Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Ketemu Lelaki masa lalu


__ADS_3

Sebulan berlalu.


"Pah, tolong Lili pah, Lili tidak mau di penjara."


Lili baru saja di jemput tadi malam, dan dia sekarang sedang di tahan di kantor polisi untuk di introgasi.


"Li, aku tidak bisa menolong mu, kau harus belajar dari pengalaman ini, kau terlalu menyusahkan orang lain, sebenarnya, anak siapa Qiara Li? jujurlah Li!"


Izzam yang bertamu selaku ayah Lili tidak mau ikut campur urusan ini, karena menyangkut urusan Zila dan Hanan.


"Lili janji Pah, Lili akan berubah, kalau Lili keluar dari sini, Lili akan menceritakan semuanya. Tentang siapa ayah Qiara sebenarnya."


Janji Lili.


"Aku perlu bicara sama Hanan, sudah ya, aku akan membujuknya, asal kau menepati janjimu, untuk memberitahu kami siapa ayah Qiara sebenarnya."


Izzam pamit.


"Janji ya, tolong! Lili tidak mau di penjara."


Izzam pun pergi.


Sementara Tami waktu Lili di tangkap, dia sedang tidak di rumah, mungkin lagi clubing.


...


...


...


"Bang, baik kau tarik saja tuntutan Babang, kasian Qiara Bang!"


Bujuk Zila pada Hanan.


"Kita harus memberi dia pelajaran Sayang, dia telah mempermainkan perasan mu, perasaanku, juga perasaan Qiara yang sudah menganggap ku ayahnya."


Hanan terdengar emosi.


"Baiknya kita maafin saja, mungkin dia akan tobat,"


Zila terus merengek pada Hanan.


"Tunggu beberapa hari lagi."


Hanan pun keluar dari kamar dan meluncur menuju kantor.


Ah, aku tak habis pikir dengan Zila, mengapa dia punya hati yang sangat bersih?


Lirih Hanan.


Tak terasa dia pun sudah sampai Kantor.


"Bos, di tunggu Sinta di ruangan Bos." ucap Satpam.


"Ha? kenapa di ruangan ku?" tanya Hanan.


"Dia memaksa bos."


"Ah, masalah apa lagi ini?" Hanan pun segera menuju ruangannya.


Ceklek


"Nicol!"


Sinta berdiri dan ingin memeluk Hanan.

__ADS_1


"Stop, mau apa kau kemari?"


Hanan menjulurkan tangannya ke depan menyuruh Sinta berhenti.


"Nicol, tolong lah, kembali padaku, aku berjanji, apa yang kau pinta akan aku laksanakan, apa kau ingin wanita bercadar, aku akan melakukannya atau apa pun yang kau inginkan, aku bersedia."


Bujuk Sinta.


"Semudah itu kau memohon padaku? apa kau ingat betapa aku terluka malam itu heh? Pergi! pergi Tolong panggilkan security!"


Tap tap tap


"Ada apa Bos?"


"Bawa dia pergi dari sini!"


"Nicol, ku mohon!"


Sinta pun di giring keluar oleh 2 orang security wanita.


"Hupppsh, menyebalkan."


Tap tap tap


Hanan kembali turun dan menuju mobilnya. Dia kembali ke rumah.


Ceklek


"Babang? kok udah pulang?"


"Ayo kita Shoping!"


Hanan membuka lemari dan mengambil baju dan cadar berwarna biru, warna kesukaan Zila dan Mita.


"Ke mana Bang?"


Zila memasang baju dan juga cadar yang di ambilkan Hanan.


Mereka pun turun dan mulai meninggalkan pekarangan rumah.


setelah beberapa saat mereka berhenti disebuah Qmart besar.


"Kita belanja buah." ucap Hanan.


mereka turun dan masuk ke dalam Qmart tersebut.


"Ayo sayang, pilih buah yang mana kau suka, untuk bayi kita." uap Hanan.


"Iya Bang, keranjang buahnya mana?" tanya Zila.


"Oh bentar."


Hanan pergi meninggalkan Zila.


"Bukankah itu Mas Faruq, lelaki yang dulu pernah menyukaiku?"


Gumam Zila.


Faruq yang merasa di tatap jadi bingung.


"Apa kau mengenalku?"


Zila kan pakai cadar.


"Oh, ii iya, apa kau Mas Faruq dari SMP xxx?"

__ADS_1


"Iya, kau siapa?"


"Aku Zila."


"Ha? Zila kelas 2xxxx itu?"


"Iya, oh maaf permisi aku mau ke sana."


Zila tidak enak hati berbicara dengan lelaki lain, dia pun pergi meninggalkan Faruq, namun lelaki itu mengikutinya.


"Zila, apakah kau udah menikah?"


Hap


Hanan yang dari tadi menatap dari jauh segera merangkul istrinya.


"Ini sayang!"


Hanan menyerahkan trolly dan memasukkan beberapa barang yang di pegang Zila. Faruq pun berhenti dan terpana.


"Bang, ini Mas Faruq, teman SMP dulu, Mas Faruq, ini Suami Zila."


Mereka pun bersalaman, namun Hanan terlihat sedikit masam.


"Ayo Sayang kita pilih yang lainnya!"


Ajak Hanan pada Zila.


Padahal Hanan sedang cemburu.


"Silahkan," ucap Faruq merasa tak enak.


Selesai belanja, Hanan dan Zila pulang.


Di perjalanan.


"Apa dia mantanmu?" tanya Hanan.


"Itu...bukan, cuma..."


"Kau menyukainya?"


"Enak aja, aku nggak pernah punya pacar Bang, aku sekolah sungguh sungguh, apalagi ekonomi keluarga kami sangat tidak mendukung."


"Trus cuma apa dooong?"


"Cuma dia pernah menyatakan suka sama Zila, hingga akhirnya Zila pernah di keroyok oleh cewek yang menyukai lelaki itu."


Zila bercerita panjang lebar, saat dia juga terpaksa pindah sekolah.


"Syukurlah kalau kau tak menyukainya, aku tak ingin kau punya masa lalu yang belum usai."


"Lalu Babang bagaimana?"


"Jangan di bahas."


"Haha, aneh."


Ucap Zila.


Bukankah masa lalu Hanan sangat ribet?


Cup cup cup


Kecupan mesra mendarat bertubi tubi di kepala Zila yang di tarik paksa oleh Hanan.

__ADS_1


"Awas Bang, hati hati!"


BERSAMBUNG....


__ADS_2