emre pun tambah mengeratkan pelukannya.
"Uhuk..uhuk, tuan aku sesak." Mita tampak terbatuk-batuk, namun Emre tidak melepaskan pelukannya.
"Apakah kau akan kembali padanya? kalau saat ini dia berada di depanmu?"
"Apa maksud Tuan? haha itu tidak mungkin Tuan," jawab Mita.
"Jawab saja! apa kau mau menerimanya?"
Emre membentak Mita kasar, hingga Mita pun gugup.
"Tut-tuan, mungkin aku terlalu mencintainya, iya, aku akan menerimanya, tapi mungkin dia telah membenciku."
"Kalau dia juga menginginkanmu, apakah kalian akan kembali ke indonesia?"
"Tuan, lepaskan dulu saya Tuan, saya sulit bernapas." Emre pun melonggarkan pelukannya, namun tidak melepaskannya.
"Jawab aku! apa kau akan kembali ke indonesia?"
"Mengapa Tuan sangat ingin tau itu? itu rasanya mustahil Tuan."
"Jawab, he e...e...eee Emre menangis!!!"
"Tu-tuan, iya, aku akan kembali ke Indonesia, aku berjanji tidak akan menampakkan wajahku di hadapan Tuan lagi, aku mohon maaf."
"Kau pernah bilang, kalau kau keguguran, gara-gara istri Tua mantan suamimu, apakah benar?"
"Iya Tuan, anak sambung ku Lili yang bilang, waktu kami sudah baikan, saat malam itu dia akan melahirkan dan melihat perhatianku padanya, dia pun menceritakan, bahwa air yang ku minum di dapur telah di masukkan obat pelemah kandungan, Lili juga bilang dan melarangku minum dari Air galon yang ada di dapur, karena kalau orang hamil yang meminumnya, maka obat itu akan melemahkan kandungan, tapi kalau orang yang tidak hamil, itu tidak berpengaruh.
"Apakah kau benar-benar masih mencintai Suamimu dulu?"
"Tuan, maafkan aku." Perlahan Emre pun melepaskan pelukannya.
Btak
__ADS_1
Brak
Brak
Suara benda ringan di hentakan dengan keras ke lantai. Perlahan pelukan itu mulai kendor, dan tangan Emre pun beralih ke pundak Mita.
"Mita!" Emre menatap wajah Mita.
"Oh, Kau..ka-kau Bang Izzam!"
Mita melotot, mulutnya terbuka lebar, spontan butiran halus keluar dari ujung matanya, dia terpana, tak ada kata-kata yang keluar, begitu juga Izzam, dia membiarkan istri cantiknya itu meluapkan rasa terkejutnya. Hening.
Cup
Cup
Cup
Izzam pun mel*** bi*** istrinya dengan lahap. Mita masih kaku tanpa merespon.
Sreeeet Bruk.
Akhirnya Mita merosot dan jatuh terduduk di lantai. Matanya menatap kosong, dia terlihat Syok.
"Mita, Mita, sayang, kau kenapa? ini aku, Bang Izzam, Mita." Izzam pun menggiyang-goyangkan tubuh Mita yang terlihat lemah gemulai.
"Abang?" Mita menatap mata Izzam tajam.
Bruk
"Hik..hik..hik..hik Bang, maafkan aku hik..hik..hik..hik.." Mita pun memeluk Izzam dan menangis sepuasnya.
"Aku tidak akan memaafkan mu Tami, kau harus merasakan pembalasanku." Izzam sangat marah
Izzam dan Mita pun saling berpelukan, entah berapa lama mereka berpelukan, sambil duduk, hingga akhirnya terdengar suara orang ngorok kecil.
"Sayang! apa kau tidur? astaga dia tertidur, mungkin kau sangat lelah."
Izzam pun mengangkat tubuh Mita dan meletakkan di ranjang dengan hati-hati, begitu lama dia menangis tadi, mungkin 30 menit lebih, sehingga Mita merasa kelelahan. Izzam pun menyalakan AC melepaskan kerudung istrinya. Kerudung Biru dan cadar biru, kenangan baju dan cadar pertama yang Izzam belikan untuk istrinya waktu pertama kali Mita memutuskan hijrah saat itu. Izzam ingat, betapa rajinnya istrinya itu mendatangi pengajian, walau sebenarnya Izzam melarangnya, namun dia tetap pergi diam-diam, karena Mita sangat bodoh tentang agama. Izzam sangat ingat waktu itu.
#Flas Back#
Jam 4 sore
"Mita, kemana dia?"
"Pergi ke pengajian Pah." Ucap Tami yang sedang duduk santai di kursi teras.
"Keterlaluan."
Izzam pun berlari menuju tangga dan menghempaskan tubuhnya di ranjang tanpa melepas sepatu. Tak berapa lama.
Ceklek
Mita pun masuk, dia terkejut melihat suaminya sudah datang, biasanya dia pulang Magrib, atau jam 3 malam. Mita pun melepaskan seaptu suaminya pelan.
Bruk
Mita ambruk telentang ke belakang karena di tendang oleh Izzam yang pura-pura tidur ketika mendengar pintu di buka.
__ADS_1
"Aduuh." Mita meringis memegangi bibirnya yang mengucurkan darah segar, bekas terkena sepatu kulit suaminya.
"Kemana saja,kau, suami pulang tidak di perhatikan, malah keluyuran." Izzam sangat marah.
"Saya ke majlis guru sebelah Bang," jawabnya pelan.
"Aku sudah bilang, kau itu cukup diam di rumah, jangan keluyuran sok ke aliman, apa kau tidak malu heh, kau itu bekas wanita malam, kau camkan itu."
"Bang..."
"Aaaah, sudah, aku mau mandi."
#Flash Back End#
Mata Izzam pun basah ketika mengingat itu, betapa kejamnya dia, pada wanita kurus di depannya ini. Dia pun membelai bi*** Mita dengan telunjuk tangannya.
Pasti saat itu sangat sakit.
Maafkan aku.
"Uhuk uhuk." Mita pun terbangun,
"Mita, sayang." Izzam lun mengangkat kepala Mita.
"Bang, mana kerudungku?-
Krek, dia pun menarik sprei yang ada di sampingnya dan menutup kan nya ke kepalanya.
"Ada apa sayang, ini aku, suamimu.
"" Bang, secara agama kita sudah bercerai, jadi kita harus menikah lagi agar sah kembali." Ucap Mita.
"Benarkah? mengapa seperti itu? baiklah kita akan segera menikah, malam ini juga."
Izzam lun keluar dan memasuki kamarnya, mengambil Hpnya dan menelpon beberapa orang.
Sementara Mita di kamarnya segera ke kamar mandi dan membersihkan diri. Selesai mandi dia pun sholat ashar di jam 5 sore.
Dia berdo'a dengan khusus.
Allah,takdir yang telah kau berikan begitu indah.
begitu banyak dosa yang telah hamba perbuat, namun maaf MU selalu terbuka untuk Hamba yang penuh dosa ini.
Dia pun menyudahi do'a nya dengan do'a orang tua.
Tok
Tok
Tok
Ketika pintunya di ketuk dari luar, dia pun berdiri menuju pintu.
Ceklek.
"Bang!" Izzam dan beberapa orang pun masuk ke Apartemen Mita.
BERSAMBUNG...
__ADS_1